
.
.
.
Pesta pernikahan Ronald dan Ratih masih terus berlanjut, para tamu undangan ada yang datang ada juga yang sudah pulang. Wajah Ratih pun sudah terlihat lelah.
"Kamu sudah letih sayang? duduk dulu ya." pinta Ronald, Ratih pun mengangguk dan menurut saja saat Ronald membawanya duduk di sofa.
Ronald kemudian memijit kaki Ratih dan membuka heelsnya. walaupun high heelsnya tidak terlalu tinggi dan hanya beberapa senti saja, tapi kalau sudah berdiri Berjam jam juga pasti akan lelah.
"Kamu sangat cantik, sayang." Ronald.
"Gombal, kalau lelaki gombal pasti ada maunya." Ratih.
Ronald garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan tersenyum canggung karena niat terselubung nya sudah diketahui oleh Ratih.
"Kok tahu sih sayang?" tanya Ronald.
"Sudah terbaca, tuh ada tulisannya didahinya mas." Ratih.
"Masa sih?" dengan bodohnya Ronald meraba dahinya itu. Seketika Ratih tertawa, tentu mereka semakin menjadi pusat perhatian.
"Aku sukanya perempuan yang tinggi dan juga besar." ucap Ronald, Ratih menghentikan tawanya lalu menoleh dan menatap Ronald lekat lekat.
"Kenapa menatapku seperti itu? aku tau aku sangat tampan."
"Apa tadi Mas bilang? suka perempuan tinggi dan besar?"
"Iya, memang ada yang salah kalau aku berharap seperti itu?"
"Jadi Mas menikahi ku karena apa?"
"Karena cinta?"
"Tapi Mas bilang tadi...?" Ratih tidak meneruskan ucapannya karena lebih dulu dipotong oleh kata kata Ronald.
"Salah kah kalau aku berharap ada perempuan yang cintanya tinggi dalam mencintaiku? dan kasih sayang yang besar dalam memberikan kasih sayangnya untukku?" Ratih seketika mukanya memerah, ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa?" Ratih hanya menggeleng kepala pertanda tidak.
Hampir saja terjadi hujan badai di atas pelaminan karena keisengan Ronald. Apa kata orang kalau tiba tiba pengantin wanitanya menangis dan mengamuk.
Sementara disudut lain, lima cowok tampan berkumpul sambil makan makanan yang sudah disediakan. Kelima cowok itu adalah Rain, Steve, Frans, William dan jangan lupakan sekarang ada Zahid. Zahid ternyata adalah rekan kerja sama dengan perusahaan mereka. Kelimanya berbincang bincang tentang bisnis. Para cewek sedang berkumpul disudut lain pula, tapi masih bisa saling pandang pandangan tentunya.
Tiba tiba ada lima orang cewek menghampiri mereka, (para cowok). tapi kelima cowok itu tidak mengganggap cewek cewek itu ada.
Salah satu dari mereka mengambil minuman yang telah disediakan didalam gelas. Berjalan mendekat kearah Rain.
Melati hanya memperhatikan gerak gerik cewek itu yang mereka ketahui namanya Rena. Ya Rena adalah orang yang iri dengan Melati. Dari zaman sekolah dulu memang sudah sangat membenci Melati, entah apa alasannya juga tidak tahu.
"Kamu lihat si Rena itu Mel?" tanya Indah, Melati mengangguk.
__ADS_1
"Sepertinya ia mau mengincar tunanganmu deh." Nadia.
"Pacar kalian juga," Melati.
"Tidak akan aku biarkan." ucap Yanti mulai emosi, dan hendak bangkit dari duduknya namun ditahan oleh Melati.
"Tenang dulu, kita lihat ending nya agar tidak salah faham." ucap Melati.
Yanti pun kembali duduk, namun dadanya turun naik menahan amarahnya melihat suaminya digoda cewek lain didepan matanya.
"Tenang, kenapa sih?" tanya Melati mencoba untuk menenangkan sahabatnya.
"Emang kamu gak cemburu? tunangan kamu di godain tuh." tunjuk Yanti kearah Rain dan sahabatnya.
"Cemburu gak harus berkoar koar, tenang tenang tenang. kita lihat ending nya." ucap Melati. Akhirnya mereka pun mengikuti saran Melati.
