
.
.
.
Melati menggeliat kan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.
"Jam berapa ini?" tanyanya.
"Jam satu siang." jawab Rain.
"Astaghfirullah hal adzim, aku belum shalat Zuhur." ucap Melati.
Lalu segera bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi, Melati sekali lagi harus mandi wajib. ia menggerutu dalam hati karena Rain tidak membangunkannya. Tak butuh waktu lama Melati selesai mandi dan juga sudah wudhu. Melati langsung mengenakan mukena dan membentangkan sajadah. ternyata Rain juga melakukan hal yang sama.
"Abang sengaja menunggumu agar kita shalat berjamaah." Rain.
"Kalau begitu marilah kita shalat." Melati
Lalu kemudian mereka shalat zhuhur berjamaah, untuk kesekian kalinya Melati merasakan kebahagiaan, karena shalat nya tidak lagi sendiri, impian yang selama ini ia dambakan akhirnya terwujud.
Setelah selesai shalat, Melati pun makan bersama Rain, makan tanpa nasi dan hanya steak daging serta jus jeruk untuk makan siang mereka.
"Nanti malam kita makan di restoran Indonesia lagi ya Bang." Melati.
"Iya nanti kita kesana, tapi hari ini kita dikamar aja ya, kamu pasti capek kan?" Rain.
"Semua gara gara Abang, mana itunya gede lagi jadi sakit." Melati.
"Pertama kali aja yang sakit, seterusnya sudah enak kan?" Rain.
Melati tersipu-sipu, "huh nyesel aku ngomong gitu," gerutu Melati dalam hati.
Melati duduk di balkon kamar hotel, sambil memandangi menara Eiffel, Rain pun segera menghampirinya.
.
Malam hari...
Rain dan Melati akan pergi ke restoran Indonesia, keduanya berada di lobby hotel sambil menunggu taksi yang biasa mereka tumpangi. saat taksi itu tiba, Rain dan Melati menghampiri taksi tersebut.
"Maaf membuat Tuan lama menunggu."
"Tidak apa-apa, ini juga baru jam tujuh malam." Rain.
Rain membukakan pintu mobil untuk Melati, setelah itu barulah Rain masuk.
"Ke restoran yang kemarin ya Pak," Rain.
"Baik tuan," supir taksi itu pun menjalankan mobilnya, baru saja mereka keluar dari parkiran hotel, mobil yang mereka tumpangi ada yang mengikuti.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang mengikuti kita," Rain.
"Aku sudah dari tadi merasakan nya, sewaktu kita berada di lobby." Melati.
Melati dan Rain berbicara bahasa Indonesia, jadi supir taksi itu tidak mengerti.
"Apakah Abang punya musuh di negara ini?" tanya Melati lagi.
"Seingatku tidak ada, apa mungkin itu orang suruhan Allora?" Rain.
"Bisa jadi sih, mungkin dia masih ingin merebut Abang dariku." ucap Melati.
"Mama mungkin aku mau sama dia," Rain.
Akhirnya mereka pun sampai ke restoran yang mereka maksud. keduanya disambut ramah oleh pelayan restoran itu.
"Silahkan Tuan dan nona," ucap pelayan sambil menyerahkan buku menu. sesekali matanya melirik kearah Rain, tapi yang dilirik malah tidak tahu, lebih tepatnya tidak peduli sama sekali. Melati memperhatikan tingkah pelayan yang selalu curi curi pandang ke Rain, tapi Melati pura pura tidak tahu saja, ia percaya Rain tidak akan tergoda oleh wanita lain.
"Aku pesan nasi goreng seafood dan sate, minumnya jus alpukat." Melati.
"Samain aja deh," Rain.
"Baik tuan, mohon ditunggu sebentar." ucap pelayan itu lalu pergi.
"Kenapa aku punya suami gantengnya kebangetan sih, untung aku punya stok kesabaran lebih banyak," Melati.
Rain terkekeh, "habis gimana lagi memang sudah dari sononya."
"Sepertinya orang yang mengikuti kita masih berada diluar." Melati.
"Bukannya Abang sudah belajar ilmu bela diri sama kakek? masa Abang tidak merasakan aura jahat dari orang lain." Melati.
