
.
.
.
Cctv di restoran itu semua terhubung dengan ponsel canggih milik Melati. Jadi untuk membuktikan kebenaran nya, Melati hanya tinggal melihat di ponsel nya saja. Karena restoran ini tidak mempunyai ruang khusus cctv. Melati sengaja memasang cctv tersembunyi hanya untuk mengantisipasi kejadian yang tidak terduga, seperti kejadian saat ini. bukan nya Melati tidak percaya dengan semua karyawan nya, tapi hanya untuk berjaga-jaga saja. Ibarat sedia payung sebelum hujan.
"Bagaimana sekarang? mau bayar denda 100 juta atau penjara." ucap Melati tegas.
Melati sengaja membuat peraturan begitu agar kedepannya orang akan berpikir ulang untuk melakukan kesalahan secara sengaja.
"Ta... tapi saya tidak punya uang sebanyak itu," ucap wanita itu gugup.
"Baik berarti anda memilih masuk penjara." ancam Melati.
"Sebelum bertindak harus nya baca dulu pengumuman noh di sana," kata wanita A yang dekat dengan meja wanita itu. wanita itu menoleh ke arah yang di tunjuk. memang disitu terpampang jelas sebuah pengumuman yang bertuliskan.
(BARANG SIAPA YANG MELAKUKAN KESALAHAN-KESALAHAN DENGAN SENGAJA, ATAU MENCEMARKAN NAMA BAIK RESTORAN INI MAKA AKAN DI DENDA PALING SEDIKIT 100 JUTA RUPIAH ATAU PENJARA ATAU DUA DUANYA SEKALI)
Rain tersenyum membaca tulisan itu di papan pengumuman.
"Kenapa aku baru menyadari pengumuman itu ya?" batin Rain.
"Tuh udah baca kan?" tanya si A lagi.
"Makanya kita kalau mau makan di gak berani buat masalah, nah kamu sama juga cari mati," ucap si B.
"Sekarang sudah terbukti, kalau kamu sengaja untuk mencemarkan nama baik restoran ini." Melati.
Wanita itu tidak bisa berkutik lagi, ia hanya pasrah menerima hukuman itu. Tidak berapa lama dua orang polisi pun datang.
"Selamat malam," ucap polisi dengan sopan.
"Selamat malam Pak, ini dia orangnya yang telah saya laporkan tadi," kata Melati.
"Baik, kami akan menindak lanjuti kasus ini," Pak polisi.
"Oh ya Pak, usut tuntas siapa dalang dibalik semua ini," Melati.
"Baik Nona, kami akan usut semuanya," ucap Pak polisi itu lagi. Lalu pamit dan membawa wanita itu untuk di interogasi. Setelah masalah selesai mereka pun melanjutkan makan malam nya yang sempat tertunda.
"Makanan sudah dingin, jadi gak enak lagi," Kata Melati.
"Mau di ganti?" tanya Rain.
"Gak usah, selera ku sudah hilang gara gara masalah tadi." Melati.
Ada ada saja orang mau menjatuhkan," Ronald.
"Kira kira siapa ya yang mau menjatuhkan nama restoran ini?" Ratih.
"Gak tau, biarlah itu urusannya dengan hukum." Melati.
"Apakah ada orang yang sakit hati sama kamu?" tanya Rain.
"Seingat ku tidak ada, tapi kalau di kampus ada, mungkin dia sakit hati karena di keluarkan dari kampus." ucap Melati.
"Bisa jadi, mungkin dia dendam."
"Bukan salah aku juga kalau dia di keluarkan, salah dia sendiri karena perbuatannya sudah begitu menyalahkan orang lain," gumam Melati.
Malam sudah semakin larut, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB.
"Pulang yuk, udah malam,"
__ADS_1
"Yuk, besok kita kemana?"
"Oh iya besok weekend. gimana kalau kita ke pantai?"
"Boleh juga tuh, sekalian refreshing gitu."
"Yuk ah cabut, biar besok pagi bisa bangun awal."
Akhirnya mereka pun membubarkan diri, dan pulang dengan pasangan masing-masing.
Hari ini mereka pun berangkat menuju pantai, tempat yang sudah mereka janjikan kemarin.
Melati mengajak Riska, tapi Riska menolak dengan alasan tidak mau menjadi obat nyamuk.
