MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 47


__ADS_3

.


.


.


Rain dan Melati pun keluar dari ruangan kerja Rain, keduanya berjalan menuju lift. sampai didepan lift, pintu lift khusus petinggi perusahaan pun terbuka, Rain menggandeng tangan Melati menuntun nya masuk kedalam lift. sebenarnya Melati bisa sendiri, hanya Rain saja yang modus pengen gandeng tangan Melati, baru begitu saja sudah membuat Rain bahagia apalagi kalau lebih.


Ting... pintu lift terbuka menandakan mereka sudah sampai kelantai dasar. Para karyawan berdecak iri melihat pasangan yang mereka nilai sangat cocok itu.


"Pakai mobilku saja," ucap Melati saat mereka sudah berada ditempat parkir, lalu Rain mengambil kunci dari tangan Melati.


Kini mobil pun melaju dijalan raya dengan kecepatan sedang. Sesekali Rain menatap kearah Melati, "kenapa semakin hari semakin cantik saja?" batin Rain.


"Ehhem," Rain berdehem, Melati spontan menoleh.


"Kenapa?" tanya Melati, Rain menggeleng.


"Kalau ada yang mau diomongin, ngomong aja tidak perlu hamhem hamhem seperti itu." ucap Melati.


"Ini, tenggorokan ku gatal." Rain beralibi.


"Abang beneran gak apa apa makan di warung tenda?" Melati.


"Gak apa apa, terkadang masakan di warung tenda juga tidak kalah enak dari restoran mewah." Rain.


Akhirnya keduanya pun sampai ke warung tenda tempat menjual makanan pinggir jalan. Melati turun lebih dulu setelah itu di susul Rain setelah ia memarkirkan mobilnya. Melati duduk dikursi plastik yang memang disediakan begitu juga Rain. tak lama seorang wanita datang menghampiri mereka.


"Selamat datang tuan dan nona, mau makan apa? minum apa?" tanya wanita itu ramah.


"Seblak ceker dua minum teh es satu, Abang minum apa?" Melati.


"samakan saja deh, Seblak cekernya yang pedas ya!" Rain.


"Baik tuan, mohon ditunggu sebentar." jawab wanita itu ramah, lalu wanita itu menemui ayahnya dan memberitahukan pesanan tersebut. sedangkan ia sendiri membuat es teh.


Rain memandang sekeliling ternyata ramai juga pembelinya, "Bukankah ini dekat dengan kampus Melati?" batin Rain.


"Abang kalau mau makan yang pedas pedas datang aja kesini." ucap Melati, Rain mengangguk saja.


"Kamu sering kemari? bukankah ini dekat dengan kampusmu?" tanya Rain.


"Iya, kalau pas makan siang, tapi biasanya juga makan dikantin." jawab Melati.


Saat mereka asik asik ngobrol, pesanan mereka pun datang.


"Silahkan Tuan dan nona," Melati dan Rain mengangguk, wanita itupun berlalu meninggalkan mereka dan melayani pelanggan yang lain.


"Gimana? enak kan?"


"Lumayan, tapi lebih enak masakanmu sayang."

__ADS_1


"Sst, jangan terlalu kuat bicaranya, gak enak didengar oleh pemilik warung ini."


"Tapi aku kan bicara jujur, salahnya dimana coba."


"Bicara jujur tidak salah, tapi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain, apalagi pemilik warung ini."


"Baiklah baiklah."


"Nanti malam Abang sibuk gak?" Melati bertanya, Rain pun menggeleng.


"Ngajak ke restoran?" Rain balik bertanya, Melati mengangguk.


Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada karyawanku." melati.


"Apa ada masalah dengan restoranmu atau karyawanmu?" Rain


"Tidak ada masalah, malahan keuntungan setiap bulannya lebih besar. Jadi aku berencana untuk mengajak mereka liburan di hari Minggu." Melati.


"Bagus deh, kirain ada masalah besar dengan restoran." Rain.


"Datang ya, siapa tau nanti ada memberi pendapat." Melati.


"Pasti, aku pasti datang." Rain.


"Cepat makan nanti keburu dingin." Melati.


"Hmmm," Rain mengangguk.


"Aku juga merasakannya, kita berpura-pura tidak tahu saja." Rain.


"Nanti aku bawa mobil ya?" Melati.


"Kenapa?" Rain balik bertanya.


