
.
.
.
Pesta pernikahan masih berlangsung, para tamu undangan sebagian sudah ada yang pulang, ada juga yang masih menyantap hidangan. Walaupun malam sudah larut, tapi masih ada tamu yang betah berada disana.
Melati merasa ada bahaya mendekat, karena instingnya sangat kuat, jadi ia bisa merasakan kebencian seseorang. Melati mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada seorang wanita berjalan menuju panggung.
"Bukankah itu Veronica? hmmm ternyata memang dia yang akan berniat jahat, aku pura pura tidak tahu saja," batin Melati.
Veronica berjalan semakin mendekat, saat diatas panggung Veronica tersenyum sinis dan Melati menyadari hal itu. Veronica semakin mendekat hingga hanya berjarak dua langkah saja, lalu Veronica mengeluarkan pistol dari dalam tas branded nya dan...
Dor... suara tembakan melesat kearah Melati, para tamu undangan yang mendengar suara tembakan sontak membuat mereka panik. Melati yang memang sudah siaga dengan gesitnya menghindari peluru itu dengan cara memiringkan tubuhnya. tembakan itupun meleset hanya mengenai vas bunga yang ada dibelakang Melati. Rain yang tidak menyadari hal itupun terkejut. Veronica mengarahkan lagi pistolnya kearah Melati, tapi kali ini Melati memutar tubuhnya sambil mengangkat sebelah kakinya setinggi kepala dan menendang memutar tepat di kepala Veronica, seketika itu juga Veronica terpental jatuh dari atas panggung hingga pistol yang dipegangnya juga ikut terlempar. Veronica pingsan ditempat. Gaun pengantin yang panjang tidak menghalangi Melati untuk melakukan tendangan memutar, Anton suami Rastiwi yang kebetulan seorang polisi langsung meringkus pelaku dan mengamankan barang bukti berupa pistol tersebut. Anton menghubungi bawahannya untuk membawa Veronica ke kantor polisi. suasana yang tadi ricuh kembali tenang, tamu undangan berdecak kagum dengan kehebatan Melati.
"Benar benar hebat dia bisa menghindar dari peluru dengan jarak sedekat itu," Kata kolega bisnis Rain, yang merasa kagum dengan kehebatan Melati.
"Cantik, pintar dan tangguh, benar benar paket komplit," ucap yang lain.
Pesta akhirnya pun selesai, karena jam sudah menunjukkan pukul satu malam. para sahabat dan keluarga menginap di hotel, karena sudah lelah untuk kembali kerumah masing masing. Rastiwi dan suaminya juga disuruh menginap oleh Rania, karena sudah terlalu malam terlalu bahaya kalau menyetir mobil diwaktu begini.
Rain dan Melati sudah berada didalam kamar, dan duduk ditepi ranjang.
"Istirahatlah kamu pasti capek." Rain.
Melati mengangguk, "Iya aku memang sangat capek, lebih capek lagi daripada bekerja, tapi aku mau mandi dulu Bang, rasanya tubuhku lengket banget."
"Iya Abang juga mau mandi, tapi kamu duluan lah." Rain.
Melati mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi, saat didekat pintu Melati berbalik karena lupa membawa bathrobe.
__ADS_1
"Bang boleh tolong bukakan resleting gaun ku? rasanya sulit sekali kalau bukanya sendiri." Melati.
Rain bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Melati, lalu menarik resleting gaun yang ada dibelakang punggung Melati. Melati menahan gaun itu agar tidak terjatuh, sedangkan Rain menelan silivanya melihat punggung Melati yang sangat putih dan mulus itu.
"Kalau begini mana bisa tahan," gumam Rain.
Melati sudah masuk kedalam kamar mandi melepas pakaian dan hijab yang selalu ia gunakan. Melati menggantung gaunnya agar tidak terlalu kotor, Melati berendam dengan air hangat untuk merilekskan tubuhnya. selang setengah jam Melati keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Perlahan ia berjalan melewati Rain yang sedang asik bermain ponsel, belum menyadari ada bidadari yang lewat didepannya. Rain mengendus-endus seperti anjing pelacak saat indra penciumannya mencium aroma yang sangat wangi. Rain mendongak menatap Melati tanpa berkedip melihat Melati tanpa hijab. rambut panjang hitam lurus begitu indah walau dalam keadaan basah. Rain segera bangkit dan langsung mengambil hairdryer yang ada di nakas. Dengan telaten Rain mengeringkan rambut panjang Melati.
