MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 66


__ADS_3

.


.


.


Sudah tiga hari Melati dirawat dirumah sakit, dan tiga hari pula Rain selalu menjaganya 24 jam. Rain memberitahukan sahabatnya bahwa Melati sudah melahirkan. mereka tidak dapat datang kerumah sakit, mereka hanya akan menjenguk Melati di mansion. Hari ini juga Melati sudah diperbolehkan pulang, Rain bersiap siap mengemasi barang-barang bawaan mereka, Sofia, dan Rania tidak datang kerumah sakit, mereka begitu semangat menyiapkan kamar untuk baby Gavin. Dibantu oleh suami mereka mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan keluarga baru mereka.


"Bang, Mama sama Bunda kok gak datang." tanya Melati.


"Mereka lagi sibuk sayang, mereka sedang menyiapkan kamar untuk baby Gavin." jawab Rain.


"Oh ya udah, apa kita boleh pulang sekarang?" tanya Melati.


"Abang minta izin dokter Rastiwi dulu ya?" Rain.


Melati mengangguk, tak berapa lama Rain kembali masuk bersama dokter Rastiwi.


"Selamat siang Mel, gimana keadaannya?" tanya dokter Rastiwi.


"Sepertinya aku sudah baik baik saja Tan." Melati.


"Kalau begitu biar saya cek lagi ya?" dokter Rastiwi pun mengecek kesehatan Melati.


"Gimana Dok?" tanya Rain.


"Sudah baik baik saja, hanya tinggal masa pemulihan, mungkin sekitar 40 hari masa nifas." ucap dokter Rastiwi.


Akhirnya Melati dan Rain pun diizinkan pulang, Melati duduk dikursi roda sambil memangku baby Gavin yang sedang tertidur pulas. sedangkan Rain membawa barang barang mereka.


Perlahan Melati masuk kedalam mobil dengan baby Gavin berada dipangkuannya. Rain mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan setelah keluar dari parkiran rumah sakit, Rain melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rain tidak mau terjadi apa apa pada istri dan anaknya.


Tidak berapa lama mereka pun sampai di mansion keluarga Lemos. Melati dan baby Gavin disambut dengan hangat oleh keluarga tersebut. sedangkan Rain seolah terlupakan.


"Mentang mentang sudah punya cucu, aku sebagai putra mereka tersisihkan." ucap Rain. Melati tersenyum mendengar hal itu, rasanya pengen ketawa terbahak-bahak tapi sebisa mungkin ia tahan.


"Kamu itu sudah tua, sudah jadi ayah sekarang giliran baby Gavin yang kami manjakan." Sofia.


Sejujurnya Rain senang bila keluarganya bahagia dengan kehadiran baby Gavin, hanya dia pura pura merajut agar diperhatikan juga.


(Sudah jadi ayah masih pengen dimanja, dasar Rain)


Sekarang mereka kelantai dua tempat kamar baby Gavin berada, Melati duduk dikursi roda dan didorong oleh Rain, tadi sewaktu dirumah sakit kursi rodanya diotomatis kan supaya bisa jalan sendiri.


Mereka menaiki lift untuk menuju lantai dua. ya sejak Melati hamil Rain memasang lift, biasanya hanya pakai tangga.


Sesampainya dikamar baby Gavin, Melati tertegun melihat kamar yang didesain khusus oleh Sofia dan Rania. sebenarnya Sofia dan Rania hanya memerintahkan saja suami merekalah yang bekerja, dari pada gak dapat jatah nanti malam. begitulah ancaman kedua wanita itu bila suami mereka tidak nurut.


Sore hari sahabat Melati dan sahabatnya Rain telah datang, mereka tidak membawa bayi mereka, biasalah neneknya over protektif kepada cucunya.


"Mirip kamu banget Rai, gak ada sama sekali mirip Melati," ucap Ronald.


"Memangnya anak kamu tidak mirip sama kamu?" tanya Rain.

__ADS_1


"Mirip sedikit, lebih banyak mirip istriku." Ronald.


"Siapa namanya baby comel ini?" tanya Indah.


"Gavin Alfian Lemos." jawab Rain singkat.


"Wah nama yang bagus," Ratih.


"Bukankah Gavin artinya elang putih?" tanya Putri.


"Benar, gak tau kenapa Abang memilih nama itu?" Melati.


"Bagus dong, elang itukan kuat." ucap Nadia.


Mereka mengobrol sampai malam, setelah makan malam mereka pun segera pamit, walaupun anak mereka dibekali ASI dalam botol, tapi tetap saja mereka khawatir.


.


.


.


Lima tahun kemudian....


