MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 40


__ADS_3

.


.


.


Setelah melalui proses pemasangan cincin, kini keduanya sudah resmi bertunangan.


"Engkaulah cinta pertamaku dan terakhir bagiku." ucap Rain sambil menggenggam tangan Melati.


Melati yang sejak tadi menunduk kini mendongak menatap wajah tampan Rain.


"Abang juga cinta pertamaku dan cinta terakhirku." balas Melati.


Hati Rain jangan ditanya, saat ini hatinya begitu berbunga bunga.


"Ehhem." suara deheman dari seorang pria paruh baya, siapa lagi kalau bukan Alfian?.


"Mesra mesraannya nanti saja setelah halal." ucap Alfian lagi, sontak orang yang masih berada disini tertawa mendengarnya.


Membuat Melati tersipu malu. dengan cepat Melati melepaskan pegangan tangan Rain.


"Cih, mengganggu kesenangan saja, calon ayah mertua baru juga pegang tangan," Rain ngedumel dalam hati.


"Sudah jangan cemberut, tidak lama lagi halal kok," gumam Melati sangat pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Rain.


Seketika senyuman terbit dari bibir Rain, meskipun hatinya dongkol karena kesenangannya terganggu.


Para tamu yang hadir yang sengaja diundang untuk hadir menyaksikan prosesi pertunangan Rain dan Melati. Akhirnya hubungan mereka naik level, tapi mereka masih tetap berjuang untuk mencapai level tertinggi dari hubungan ini, yaitu pernikahan.


Dilevel tertinggi itulah mereka harus mempertahankan hubungan mereka, jangan mengira kalau sudah menikah hubungan bisa aman aman saja. Justru dilevel itulah kita harus kuat dari segala kemungkinan yang akan terjadi dalam biduk rumah tangga.


Baik itu suami, ataupun istri harus saling menguatkan, menjaga hati dan perasaan pasangan masing-masing, saling berbagi dan saling pengertian. Dan satu lagi, jangan pernah menghina fisik pasangan kita walaupun itu hanya satu candaan. Kita menikah bukan hanya karena Sunnah Rasulullah, tapi juga untuk saling melengkapi satu sama lain.


Mendengar kata tidak lama lagi halal, sontak membuat hati Rain berbunga bunga. Kalau saja ia tidak berada ditempat ramai, sudah pasti ia akan melompat lompat kegirangan.


"Kapan?" tanya Rain, pertanyaan yang singkat namun penuh makna.


Melati menunjukkan jari tangannya dua. Rain memandang itupun bertanya lagi.


"Dua hari?" Melati menggeleng.


"Dua bulan?" Melati mengangguk.


"Yee, benar kah?" Tanpa sadar Rain berteriak, dan melompat lompat saking senangnya.


Rain tersadar saat mendengar suara riuh mentertawakan dirinya. Rain menarik Melati menjauhi tempat berkumpul itu.


Sampai didapur keduanya duduk dikursi meja makan.


"Kenapa? jadi malu sendiri kan?" tanya Melati.


"Aku terlalu bahagia, sayang. jadi aku tidak sadar." Rain.

__ADS_1


"Bahagia sih bahagia, tapi gak segitunya kali?" Melati.


"Maaf! Memangnya sayang tidak bahagia?" tanya Rain.


"Bahagia, tapi masih bisa dikendalikan." Melati.


"Sayang mengapa kamu berubah pikiran?" tanya Rain.


"Maksudnya?" Melati malah balik bertanya.


"Itu pernikahan kita." Rain.


"Kenapa, terlalu cepat ya?" tanya Melati.


"Tidak, sayang tidak terlalu cepat kok." Rain jadi gelagapan.


Kedua sejoli ini masih betah didapur, sedangkan para tamu sudah pada pulang semua. hanya tinggal keluarga inti saja.


"Bagaimana dengan rencana pernikahan mereka?" tanya Alfian membuka topik pembicaraan.


"Kalau menurutku sebaiknya di percepat saja." Alex menjawab.


"Kita sebagai orang tua harus mendukung keputusan mereka anak anak kita, aku tidak mau mereka didesak. biarlah mereka yang menentukan nya." Rania.


"Benar tuh, lagian mereka juga masih muda." Sofia.


"Dalam hal ini sebaiknya kita bicarakan pada mereka." Pak Yusuf menimpali.


"Tidak mungkin kan kekamar?" Alexander. PLAAK, sang istri menampar lengan Alex.