Sedangkan ditempat Rain, Rena yang sudah selesai mengambil air minum, dan berjalan kearah Rain. Rena dengan sengaja hendak menjatuhkan dirinya ketubuh Rain, tapi belum sempat tubuhnya menyentuh tubuh Rain, Rain sudah mengelak menghindar, hingga tubuh Rena terhuyung dan jatuh tidak elit ketanah.
Rain dan teman temannya tertawa menyaksikan tontonan gratis stand up comedy secara langsung. Begitu juga dengan Melati dan sahabatnya, mereka tertawa terbahak bahak sambil memegangi perut mereka masing masing.
"Apa kubilang, saksikan sampai habis biar tidak salah faham?" Melati mengulang kata katanya.
Sekarang mereka mengerti, kenapa Melati menyuruh mereka untuk tenang.
Rain yang melihat Rena terjatuh, bukannya menolong malah dengan tanpa hati Rain menginjak jari tangan Rena dengan sepatu sportnya yang berharga jutaan rupiah.
"Aakkkhh," Rena menjerit kesakitan. tapi Rain malah tidak peduli bahkan pura tidak melihatnya. begitu juga dengan teman teman nya.
"Yuk, kita kesana saja," ucap Zahid, sambil menunjuk pohon yang rindang, tempat para pujaan hati mereka berada.
"Kalian sepertinya santai santai saja melihat kami didekati cewek lain?" tanya Rain.
Melati mendongak karena posisinya duduk sedangkan Rain berdiri.
"Perlukah kami menghajar cewek itu?" tanya Yanti balik.
"Kami tidak cemburu, karena kami tahu calon imam kami tidak suka main perempuan." Melati.
"Sayang kamu sudah makan?" tanya Zahid pada istrinya.
"Aku tidak berselera, Bang. gak tau nih rasanya lihat masakan disana perutku mual." Balas Yanti.
"Kamu sudah datang bulan belum?" Nadia bertanya.
"Oh Ya Allah, aku lupa sudah telat dua Minggu." Yanti.
"Jangan jangan hamil tuh," ujar Putri to the point.
"Benarkah sayang, kamu hamil?" tanya Zahid.
"Gak tau, Bang. belum dicek lagi." Yanti.
"Jadi pengen kawin," Indah.
__ADS_1
"Ehhem, nikah dulu baru boleh kawin." Melati.
"Kode itu bro," kata Rain sambil menepuk pundak Frans.
"Bagaimana kalau nanti malam Mas melamar?" tanya Frans kepada Indah.
"Hah..., Secepat itu?" Indah balik bertanya.
"Bukankah hal yang baik jangan ditunda-tunda?" Frans.
Indah gelagapan, padahal ia cuma keceplosan tapi malah dianggap serius.
"Mumpung masih ada disini, gak apa apa lah kita bisa tunangan dulu." kata Frans lagi.
"Tapi bagaimana dengan orang tuamu?"
"Aku akan meneleponnya hari ini juga mereka akan kesini."
"Kalau begitu besok malam saja lah, kalau malam ini takutnya merepotkan."
"Baiklah kalau begitu."
Dalam hati Frans bersorak kegirangan, iapun langsung menelpon orang tuanya untuk datang. lalu Frans mendekati tantenya yaitu Margaret. Frans dan Ronald sebenarnya adalah sepupu, hanya saja Ronald lebih sering tinggal diluar negeri.
"Ada apa?" tanya Margaret to the point.
"Saya menyuruh mama datang kemari Tante." jawab Frans.
"Loh bukannya mamamu tidak bisa datang? lalu untuk apa kamu menyuruh nya kemari?"
"Saya mau melamar Indah Tan, mama bilang akan kemari bersama Papa."
"Kapan kamu mau melamar nya?"
"Besok malam Tante, selagi kita semua masih ada disini."
"Bagus deh, Tante juga setuju kalau kamu dengan gadis itu."
"Terimakasih Tante, kalau begitu saya kesana lagi ya."
"Ya, berkumpul lah dengan mereka."
"Cie cie cie yang mau melamar anak gadis orang." ledek William.
"Sudah dapat lampu hijau, jalan saja." Frans.
Indah nampak malu malu diledekin sahabatnya. sedangkan Yanti sudah diculik oleh suaminya dan langsung membawanya ke Puskesmas terdekat untuk melakukan pemeriksaan.
.
.
.
__ADS_1