MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 43


__ADS_3

.


.


.


"Ternyata rasanya enak." batin Mario.


Mario makan begitu lahap, sehingga tidak mempedulikan pertanyaan istrinya. Suap demi suap masuk kedalam mulutnya.


"Pa ditanya kok diam saja." Marreta.


"Makan aja Ma, Papa sangat lapar." Alibi Mario, yang terus mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Lapar apa rakus, Pa?" tanya Marreta, yang juga menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


Seketika iapun merasakan hal yang sama dengan suaminya.


"Pantas saja suamiku begitu lahap, ternyata benar benar enak," batin Marreta.


Margaret keluar dari kamar menuju dapur, dilihatnya sang adik makan dengan begitu lahap, iapun tersenyum.


"Reta, sudah lama sampai?" tanya Margaret.


"Sekitar satu jam yang lalu kak." jawab Marreta.


"Maaf, kakak tidak tahu kalau kalian sudah datang, kakak tadi ketiduran dikamar."


"Tidak apa-apa kak, pasti kakak capek kan setelah menghadiri pesta pernikahan Ronald.?"


Margaret tersenyum, dilihat adik iparnya yang sedang makan. Tidak pernah Margaret melihat mereka makan selahap itu.


"Kakak sudah makan?" tanya Marreta.


"Sudah tadi." jawab Margaret singkat.


"Yang lain kemana kak?" Marreta.


"Mungkin lagi memancing ikan di kolamnya Pak Yusuf." Margaret.


"Mancing? dimana?" tanya Mario.


"Nanti Papa sama aku aja, kebetulan kami juga mau kesana." Frans.


"Emangnya jauh ya?" Mario.


"Gak kok Pa, cuma beberapa ratus meter saja." Frans.


"Mama boleh ikut gak?"


"Boleh, sekalian jalan jalan lihat desa ini."

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka beristirahat sejenak, barulah mereka pergi kerumah Pak Yusuf. Mereka hanya jalan kaki, karena memang dekat. mungkin sekitar 500 meter. Saat mereka berjalan, orang orang desa melihat dengan takjub kearah mereka, tapi mereka begitu iri dengan Melati yang bisa bergaul dengan begitu mudah dengan orang kota. Sekarang mereka tiba dirumahnya Pak Yusuf. kebetulan Pak Yusuf sedang menebang batang tebu untuk diambil airnya.


"Kakek sedang apa?" tanya Frans.


"Oh ini, lagi bersihin batang tebu untuk diambil airnya nanti." jawab Pak Yusuf.


Setelah itu Pak Yusuf menghidupkan mesin penggiling tebu. dan tidak lupa Pak Yusuf menyediakan alat alatnya untuk menampung air tebunya nanti. Mario yang belum pernah melihat proses penggilingan tebu pun takjub.


"Boleh saya mencobanya Pak?" tanya Mario.


"Boleh, silahkan." Pak Yusuf mempersilahkan Mario untuk mencobanya. Tidak lupa Pak Yusuf mengajarinya.


"Ternyata sangat menyenangkan," gumam Mario pelan, tentu saja hanya dia sendiri yang mendengarnya. apalagi bunyi mesin penggiling tebu begitu nyaring bunyinya.


Tidak berapa lama datang Martin, Alexander dan Alfian.


"Aku mau mencobanya," Martin mendorong perlahan Mario agar bergeser ke samping.


"Biar aku saja, kalian minggir." Alexander tidak mau kalah. padahal tadi mereka lagi asik memancing.


"Kenapa sih kalian suka sekali mengganggu?" Mario.


Sedangkan Pak Yusuf hanya geleng-geleng kepala menyaksikan mereka rebut rebutan tebu.


"Sudah, sudah kalau begini kapan selesainya? kalian sudah persis Tom and Jerry juga buldog." Alfian.


Ketiganya berhenti dan menatap tajam kearah Alfian, tidak terima di bilang kucing, tikus dan anjing. Lalu ketiganya mendengus.


Lalu Pak Yusuf menjelaskan cara caranya, hingga ketiganya mengerti.


"Asik juga ya." Alexander.


Mereka melakukannya sambil tertawa. hingga semuanya selesai. Dan membawanya masuk untuk dibuat minuman. Kemudian para wanita memasukkan air tebunya kedalam ceret dan menyajikannya bersama dengan es batu.


