
.
.
.
Melati dan Rain kini sedang beristirahat didalam kamar, karena nanti jam 7 malam acara resepsi pernikahan mereka akan diadakan, sudah dipastikan akan menguras energi lebih banyak, untuk menyambut tamu undangan, dari kolega bisnis Rain dan juga kolega bisnis Melati. mereka semua diundang. Baik dari dalam dan luar negeri.
"Aku merindukanmu sayang." ucap Rain sambil memeluk tubuh Melati dari belakang, saat ini Melati sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.
Awalnya Melati tersentak kaget saat Rain memeluknya, maklum saja seumur umur Melati belum pernah dipeluk oleh lawan jenis.
"Padahal kita bertemu setiap hari, kenapa masih kangen?" tanya Melati menetralkan debaran jantungnya.
"Rindu ingin memelukmu sayang, dan itu sudah sejak dulu aku impikan," Rain.
"Sekarang sudah bisa kan? kita juga sudah dihalalkan jadi sah sah saja." Melati.
"Jadi boleh dong minta lebih?" tanya Rain memancing Melati.
"Boleh, tapi jangan sekarang soalnya nanti malam kita masih ada acara, kan tidak etis kalau pengantin wanitanya jalannya aneh," jawab Melati, seketika Rain tergelak tawanya pun meledak.
"Tapi nyicil boleh kan? Depe dulu gitu?" tanya Rain, Melati pun mengangguk sambil menunduk.
Tidak munafik, Melati juga manusia normal pasti juga menginginkan hal seperti pelukan dan ciuman, karena ia sebagai gadis yang selalu menjaga martabat dan harga diri seorang wanita, sebagai gadis baik baik.
Sebisa mungkin ia menjaga diri agar tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang belum sah menjadi suaminya. Rain perlahan membalikkan tubuh Melati sehingga keduanya saling berhadapan. perlahan Rain mendekatkan bibirnya ke bibir Melati dan..
Cup... sebuah kecupan mesra mendarat disana. untuk pertama kalinya bagi Melati dan juga Rain bersentuhan bibir, merasa tidak ada penolakan, Rain menempelkan bibirnya lebih lama. Namun tidak ada reaksi apapun dari Melati, bahkan Melati seperti manekin yang dipajang disebuah bukit. Rain tersenyum manis melihat Melati yang tidak bergerak sama sekali.
"Apa kamu gugup?" tanya Rain, Melati tidak menjawab hanya mengangguk pelan.
Rain kembali mencium bibir merah Melati, kali ini ciuman Rain sedikit lebih lama walaupun tidak mendapatkan balasan sama sekali dari Melati.
"Aku terlalu tidak sabar, aku harus bisa tahan meski jika kelelakianku berontak aku tidak mau kebablasan, setidaknya sampai acara resepsi itu selesai." batin Rain.
Rain menyudahi ciumannya, karena ia tidak mau nanti kebablasan dan malah minta lebih. Benar kata Melati, apa kata orang nanti kalau jalan pengantin wanitanya jadi aneh?
"Abang mandi dulu ya, biar aku siapkan air untuk berendam." ucap Melati.
"Mandi bareng yuk!" goda Rain.
__ADS_1
"Nanti Abang tidak dapat menahan hasrat," ucap Melati, Rain pun tertawa ia juga membenarkan yang dikatakan Melati. Melati masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air untuk Rain mandi. Setelah selesai Melati pun keluar dan sekarang giliran Rain yang masuk, Melati membuka koper yang dibawa Rain dari mansionnya tidak banyak pakaian, karena setelah ini mereka akan tinggal di mansion keluarga Lemos. Melati meletakkan pakaian ganti untuk Rain diatas tempat tidur lalu ia keluar dari kamar menemui keluarganya. para sahabatnya jangan ditanya? selesai akad nikah para sahabatnya sudah diculik oleh suami mereka dengan alasan sedang mengandung. sedangkan Steve dan Putri langsung pergi kerumah sakit untuk pemeriksaan kandungannya. Rain keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya sudah tidak ada, tapi ia tersenyum melihat pakaian yang tergeletak diatas ranjang. Rain pun memakai pakaian itu dan turun kebawah menyusul Melati yang sudah dipastikan berkumpul dengan keluarganya.
"Kakek merasakan akan ada sedikit kekacauan di pesta pernikahan kalian nanti," ucap kakek Yusuf.
"Maksud kakek?" tanya Rain saat sampai ditempat itu dan mendengar apa yang kakek Yusuf katakan?