"Siapa tahu mereka mengikuti kita, aku hanya mau lomba balapan sama mereka." jawab Melati enteng.


"Terserah kamu sajalah."


Selesai makan Melati melambaikan tangannya, dan wanita tadi pun datang.


"Berapa mbak?" tanya Rain.


"50 ribu tuan." jawab wanita itu.


Rain menyerahkan uang seratus ribu satu lembar, "Murah banget." pikir Rain.


"Sebentar ya tuan," ucap wanita itu.


"Tidak usah, ambil aja kembaliannya." Rain.


"Tapi ini kebanyakan."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, rezeki jangan ditolak."


"Terimakasih banyak tuan." wanita itu tersenyum lalu menoleh kebelakang dimana ayahnya berada, ayahnya pun mengangguk.


Rain dan Melati pun pergi dari tempat itu. Dan masuk kedalam mobil. Orang yang tadi mengintai pun masuk kedalam mobil.


Kali ini Melati yang menyetir, Melati menjalankan mobilnya dengan perlahan untuk memastikan apakah orang itu akan mengikutinya atau tidak?


"Mereka mengikuti kita." Rain.


"Iya biarkan saja dulu, kita lihat ada berapa orang yang sedang mengikuti kita." Melati.


"Sepertinya ada empat mobil." Rain.


"Benarkah? Apa Abang bawa senjata api?" Melati.


"Ada dibawah jok." Rain.


"Gak usah deh, kita tidak perlu pakai senjata api." Melati.


Mobil yang Melati kendarai terus melaju, tapi kali ini Melati menambah kecepatannya. Mobil yang mengikuti mereka juga menambahkan kecepatannya. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai. Melati melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seperti seorang pembalap profesional saja. mobil dibelakang juga tidak mau kalah, mereka tidak mau kehilangan jejak buruan mereka. Melati sengaja membawa mereka ketempat sepi yang tidak ada kendaraan lain. Melati menghentikan mobilnya dan sengaja menunggu mobil yang mengejar mereka.


Empat buah mobil juga berhenti tidak jauh dari mobil Melati. Dalam satu mobil ada empat orang, berarti semuanya berjumlah 16 orang, mereka keluar dari dalam mobil dengan senjata ditangan masing-masing, tapi tidak ada yang membawa pistol atau senjata api lainnya.


"Hati hati Bang, mereka bawa senjata tajam."


"Iya, Abang mengerti, mari kita selesaikan mereka aku yakin mereka utusan seseorang untuk membunuh kita."


Melati dan Rain pun keluar dari mobil, sambil mengamati mereka satu persatu Melati tersenyum sinis.


"Sayang jangan senyum pada mereka, senyum sama Abang saja," hadeh Rain dalam suasana genting masih sempat sempatnya cemburu.


"Aku tau kalian utusan seseorang, cepat beritahu siapa yang mengutus kalian?" tanya Rain.


"Kau tidak perlu tau kami utusan siapa? yang pasti kami sudah dibayar mahal untuk menghabisi kalian."


Rain sudah menduga kalau ada orang yang ingin menargetkan dirinya dan Melati, dugaan Rain tidak lain adalah paman Yoga. karena pamannya itu yang selalu menginginkan kematiannya. tapi nasib baik selalu menyebelahi Rain, sehingga ia masih bisa hidup sampai sekarang. Tapi pamannya bukannya berhenti malah semakin menjadi jadi sebelum hasratnya itu tercapai. Tidak berapa lama, sebuah mobil datang menghampiri mereka dan berhenti dekat dengan mobil yang mengikuti mereka. Rain sangat mengenal mobil tersebut, lalu Rain tersenyum devil kearah mobil itu.


"Sayang ternyata benar dugaanku, kalau mereka adalah utusan paman Yoga."


Melati menoleh kearah Rain, kemudian ia menoleh kearah mobil yang baru datang itu. Melati memicingkan matanya melihat orang yang keluar dari mobil itu, sepasang ayah dan anak menatap dendam kearah Melati dan Rain. Ya mereka adalah Yoga dan Ardhan.


"Tidak kusangka kita akan bertemu disini Melati, kali ini aku akan mendapatkanmu untuk ku jadikan teman ranjangku." Ardhan.


Melati tidak menanggapi ucapan tersebut, ia malah tenang tenang saja. Berbeda dengan Rain yang mukanya sudah memerah menahan amarahnya.


"Kendalikan emosimu, Bang." ucap Melati.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2