
.
.
Malam pun tiba dimana mereka sudah bersiap siap untuk mengadakan lamaran, Ronald terlihat gugup karena harus berhadapan dengan camer,
" Belum pernah gue segugup ini, bro." Ronald.
" Tenang, tenang tarik nafas buang tarik nafas buang." dengan bodohnya Ronald mengikuti saran Rain.
" Gimana udah tenang?"
" Sedikit, bro temani gue ya."
" Iya... iya, Melati juga sudah ada di sana sejak tadi."
" Cewek gue juga udah di sana bro," William.
" Berarti cewek gue juga dong, mereka itu kan teman sejati." Steve. mereka berangkat ke rumah Ratih, gak jauh juga cukup jalan kaki.
Sesampainya di rumah Ratih mereka di sambut dengan ramah.
" Assalamualaikum,"
" Waallaikum sallam," mari silahkan masuk. Sebelum nya Ratih sudah memberitahu keluarga nya bahwa akan ada orang datang untuk melamar.
" Mari silahkan duduk, maaf cuma lesehan."
Di dalam rumah sudah ada menunggu pak kades, pak RT, dan pak ustadz yang sengaja di undang untuk menyambut tamu yang akan datang. satu persatu orang orang bersalaman. Martin dan Alex merasa takjub dengan sambutan hangat dari orang desa. karena mereka tidak pernah merasakan hal seperti ini. Ratih, Melati dan Indah sedang menata air minum dan kue untuk hidangan para tamu yang datang malam ini.
" Langsung saja ya pak...." Martin tidak melanjutkan kalimatnya karena memang belum berkenalan dengan calon besan.
" Abdul, nama saya Abdul." kata pak Abdul menyambut kata kata Martin tadi.
" Begini pak Abdul, saya Martin sebagai orang tua dari Ronald, dan ingin menyampaikan hajat anak saya. Apa boleh saya berpantun pak?"
" Oh silahkan, silahkan."
' Bukan kacang, sembarang kacang.'
' kacang di simpan di dalam kamar.'
' bukan datang sembarang datang.'
' kami datang untuk melamar.'
Pak Abdul tersenyum, sedang kan pak kades dan pak RT berbisik bisik.
" ternyata orang kota juga pandai berpantun." pak RT.
" iya gak nyangka juga ya." pak kades.
" baik lah pak Martin, biar saya jawab pantun anda."
' kalau kacang di dalam kamar '
__ADS_1
' jangan masukkan dalam belanga '
' kalau datang untuk melamar '
' kami pihak keluarga tentu menerima '
" Alhamdulilah, " jawab mereka serentak.
" Ini sebagai seserahan dari kami karena telah menerima anak kami sebagai calon menantu di keluarga Bapak Abdul."
" Baik lah saya terima seserahan ini," tak lama Ratih pun di panggil keluar untuk bertukar cincin. setelah bertukar cincin maka resmi lah pertunangan Ratih dan Ronald.
" Untung nak Ronald, Saya sebagai bapak nya Ratih sangat berharap nak Ronald menjaga Ratih dengan baik. sebelum kalian resmi menikah, jaga lah anak Bapak jangan di rusak sebelum waktunya. karena bagi kami orang desa, kehormatan lebih tinggi derajatnya di banding apapun. jangan sampai mencoreng nama baik keluarga."
" Iya pak, saya Ronald Martin Fernando berjanji akan selalu menjaga Ratih dengan baik dan segenap jiwa raga saya."
" Baik, karena nak Ronald sudah berjanji maka Bapak akan percaya, karena seorang lelaki sejati tidak akan mengingkari janjinya."
" terimakasih Pak atas kepercayaan yang telah Bapak berikan,"
" Jangan berterima kasih, tetapi bukti kan lah bahwa nak Ronald lelaki sejati."
Akhirnya acara lamaran pun selesai. mereka sudah kembali ke rumah Rania. para orang tua sudah berada di kamar bersama pasangan masing-masing. sedang kan para pemuda masih asik ngobrol di teras rumah.
" Bro, gue gak nyangka ternyata papa lo pandai berpantun." William. tadi ia mau membicarakan itu takut tidak sopan.
