MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 44


__ADS_3

.


.


.


Mereka berkumpul untuk memanggang ikan yang mereka dapat tadi dengan memancing. mereka mempergunakan kesempatan yang ada, karena setelah acara lamaran Frans dengan Indah, mereka akan kembali lagi ke ibukota. jadi waktu yang ada mereka manfaatkan untuk kumpul bersama. Bila di ibukota nanti mereka tidak dapat menikmati yang seperti ini.


Jam menunjukkan pukul 19: 30 WIB, acara memanggang ikan baru dimulai, karena mereka menyelesaikan shalat isya dulu.


Sementara ditempat lain, lebih tepatnya di rumah pengantin. Saat ini Ratih dan Ronald baru selesai shalat isya. keduanya duduk disisi ranjang. Ratih yang mengerti arti tatapan suaminya merasa grogi, jujur saja ia belum pernah duduk dalam satu kamar bersama pria apalagi untuk tidur bersama.


"Kenapa hmmm?" tanya Ronald, Ratih menggeleng, tapi dalam hatinya begitu bergemuruh menahan rasa yang belum pernah ia rasakan. belum lagi detak jantungnya yang kian cepat.


"Inikah yang dinamakan malam pertama?" batin Ratih.


Sebenarnya Ronald juga gugup, detak jantungnya juga berdebar kencang. hanya saja Ronald pandai menyembunyikan perasaannya.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Ronald.


"Haa.. ap..apa?" Ratih semakin gugup saja ditanya seperti itu.


"Tidak apa-apa kalau kamu belum siap!"


"A..aku sudah siap kok."


Ronald hendak mencium bibir istrinya, tapi seketika ditahan.


"Kenapa?" tanya Ronald merasa heran.

__ADS_1


"Kita shalat Sunnah dua rakaat dulu ya agar kita terhindar dari setan." jawab Ratih sambil menunduk.


Lalu keduanya bergantian mengambil air wudhu, karena shalat tidak akan sah tanpa adanya wudhu. setelah itu keduanya melakukan shalat Sunnah berjamaah. Selesai shalat Ratih mencium tangan suaminya. sekarang Ronald benar benar sudah menjadi imamnya. Ratih tersenyum, sekarang kecanggungannya dan debaran kuat dijantungnya sedikit berkurang. Setelah melepas mukenanya dan menyimpannya, Ratih berjalan kesisi ranjang dan duduk disana. Ronald melepas kopiah, baju Koko dan sarungnya. kini Ronald hanya memakai celana boxer saja. Ratih tidak berani menatap tubuh suaminya yang hanya memakai celana boxer.


"Mengapa tidak pakai baju?" tanya Ratih.


"Nanti juga akan dilepas!" jawab Ronald enteng.


Ronald mendekati Ratih, yang masih tertunduk malu, perlahan Ronald mengangkat dagu gadis itu lalu membisikkan sesuatu.


"Sayang sudah siap?" Hembusan nafas dari mulut Ronald menyentuh dinding telinga Ratih, membuat Ratih merasa tersengat aliran listrik. belum lagi kalau disentuh.


Perlahan Ronald mendekat kan bibirnya ke bibir istrinya dan mengecupnya. Tak puas hanya dengan mengecup, Ronald perlahan me***at bibir kenyal itu. walaupun tidak ada balasan dari Ratih, tapi keduanya menikmatinya. Ronald tau ini yang pertama bagi Ratih, Ronald bisa mengambil kesimpulan itu karena Ratih tidak ada reaksi apapun saat berciuman, seperti patung saja. perlahan ciuman itu berpindah ketempat tempat yang lebih sensitif, sentuhan bibir Ronald dibagian bagian tertentu membuat Ratih menggelinjang.


"Beginikah rasanya orang bercinta?" batin Ratih, Ronald terus saja melancarkan aksinya memberi sentuhan lembut pada Ratih. Entah sejak kapan, keduanya sudah sama sama polos. Ronald menatap Ratih yang sepertinya menahan sesuatu, Ronald tersenyum tipis melihat pemandangan didepan matanya. Ronald bukan penjahat kelamin, juga bukan pemain wanita. walaupun Ronald hidup diluar negeri, tapi ia tetap menjaga dirinya agar tidak terjerumus pergaulan bebas di negara tersebut. Begitu banyak wanita yang menggilainya, tapi Ronald tetap dengan pendiriannya hanya akan menyentuh wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Ratih masih terpejam menikmati sentuhan sentuhan lembut dari Ronald, Perlahan mata Ratih terbuka saat Ronald menghentikan aksinya, Ratih sempat mengintip kebawah dimana adik kecil Ronald berada, melihat benda itu menegang Ratih sedikit syok untuk pertama kalinya melihat benda tersebut.