Mereka sengaja berangkat sore, karena mereka ingin melihat sunset. perjalanan memakan waktu sekitar dua jam tidak membuat mereka merasa lelah.
Karena hati mereka saat ini sedang diliputi bahagia. Bahagia karena bisa berkumpul bersama teman, bahagia karena memiliki pasangan yang selalu pengertian dan perhatian. Apakah ini yang dinamakan Anugerah terindah?
Lima buah mobil terparkir sempurna ditempat parkiran mobil ditepi pantai ini. Mereka turun dengan bawaan mereka masing-masing.
"Masih ada waktu dua jam untuk melihat sunset. gimana kalau kita bikin tenda dulu?" teriak Rain.
"Oke tenda cewek dengan tenda cowok di satuin aja ya?" Ronald.
"Enak aja, emang kita cewek apaan?" Melati.
Ronald hanya nyengir kuda, niat nya hanya mau bercanda. ternyata bercanda nya di waktu yang tidak tepat.
"Kita bagi tugas ya, yang cowok pasang tenda, yang cewek bantu merhatiin," Indah.
"Itu sih enak di kalian," William.
"Kalian kan cowok, lagian dimana salahnya coba, kita para cewek cewek kan udah bantuin, ya bantu memperhatikan kalian pasang tenda." Melati.
"Terserah deh," ucap Rain pasrah.
"Nih minum dulu, sayang," Melati menyodorkan air mineral yang mereka beli tadi di supermarket. Ya dalam perjalanan ke pantai tadi mereka singgah di supermarket membeli berbagai macam cemilan dan juga minuman.
"Kamu bawa gitar Rai?" tanya Frans.
"Ada di mobil," jawab Rain.
"Kok gak dibawa kesini?"
"Bukan gak dibawa, cuma belum aja."
Rain pergi ke mobil mengambil gitar nya. Hari sudah mulai senja, dan matahari pun hampir tenggelam. Mereka melihat sunset sambil duduk ditepi pantai.
"Wah indah sekali," teriak Melati.
"Karena disini ada Indah, jadi semakin indah," Frans.
"Gombalan receh banget," Indah.
"Tapi benar kan?" Frans.
Rain memangku gitar nya dan mulai memetik nya.
"Nyanyi lagu apa nih?" tanya Rain.
"Lagu yang berkaitan dengan pantai," jawab Nadia.
"Baiklah, aku sudah cari semalam diinternet tentang lagu yang berkaitan dengan pantai." Rain.
__ADS_1
Rain memulai memetik gitarnya. sebuah lagu yang slow banget.
'Suatu hari, dikala kita duduk ditepi pantai.
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi.' Rain.
'Burung camar, terbang bermain diderunya air.
Suara alam ini, hangatkan jiwa kita.' Ronald.
'Sementara, sinar Surya perlahan mulai tenggelam.
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta.' Melati.
'Ada hati membara erat bersatu.
Getar seluruh jiwa, tercurah saat itu.' Ratih.
'Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu.
Kemesraan ini, ingin kukenang selalu.' Frans.
'Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu.
'Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu.' Indah.
Mereka terus bernyanyi sampai matahari benar benar sudah tenggelam. mereka mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun. sambil memakan cemilan yang mereka beli tadi.
"Kalian lapar gak?" tanya Ronald.
"Lapar sih." jawab Ratih.
"Mau makan di restoran atau mau dibungkus aja?"
"Bungkus aja deh, kita makan di sini."
Ronald pun akhirnya memesan makanan. Ada yang masih asik bernyanyi sambil mereka bercanda.
"Nanti kalau kita sudah menikah, apakah kita masih akan seperti ini?" tanya Melati.
"Tentu, kita akan menyempatkan waktu untuk kita bersama sama, bila perlu nanti bersama anak anak kita." Putri.
" Kalau suami kita gak ngijinin?" tanya Indah.
"Itu gampang," Melati.
"Gimana? Ayo!" Nadia.
"Tinggal potong aja jatah harian nya." Melati.
"Maksudnya?"
"Jangan kasih jatah lah."
Gleek...
Para cowok cowok menelan ludah nya sendiri. Gimana mungkin tahan kalau di potong jatah harian?
"Ngeri amat punya istri tangguh, belum apa apa sudah main potong jatah harian," batin Rain.
"Tiiddak... mana gua tahan gak di kasih jatah?" batin Ronald.
.
.
__ADS_1
.