MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 61


__ADS_3

.


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 17 jam, kini mereka sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Rain menggeret koper dua sekaligus, kini mereka di jemput oleh orang tua mereka, Sofia langsung memeluk menantu kesayangannya.


"Selamat datang kembali sayang," ucap Sofia.


"Terimakasih Ma," ucap Melati, lalu beralih memeluk Bundanya.


"Kamu baik baik saja, sayang?" tanya Rania.


"Baik Bun, Oh ya Bun kenalkan ini adiknya Kakek," Melati.


Rania menoleh, "Benarkah? kakekmu pasti senang bertemu dengan adiknya."


"Perkenalkan namaku Taufik,"


"Aku Rania, Paman."


"Anaknya kakak?" tanya Taufik, Rania mengangguk lalu mencium tangan Pamannya itu.


"Kita langsung pulang ke mansion ya, sayang." Sofia.


"Melati harus pulang kerumahnya dulu Ma, baru setelah itu kita pulang ke mansion, iya kan sayang?" Rain.


"Baiklah kalau begitu," ucap Sofia pasrah.


"Sudahlah Ma, nanti mereka juga pulang ke mansion kita." Alexander.


Mereka pun pulang kerumah masing-masing, sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sama sekali, entahlah mungkin mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Akhirnya mereka tiba dirumah Melati, Rain menurunkan barang barang bawaan mereka. Diruang tamu sudah ada Kakek Yusuf dan istrinya, mereka berencana akan pulang ke desa besok. Melati dan Rain langsung mencium tangan Kakek dan neneknya.


Sedangkan Taufik masih diam seperti patung, kakek Yusuf belum menyadari kalau ada Taufik di belakangnya.


"Kek, coba lihat kebelakang...!" Melati.


Kakek Yusuf pun menoleh, dilihatnya sang adik menatap dengan penuh rindu. Kakek Yusuf langsung berdiri mendekat kearah Taufik, tanpa aba-aba Kakek Yusuf memeluk adiknya itu, keduanya melampiaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Walaupun bukan sedarah, tapi hubungan mereka melebihi dari saudara sedarah. kakek Yusuf dan juga kakek Taufik menangis penuh haru, bahagia bercampur jadi satu. kakek Yusuf meleraikan pelukannya dan...


Buugh....


Satu pukulan mendarat diperut Kakek Taufik, siapa lagi pelakunya kalau bukan kakek Yusuf. semua yang ada disitu tercengang melihat Kakek Yusuf meninjau perut Kakek Taufik.

__ADS_1


Buugh...


Sekali lagi pukulan mendarat didada kakek Taufik, anehnya kakek Taufik tidak meringis sedikitpun seolah menikmati pukulan tersebut.


"Anak nakal...! kemana saja kamu selama ini haa? kamu tidak lihat cucuku hingga sebesar ini, sebentar lagi aku akan punya cicit." ucap kakek Yusuf.


Kakek Taufik tidak bisa berkata apa-apa, hanya air matanya terus mengalir.


"Ini istriku, ini anak dan menantuku. kemana saja kamu puluhan tahun tidak ada kabar sama sekali? kakakmu ini sudah tua sudah uzur, bagaimana kalau kamu tidak ketemu cucuku? pasti kamu tidak ingat untuk kembali?" cecar Kakek Yusuf seolah olah melepaskan unek-uneknya selama ini.


Buugh... sekali lagi perut Kakek Taufik jadi sasaran, meskipun kakek Taufik sudah berumur tapi perutnya tidak buncit, karena ia rutin olahraga dan juga latihan ilmu bela diri.


"Kakek cukup kek, adik kakek sudah pulang malah tidak senang." Melati.


"Siapa bilang aku tidak senang? justru karena aku terlalu senanglah aku memukulnya." kakek Yusuf.


Buugh...


pukulan keempat, baru setelah itu kakek Yusuf kembali memeluknya.


"Kau memang adikku." ucap kakek Yusuf.


"Kakak...!" makin pecahlah tangisan kakek Taufik. "Aku merindukanmu kak."


"Sudah jangan cengeng, sudah tua malu maluin aja," ucap kakek Yusuf, padahal dia sendiri masih berlinangan air mata.


"Mana ada? ini hanya keringat." elak kakek Yusuf.


