MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 60


__ADS_3

.


.


.


"Mulai sekarang panggil aku kakek Taufik, karena aku adalah adik dari kakekmu." ucap Elang.


"Mengapa kakek tidak pulang ke negara asal kakek?" tanya Melati.


"Aku tidak bisa pulang cucuku, bagaimana nasib klan kami kalau aku pulang?" Elang.


"Kakek seorang bos mafia, pasti ada dong orang kepercayaan kakek!" Rain.


"Ada, tapi mereka tetap bergantung padaku." Elang.


Rain dan Melati pun saling pandang seolah mereka berbicara lewat tatapan mata. Melati mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video, tak lama panggilan video itupun terhubung dan terpampang jelas wajah sang Bunda.


"Assalamualaikum Bunda," ucap Melati.


"Waallaikum sallam," jawab Rania.


"Apakah Kakek ada Bun?" tanya Melati.


"Ada, sebentar Bunda menemui kakekmu." Rania, lalu Rania menemui kakek Yusuf di taman belakang.


"Siapa?" tanya Kakek Yusuf pada Rania.


"Cucu kesayangan ayah," jawab Rania.


Lalu kakek Yusuf menerima telepon tersebut. terpampang wajah cucu kesayangannya dilayar ponsel tersebut.


"Assalamualaikum kek," ucap Melati.


"Waallaikum sallam, kamu apa kabar disana?" tanya Kakek Yusuf.


"Aku dan suamiku baik baik saja kek, apakah kakek kenal orang ini?" tanya Melati sambil mengarahkan ponselnya kearah Taufik/Elang.


Elang menoleh kearah ponsel tersebut dan melihat wajah Kakek Yusuf yang tidak muda lagi, tapi masih terlihat gagah. Seketika Elang menangis sesenggukan melihat orang yang selama ini ia rindukan, saudara satu satunya meski tidak sedarah, orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Kakek Yusuf tidak kalah terpaku melihat saudara angkatnya bersama cucunya.


"Taufik... kamu...!" kakek Yusuf tidak dapat meneruskan ucapannya.


"Iya kak ini aku, maafkan aku kak yang tidak mendengar nasehatmu." ucap Elang sambil menangis.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu bertemu cucuku?" tanya Kakek Yusuf.


"Kami bertemu secara tidak sengaja kek," bukan Elang yang menjawab tapi Melati yang menjawab.


"Oh kalau begitu syukurlah," ucap kakek Yusuf.


"Kalau begitu udah dulu ya kek, Assalamualaikum." ucap Melati.


"Waallaikum sallam," jawab Kakek Yusuf, lalu panggilan pun berakhir.


'Sekarang kami percaya kalau kakek ini saudaranya kakek Yusuf." Rain.


"Apa kakek Elang tidak ingin pulang ke tanah air?" tanya Melati.


"kakek sudah tua sudah puluhan tahun tinggal disini, sekarang umur kakek hampir kepala enam. kakek juga ingin kembali ke tanah air, tapi bagaimana nasib klan kakek. mereka telah berjuang keras bersama kakek." Elang.


"Bisakah klan mafia the Eagle dibubarkan saja? kakek bebaskan orang orang yang menjadi bawahan kakek. biarkan mereka menikmati hidup selayaknya orang biasa." Rain.


"Bisa saja, tapi kakek juga punya perusahaan," Elang.


"Kalau soal perusahaan, kakek percayakah saja pada orang kepercayaan kakek, kakek hanya bisa bekerja dibelakang layar." Melati.


"Akan kakek pertimbangkan," Elang.


"Baiklah kalau begitu, kita mau kembali ke hotel. hubungi kami bila bila masa kalau Kakek membutuhkan kami, atau ingin bertemu kami. bisa juga datang langsung ke hotel tempat kami menginap." ucap Rain saat menyerahkan kartu namanya.


"Lima hari lagi kek," jawab Melati.


Rain dan Melati berjalan menuju taksi yang sejak tadi menunggu mereka, sebenarnya supir taksi sangat syok melihat Melati dan Rain melawan para mafia. Tidak lupa Melati melepaskan totokan pada anak buah the Eagle, seketika anak buah Elang kembali bergerak. kalau tidak dibuka totokan nya bisa dipastikan orang itu akan mati.


"Oya kek, tolong bereskan kekacauan yang telah kakek buat." ucap Melati sebelum masuk kedalam mobil.


