
.
.
.
Waktu pun berlalu, tidak terasa usia kehamilan Melati sudah 9 bulan. sahabat Melati sudah melahirkan semuanya, kini Melati hanya tinggal menunggu waktunya saja, segala ngidam Melati tidak pernah merasakannya, semuanya Rain yang menanggung ngidamnya.
Bayi Ratih kini berusia 7 bulan, Ratih melahirkan anak laki laki. Indah, Nadia, Putri juga melahirkan anak laki laki. wah kompak banget mereka, semua melahirkan bayi laki laki, dan Melati juga mempunyai calon anak berjenis kelamin laki-laki. Rain tidak lagi ke kantor, sejak Melati hamil 8 bulan, Rain sudah tidak ke kantor dan hanya bekerja di mansion.
Sedangkan butik dan restoran milik Melati dipercayakan kepada asistennya. Melati sedang duduk taman belakang, tiba-tiba...
"Aww," Melati meringis menahan sakit.
"Sayang kenapa?" tanya Rain.
"Perutku sakit bang." Melati.
"Sayang tempat dudukmu kok basah?" tanya Rain. lalu Rain memanggil Mama nya.
Sofia yang mendengar hal itu tentu saja panik.
"Cepat bawa Melati kerumah sakit, Melati hendak melahirkan." ucap Sofia tanpa sadar ia berteriak.
Rain segera menggendong Melati dan membawanya masuk kedalam mobil, Sofia juga ikut, tidak lupa ia berpesan kepada pelayan untuk menyusul ke rumah sakit membawa keperluan bayi Melati nanti.
Rain yang panik melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,
"Bang jangan kencang kencang bawa mobilnya," Melati.
Sofia tidak lupa menghubungi besannya. Rania yang mendengar Melati hendak melahirkan juga ikut panik, Rania menghubungi ayahnya di desa setelah itu baru pergi ke rumah sakit.
Kakek Yusuf dengan nenek Siti, juga Kakek Taufik segera berkemas dan akan berangkat saat ini juga ke ibukota.
Rain sudah tiba dirumah sakit, segera ia menggendong Melati membawanya keruang persalinan, dokter Rastiwi yang melihat Melati digendong oleh Rain, bergegas menuju ruang persalinan untuk menangani Melati.
"Dok tolong istri saya Dok, ia sudah mau melahirkan." Rain.
"Bapak tenang ya jangan panik kami akan segera menangani nya." ucap dokter Rastiwi.
"Gimana saya mau tenang dok, istri saya kesakitan." Rain.
Dokter Rastiwi tersenyum, bukan baru kali ini saja ia menghadapi hal seperti ini, setiap pasangan suami istri ketika istrinya akan melahirkan otomatis sang suami panik tingkat dewa.
"Saya cek dulu pembukaan Bu Melati ya Pak?" dokter Rastiwi pun mengecek pembukaan jalan lahir untuk bayi.
"Bapak tenang ya, sebentar lagi istri bapak akan melahirkan, sekarang sudah pembukaan tujuh." ucap dokter Rastiwi.
Rain terus bergumam tidak jelas, karena Melati sudah mengerang kesakitan.
"Sebaiknya ibu jangan mengerang ya," ucap suster yang menjaga Melati.
__ADS_1
Diluar ruangan, nampak Sofia sedang mondar-mandir tidak menentu, kemudian datang Rania dengan tergopoh-gopoh.
"Bagaimana dengan Melati?" tanya Rania.
"Masih didalam, belum tau kabarnya." jawab Sofia.
"Kita duduk dulu ya, tenangkan diri." Rania.
Tak lama datang pelayan membawa perlengkapan bayi, dan menyerahkan kepada Sofia, setelah itu pelayan pun pamit pulang karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
"Apa suamimu sudah diberitahu?" tanya Rania.
"Ya Allah aku lupa saking paniknya mendengar Melati hendak melahirkan. aku telepon suamiku dulu," Sofia.
Sofia pun menelpon suaminya, mendengar hal itu Suaminya bergegas mematikan sambungan teleponnya dan akan menyusul kerumah sakit. Alfian baru datang setelah tadi diberitahu oleh Rania sebelum ia berangkat kerumah sakit.
"Sayang, bagaimana keadaan putri kita?" tanya Alfian.
"Masih belum tau bang," jawab Rania.
"Kakek dan neneknya sudah diberitahu?" tanya Alfian.
"Sudah, beliau akan segera kemari." Rania.