"Itu hanya firasat kakek saja, ada orang yang dendam dengan kalian, terutama kamu Nak Rain." kakek Yusuf.
"Siapa kek? apa kakek tau?" tanya Rain.
Bukannya menjawab kakek Rain malah balik bertanya, "apa ada perempuan yang selama ini kamu tolak cintanya?"
"Bukan cuma ada kek, tapi banyak." jawab Rain, kakek Yusuf pun mengangguk.
"Aku menolak mereka karena aku sudah punya Melati," jawab Rain lagi.
Melati yang mendengar itu menjadi salah tingkah, walaupun Rain sudah menjadi suaminya tetap saja Melati merasa tersipu bila Rain bicara seperti itu.
"Jadi yang akan membuat kekacauan itu seorang wanita?" tanya Alfian, kakek Yusuf mengangguk.
"Aku sudah tau ini akan terjadi, tapi aku ingin lihat sampai dimana keberaniannya?" Melati.
"Kalau begitu kita harus berhati-hati, bisa saja itu akan membahayakan." Rain.
"Sebaiknya kita bersiap siap untuk pergi ke hotel, beberapa jam lagi pesta akan segera dimulai," Rania.
"Iya kalian kedua mempelai harus didandani dulu nantinya, jadi kalian harus lebih dulu kesana," Sofia.
"Nanti aja deh Ma, Bun selesai shalat ashar saja baru kesana," Melati.
.
.
Kini mereka sudah berada dikamar hotel tersebut, Melati sedang dirias oleh penata rias profesional (MUA). pesta pernikahan akan berlangsung satu jam lagi, para sahabat Melati sudah berkumpul dikamar itu, Rain dan para sahabatnya ada dikamar sebelah.
"kamu yang paling muda diantara kita semua bro, dan kamu juga yang paling terakhir menikah." ucap Ronald.
"Tidak apa-apa, aku cuma tidak mau melangkahi kalian, apa kata dunia kalau aku lebih dulu menikah?" Rain.
Rain kini terlihat semakin tampan, dengan tuxedo putih.
__ADS_1
"Apa kamu gugup bro?" tanya William.
"Biasa aja," jawab Rain santai.
"Apa sudah dicicipi bro?" tanya Steve, Rain menggeleng.
"Belum waktunya, nanti ada waktu yang tepat untuk begituan. toh sudah halal bila masa juga bisa, tapi bukan untuk sekarang." Rain.
Sementara dikamar sebelah, Melati sudah selesai dirias, dan sudah memakai pakaian pengantin hasil desainnya sendiri. para MUA memuji kecantikan Melati yang tidak perlu bermake-up tebal.
"Kebanyakan pelanggan yang kami rias, harus pakai make-up tebal baru terlihat cantik, tapi yang ini tidak perlu make-up tebal sudah kelihatan sangat cantik." ucap salah satu dari MUA tersebut.
Tak lama masuk Sofia dan Rania kedalam kamar itu, Sofia benar benar takjub melihat menantunya yang begitu cantik. begitu juga Rania.
"Kamu sangat cantik sayang, Mama yakin suamimu tidak akan berkedip melihat wajahmu." Sofia.
Melati tersenyum, "mama bisa aja."
"Apa yang dikatakan Tante Sofia memang benar, kamu sangat cantik Mel." Ratih.
"Kalian juga cantik, karena pada dasarnya setiap wanita itu cantik gak ada yang bilang wanita itu tampan." Melati.
Mereka yang ada disitu semua tergelak tawanya. sampai ada yang memegangi perut mereka.
"Aduh, perutku rasanya kram." ucap Ratih.
"Kamu baik baik saja?" tanya Melati cemas.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kram," Ratih.
"Jangan tertawa terlalu kencang." Sofia.
Rania mendekati Melati dan memeluknya sambil berkata.
"Putri bunda sudah dewasa sudah menjadi istri orang, jaga baik baik suami layani dengan baik, kalau ada masalah selesaikan dengan cara baik baik jangan pentingkan emosi sesaat, karena itu akan menyesatkan. bertengkar berselisih paham itu biasa, tapi sebaiknya jangan sampai berlarut-larut dalam masalah." pesan Rania pada Melati.
"Terimakasih Bunda, karena telah melahirkan aku kedunia ini, demi keselamatan nyawaku Bunda rela berkorban. aku akan selalu ingat nasehat Bunda. dan aku akan berusaha untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak anakku." Melati.
.
.
__ADS_1
.