
.
.
Ryan di temani Rania dan Alfian mengunjungi rumah Sinta janda anak dua yang akan di perkenalkan dengan Ryan.
Jarak antara rumah Rania dan rumah Sinta tidak terlalu jauh hanya sekitar 500 meter. Dengan berjalan kaki saja sudah dapat di tempuh.
" Assalamualaikum, Sinta." Rania mengucapkan salam ketika sudah sampai di depan pintu rumah itu. Tak lama pintu di buka oleh seorang anak lelaki berumur 6 tahun.
" Ibumu ada Bil?" tanya Rania pada anak itu yang bernama Nabil, sedang kan sang adik bernama Nabila.
" Ibu ada baru pulang dari kebun kakek Yusuf." jawab Nabil. " Silahkan masuk dulu bibi Nia," katanya lagi, mempersilahkan Rania dan dua orang lagi yang tentunya tidak Nabil kenal.
Mereka pun masuk kedalam rumah itu. Ryan mengedarkan pandangannya ke segala arah menelisik ruangan rumah itu. rumah yang hanya sebuah gubuk dengan lantai papan kayu dan dinding dari bambu serta atap terbuat dari daun sagu yang di anyam agar air tidak tembus. Namun atap itu sudah nampak bolong bolong di bagian tertentu.
" Begini lah keadaan nya kak Ryan, untuk makan sehari hari ia bekerja di kebun kakek nya Melati, dengan mendapat upah harian 50ribu. Ryan yang mendengar nya merasa tersentuh, " Segigih itu kah perjuangan seorang ibu demi anak anaknya?" batin Ryan penuh tanya.
" Bila kak Ryan serius ingin menikahi nya, walaupun tidak cinta setidaknya lepaskan dia dari beban hidupnya yang seperti ini. walaupun ada sebagian orang yang membantu nya tapi tidak mungkin untuk selamanya." Ryan hanya diam tak tau harus berkata apa namun hanya mengangguk kepala pelan. Sinta keluar dari arah dalam yang hanya di sekat dengan tirai kain, itupun sudah nampak kusam. Sinta yang sudah selesai mandi dan hanya memakai daster rumahan yang juga sudah nampak kusam. jangan kan untuk beli baju untuk makan sehari hari saja harus kerja banting tulang. terkadang Melati secara diam diam membantu Sinta dan anaknya. Nabil segera duduk di samping ibu nya, sedangkan Nabila entah kenapa ia langsung nyelonong dan duduk di pangkuan Ryan.
" Dek !" seru Sinta yang merasa tidak enak dengan sikap putri kecilnya pada orang asing.
" Biarkan saja, mungkin ia kangen dengan sosok seorang ayah." Alfian bersuara.
" Tapi....!" Sinta hendak bicara tapi terpotong oleh Ryan.
" Gak apa apa, saya suka kok, ya kan dek." Nabila mengangguk.
" Begini Sin, kedatangan kami ini ada hal yang sangat penting. " kata Rania sambil menyerahkan roti yang tadi di beli di warung, juga ayam sisa semalam yang tidak habis di bakar, dan tadi pagi telah di goreng dengan tepung bumbu. Melihat ada ayam goreng mata Nabil dan Nabila tampak berbinar.
__ADS_1
" Terima kasih kak Nia, dan ada hal penting apa yang akan kak Nia sampaikan?" tanya Sinta.
" Berikan dulu roti nya pada Nabil dan Nabila, mungkin mereka lapar." Ryan mengambil satu dan memberikan nya pada Nabila.
" Sebenarnya kedatangan kami ini ada ingin melamar kamu untuk teman saya ini," kata Alfian to the point. " Teman saya ini ingin mencari istri, yang bisa menemani nya sampai ke hari tua, dan sampai tutup usia." kata Alfian lagi.
Sinta masih mencerna ucapan yang dia dengar barusan, jujur saja ia kaget tiba tiba ada orang asing datang melamar nya.
" Bagaimana mana Sinta? Kak Ryan itu teman sekaligus asisten pribadi suami ku. orang nya baik dan masih bujangan, tapi kalau perjaka gak jamin ya," Rania sedikit bercanda.
