MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 51


__ADS_3

.


.


.


William mendatangi rumah Melati, setelah memarkirkan mobilnya William tergesa-gesa keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum," William mengucapkan salam.


"Waallaikum sallam," jawab Alfian dan kakek Yusuf yang ada di ruang tamu.


"Ada apa? sepertinya kamu tergesa-gesa sekali?" tanya Alfian.


"Maaf Om, saya mau menjemput istri saya," jawab William.


"Duduk dulu, nanti dipanggil kan." kakek Yusuf.


William pun duduk, tapi nampak gelisah sekali seperti orang yang tidak sabar.


"Ada apa?" tanya Nadia yang baru saja dipanggil kakek Yusuf.


"Sayang, kita kerumah sakit ya." mendengar kata rumah sakit hati Nadia berubah cemas, mungkin terjadi sesuatu pada mertuanya pikir nya.


"Ada apa, apa yang terjadi? katakan mas!" Nadia memberondong.


"Tidak apa-apa sayang, pokoknya kita kerumah sakit dulu untuk memastikannya." William.


Mereka yang mendengarnya tentunya berpikir yang bukan bukan. mereka semua pun bingung ada apa sebenarnya?


"Pokoknya kita kerumah sakit dulu." ucap William sambil menarik pelan tangan Nadia.


Nadia cuma bisa pasrah walau dalam benaknya masih bertanya tanya, ada apa? apa yang terjadi? begitulah pikiran Nadia.


"Masuk sayang," Nadia pun menurut.


William pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Melati menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit William memarkirkan mobilnya sembarangan ia tidak peduli lagi. William membawa Nadia ke ruangan dokter kandungan.


Tok...


Tok...


Tok...


William mengetuk pintu, kemudian ia masuk setelah ada suara yang mempersilahkan mereka masuk. Nadia masih bingung dengan William, kenapa ia dibawa ke dokter kandungan? tapi Nadia hanya diam saja.


"Selamat sore Dok," sapa William.

__ADS_1


"Selamat sore, ya silahkan duduk." ucap dokter Rastiwi.


William dan Nadia pun duduk, walaupun Nadia masih diliputi rasa penasaran, tapi dia tetap menurut.


"Tante Tiwi?" Nadia baru ngeh ternyata yang dihadapan nya adalah seorang bidan desa yang kini sudah menjadi dokter kandungan. dokter Rastiwi tersenyum.


"Nadia apakah ini suamimu?" tanya dokter Rastiwi.


"Benar Tan, kami sudah menikah di desa beberapa bulan lalu." Nadia.


"Selamat ya, maaf Tante tidak dapat menghadiri pernikahan kalian, Tante sudah lama tidak pulang ke desa." dokter Rastiwi.


William yang melihat interaksi istrinya dengan dokter kandungan itu hanya diam saja, tanpa mau menyela pembicaraan mereka.


"Tante ini suamiku namanya William," Nadia memperkenalkan suaminya. William pun tersenyum.


"Sekarang ceritakan apa keluhannya?" tanya dokter Rastiwi to the point.


"Begini dok, saya hanya ingin memastikan apakah istri saya benar hamil atau tidak? soalnya...." William menghentikan kalimatnya karena sudah dulu dipotong oleh Nadia.


"Hamil? siapa yang hamil?" tanya Nadia.


"Maka dari itu harus di periksa dulu." William.


"Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang mas harapkan?" Nadia terlihat murung, karena dia tidak merasakan ada tanda tanda orang hamil.


"Kita periksa ya sayang, soalnya Tante Sofia bilang kemungkinan kamu hamil." William.


"Tidak apa-apa Sayang, kalau belum hamil kita akan berusaha lebih giat lagi." William.


"Begini saja, sebaiknya kita periksa pakai alat ini dulu," ucap dokter Rastiwi sambil menyerahkan sebuah testpack kepada Nadia.


"Dengan begini kita bakal tau hamil atau tidaknya," ucap dokter Rastiwi lagi.


Lalu Nadia pun mengikuti saran dokter Rastiwi, ia kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan pengecekan. Selang sepuluh menit Nadia pun menjerit setelah melihat hasilnya.