"jangan bicara sembarangan, tidak mungkin mereka seperti itu, aku lebih kenal anakku dan aku juga tau sifat calon menantu kita," kata Sofia mengomeli suaminya.


"Mungkin kedapur, karena ku lihat tadi Rain tampak sangat malu." Rania.


"Ya sudah cari saja mereka." Pak Yusuf.


"Tidak perlu kek, kami tadi hanya kedapur untuk berbincang." Rain.


"Lalu kapan rencana pernikahan kalian?" Tanya Alfian.


"Dua bulan lagi." jawab Melati, dan Rain serentak.


"Di tanya soal menikah jawabnya kompak banget." ledek Frans yang ternyata mendengar pembicaraan mereka. Frans, Ronald, William, dan Steve baru saja pulang dari mengantarkan kekasih mereka.


Akhirnya pembicaraan mereka pun berlanjut, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01: 30 WIB.


...****************...


Hari pernikahan Ronald dan Ratih pun tiba. para warga desa berbondong bondong hadir dalam pesta pernikahan yang digelar meriah. Pesta pernikahan kali ini lebih meriah dari pesta pesta sebelumnya di desa ini. Dekorasi pernikahan yang digelar sangat mewah menjadi kekaguman para warga desa, warga desa xxx belum pernah menyaksikan pernikahan semewah ini.



Seperti ini lah kira kira dekorasi pernikahan Ronald dan Ratih.

__ADS_1


Kedua mempelai berjalan beriringan menuju pelaminan. para tamu undangan juga para warga desa berdecak kagum dengan kecantikan dan ketampanan pasangan pengantin baru itu.


"Beruntung sekali ya Ratih bisa mendapatkan pemuda kota, udah ganteng, kaya lagi." kata si A.


"Nasibnya seseorang beda beda, mungkin memang itu jodohnya si Ratih." ujar si B.


"Kalau kita dulu gak menuduh Melati macam macam, dan menganggap dia kerja gak benar mungkin kita juga sudah seperti Ratih." ucap si C, yang dulu mengatakan dan memfitnah Melati kerja gak benar, karena Melati bisa menjadi sukses seperti sekarang ini.


Meskipun demikian Melati tidak menggubrisnya, biarlah orang berkata apa yang penting dirinya tidak melakukan hal yang membuat malu keluarga, begitulah prinsip Melati.


Akhirnya kedua mempelai tiba di atas pelaminan. keduanya duduk di sofa yang sudah disediakan.


Kedua orang tua Ronald, dan Ratih saling bercengkerama, mereka terlihat lebih akrab.


Meskipun Martin dan Margaret terlahir dari keluarga konglomerat tapi mereka tidak pernah mempermasalahkan status sosial. Apalagi mereka hanya memiliki putra satu satunya, kebahagiaan putranya itu yang paling utama.


Sedangkan di atas pelaminan kedua mempelai mulai menyalami satu persatu tamu undangan. para undangan berbaris rapi untuk mengantri menyalami kedua mempelai.


Saat tiba giliran para sahabat, yang lebih dulu Rain dengan Melati. Rain memeluk Ronald sahabat rasa saudaranya itu.


"Selamat bro, semoga SAMAWA." doa tulus dari Rain.


"Terimakasih bro, kaulah sahabatku sekaligus saudaraku." ucap Ronald tulus.


Rain melepas pelukannya, dan berjabat tangan dengan Ronald.


"Sebentar lagi aku menyusul." kata Rain, Ronald mengangguk dan tersenyum.


"Selamat kak Ronald, semoga SAMAWA."


Melati.


"Terimakasih, berkatmu gua bertemu dia." Rain.


"Berterima kasihlah kepada Allah, karena semua adalah Kehendak Nya." Melati, lalu ia pun memeluk Ratih.


"Semoga kebahagiaan selalu melimpahimu, mungkin dia adalah jodoh yang Allah kirimkan untukmu." doa tulus Melati.


"Terimakasih Mel, semua karena kamu." Ratih.


Melati pun melepaskan pelukan nya dan turun dari pelaminan.


Giliran Yanti dan suaminya yang bernama Sahid. seorang pengusaha dari negara tetangga. Yanti dan Sahid juga memberi selamat kepada kedua mempelai.


Sekarang giliran Indah dengan Frans, juga mengucapkan yang sama seperti mereka sebelumnya. Nadia dan William, Steve dan Putri juga memberi ucapan yang sama.


Para tamu undangan masih berbaris menunggu giliran untuk memberi ucapan selamat. ada sebagian yang sudah menyantap hidangan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2