
.
.
.
" Bang makan dulu, nanti lanjut kerja." Rain bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa ruangan itu, ia duduk di samping Melati.
" Masak apa? Bau nya seperti nya enak." Rain.
" Masak steak daging dan ayam penyet, Abang mau yang mana?" Melati.
" Steak aja deh," jawab Rain.
Melati pun memindahkan steak daging itu kedalam piring dan memotong nya kecil kecil. Kemudian menyuap kan nya kemulut Rain.
" Nikah yuk!" Ajak Rain tiba tiba. Melati menatap tajam kearah Rain.
Buugh...
Melati memukul dada bidang milik Rain.
" Bilang sekali lagi!" ucap Melati.
" Kenapa?" tanya Rain tanpa merasa bersalah.
" Tanya kenapa? Nih makan sendiri," Melati meletakkan piring di meja.
" Eh, sayang kok ngambek sih?" Rain.
" pikir aja sendiri," jawab Melati ketus.
" Salah aku apa?" gumam Rain.
Kemudian Rain melanjutkan makan nya. Setelah selesai makan, Rain keluar ruangan menemui sekretaris nya, sedang kan Melati masuk ke kamar pribadi milik Rain.
" Rara!" panggil Rain.
" saya tuan ," jawab Rara.
" Kamu tau gak, kalau cewek tiba tiba ngambek? rasanya saya tidak berbuat salah apa apa?" tanya Rain.
" mungkin lagi PMS, tuan." jawab Rara.
" PMS ? Apa itu?"
" Lagi datang bulan atau haid, tuan."
" Hmmm gitu ya? oke terima kasih ya."
" Sama sama, tuan."
Rain masuk kembali ke ruangan nya, dan melihat Melati sedang duduk di ranjang di kamar pribadi milik Rain.
" Sayang kita shalat zhuhur berjamaah yuk!" Ajak Rain.
" Aku lagi halangan, Bang," jawab Melati.
" Ternyata perkataan Rara benar," batin Rain
" Ya sudah, Abang shalat dulu ya," kata Rain.
__ADS_1
Melati hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah selesai shalat, Rain melanjutkan pekerjaan nya.
Sore hari....
" Akhirnya selesai juga," gumam Rain.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17: 30 WIB. Rain menggeliat merenggangkan otot otot nya.
" Abang pasti capek ya," ucap Melati dengan lembut.
" Gak juga, cuma 5 L." jawab Rain.
" Apa itu 5 L ?" tanya Melati.
" Lemah, letih, lesu, loyo, lunglai." jawab Rain.
" Buahahah ," seketika tawa Melati pecah.
" Eeh, sekarang malah ketawa, tadi cemberut ngambek." batin Rain.
" Sayang pulang yuk, udah sore." ajak Rain.
Melati lantas bangkit dari duduknya, dan berjalan beriringan dengan Rain, keluar dari ruangan nya. Rara sang sekretaris menunduk sopan.
" Kamu belum pulang?" tanya Rain.
" Sebentar lagi tuan." jawab Rara.
Andre baru keluar dari ruangan nya dan menghampiri Rara.
" Yuk pulang," ajak Andre pada Rara. Rara pun mengangguk.
Di lantai dasar, Andre dan Rara berpapasan dengan bos nya.
Andre pun mengangguk sebagai jawaban, hingga membuat Rara tersipu malu.
" Ayok masuk, sayang." Rain.
" Tapi aku bawa mobil sendiri." Melati.
" Tinggal aja, nanti biar supir yang bawa."
Melati pun menurut dan masuk ke dalam mobil.
" Kita ke mansion ya, mama ingin bertemu kamu," kata Rain lagi.
" Baiklah," jawab Melati singkat.
Mobil Rain pun mulai bergerak keluar dari parkiran, dan melaju di jalan raya. Jalanan sedikit macet, karena bertepatan dengan jam pulang kantor. waktu yang biasa di tempuh hanya 30 menit, menjadi 1 jam. Akhirnya keduanya pun sampai di mansion keluarga Alexander Lemos.
Rain memarkirkan mobilnya di garasi, Lalu keduanya pun turun dari mobil, saat mendekati pintu mansion, samar samar keduanya mendengar keributan dari dalam.
Rain dan Melati saling pandang.
