MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 37


__ADS_3

.


.


.


Malam ini mereka bermalam di tepi pantai. Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh Melati, gadis itu berdiri di bibir pantai kakinya yang tanpa alas kaki dibiarkan begitu saja terkena air. Baju gamisnya sengaja diangkat sedikit biar tidak terkena air laut.


Melati tersentak, saat jaket tebal tersampir dibahunya. Biasanya Melati paling peka dengan suara sekecil apapun, apalagi gerakan langkah kaki seseorang.


"Nanti masuk angin loh." kata Rain.


Melati hanya tersenyum menanggapinya, tapi matanya terus saja menatap kearah lautan yang luas.


"Ada apa hmmm?" tanya Rain.


Melati menggeleng kan kepala cepat. sebagai jawaban.


"Mari masuk tenda, yang lain mungkin sudah tidur." Rain.


"Sebentar lagi ya, aku masih ingin menikmati keindahan pantai dimalam hari. Kalau Abang mau masuk, masuk aja. gak apa apa?"


"Abang akan menemanimu disini."


"Apa Abang tidak lelah?" Rain menggeleng cepat.


"Didekat kamu Abang tidak akan lelah."


"Gombal!"


"Sama calon istri gak apa-apa."


"Bang!"


"Hmmm, apa?"


"Gak apa apa?"


"Katakan saja kalau ada masalah, siapa tau Abang bisa bantu?"


"Kakek bilang, mungkin aku dalam bahaya."


"Kakek bilang begitu?" Melati mengangguk.


"Firasat kakek jarang yang meleset, tapi aku tidak tahu bahaya apa itu? kakek tidak cerita. cuma kakek bilang, ada perguruan silat dari gagak hitam sedang mencari tahu tentang aku."


Rain mengerutkan keningnya, karena merasa tidak mengerti dengan perguruan silat itu.


"Kata Kakek lagi, perguruan gagak hitam terkenal licik."


Ingin rasanya Rain memeluk kekasihnya itu untuk meredakan dan berbagi beban yang kekasihnya tanggung.

__ADS_1


"Kita akan akan hadapi sama sama, apapun yang terjadi kita akan menghadapinya sama sama, jangan merasa sendiri, ada Abang dan teman teman yang lain."


Melati merasa terharu mendengar perkataan kekasihnya itu. lalu Melati pun mengangguk.


"Masuk yuk, kita tidur sudah larut malam, besok pagi pagi kita akan kembali."


Melati pun mengikuti langkah Rain, saat melati masuk ke tenda, teman temannya sudah tidur semua. Hanya Melati yang tidak bisa tidur, dia terus memikirkan kata-kata Kakeknya.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, biarlah semuanya aku serahkan pada Yang Maha Kuasa." gumam Melati.


Fajar menyingsing menandakan hari sudah pagi. Melati dan teman teman nya sudah bersiap siap untuk kembali. Begitu juga dengan Rain dan teman temannya sudah bersiap siap juga.


"Sudah siap semuanya? tidak ada lagi yang tertinggal?" tanya Rain.


mereka semua hanya mengangguk pertanda tidak ada lagi yang ketinggalan.


Setelah semua barang barang yang mereka bawa dimasukkan kedalam mobil masing-masing, mereka pun menjalankan mobilnya, tapi baru saja mereka melajukan mobil, dari arah berlawanan sudah ada yang menghadang mobil mereka. Mobil Rain yang berada paling depan pun terpaksa berhenti. dan mobil mobil yang lain juga berhenti.


"Ada apa?" tanya Indah.


"Gak tau," jawab Frans.


Karena mobil Frans yang paling belakang jadi ia tidak tahu apa yang terjadi?


Melihat Rain dan Melati turun, teman temannya juga ikut turun. Didepan mereka ada sekitar 20 orang pria berpakaian serba hitam.


"Ada apa Bapak Bapak menghadang kami?" tanya Melati.


Tidak terima dipanggil Bapak, karena mereka merasa masih muda padahal umur mereka udah kepala empat.


Frans, Ronald, William, dan Steve mendekati Rain. Indah, Nadia, Putri dan Ratih mendekati Melati.


"Ada apa?" tanya Ratih dengan bahasa tubuh.


"Gak tau," dijawab Melati dengan bahasa tubuh pula.