Sementara didalam kamar bersalin, Melati masih berbaring diatas brankar sambil menunggu pembukaan lengkap.
"Sayang sabar ya," ucap Rain sambil mengelus kepala Melati yang tertutup hijab.
"iya bang demi buah hati kita," Melati.
"Dok, rasanya sudah mau keluar," teriak Melati.
Dokter Rastiwi segera menghampiri Melati dan benar saja.
"Sus cepat bantuin kepalanya sudah kelihatan," teriak dokter Rastiwi, dokter dan suster yang ada diruangan itu jadi panik. Rain menggenggam tangan Melati.
Tak lama suara tangis bayi pun menggema di ruangan itu, suster segera mengambil alih bayi tersebut untuk dibersihkan, sedangkan dokter Rastiwi menangani Melati.
"Alhamdulillah," ucap Rain, Melati tersenyum kearah Rain.
Suster membawa kembali bayi tersebut untuk di adzan kan. Rain segera mengadzani bayinya. setelah itu suster memberikan nya pada Melati untuk disus*i.
"Sebentar lagi Melati akan kami pindahkan keruang perawatan." ucap dokter Rastiwi.
Rain keluar dari kamar bersalin, menemui orang tuanya yang sudah menunggu dari tadi.
"Bagaimana dengan Melati?" tanya Sofia dan Rania.
"Melati baik baik saja Bun, Ma. anak kami sudah lahir." ucap Rain.
Tiba tiba Rain bersimpuh dihadapan Sofia dan mencium kaki Sofia.
__ADS_1
"Maafkan aku ma, maafkan aku yang belum bisa berbakti, biarkan aku mencium surgaku di kakimu." Rain masih bersimpuh dan menangis.
Rain baru kali ini melihat secara langsung seorang ibu berjuang melahirkan anaknya. lalu Rain bangkit dan berpindah ke Rania, iapun melakukan hal yang sama.
"Terimakasih Bunda, telah melahirkan bidadari untukku, tanpa dia mungkin aku sudah tiada." Rain.
"Semua yang terjadi adalah takdir, Allah mempertemukan kalian dengan cara tidak terduga, contohnya seperti kejadian itu." Rania.
"Sebentar lagi Melati akan dipindahkan keruang perawatan." Rain.
"Kami sudah mengurus semuanya, termasuk ruang inap." Alfian.
Alexander tergopoh-gopoh berlari kecil menuju ruang persalinan, ia baru datang karena dijalan terkena macet.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Alexander.
"Sudah lahir pa Alhamdulillah sehat." jawab Rain.
"Syukurlah, Melati?" tanyanya lagi.
"Melati juga baik, nanti setelah dipindahkan baru kita jenguk." Sofia.
Suster mendorong brankar, dimana Melati berbaring diatasnya.
"Ruangan VVIP nomor satu sus," kata Rain.
"Baik," jawab suster itu. lalu mendorong brankar tersebut menuju ruangan VVIP yang ternyata dilantai tiga.
Sahabat Melati belum ada yang tau kalau Melati sudah melahirkan, jadi mereka tidak ada yang menjenguk, Melati tidak apa-apa keluarganya sudah cukup.
Sekarang mereka sudah berkumpul dikamar tempat Melati dirawat. kakek Yusuf dengan kakek Taufik serta nenek Siti juga sudah datang.
"Siapa nama bayi mungil ini?" tanya Sofia, ini ia sedang menggendong bayi mungil Melati.
"Namanya Gavin yang artinya elang putih, kelak ia akan menjadi kuat seperti elang. dan nama panjangnya Gavin Alfian Lemos." jawab Rain.
"Nama yang bagus cicitku nanti akan menjadi lebih kuat seperti Kakek buyutnya," ucap kakek Yusuf.
"Selamat datang kedunia baby Gavin." ucap mereka serentak.
Oh ya, nama anak Ratih dan Ronald adalah Farrel, nama anak Frans dan Indah adalah Farzan, nama anak William dan Nadia adalah Gilang, nama anak Steve dan Putri adalah Ikbal.
Baby Gavin begitu anteng digendong oleh neneknya, mereka bergantian mengendong baby Gavin.
"Wah mirip sekali dengan papanya, lihat matanya hidungnya sangat mirip," Rania.
"Iya persis Rain sewaktu bayi." Sofia.
Rain dan Melati tersenyum melihat kebahagiaan keluarga mereka dengan kehadiran baby Gavin.
.
__ADS_1
.
.