MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 45


__ADS_3

.


.


.


Keesokan harinya Melati sudah berada di rumah Indah, membantu Indah untuk acara lamaran nanti malam. Gak banyak sih yang dikerjakan hanya membuat kue, dan soal masak tidak perlu terburu-buru. dan juga sekarang masih pagi. Namun Melati tetap bersikeras ingin membantu.


"Sudah dulu Mel, acaranya juga masih lama." Indah.


"Tidak apa-apa Ndah, lebih baik cepat agar nantinya tidak kerepotan." Melati.


"Terserah kamu lah, dilarang juga mana kamu peduli, kita sudah ngerti sifat keras kepala kamu." Indah.


Melati hanya nyengir kuda, bukannya tersinggung atau marah, ia juga mengakui kalau dirinya keras kepala.


Sementara itu dirumahnya Pak Yusuf, Pak Yusuf sedang bersiap siap untuk pergi ke hutan mencari buah yang bisa dimakan.


"Ehh, Pak Yusuf mau kemana?" tanya Martin.


"Mau masuk hutan, mencari buah buahan yang mungkin bisa dimakan." jawab Pak Yusuf.


"Mau ikut boleh?" Mario.


"Boleh saja, tapi agak jauh loh." Pak Yusuf.


"Gak apa apa, kita juga mau jalan jalan melihat hutan daerah sini." Martin.


Para anak muda juga tidak mau ketinggalan. alhasil mereka pun pergi memasuki hutan. Frans, Rain, William dan Steve. tidak ketinggalan juga Mario, Martin, Alex dan Alfian. Mereka pikir masuk kehutan seperti pergi kepasar kali ya.


Pak Yusuf pun memulai perjalanannya menuju hutan, diikuti oleh orang orang kota yang belum pernah masuk hutan. Baru beberapa ratus meter berjalan, keringat sudah membasahi tubuh mereka.


"Begini rasanya masuk hutan, seumur umur baru kali ini saya masuk hutan." Mario.


"Tidak apa-apa sesekali kita refreshing kedalam hutan," Alexander.


"Ehh Pak itu pohonnya ada yang berbuah." ucap Alex sambil menunjuk kearah pohon tersebut.



Yang lain spontan menoleh kearah pohon tersebut.


"Buah apa itu kek?" tanya Rain.


"Itu namanya buah belimbing darah." jawab Pak Yusuf.


"Kalau yang itu kek, buah apa?" tanya William sambil menunjuk pohon yang lainnnya.



"Kalau itu buah tampoi." jawab Pak Yusuf.


"Boleh dimakan tidak Kek?" tanya Frans.

__ADS_1


"Boleh, itu tidak beracun." jawab Pak Yusuf.


Mereka mengamati sekitar, banyak pohon pohon rindang di sekitar mereka.


"Siapa yang mau panjat pohon itu?" tanya Pak Yusuf.


Mereka saling pandang satu sama lain. Pak Yusuf mengerti mereka tidak pandai memanjat pohon.


"Kamu aja, aku tidak pandai memanjat pohon." ucap Alex, pada Martin.


"Loh kok saya sih, saya juga tidak bisa manjat pohon." Martin.


"Biar aku saja yang panjat." Alfian.


Alfian pun memanjat pohon tersebut. walaupun kakinya sedikit gemetar tapi tetap ia teruskan. Hal itu dilihat oleh Pak Yusuf.


"Kalau tidak mampu panjat tidak usah diteruskan. Ucap Pak Yusuf.


"Tidak apa-apa ayah, ini juga sudah dapat buahnya." Alfian pun menjatuhkan beberapa buah yang telah dipetik.


Setelah lumayan banyak baru iapun turun dari pohon tersebut. mereka yang menunggu dibawah berebutan memungut buah-buahan yang jatuh itu.


"Kalau begitu mari kita pulang, matahari semakin meninggi." ajak Pak Yusuf, matahari semakin meninggi artinya sudah semakin siang.


Mereka pun berjalan mengikuti Pak Yusuf dari belakang, sambil membawa buah yang mereka ambil tadi. Tidak berapa lama kemudian mereka pun sampai kerumah Pak Yusuf. Para istri pun menyambut suami mereka masing-masing.


Rain, Steve, Frans, William pulang kerumah Melati untuk mandi, merasa gerah dan juga letih sehabis berjalan memasuki hutan.