Ryan tertunduk menahan malunya, jujur walaupun ia hidup sudah puluhan tahun tapi belum pernah merasakan yang begituan.
Alfian menyikut tangan istrinya, Rania yang faham cuma nyengir dan berkata maaf.
" Kalau kamu menerima lamaran saya, maka kita akan segera menikah karena aku tidak mau pacaran kaya anak ABG. Akan lebih baik pacaran setelah akad. dan lagi setelah menikah saya akan memboyong mu serta anak anak ikut saya ke ibukota." Ryan.
" Aku mau ke ibukota, aku juga mau sukses seperti kak Melati. " kata Nabil dengan polosnya.
" Baiklah aku terima, tapi kalau mas menerima aku harus juga siap menerima anakku, perlakukan lah seperti mas memperlakukan anak sendiri. Jawab Sinta, setelah memikirkan keputusan yang akan di ambil, " dengan pemikiran yang singkat ini semoga saja keputusan yang aku ambil tidak salah, semoga saja dia lah pria yang di utus Tuhan untuk ku sebagai jawaban atas doa doa ku." batin Sinta.
" Baiklah kalau kamu sudah menerima temanku ini, jadi pernikahan kita adakan dua hari lagi, soal biaya dan memanggil orang orang desa biar aku dan istriku yang urus. " Alfian.
" Kenapa cepat sekali? tanya Sinta kaget.
" Karena tiga hari lagi kami akan kembali ke ibukota. " Jawab Alfian. Sinta tidak bisa lagi berkata kata.
" Oh ya, ini ada sedikit uang untuk keperluan mu beberapa hari ini." Ryan menyerah kan amplop berisi uang yang di perkirakan lima juta.
" Lihat lah putri mu, Sinta dia begitu lengket dengan ayah nya." Rania. Sinta hanya tersenyum.
__ADS_1
" Abang juga mau sama ayah? sini sama ayah." Nabil menoleh ke ibunya untuk meminta persetujuan, Sinta pun mengangguk. perlahan Nabil bangkit dan menghampiri Ryan. Tak dapat di pungkiri anak itu juga merindukan sosok seorang ayah. Ryan memeluk kedua anak itu. tanpa sadar air mata nya menetes terharu sekaligus bahagia. " Begini kah rasanya punya anak? walaupun bukan anak kandung tapi aku bahagia. " batin Ryan. Sinta juga menetes kan air mata nya, sudah lama ia tidak melihat pemandangan seperti ini. dulu sewaktu suami nya meninggal anaknya terlalu kecil untuk memahami semua nya.
" Aku rindu ayah," ucap Nabil dengan suara serak, yang ternyata juga menangis tanpa suara.
" Aku jadi pengen punya anak lagi," bisik Alfian pada istrinya.
" kita udah tua gak lagi kuat untuk hamil." balas Rania juga berbisik.
" Kak Nia, bisa kita bicara sebentar?"
" Bisa, mari!" mereka berjalan kearah dapur. Sinta membuat kopi, karena sedari tadi ngobrol tidak di suguhkan minuman.
" Kak Nia, apa benar dia masih bujangan? takutnya nanti tiba di sana dia sudah punya istri. Aku tidak mau di cap pelakor, kak."
Rania tersenyum lalu berkata. " Dia memang bujang dan umur nya memang sudah matang, sebenarnya dia sedikit trauma karena mantan kekasihnya. hingga membuat nya sulit berdekatan dengan wanita. semoga kamu bisa menyembuhkan trauma nya. lihatlah dari luar dia nampak bahagia tapi kita tidak tahu bagaimana hati nya. aku lihat tadi dia nampak bahagia memeluk anak-anak mu."
" Iya kak, aku juga lihat."
" Semoga kau bisa membuat nya jatuh cinta padamu."
" tapi kak, penampilan ku kurang menarik."
" Nanti di sana kamu bisa merubah penampilan mu. percaya diri lah."
.
.
.
__ADS_1
.