
.
.
.
"Sayang, istirahat ya Bunda bilang kamu harus istirahat dan tidak boleh mandi menjelang Maghrib." Rain.
"Iya suamiku sayang." Melati.
"Sayang mau makan apa? biar nanti aku belikan." Rain.
Melati menggeleng, "tidak ingin makan apa apa,"
"Sayang, kamu mau anak lelaki atau perempuan?" tanya Rain.
"Kalau Abang sendiri?" Melati balik bertanya.
"Abang tidak masalah anak lelaki atau anak perempuan, yang penting dia sehat." Rain.
Melati tersenyum, "kalau aku pengen anak lelaki biar tampannya seperti Abang, punya mata biru keabu-abuan, hidung mancung kaya bule." Melati.
"Sayang mau mandi?" tanya Rain.
"Sebentar lagi bang, aku pengen peluk Abang dulu," Melati.
"Tapi Abang bau, sayang." Rain.
"Gak kok, siapa bilang? malahan Abang wangi." Melati.
Sementara dibawah, Sofia dan Alex sudah datang. Sofia langsung gabung sama para wanita didapur. sedangkan Alex diruang tamu ngobrol sesama lelaki.
Didapur Rania menggoreng tempe dan mengulek sambal terasi untuk menantunya.
"Sedang apa?" tanya Sofia.
"Ini masak tempe goreng dengan sambal terasi untuk Rain," jawab Rania.
Sofia mengernyitkan dahinya, karena seingatnya Rain tidak suka tempe dan juga sambal terasi.
"Menantuku ngidam," ucap Rania seolah tau apa yang dipikirkan oleh Sofia.
"Ya sudah, soalnya tadi pagi Rain tidak mau makan nasi," kata Sofia.
Melati dan Rain keluar dari kamar, mereka telah selesai mandi. Rain mencium aroma tempe goreng dengan sambal terasi membuatnya menjadi lapar. Rain mengendus-endus seperti anjing pelacak. sampai didapur ia langsung mengambil tempe goreng dan dicocol dengan sambal terasi. Rain makan dengan lahap seperti orang tidak makan seharian.
"Gimana?" tanya Rania.
"Enyak Bun," jawab Rain dengan mulut penuh.
"Bang kalau makan itu ditelan dulu baru ngomong, nanti keselek siapa yang susah?" Melati.
Rain hanya mengangguk angguk sebagai jawaban, mulutnya penuh dengan tempe goreng. dalam sekejap tempe goreng habis didalam piring berpindah keperut Rain.
"Adalagi gak Bun?" tanya Rain.
__ADS_1
"Ada, ini masih banyak." Rania.
Anehnya Rain yang makan Melati yang jadi kenyang melihatnya.
"Biasanya Rain tidak suka tempe," ucap Sofia.
"Mungkin bawaan ngidam kali," Melati.
"Kamu tidak merasakan apa-apa Sayang? apa kata dokter?" tanya Sofia.
"Dokter bilang kandunganku kuat," Melati.
Waktu makan malam pun tiba, hanya Rain yang tidak ikut makan, ia hanya memakan tempe goreng tadi sore. Rain hanya duduk diruang tamu sambil nonton televisi.
Selesai makan, yang lain juga duduk diruang tamu. lalu Rain mendekati ayah mertuanya.
"Bagaimana perusahaan ayah?" tanya Rain.
"Alhamdulillah semakin berkembang pesat, rencananya ingin membuka cabang di negara D, dan pembangunan gedung sudah 50 persen.
"Ayah benar benar hebat," puji Rain.
"Semua ini juga berkat istrimu." Alfian.
Kini Rain sudah berada didalam kamar, Rain duduk disamping Melati sambil mengelus perut Melati yang masih datar.
"Abang kenapa?" tanya Melati.
"Abang terasa lemas," jawab Rain lalu merebahkan kepalanya dipangkuan Melati.
Seperti biasa, Melati terbangun ketika suara adzan subuh berkumandang. Melati membangunkan Rain untuk shalat subuh, Rain segera bangun dan langsung kekamar mandi. setelah selesai mandi dan berwudhu Rain mengenakan sarung dan peci serta baju Koko. Melati sudah selesai mengenakan mukena. kini mereka shalat subuh berjamaah.