Lima anak anak berlari bermain pasir di tepi pantai. sore ini mereka kembali berkumpul di pantai. Mereka rindu suasana seperti ini, setelah menikah dan melahirkan anak mereka jarang sekali bertemu. apalagi Ratih sekarang sibuk dengan usaha toko kue miliknya. Nadia sibuk dengan usaha laundry miliknya. Indah sibuk dengan usaha toko bunganya. Putri menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, karena Steve tidak memperbolehkan untuk istrinya bekerja, jadi ia dirumah ia hanya duduk saja, tapi bukan Putri namanya kalau tidak membantah suaminya, Putri yang sudah terbiasa bekerja, ia membuka bisnis online, ia hanya duduk dirumah saja dan orang lain yang mengantar pesanan. Steve tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa menyetujui permintaan istrinya.


Kini mereka berkumpul seperti dulu duduk ditepi pantai.


"Sudah lama kita tidak kumpul kaya gini." Indah.


"Kalian sih, sibuk melulu." Melati.


"Apa gak terbalik tuh, sendiri yang sibuk malah ngatain kita." Putri.


"Ye aku emang dari dulu kali sibuk, tapi aku tetap utamakan keluarga, agar anak dan suamiku tidak terabaikan." Melati.


"Iya benar, sesibuk apapun kita harus utamakan keluarga, suami kita semakin tampan takut nanti digondol siluman." Nadia.


"Kok siluman, pelakor kali," Putri.


"Pelakor itu tidak ubahnya seperti siluman, berwujud wanita cantik dan seksi." Nadia.


"Ada ada saja kalian." Melati.


Para pria...


"Aku perhatikan wajahmu semakin bersinar, Rai. terlihat jelas bahwa kamu sangat bahagia." Ronald.


"Jelas... memang kamu tidak bahagia?" tanya Rain.


"Pastinya bahagia dong, istriku meskipun ia punya usaha kue nya tapi ia tetap mengutamakan aku dan anak kami." Ronald.


"Begitulah seorang istri yang baik," Steve.

__ADS_1


"Aku beruntung dipertemukan dengan istri seperti Nadia," William.


"Memang kamu saja yang beruntung, kita juga." Frans.


"Semua itu berkat Melati, kalau saja mereka tidak membawa sahabat nya ke ibukota mungkin kita tidak akan bertemu." Ronald.


"Kalau sudah jodoh sejauh apapun ia berada pasti akan dipertemukan, contohnya aku." Rain.


Lebih baik kita kumpul dengan istri istri kita," William.


"yuk lah." ucap mereka serentak.


Akhirnya mereka bergabung dengan istri istri mereka masing-masing. Rain duduk disamping Melati, begitu yang lain duduk disamping istri mereka masing-masing.


"Rai.. anak kamu yang paling kecil, tapi yang paling tinggi diantara anak anak kami," Ronald.


"Jelaslah, Gavin mengikuti tinggi badan orang tuanya." Rain.


Anak anak mereka masih asik lari larian ditepi pantai, sesekali mereka main pasir. Alangkah bahagianya mereka.


Hari semakin sore, matahari pun hampir terbenam terlihat warna warna jingga diatas langit.


"Kapan lagi kita bisa seperti ini?" tanya Ratih.


"Walaupun kita sudah berkeluarga, aku harap kebersamaan kita akan tetap terjaga." Putri.


"Rasanya aku tidak ingin ini berakhir." Nadia


"Persahabatan kita akan tetap kita jaga sampai kita sama sama tua." Indah.


"Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. kemesraan ini ingin ku kenang selalu." Melati.


"Sunset nya sangat indah, suatu saat kita akan kesini lagi," Rain.


"Semoga saja kita diberi umur panjang, sampai kita jadi kakek, persahabatan kita tetap terjalin." Ronald.


"Dan semoga kita menjadi sahabat sejati selamanya." William.


"Yes, best friend forever." Frans.


Matahari semakin meredup dan perlahan tenggelam, mereka pun mengajak anak anak mereka untuk pulang.


Tamat.


Terimakasih untuk para readers yang sudah sudi membaca novel receh ini. terimakasih juga yang telah memberikan like, komentar, dan favoritkan novel, serta yang memberi hadiah berupa bunga dan lain.


Nanti akan ada novel baru dari author, tapi untuk saat ini author mau fokus dulu pada novel satunya.


Sekali lagi author mengucapkan terimakasih pada readers semua tanpa terkecuali yang tidak bisa disebut namanya satu persatu. apapun untuk kalian semoga Allah memberikan rezeki yang berlimpah.


Semoga kalian tidak kecewa dengan ending dari cerita ini.


Wasallam dari author PA'TAM.

__ADS_1


__ADS_2