" Ada apa?" tanya Melati.
Rain hanya mengangkat bahu pertanda tidak tahu. Karena pintu tidak tertutup jadi keduanya langsung masuk. tak lupa Melati mengucapkan salam.
" Assalamualaikum," ucap Melati.
Namun tidak ada yang menjawab, malah Sonya langsung marah marah gak jelas.
__ADS_1
" Ini, ini dia orang nya yang telah mencelakai putra saya," kata Sonya sambil menuding kan jari kearah Melati.
" Ada apa ini?" tanya Rain yang memang tidak tahu masalah nya.
Sofia yang sedari tadi menenangkan adiknya, tetap tidak bisa.
" Calon istri mu itu telah membuat tangan Ardhan patah." Suara Sonya semakin meninggi.
Sedangkan Melati hanya diam saja, membiarkan Tante dari calon suami nya mengeluarkan uneg-unegnya.
" Tampang saja polos, tapi kelakuan seperti iblis. Sekarang Ardhan tidak bisa apa apa karena kedua tangannya sudah patah, itu semua gara gara perempuan ini?" Sonya yang memang di landa emosi menuding jadi telunjuknya kearah Melati.
Sofia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya pasrah sekarang. Alex juga hanya mampu diam.
" Tante, Tante bisa sabar gak? sebaiknya kita selidiki dulu." Rain.
" Saya sudah tidak bisa sabar lagi, perkara ini harus melalui jalur hukum." Sonya.
" Tante, Melati tidak mungkin mencelakai orang kalau dia tidak di usik. Bisa jadi Ardhan yang mulai duluan." Rain.
" Pokoknya kami akan laporkan ke polisi, biar hukum yang memproses nya." kata Yoga yang kini juga ikut bersuara.
Yoga Kusuma Wijaya adalah suami dari Sonya Kusuma Wijaya, ayah dari Ardhan Kusuma Wijaya.
Rain tersenyum sinis mendengar perkataan Om nya.
" Kalau kalian mau melaporkan kasus ini ke polisi, aku pasti kan anak kalian lah yang masuk penjara." Melati pun ikut berbicara, sudah sejak tadi ia menahan diri.
" Anak kami adalah korban," Ucap Yoga mulai emosi.
" Anak kalian korban, tapi besar kemungkinan akan menjadi tersangka," ucap Melati lagi.
" Apa maksud mu hah? dasar perempuan licik." Bentak Sonya dengan suara yang semakin tidak bisa terkendali.
" Kurasa bukan cuma Ardhan yang masuk penjara, tapi juga Om Yoga," kata Rain penuh penekanan dan terdengar seperti ancaman.
" Apa maksud anak ini? apakah ia sudah tau dalang penculikan sepuluh tahun lalu?" Batin Yoga dengan wajah mulai pucat pasi.
Sedangkan Sofia dan Alex saling pandang, mereka tidak mengerti apa apa?
" Silahkan Om dan Tante membawa kasus ini kejalur hukum, tapi aku akan pasti kan keadaan nya akan berbalik," kata Rain tersenyum devil.
Yoga semakin pucat saja, bahkan tangan nya ikut gemetar.
" A.. apa maksud mu?" tanya Yoga gagap.
" Kenapa Om? seperti nya Om takut?" tanya Rain mengejek.
Melati yang melihat reaksi Yoga mulai bertanya tanya dalam hati.
" Sebenarnya ada masalah apa antara Rain dengan Om nya? seperti nya ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua," pikir Melati.
" Pa, muka mu pucat banget?" tanya Sonya melihat perubahan suaminya.
Padahal tadi sebelum mereka tiba di mansion keluarga Lemos, Yoga lah yang paling antusias untuk melabrak, kalau perlu dia juga ingin mematahkan kedua tangan Melati.
" Kita pulang saja pa!" kata Sonya lagi.
Yoga pun menuruti istri nya. sebelum Yoga dan Sonya beranjak dari tempat itu, Rain berkata lagi.
" Melati itu ibarat lebah Tante, Om, dia tidak akan menyengat kalau tidak di ganggu." kata Rain telak.
__ADS_1
" Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sofia yang sejak tadi diam.
" Nanti Mama sama Papa juga bakalan tau." jawab Rain.