Setelah selesai shalat, Rain siap siap untuk kekantor, Melati kedapur ingin masak tapi dilarang oleh Rania dan Sofia, Sofia dan Jordan menginap, karena Rania memaksanya untuk menginap. akhirnya ia pasrah saja.
"Abang mau kekantor?" tanya Melati.
"Iya Abang ada meeting pagi ini, kamu istirahat dirumah aja ya, jangan kerja dulu." ucap Rain, Melati hanya mengangguk.
"Sekarang kita sarapan dulu, Bunda sama Mama sudah masak." Melati.
"Mari...!" Rain menggandeng tangan Melati.
Keduanya berjalan beriringan tangan menuju meja makan. Rain duduk disamping Melati.
"Abang mau makan apa?" tanya Melati, tapi Rain menggeleng.
"Rasanya tidak berselera," jawab Rain.
"Abang harus makan," lagi lagi Rain menggeleng.
"Abang mau roti bakar aja." Rain.
Dengan telaten Melati membuatkan Rain roti bakar, hanya sekejap roti sudah siap. Rain makan roti bakar dengan lahap. Sofia dan Alex heran dengan cara makan Rain, biasanya tidak begitu.
"Kalian mau pulang ke mansion?" tanya Sofia, Rain menggeleng.
__ADS_1
"Aku terserah Abang Rain ma." Melati.
"Tapi Rain nya menggeleng tuh." Sofia.
"Mungkin Rain mau disini dulu beberapa hari," nenek Siti.
"Biarkan saja nanti kalau mereka mau bisa sendiri." Rania.
Setelah selesai sarapan, mereka sibuk dengan aktivitas masing masing. Rain mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena sebentar lagi akan ada pertemuan dengan klien pagi ini. beruntung jalanan tidak terlalu macet, jadi bisa datang ke kantor tepat waktu.
Rain di lobby bertemu asisten pribadinya, dan berjalan menuju lift khusus.
"Apa klien kita sudah datang?" tanya Rain.
"Belum tuan muda, masih ada waktu 15 menit." Andre.
"Kalau begitu kamu siapkan berkas-berkasnya, saya tunggu di ruang rapat." ucap Rain.
"Baik Tuan muda. oh ya tuan muda, sekretaris baru akan mulai bekerja besok," Andre.
Sekretaris yang lama sudah resign karena sedang hamil. Ya Andre dan Rara sudah menikah dan sekarang Rara sudah hamil dan suaminya tidak mengizinkannya lagi untuk bekerja.
"Kamu mencari sekretaris pria kan?" tanya Rain.
"Iya tuan muda, sesuai dengan permintaan tuan muda." Andre.
"Bagaimana kabar istrimu?" tanya Rain.
"Susah tuan muda," jawab Andre.
"Maksudnya?" Rain.
"Maksudku ngidamnya yang susah, tidak mau makan, dan pengennya tidur terus," Andre.
"Oh, berarti beda dengan istriku, istriku hamil malah tidak ngidam." Rain.
"Kok bisa?" tanya Andre heran.
"Tentu saja bisa, yang ngidam itu saya." Rain.
Seketika Andre tertawa, ia membayangkan bos nya ngidam seperti istrinya yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya diam dikasur.
"Tuan muda, klien kita sudah datang." Andre.
"Baik, Suruh mereka langsung ke ruang rapat." Rain.
Sedangkan Melati hanya duduk ditaman belakang bersama nenek Siti, Sofia dan Rania. mereka melihat Kakek Yusuf dan kakek Taufik bercocok tanam, kakek Yusuf membawa bibit buah-buahan untuk ditanam, yang tentunya sudah dicangkok terlebih dahulu supaya cepat berbuah. Ada rambutan, ada mangga, ada jeruk bahkan durian juga.
Kebetulan tanah dibagian belakang rumah masih sangat luas, jadi bisa menanam beraneka pohon buah-buahan. kakek Taufik selama hidup di desa sangat telaten dalam bekerja, walaupun tubuhnya kini sedikit menghitam karena sengatan matahari. kakek Taufik rela meninggalkan segala aset kekayaan yang dimilikinya di negara P. Namun ia masih menerima transferan uang dari hasil perusahaannya, tapi kakek Taufik tidak menggunakan uang itu, malah ditransfer kembali.
.
.
.
__ADS_1