
.
.
.
Hari ini tibalah hari pernikahan Ryan dan Sinta. Berkat bantuan Rania dan suami nya Alfian, acara berjalan lancar. Uang punya kuasa. Para warga desa berbondong bondong datang kerumah yang telah di sediakan untuk acara ini berlangsung. saat ini Ryan dan Sinta sedang duduk di kursi pelaminan. sedang kan Nabil dan Nabila di asuh oleh Rania dan Alfian.
" Kita kapan yank seperti itu?" tanya Ronald.
" Kapan kapan juga bisa," jawab Ratih.
" Besok yuk!"
" Cih gak sabar banget, udah kebelet, apa?"
" Kalau nunggu lama lama nanti di ambil orang."
" Gak akan, siapa juga yang mau sama aku?"
" Aku mau, udah terbukti juga."
" Ya cuma mas aja, kalau sama orang lain gak akan, karena sekali aku melabuhkan cinta maka orang itu lah yang aku terima seumur hidup ku."
" benarkah?" Ratih cuma mengangguk.
" Kemana mereka mas?" tanya Ratih.
" Ngapain sih nanya mereka? mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing." Ratih mencebikkan bibir nya.
Sementara di atas pelaminan, sepasang pengantin terlihat berseri seri, wajah keduanya memancarkan rona bahagia. walaupun keduanya belum saling cinta, tapi mereka berkomitmen akan menjalani hubungan selayaknya suami istri. Bukan kah cinta datang karena terbiasa? begitu lah anggapan mereka. biarkan waktu yang menjawab semua nya. yang penting jalanin dulu, toh mereka juga sudah halal.
Di sudut lain tampak dua bocah laki laki dan perempuan yang terlihat begitu bahagia menyaksikan pernikahan orang tua mereka. Senyum nya tak pernah pudar dari bibirnya.
" Apakah kalian senang? kalian sudah mempunyai ayah?" Tanya Rania pada kedua anak itu.
" Iya bibik kami sangat senang," jawab Nabil. Alfian cuma tersenyum melihat kebahagiaan kedua anak itu.
"Kamu sudah makan, suamiku?"
" Sudah, tadi bersama Rain dan teman teman nya."
" Amel kemana ya, dari tadi gak kelihatan?" tanya Rania.
" Tadi bersama teman teman nya, mungkin kerumah ayah." jawab Alfian.
__ADS_1
" Amel itu lebih dekat dengan kakek dan neneknya. maklum cucu tunggal," kata Rania.
" Tapi aku sangat bangga dengan anak kita, yang paling tidak ku sangka ternyata dia gadis yang tangguh." Alfian.
Gadis di sini kebanyakan belajar ilmu bela diri, karena bagi mereka selain bisa menjaga diri sendiri juga bisa menolong orang lain, karena banyak nya kasus pelecehan itu terjadi pada wanita."
" berarti teman teman Amel juga bisa bertarung?"
" bisa, walaupun tidak sekuat anak kita, dari sekian banyak nya murid ayah, Amel yang paling kuat, karena ayah menurunkan seluruh ilmu nya kepada Amel anak kita." Alfian pun manggut-manggut mengerti.
Akhirnya acara pernikahan pun selesai, besok mereka sudah kembali lagi ke ibukota. sebenarnya mereka cuma tiga hari, namun karena ada pernikahan dadakan jadi kepulangan mereka ke ibukota di tunda.
" sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri, aku harap kita bisa saling menerima dan melengkapi satu sama lain."
" Ku harap mas juga begitu, mas tau kalau aku banyak kekurangan."
" Iya, maka dari itu kita saling melengkapi, kekurangan mu tertutupi oleh kelebihan ku, begitu juga sebaliknya." Sinta mengangguk.
" Boleh mas melakukan nya?"
" Jangan dulu mas, mas harus bersabar seminggu kedepan."
" Mengapa?" tanya Ryan.
" Karena aku lagi kedatangan tamu," jawab Sinta malu malu.
" Maksudnya, aku lagi haid mas."
" Oh gitu ya, hmmm gagal deh mau enak enak," batin Ryan.
" Mas.. kok diam? mas marah ya?"