"Baru kali ini saya minum air tebu, ternyata segar dan nikmat." Martin.


"Iya, ya manis alami dan tidak menyebabkan diabetes." Mario.


Setelah itu mereka melanjutkan memancing ikan di kolam.


"Lihat nih saya juga ahli memancing ikan." Mario membanggakan diri. Martin dan Alex hanya mencebikkan bibirnya. para istri mereka hanya menyaksikan dari dalam rumah.


"Ye saya dapat ikan besar," teriak Martin.


Semua menoleh kearah Martin yang berteriak kegirangan, sejak tadi mereka memancing tapi belum dapat satu ekor pun, sekalinya dapat alangkah bahagianya hatinya.



"Lihatlah sangat besar ikan nya." ucap Martin.


Mario merasa dirinya tersaingi, karena ia belum dapat satu ekor pun. sampai hari semakin sore. jam menunjukkan pukul 17:00 barulah mereka banyak dapat ikan.

__ADS_1


"Kita apakan ikan ikan ini?"


"Kita panggang, kayanya enak."


"Kalau begitu setelah maghrib nanti kita manggang ikan disini, beritahu anak anak dan istri kita."


"Baiklah, sekarang kita masuk kerumah, gerah nih mau mandi. sebentar lagi kita ke masjid untuk shalat Maghrib."


Akhirnya mereka menyudahi memancingnya, dan memberitahukan rencana mereka untuk memanggang ikan nanti malam. Tentu saja para istri dan anak mereka kegirangan.


"Pantas saja kalian betah disini, ternyata memang menyenangkan." Marreta.


"Iya, suamiku rencananya pengen bangun villa disini kalau ada yang menjual tanahnya." Margaret.


"Kalau soal jual tanah, mungkin orang sini tidak akan menjual tanah mereka." Rania.


"Kenapa?" tanya Margaret.


"Karena penghasilan disini kebanyakan dari tanah yang mereka punya. seperti kebun, ladang dan sebagainya."Rania.


"Sayang sekali ya, padahal aku juga mau kalau suamiku beli tanah disini terus bangun villa agak sewaktu waktu bisa liburan kemari." Marreta.


"Sudah, sudah mari kita bersihkan ikan ikan ini." Sofia menimpali.


Marreta dan Margaret yang belum pernah mengerjakan pekerjaan seperti itu akhirnya juga ikut nimbrung, mereka jadi terbiasa dengan hidup seperti ini, kalau dirumah mereka ada pembantu yang mengerjakan, tapi tidak dengan disini.


"Aku jadi mengerti bagaimana kehidupan orang orang desa," Marreta bergumam dalam hati.


"Dek, mungkin nanti ada calon menantu datang kemari." Margaret.


"Benarkah? aku pengen lihat seperti apa dia sampai anakku begitu mencintainya." Marreta.


"Orang nya cantik, dan yang pasti gadis baik baik, aku suka kalau Frans dengan gadis itu." Margaret.


"Aku sudah banyak memperkenalkan gadis gadis seksi dan cantik, tapi selalu saja ditolak oleh Frans." Marreta.


"Kadang pilihan orang tua belum tentu baik untuk anak kita, aku tidak pernah mengekang anakku untuk mencari pasangan, biarlah dia menemukan pilihannya sendiri." ujar Sofia.


"Tadi aku sudah melihat tunangan Rain, memang Rain tidak salah pilih, cantik baik dan pintar masak." Marreta.


Sofia tersenyum mendengar pujian untuk calon menantunya.


"Kamu belum melihat calon menantumu, Frans juga pintar dalam memilih pasangan, dia tidak kalah cantik dari anakku, dia temannya anakku. Dan satu lagi, dia juga pintar masak." Rania.


Mereka terus mengobrol sambil membersihkan ikan, setelah selesai mereka pun segera mandi, karena sebentar lagi akan masuk waktu shalat Maghrib. Para pria sudah bersiap siap untuk pergi ke masjid, sedangkan yang wanita hanya shalat dirumah saja. Kecuali yang sedang berhalangan.


Selesai shalat Maghrib, para wanita membubui ikan ikan yang akan mereka panggang nantinya. Sedangkan yang pria menyiapkan kayu bakar dan tungku tempat memanggang ikan. Sungguh kebahagiaan yang hakiki saat ini mereka sedang berkumpul bersama seperti satu keluarga. sebelum nantinya mereka pulang kembali ke ibukota.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2