Saat Ronald hendak melakukannya, tapi di tahan oleh Ratih, karena jujur saja Ratih merasa takut takut.


"Kenapa?" tanya Ronald, dan Ratih hanya menggeleng kepala.


"Pelan pelan Mas, ini pertama kalinya bagiku."


Ronald tersenyum, dalam hati ia merasa bangga perjaka nya berlabuh pada orang yang tepat. " ternyata apa yang dikatakan Mama benar, kalau kita melakukannya pada orang yang tepat akan lebih nikmat." batin Ronald.


Perlahan Ronald menusukkan benda itu, percobaan pertama gagal, tapi tidak membuatnya putus asa. percobaan kedua pun cuma bisa sedikit, tapi itu sudah membuat Ratih merintih. Akhirnya percobaan ketiga kalinya barulah berhasil. Pengalaman pertama bagi keduanya sungguh membuat mereka seperti terbang keatas awan. Akhirnya malam yang mereka sebut adalah malam pertama, menjadi saksi penyatuan dua anak cucu Adam berbeda jenis kelamin. penyatuan dua tubuh, penyatuan dua jiwa dan dua cinta. saat ini seakan malam ini adalah milik mereka saja, mereka tidak peduli dengan apa yang akan terjadi diluar sana. yang penting mereka sangat menikmati keindahan cinta mereka. Dua insan dua hati dan dua jiwa kini bersatu dimalam yang mungkin tidak akan bisa mereka lupakan seumur hidup mereka. Setelah selesai keduanya menutup tubuh menggunakan selimut, tanpa membersihkan diri. Karena nanti mereka akan melanjutkan ronde kedua dan seterusnya.


"Apa sangat sakit?" tanya Ronald sambil memeluk tubuh Ratih.

__ADS_1


"Sangat mas, seperti kemasukan sesuatu." jawab Ratih polos.


Ronald ingin tertawa, tapi sebisa mungkin ia tahan takutnya ronde berikutnya bisa batal.


"Ini adalah pengalaman pertama bagi kita."


"Masa sih Mas juga baru kali ini?" Ronald mengangguk.


"Mungkin kamu berpikir kalau aku hidup diluar negeri menjalani pergaulan bebas? kamu salah Sayang, karena Mamaku selalu menasehati untuk tidak melakukan hubungan intim sebelum menikah. Begitu juga dengan teman temanku. kami berlima punya prinsip untuk melakukan hubungan suami istri hanya pada satu orang yang kami sebut istri.


Ratih terdiam mendengar penuturan Ronald, awalnya ia ragu, dan menganggap Ronald sudah sering melakukan hal itu.


"Tapi kenapa Mas begitu lihay, hingga membuat aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan, sensasi itu membuat aku merasakan melayang layang." ucap Ratih jujur.


"Itulah hebatnya lelaki sayang, walaupun ia belum pernah melakukannya, tapi insting dan naluri sangat kuat. Dengan insting itulah para lelaki harus bisa membuat pasangannya merasakan kepuasan."


Ratih terus menyimak setiap penjelasan dari kata kata yang diucapkan Ronald. Ratih tidak tahu kalau setiap lelaki punya insting seperti itu.


"Kita lanjut lagi yuk!" ajak Ronald, seperti mengajak seseorang menaiki bukit yang begitu menanjak.


"Masih sakit Mas." jawab Ratih.


"Kita pelan pelan saja ya." bujuk Ronald yang tidak kehabisan akal.


Kembali Ronald melakukan pemanasan untuk melakukan olahraga malam. Berbagi keringat dengan sang istri, penyatuan yang nikmat bagi pasangan halal. Tidak ada lagi keraguan tidak lagi takut akan dosa. Malahan malam ini keduanya melakukan sunah yang bisa mendatangkan pahala. Dan malam ini benar benar mereka habiskan untuk mereka berdua saja.


.


.

__ADS_1


.


Maaf ya malam pertamanya kurang sreek, kurang hot.


__ADS_2