"Aku merasakannya juga, tapi instingmu lebih kuat." Rain.
"Kita harus melatihnya, agar kita bisa tahu niat jahat orang tersebut." Melati.
Obrolan mereka berhenti saat pelayan mengantarkan pesanan mereka, tapi bukan pelayan yang tadi.
"Mas dan mbak nya pengantin baru ya? tanya pelayan itu.
"Kok tau?" Rain balik nanya.
"Biasanya orang yang datang kemari berpasangan pasti sedang berbulan madu." ucap pelayan itu.
Melati hanya tersenyum, tanpa menanggapi omongan pelayan tersebut.
"Benar, kami baru saja menikah." Rain.
"Silahkan dimakan mas, mbak saya permisi dulu." pamit pelayan itu.
Rain dan Melati pun mengangguk, kini keduanya menikmati makan malam dengan hikmat dan tenang.
__ADS_1
"Setidaknya kita sudah menambah tenaga, aku yakin mereka menargetkan kita." Rain.
Melati mengangguk, "Abang benar."
Setelah selesai makan malam keduanya keluar dari restoran itu setelah membayar tentunya. Rain dan Melati melangkah keluar dari restoran berjalan beriringan hendak menuju taksi yang menunggu mereka.
Belum sampai ke mobil, tiba tiba keduanya dihadang oleh sepuluh orang dengan tubuh besar, mereka adalah anggota mafia di negara ini. sedangkan bos mafia tersebut berada didalam mobil memperhatikan anak buahnya menghajar Melati dan Rain.
Melati yang tadinya bersikap lemah lembut kini berubah datar, begitu juga dengan Rain.
Allora juga berada didalam mobil untuk menyaksikan kematian Melati.
"Siapa kalian?" tanya Rain datar.
"Kau tidak perlu tau siapa kami, kami hanya dibayar untuk menghabisi nyawa wanita itu." tunjuk salah satu dari mereka.
"Coba saja kalau bisa," ucap Rain tegas.
"Cih sombong, kalian tidak tahu siapa kami? kami adalah mafia terkuat di negara ini." ucap pria itu.
Salah satu dari mereka maju hendak menangkap tangan Melati, tapi belum sempat tangan itu menyentuh Melati Rain sudah menendang tangan tersebut hingga tangan pria itu gemetar karena kesakitan.
"Aakkkhh, sial sakit sekali." jerit pria tersebut, Melihat hal itu yang lain pun maju.
"Kalian urus prianya, saya urus wanitanya." ucap pria tersebut. mereka delapan orang maju melawan Rain, dan satu orang hendak menangkap Melati, sedangkan yang Rain tendang tangannya tidak ikut bertarung. Rain benar benar dikeroyok oleh mereka, tapi Rain bukan pria lemah.
"Kamu sangat cantik nona, tapi sayang nyawamu akan berakhir malam ini." ucap pria itu tersenyum mengejek.
Melati melirik kearah Rain dikeroyok, lalu dengan cepat Melati menotok pria yang hendak membunuhnya, pria itu tidak bisa bergerak sama sekali. lalu Melati maju melawan orang yang mengeroyok Rain.
Meskipun memakai hijab dan gamis tetapi tidak menghalangi Melati bergerak bebas.
Melati menerjang salah satu diantaranya hingga orang itu terpental jauh. Melati pun mengeluarkan jurus jurus yang diajarkan oleh kakek Yusuf.
Bos mafia melihat jurus yang Melati gunakan seketika wajah berubah, tiba tiba ia teringat akan seseorang.
"Mengapa jurus yang gadis itu gunakan sama dengan jurus yang diajarkan oleh kakak angkatku?" batin bos mafia tersebut.
Melati dan Rain terus bertarung, tiba tiba suara bariton menyuruhnya berhenti.
"Hentikan....!" perintah bos mafia tersebut.
Melati dan Rain menoleh ke asal suara. sedangkan anak buah bos mafia tersebut sudah terkapar di tanah.
"Siapa sebenarnya kalian?" tanya bos mafia tersebut.
"Seharusnya kami yang bertanya, mengapa tiba-tiba kalian menyerang kami dan hendak membunuh istriku?" Rain.
"Kami hanya dibayar," ucap bos mafia tersebut.
.
__ADS_1
.
.