" Gue juga baru tahu, tapi sukur deh lamaran nya berjalan lancar. "
" gue kapan ya melamar Indah, " Frans.
" menurut gue lebih cepat lebih baik," Rain.
" Aku gak akan pakai acara tunangan, langsung nikah aja nanti, lagi pula Melati minta waktu hingga dia berusia 20 tahun."
" Berarti setahun lagi dong, wah kelamaan bro."
" Gak apa apa aku sanggup nunggu kok. lagian aku percaya Melati. kalau kita mencintai seseorang, kita harus percaya bahwa dirinya akan setia. Melati orang yang berbeda menurut aku, kalau ia mampu menjaga tubuh nya, besar kemungkinan ia bisa menjaga hatinya."
" gue salut sama lo, bro. begitu banyak cewek yang ngejar ngejar lo tapi hati dan pendirian Lo sangat teguh, dan hanya untuk Melati."
" Kesetiaan tiada harga nya, kawan. dan tidak bisa di beli di mana pun. kalian tau kan aku bukan pemain wanita?"
" Emang lo doang, kita kita juga bukan pemain wanita kale." Frans.
" Gue baru kali ini jatuh cinta pada lawan jenis. dulu gue gak peduli pada yang namanya perempuan." Ronald.
" Aku ada tebak tebakan dari Melati, " Rain.
" Alah paling teka teki jebakan lagi." Steve.
" Yo i... dengar ya, dari cewek cewek kalian, apa nya paling menarik?" Rain.
" wajah nya." Frans.
" Body nya." William. "
__ADS_1
" Kecantikan nya." Steve.
" Semua yang Frans, William, Steve sebutkan." Ronald.
" Salah, semua salah," Rain
" menurut lo apa nya?" Ronald.
" Jawaban nya adalah tangannya."
" kok tangan nya?" Frans.
" Iya, coba kalian pikir, kalau gak ada tangan gimana mau menarik?" Rain.
" Tuh kan bener, jebakan lagi kan?" Steve.
" ngomong ngomong Om Ryan kok tadi gak ikut,"
" Dia tidur awal, karena dua hari lagi dia mau menikah," Steve.
" Haa.... kok aku gak tau.?"
" Tadi siang dia melamar janda anak dua. " Steve.
" Gak masalah sih kalau janda, asal kan orang nya baik baik, dari pada gadis tapi rasa janda. " William.
" Kalau itu sih bukan lagi gadis, kalau gadis itu masih segel," Steve.
" Udah malam, tidur yuk," Rain
" lesu amat Lo Rai, mentang mentang Melati lagi nginep di rumah teman nya." Ronald.
" Gak peduli dengan omongan kalian, intinya aku ngantuk, ngantuk tau gak, nih lihat jam 2 pagi. oke aku cabut dulu." Rain berlalu kedalam kamar. teman teman lainnya masih asik ngobrol ngalur ngidul.
" Gue juga mau masuk deh," Frans.
" haissh, bro ntar dulu lah, kita ngobrol dulu." Ronald.
" besok aja, gue juga mau tidur," Frans.
" Terus kita gimana? gak asik banget sih jadi teman." William.
"Kalian terusin aja ngobrol nya, bila perlu dekat pohon durian Sono, sambil nunggu buah durian jatuh." Frans.
" Oh iya, mendingan kita mencari buah durian yang jatuh." Steve.
" Ada senter gak?" Ronald.
" Pakai ponsel aja, juga terang kok."
" Yok ah, cepetan." Akhirnya ketiga nya memutuskan untuk mencari buah durian yang jatuh. sesampainya di sana.
" Ada gak?" tanya William.
" Gue dapat satu," Steve menunjukkan pada kedua teman nya sambil mengangkat ke atas sejajar dengan dengan wajah nya.
__ADS_1
" Bau nya ada di sini," Ronald terus mengendus endus seperti anjing pelacak saja. " Nah ketemu," kata Ronald lagi dengan girang, seperti mendapat durian runtuh, tapi emang durian jatuh.
" Ternyata seru juga ya kalau seperti ini," William.