"Rambutmu indah sekali sayang? sejak kapan kamu berhijab?" tanya Rain sambil membelai rambut panjang Melati.
"Sejak kelas satu SD, waktu itu umurku sekitar 5 tahun." jawab Melati.
"Siapa saja yang sudah melihat rambut indah mu ini?" tanya Rain lagi.
"Entahlah, aku selalu memakai hijab, kecuali mandi dan tidur, biasa kalau sudah terlalu mengantuk aku tidur tanpa melepas hijab." Melati.
"Berarti aku orang yang beruntung dong, bisa melihat rambut indah mu." Rain.
"Sekarang tidurlah, Abang tidak akan memintanya sekarang, tapi nanti sewaktu kita berbulan madu." Rain.
"Kapan" dan kemana?" tanya Melati.
"Besok siang kita berangkat, Abang dapat paket bulan madu selama seminggu dari sahabat sahabat Abang, tujuan kita adalah negara P." Rain.
"Wah benarkah? aku sudah lama memimpikan hendak ke negara itu." ucap Melati dengan berbinar, Rain pun tersenyum.
"Abang mandi dulu ya, udah gerah dari tadi nahan," Rain.
"Iya mandi sana airnya sudah disiapkan didalam bathtub." Melati.
Rain langsung kekamar mandi dan melepas seluruh pakaiannya kemudian berendam didalam bathtub, terasa segar rasa lelah setelah melayani tamu undangan yang begitu ramai kini sedikit berkurang.
__ADS_1
"Harusnya malam ini adalah malam pertama kami, tapi aku tidak tega melihat melihat Melati yang nampak sangat capek," gumam Rain. Rain menyelesaikan mandinya hanya dalam waktu 20 menit. setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan bathrobe, dilihatnya Melati sudah tertidur pulas diatas ranjang. Rain memperhatikan wajah cantik Melati yang terlihat begitu damai disaat tidur, Rain tersenyum.
"Aku tidak menyangka akan memilikimu, bidadariku penyelamat hidupku. aku yakin dan percaya kalau pertemuan kita adalah takdir." gumam Rain.
Kemudian Rain masuk kedalam selimut yang sama dengan Melati, dan mendekap tubuh Melati dengan erat, Melati yang merasa nyaman saat dipeluk, malah mengeratkan pelukannya. Rain tersenyum manis karena tidak ada penolakan sama sekali dari Melati.
Kemudian Rain pun memejamkan matanya dan tidur sambil memeluk tubuh Melati.
Pagi hari...
Walaupun Melati tidur larut malam, tapi ketika waktu subuh Melati tetap terbangun, ia membangunkan suaminya untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. kali ini Melati tidak lagi shalat sendiri, sudah ada imam yang akan memimpinnya dalam shalat.
"Bang sudah pagi, kita shalat dulu yuk." Melati mengguncang tubuh Rain.
Rain membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah istrinya yang cantik meskipun baru bangun tidur.
"Ya sudah, kamu ambil wudhu duluan nanti baru giliran Abang," Rain.
Melati pun bangun dan langsung kekamar mandi untuk berwudhu. setelah selesai baru lah giliran Rain. Melati sudah memakai mukena, dan Rain juga sudah memakai sarung dan baju Koko serta peci.
Melati memandang suaminya yang begitu tampan. Barulah mereka memulai shalat subuh berjamaah, selesai shalat Melati mencium tangan suaminya dan Rain mencium kening istrinya.
"Abang mau kerja?" tanya Melati.
"Loh kita kan lagi cuti, dan nanti siang kita berangkat ke negara P." Rain.
"Oh iya aku lupa," Melati.
.
.
__ADS_1
.