"Gimana? letih gak?" Rain bertanya kepada teman temannya.


"Gak nyangka ya, di hutan lebih banyak buah-buahan." William.


"Itulah kekayaan alam, kalau tidak ada buah buahan para hewan tidak dapat makanan." Rain.


Mereka terus berceloteh tentang hutan dan desa ini.


Malam harinya...


Semua keluarga sudah bersiap siap untuk pergi melamar salah satu gadis didesa ini. Frans yang tadinya bersemangat, kini malah grogi.


Sedangkan dirumah Indah, para tetua desa ini sudah menunggu kedatangan tamu yang akan datang untuk melamar.


"Jam berapa acaranya lamaran nya?" Melati bertanya kepada Indah.


"Mungkin sebentar lagi, tinggal menunggu tamunya datang." Jawab Indah.


Tidak berapa lama yang ditunggu tunggu pun datang.


"Assalamualaikum," ucap salam dari luar rumah.


"Waallaikum sallam," jawab yang dari dalam rumah, Lalu mempersilahkan tamunya masuk. Rombongan dari pihak lelaki pun masuk kedalam rumah dan disambut ramah oleh tuan rumah dan kerabat keluarga yang lain. Setelah mereka duduk lalu Mario pun menyampaikan maksud kedatangannya pada malam ini.


"Kita langsung saja ya Pak, Bu. kedatangan kami kemari karena ingin melamar anak gadis Bapak dan ibu untuk Frans anak saya." Mario.

__ADS_1


"Sebelumnya kami sangat berterima kasih karena Bapak dan ibunya Frans telah sudi datang kegubuk kami ini. Tapi kami sebagai orang tua tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak, tentu keputusan ini akan kami serahkan kepada anak kami, walau bagaimanapun dia yang akan menjalani hubungan ini, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan saja untuk kebahagiaan anak gadis kami." ucap Bapaknya Indah.


"Baiklah kalau begitu Pak, kami akan terima apapun keputusan anak Bapak." Mario


"Bu panggil Indah nya kemari." perintah Bapaknya Indah.


Tak berapa lama Indah pun keluar bersama Melati. Mereka pun akhirnya lega mendengar jawaban Indah yang bersedia menerima Frans sebagai pendamping hidupnya.


Siapa sih yang nolak cowok sekeren Frans, udah tampan mapan plus kaya raya.


Lalu Frans memasangkan cincin pada jari manis Indah, Frans tersenyum karena pujaan hatinya menerima pinangannya.


"Gimana perasaan mu sekarang?" tanya Marreta kepada Frans.


"Bahagia Ma, terimakasih banyak ya Ma karena telah merestui hubungan kami." Frans.


"Kamu anak kami satu satunya, apapun demi kebahagiaan kamu akan kami lakukan." Mario.


"Terimakasih Pa, aku sayang kalian." Frans.


"Ternyata anak Mama pintar juga milih pendamping, kalau di poles sedikit pasti kalah gadis kota." Marreta.


"Mama bisa aja."


Tidak berapa lama, hidangan untuk makan malam pun terhidang dihadapan mereka.


"Maaf ya cuma lesehan," ucap Bapaknya Indah.


"Tidak apa-apa, kami juga tidak mempermasalahkan nya." Mario.


Marreta menyendok nasi untuk suaminya, begitu juga yang lain masing-masing melayani suami mereka.


"Ini apa?" tanya Mario menunjuk satu menu yang aneh menurutnya.



Marreta memandang Margaret untuk meminta jawaban, Margaret juga tidak tahu lalu bertanya kepada Rania.


"Itu namanya rebung." jawab Rania.


Mario mengambil satu lalu memakannya, sambil mengunyah dia terdiam menikmati rasa dari masakan sayur rebung itu. Merasa enak Mario pun menyendok lagi dan lagi. Marreta jadi heran melihat tingkah suaminya itu. lalu ia menyikut tubuh suaminya, Mario menoleh kearah istrinya.


"Ternyata enak, Ma." ucap Mario enteng.


"Masa sih Pa," kata Marreta.


Marreta pun mencicipinya, seperti Mario, Marreta juga melakukan hal yang sama. Orang tua Indah yang ada disitu hanya bisa tersenyum ternyata masakan mereka sangat disukai calon besannya.


"Saya belum pernah makan masakan ini." kata Mario menunjuk sayur rebung yang sudah di tambah lagi karena habis.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2