"Aaaaaakkh," teriakan Nadia membuat dokter Rastiwi kaget, dan William langsung panik tanpa pikir panjang ia langsung menerobos masuk ke kamar mandi.


"Sayang ada apa? apa yang terjadi?" tanya William panik.


"Mas...!" Nadia tidak dapat meneruskan kata katanya, dia hanya menyodorkan testpack yang di pegangnya. William mengambil benda itu dan melihat dua garis merah disana.


"Sayang... ini kamu..." perkataan William tercekat seperti tenggorokan nya ada yang menyumbat.


"Iya aku hamil mas, bagaimana mas bisa tau kalau aku hamil?" tanya Nadia, William pun menceritakan tentang yang dialami nya sewaktu ia berada di mansion keluarga Lemos.


"Memang ada ya yang seperti itu?" tanya Nadia, William mengangguk.

__ADS_1


"Buktinya aku merasakannya." William.


William pun menggiring Nadia untuk keluar dari kamar mandi tersebut. kini keduanya sudah duduk kembali dikursi berhadapan dengan dokter Rastiwi.


"Gimana hasilnya?" tanya dokter Rastiwi.


William menyerahkan testpack itu kepada dokter Rastiwi, dokter Rastiwi menerimanya lalu tersenyum.


"Sekarang kita periksa pakai alat ini ya, alat ini bisa melihat perkembangan janin dalam rahim, alat ini dinamakan Ultrasonografi atau bisa disebut USG." dokter Rastiwi menjelaskan.


Nadia kemudian disuruh berbaring diatas brankar, dokter Rastiwi mengolesi perut Nadia dengan gel.


"Lihat Pak, itu adalah calon bayi kalian bentuknya masih kecil hanya sebesar biji kacang." dokter Rastiwi.


"Dok kenapa hanya seperti biji kacang?" tanya William bingung.


"Karena usianya baru menginjak 4 Minggu, nanti seiring waktu calon bayi Bapak akan membesar dan berubah menjadi bayi mungil. Dan juga setiap bulan nya harus diperiksa, nanti saya resepkan vitamin untuk pertumbuhan janin, dan jangan lupa berikan susu ibu hamil pada istri Anda. satu lagi, dalam trimester pertama yang artinya 3 bulan pertama kurangi aktivitas yang bisa membahayakan janin karena trimester pertama itu sangat rawan keguguran. seperti aktivitas ranjang," ucap dokter Rastiwi secara gamblang.


"Boleh saya bertanya Dok?" William.


"Silahkan Pak, mungkin saya bisa jawab!" dokter Rastiwi.


"Apa benar ada seorang suami itu ngidam?"


Dokter Rastiwi tersenyum, "ada itu namanya cauvade syndrome atau disebut hamil simpatik, itu bisa terjadi kepada pasangan yang istrinya hamil tapi suami yang merasakan ngidamnya, tapi hal seperti itu sangat jarang terjadi," dokter Rastiwi menjelaskan. William pun manggut-manggut.


Nadia hanya diam tanpa menyela, menurutnya penjelasan dari dokter Rastiwi pasti akan membuat suaminya paham.


"Kalau begitu kami permisi Dok, saya akan turuti saran dokter," William.


Sebelum mereka pergi, Nadia menyerahkan kartu undangan pernikahan yang tadi dibawa nya.


"Kebetulan aku ada membawa ini datang ya Tante, Melati pasti senang kalau Tante datang." Nadia.


"Pernikahan Melati? Insya Allah Tante akan datang." ucap dokter Rastiwi setelah melihat undangan tersebut.


Kini William dan Nadia sudah berada didalam mobil setelah tadi menebus vitamin yang diresepkan oleh dokter Rastiwi.


"Aku sangat bahagia sayang, kita akan memberitahu kabar gembira ini pada Mommy dan Daddy. mereka pasti senang akan mendapatkan cucu." William tidak henti hentinya tersenyum.


"Iya mas, aku juga selalu menanti saat saat ini, sebelumnya aku merasa takut tidak bisa memberikan keturunan pada mas." Nadia.


"Sudah lah, sekarang sudah ada calon bayi yang harus kita jaga, kita pulang ya." William.


Mobil mereka pun keluar dari parkiran rumah sakit, dan melaju dengan kecepatan sedang dijalan raya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2