"Iya deh yang waras ngalah aja," ejek kakek Taufik lagi.


"Apa katamu?" tanya Kakek Yusuf, sedangkan orang yang mengejeknya sudah kabur.


Kakek Yusuf mengejar, akhirnya aksi kejar-kejaran diruang tamu pun terjadi.


Semua yang ada disitu hanya melongo melihat tingkah keduanya, seumur umur mereka belum pernah melihat Kakek Yusuf bertingkah seperti itu.


Keduanya terduduk di sofa setelah merasa capek, nafas mereka ngos ngosan.


"Ternyata kita benar benar sudah tua, lari begitu saja sudah ngos ngosan." kakek Yusuf.


"Yang bilang kakak muda siapa? sadar kak, itu adalah cermin di lemari buat ngaca." kakek Taufik.


Melati dan Rain kini sudah berada didalam kamar, keduanya ingin beristirahat besok baru mereka ke mansion keluarga Lemos. Melati baru selesai mandi, sekarang giliran Rain yang akan mandi. karena kalau tidak, jangan harap dapat memeluk sang istri.


"Sayang tolong ambilkan handuk, aku lupa bawa." teriak Rain dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Melati pun mengambilkan handuk didalam lemari, Rain membuka pintu kamar mandi dengan lebar, Melati memalingkan badannya membelakangi Rain.


"Kenapa sayang?" tanya Rain tanpa merasa bersalah.


"Abang, aiissh...kok gak pakai apa-apa sih?" Melati.


"Sayang, kamu kan sudah sering melihatnya, bahkan sering juga merasakannya." Rain.


"Abang mau tidur di dapur?" tanya Melati.


"Hah... maksudnya?" Rain


"Gak ada maksud sih, malam ini Abang tidur didapur." Melati.


"Jangan dong sayang, masa sayang tega sih," Rain.


"Udah cepat mandi, sebentar lagi Maghrib loh." Melati.


Akhirnya Rain mempercepat mandinya. Setelah selesai shalat Maghrib keduanya turun untuk makan malam, dimeja makan semua sudah berkumpul. kakek Taufik baru merasakan arti keluarga yang sebenarnya, tapi besok ia harus ikut ke desa bersama kakek Yusuf dan akan menetap disana. ia akan menempati rumah Melati yang ada di desa. Kakek Taufik sudah membubarkan klan mafia the Eagle, kini para bawahannya diberikan pekerjaan sesuai dengan keahlian masing-masing. bahkan ada yang diberi modal untuk memulai usaha. kakek Taufik ingin hidup tenang tanpa harus saling bunuh.


"Abang mau pakai lauk apa?" tanya Melati.


"Apa aja deh, kayanya semuanya enak." Rain.


Melati melayani Rain terlebih dahulu, setelah itu baru dirinya. Kini mereka makan dengan nikmat.


Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang tamu sambil menunggu shalat isya. Mereka shalat isya dikamar masing-masing, karena tidak ada musholla. Rain dan Melati shalat berjamaah dikamarnya. Selesai shalat, Rain merebahkan tubuhnya di ranjang sambil terlentang. Melati melirik kearah Rain yang tidak memakai baju, hanya celana saja.


"Kalau mau lihat, lihat aja jangan lirik lirik gitu." Rain.


"Ah sudahlah aku mau tidur," kata Melati lalu naik keatas ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya.


Rain tidak tinggal diam, iapun mendekat dan memeluk Melati, Melati hanya diam saja lalu memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke Rain. Melati membalas pelukan Rain.


"Kita tidur saja ya." Melati.


"Satu ronde, setelah itu baru tidur," Rain.


Awalnya Melati menolak, tapi dengan lihainya Rain membangkitkan gairah Melati hingga Melati tidak bisa menolak, karena ia juga menginginkannya. Malam ini mereka kembali mendaki saling bantu membantu untuk mencapai puncak, Melati memimpin hingga membuat Rain semakin gemas. Melati sudah kelelahan dan ambruk ditubuh Rain. kini Rain lah yang memimpin karena sebentar lagi mereka akan sampai. Rain terus mendaki dan mendaki hingga akhirnya...


"Aakkkhh, suara erangan panjang bersamaan keduanya pun mencapai puncak.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2