"Pak, Paman, Om, mamang, atau apalah. Kami mau lewat, mengapa kami dihadang?" tanya Ratih.


"Kami mendapat perintah untuk membawa gadis itu," tunjuk salah satu dari mereka kepada Melati.


"Tidak bisa, kalian tidak bisa membawa calon istriku," ucap Rain.


"Siapa mereka?" tanya Frans.


"Gak tau," jawab Ronald sambil menggeleng.


"Menurut saja lah, sebelum kami melakukan kekerasan."


"Kalau kalian mau membawa calon istriku? Langkahi dulu mayatku."


"Banyak bacot. maju." perintah ketuanya.

__ADS_1


pria berpakaian serba hitam itu pun maju hendak menyerang Melati and the genk.


Melati, Ratih, Indah, Putri, dan Nadia saling pandang lalu kelima mengangguk secara serentak. Rain, Ronald, Frans, Steve dan William juga tidak mau kalah. mereka juga maju melawan pria berpakaian serba hitam itu. Walaupun mereka tidak sekuat Melati, tapi setidaknya mereka masih berguna dan bisa membantu. Perkelahian pun tak dapat terelakkan. Dua lawan satu masih bisa mereka ladeni.


Hiaatth ...


Buugh.. buggh.


Sraash.. pukulan tendangan mereka layangkan, tapi para musuhnya belum juga tumbang.


Buugh.. buugh...praak. Melati mematahkan tangan salah satu musuhnya.


"Aaaaaakkh." teriakan kesakitan pun menggema. Yang lain tidak mau kalah.


Sudah belasan orang yang terkapar dijalan, ada yang patah tulang rusuk, patah tangan dan kaki. sampai ada juga yang pingsan.


Kini hanya tersisa enam orang dari mereka termasuk ketuanya.


Mereka bersepuluh maju melawan enam orang yang tersisa. Melati melawan ketuanya.


yang lain melawan anak buahnya. Kini perkelahian mereka menjadi tidak seimbang.


Melati memukul telak di dada ketuanya itu menggunakan dalam. Seketika pria yang dipanggil ketua itu muntah darah, sudah dipastikan organ dalam tubuhnya rusak. Hanya dalam sekejap ketuanya itu meregang nyawa. Baru kali ini Melati bertarung sampai menghabisi nyawa musuhnya. Entah mengapa? Melati merasa orang yang menghadangnya kali ini adalah orang orang perguruan gagak hitam. Sebab itulah Melati tidak memberinya ampun. Mereka yang tersisa masih terkapar di tanah. Sebelum mereka pergi, mulut Melati komat kamit sambil menggenggam tangannya entah apa yang dibacanya, setelah selesai gadis itu membuka genggaman tangannya tiba-tiba sudah ada bunga melati di telapak tangannya. Bunga melati itu bukan bunga sembarangan, tapi itu adalah racun pelumpuh. Bagi siapa yang terkena racun itu maka ia akan lumpuh dan tidak bisa untuk disembuhkan. lambat laun orang itu akan mati dengan sendirinya.


Melati menyuruh teman temannya untuk menjauh sebelum Melati menaburkan bunga itu. Melati menaburkan bunga itu pada musuhnya yang sudah terkapar di tanah. Setelah itu mereka pun segera meninggalkan tempat itu. racun itu tidak langsung bereaksi, tapi pelan pelan akan merusak anggota tubuh terutama urat syaraf.


Setelah merasa cukup jauh, mereka pun menghentikan mobilnya kembali.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Rain setelah mereka keluar dari mobil.


"Kami tidak apa-apa, bagaimana dengan cewek cewek?" tanya Steve.


"Kami tidak apa-apa?"


"Kamu hebat sayang," puji William pada Nadia.


"Gak juga, tapi boleh lah untuk jaga diri," jawab Nadia.


"Kalian cewek cewek tangguh ternyata," kata Frans.


"Harus nya begitu, agar kita kita tidak dilecehkan," ucap Indah.


"Kalian pasti satu perguruan,"


Para cewek cewek pun mengangguk sebagai jawaban. memang benar mereka satu perguruan.


"Tapi kami masih jauh dibawah Melati. kalian tau Melati cewek terkuat di desa kami." Indah.


"Kalian juga apa kurang nya?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2