Elang tersenyum, "Sifatnya benar benar mirip dengan kak Yusuf. kak aku akan kembali menemuimu," batin Elang.


Melati dan Rain tiba di hotel kedua-duanya masuk kedalam kamar, Rain duduk disisi ranjang sedangkan Melati langsung kekamar mandi, Rain tidak mau mengganggu Melati untuk saat ini. sekitar 15 menit Melati keluar dengan menggunakan bathrobe.


"Abang mandi gih, kita shalat isya berjamaah." Melati.


Rain segera bangun dan menuju kamar mandi, tak berapa lama Rain keluar hanya dengan menggunakan handuk melilit pinggangnya. Rain masuk keruang ganti, Melati sudah siap dengan mukena hanya tinggal menunggu Rain berganti pakaian. Setelah itu keduanya shalat isya berjamaah.


Rain membaringkan tubuhnya disamping Melati. lalu memeluknya dari belakang karena posisi Melati membelakangi Rain.


"Kamu pasti capek ya, sayang?" tanya Rain sambil mengelus rambut panjang Melati.

__ADS_1


"Gak juga," Melati membalikkan tubuhnya menghadap ke suaminya.


Rain memeluk istrinya semakin erat, perlahan Rain mendekatkan bibirnya ke bibir Melati, Rain mencium bibir indah milik Melati yang selalu dirindukan nya. Melati tidak menolak kali ini Melati membalas ciuman Rain, dari yang pelan kini semakin menuntut.


Rain meraba tubuh Melati yang berbalut piyama. Rain menelusuri setiap inci tubuh Melati. hingga Melati menggelinjang seperti ada sesuatu yang mengalir dalam dirinya. perlahan Melati memejamkan mata meresapi setiap sentuhan tangan Rain. Rain membuka kancing piyama milik Melati, perlahan lahan ciuman Rain berpindah ke leher dan lebih kebawah lagi hingga berhenti disebuah bukit. tangan Rain tidak tinggal diam terus menyelusuri hingga kelembah.


Entah sejak kapan keduanya kini sudah polos, kini Melati yang berinisiatif duluan karena ia bertekad ingin menyenangkan suaminya.


Nafas keduanya ngos ngosan karena terus mendaki untuk mencapai puncak. kini posisi mereka berbalik gantian Rain yang memimpin. Kurang lebih satu jam keduanya baru sampai, Rain akhirnya ambruk disamping Melati, sedangkan Melati nafasnya turun naik karena telah berhasil mencapai puncak. Selang beberapa puluh menit keduanya melakukan pendakian lagi dan lagi hingga keduanya sudah melakukan pendakian entah yang keberapa ronde. hingga akhirnya keduanya pun tertidur saling berpelukan dalam keadaan polos hanya tertutup selimut.


.


.


Tanpa terasa seminggu sudah mereka ada di negara ini, hari ini keduanya bersiap siap untuk kembali ke tanah air. Rain dan Melati sudah terlihat rapi dengan pakaian yang elegan. walaupun Melati memakai hijab, tapi fashion dia tetap sederhana namun elegan.


"Apa kakek Taufik ada menghubungi mu?" tanya Rain, Melati menggeleng.


"Mungkin kakek Taufik ingin menetap disini dan tidak tega meninggalkan anak buahnya." Melati.


"Yuk, nanti kita ketinggalan pesawat." Rain.


Melati dan Rain berjalan memasuki lift, Rain menekan angka yang akan membawa mereka kelantai dasar.


Ting...


Pintu lift terbuka, Rain menyeret koper dua sekaligus dan menuju meja resepsionis untuk menyerahkan kunci kamar.


Taksi yang biasa membawa mereka jalan jalan telah menunggu diparkiran dan akan mengantarkan mereka ke bandara.


Butuh waktu 30 menit mereka sampai ke bandara, diruang tunggu ternyata sudah ada kakek Taufik dengan koper besar disampingnya.


"Kakek...!" panggil Melati, kakek Taufik menoleh.


"Kalian sudah sampai? pesawat sebentar lagi take off. ucap kakek Taufik.


"Kupikir kakek tidak akan kembali." Melati.


"Ibarat kata pepatah, hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri masih tetap memilih negeri sendiri. Sejauh jauhnya burung terbang pasti kembali juga ke sarangnya. begitu juga kita manusia, sejauh apapun kita merantau pasti kembali juga ke tanah kelahiran." ucap kakek Taufik.


Mereka pun segera naik Ke pesawat dan akan kembali ke tanah air.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2