" Ah... enggak kok, mas cuma mikir."
" mikirin apa mas?"
" mas mikirin hadiah dari tuan Alfian,"
" terus!"
" Mas kan cuma asisten, tapi tuan memberi mas kunci rumah tempat kita tinggal nanti."
" Seharusnya mas bersyukur mempunyai tuan sebaik tuan Alfian. Kak Nia juga baik, di sini cuma kak Nia dan Melati yang sering membantu ku, mas. kadang aku merasa serba salah menerima kebaikan mereka. "
" kita istirahat dulu ya, capek seharian di atas pelaminan." Akhirnya keduanya pun istirahat.
__ADS_1
" semoga aku bisa membahagiakan mu dan anak kita." batin Ryan.
Kini tiba saatnya mereka kembali ke ibukota. Dengan menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka pun tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. dengan menggunakan taksi , mereka pulang ke rumah masing-masing. Ryan bersama keluarga kecil nya kembali ke apartemen nya, mungkin tunggu beberapa hari lagi mereka baru pindah ke rumah baru hadiah pernikahan mereka. Alfian sengaja memberikan rumah itu ke Ryan tentunya atas persetujuan dari istrinya. sebenarnya hadiah itu belum seberapa dibandingkan kesetiaan Ryan pada tuan nya itu. Ryan menjabat sebagai asisten pribadi Alfian, sejak Alfian di angkat menjadi CEO menggantikan papa nya. Namun karena beberapa hal dan kejadian yang tidak terduga Alfian rela melepas kan semua nya demi keluarga kecil nya dan menyerah kan kembali perusahaan pada papa nya. Al Fatih sebagai ayah kandung awal nya keberatan atas keputusan Alfian, dan sangat di sayangkan bila Ryan sang asisten pribadi yang begitu cekatan dalam bekerja juga harus mengundurkan diri demi mengikuti kemanapun tuan muda nya pergi.
" Selamat datang nyonya Ryan Gibson." Sinta mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
" Terimakasih tuan Ryan Gibson." sekarang giliran Ryan yang mengangguk sambil tersenyum.
" mari silahkan masuk," Ryan mempersilahkan istri dan anak-anaknya masuk.
" Wah rumah ayah bagus banget, tivi nya juga besar," kata Nabila antusias, sebenarnya Nabil juga kagum dengan apartemen ini tapi sebisa mungkin ia tahan.
" Apa kalian suka? tapi kita di sini hanya sementara, mungkin Minggu depan kita akan pindah ke rumah baru kita, yang lebih besar dari ini," Ryan.
" Benarkah ayah?"
" Benar sayang. " sedang kan Sinta mengemasi barang-barang nya di dalam kamar.
" kalian mau makan?" tanya Ryan. kedua anak itu mengangguk.
" Biar aku masak dulu mas, " Sinta mau berjalan ke arah dapur namun di cegah oleh Ryan.
" kamu istirahat aja dulu, pasti capek kan?"
" Gak kok mas, gak capek."
" Udah jangan membantah suami, biar mas pesan makanan dari luar aja. " Ryan pun memesan makanan melalui online.
Tak berapa lama terdengar bunyi bel, Ryan segera membuka pintu karena ia tau yang datang pasti pengantar makanan.
" Terimakasih Pak,"
" Sama sama tuan."
Ryan menutup pintu kembali setelah pengantar makanan itu berlalu. Ryan meletakkan kotak makanan di atas meja makan.
" Makanan sudah datang, ayok semua kita makan," Kata Ryan, anak anak berlari menghampiri meja makan.
" Kalian mau apa? ada ayam goreng, pizza, dan ayam penyet."
Aku mau ayam goreng," kata Nabil, lalu mengambil satu potong ayam goreng. Nabila juga tidak ketinggalan mengambil satu potong ayam goreng. Sedang kan Sinta mengambil kotak berisi ayam penyet. Betapa lahapnya mereka makan, selain lapar mereka belum pernah makan, makanan enak.
" Makan yang banyak biar cepat besar," Kata Ryan sambil mengusap kepala kedua anak sambung nya itu.
.
__ADS_1
.
.