
.
.
.
" Heh minggir kalian." bentak Ardhan.
Melati masih belum menoleh, dan masih asik dengan makan nya. sedangkan Riska sudah gemetar ketakutan.
Braak...
Ardhan menggebrak meja. tapi Melati masih santai santai saja.
" Jadi begini kelakuan mu yang sebenarnya, Ardhan Kusuma Wijaya?" tanya Melati.
Merasa nama lengkap nya di panggil Ardhan tentu saja kaget.
" Siapa kamu? mengapa kau tau nama ku?" tanya Ardhan. Melati pun menoleh, Ardhan kembali terkejut.
" Me... Melati?" Ardhan nampak gugup.
" Kenapa? kau terkejut melihat aku di sini?"
" Bagaimana bisa kamu ada di sini?"
" Kamu sendiri ngapain di sini?"
" Gue, kuliah di sini, " jawab Ardhan.
" Udah tau kan jawaban nya?" Ardhan diam tak bisa berkutik lagi. Melati selesai makan dan membayar nya. lalu pergi dari tempat itu.
Ardhan diam mematung di tempatnya.
" Bos kenal cewek itu?"
" Ya, dia cewek incaran gue,"
" Kayaknya dia anak baru deh bos."
" Hmmm, gue tau. kemarin kemarin dia belum ada."
__ADS_1
Melati mengantar Riska ke kelas nya, setelah itu ia pun langsung pulang. Ardhan mengejar Melati sampai ke parkiran. saat Melati naik ke atas motor matic nya, Ardhan menghadangnya.
" Mel, tunggu gue mau bicara."
" Aku sibuk, tak ada waktu melayani orang tukang bully seperti kalian." ucap Melati pedas. Belum sempat Melati menghidupkan mesin motor matic nya, Ardhan lebih dulu mengambil kunci motor matic milik Melati.
" Balikin gak, balikin kunci motor ku."
" Tidak akan, sebelum kamu ikut gue." Melati yang sudah geram, segera menghampiri Ardhan.
" Sini kunci motor ku, kembali kan sebelum aku bertindak lebih jauh." kata Melati penuh ancaman.
" Hahaha, Apa yang bisa di lakukan oleh cewek lemah seperti mu." Ardhan tertawa mengejek. Ardhan pemegang sabuk hitam di bidang taekwondo sebab itu ia begitu berani. di kampus ini belum ada yang bisa mengalahkan nya, makanya dia sombong.
" Baik, jangan salah kan aku kalau aku berbuat kasar kepada mu." Ancam Melati. Ardhan malah semakin tertawa.
" Silahkan kan saja, tapi kalau kamu kalah kamu harus turuti semua kemauan ku." Akhirnya pertarungan pun terjadi. Melati dengan gerakan cepat menendang ke arah Ardhan, tapi Ardhan dengan sigap menangkis. Melati mengeluarkan jurus-jurus yang sulit di tebak oleh Ardhan, hingga Ardhan menjadi kualahan. nafas nya ngos ngosan. para mahasiswa dan mahasiswi hanya menonton perkelahian tersebut, tidak ada yang berani melerai mereka. mereka semua terperangah melihat perkelahian itu. tak ketinggalan juga Riska menyaksikan dengan mata melotot, seakan tidak percaya dengan kehebatan Melati. Ardhan yang di gadang gadang tidak bisa terkalahkan di kampus ini, justru mereka terpojok melawan Melati. Tubuh Melati terangkat beberapa meter keudara lalu melakukan salto dan menendang tepat di kepala Ardhan. Ardhan yang memang sudah kualahan terpelanting tersungkur ke tanah. Lalu Melati memelintir tangan kanan Ardhan, hingga berbunyi kreek. seketika Ardhan berteriak.
" Akkhh" Kemudian Melati mengambil kunci motor matic nya yang ada di tangan Ardhan. Lalu Melati dengan tanpa hati menginjak lagi tangan kiri Ardhan hingga ia kembali berteriak.
" Aakkkhh" Tangan Ardhan dua duanya patah.
" Itulah akibat nya bermain main dengan ku" kata Melati tanpa menoleh lagi kearah Ardhan dan teman teman nya. Melati tidak peduli tanggapan orang kepadanya. saat Melati sudah naik keatas motornya, sekali lagi Melati memberi ancaman pada Ardhan.
Ardhan tidak mampu berkata apa-apa lagi, ia hanya meringis menahan sakit. Melati pun berlalu dari situ. Akhirnya Ardhan di larikan ke rumah sakit oleh teman teman nya.
Sonya begitu panik mendengar putra nya di lari kan ke rumah sakit.
Sementara Melati saat ini sudah berada di restoran milik nya. Ia sedang masak untuk makan siang.
" Aku harus buatkan makanan spesial untuk bang Rain," batin Melati. Saat sedang asik memasak, Indah datang menghampiri nya.
" Masak apa Bu bos?" tanya Indah.
" Masak steak daging, dengan ayam penyet." jawab Melati tanpa menoleh ke arah Indah, saking fokusnya memasak.
" Beruntung banget ya tuan Rain, dapat calon istri seperti Bu bos, udah cantik, baik, pintar masak, pandai bela diri, duh paket komplit banget deh pokoknya."
" Emang situ tidak paket komplit?" tanya Melati, sambil manyun kan bibir nya kearah Indah.
" Tapi gak sekomplit Bu bos, ibarat jamu aku gak pake telur sama madu." ucap Indah mendramatis.
__ADS_1
" Kamu udah makan?" tanya Melati.
" Belum," jawab Indah santai.
" Udah jam istirahat nih, kok belum makan?"
" Belum dua kali maksud nya, hehe." Indah cengengesan lalu meninggal Melati yang masih sibuk dengan masakan nya. Setelah selesai memasak, Melati langsung pergi ke kantor Rain. Kali ini Melati mengendarai mobil, dengan kecepatan di atas rata-rata Melati mengendarai pacuan roda empat. Kebetulan jalanan agak senggang jadi tidak butuh waktu lama ia sudah sampai di tempat yang di tuju.
Melati laporan dulu ke satpam yang bertugas, tentu saja satpam langsung mengijinkan karena sudah kenal dengan Melati sebagai kekasih bos mereka. Setelah memarkirkan mobilnya Melati turun dari mobil nya, langsung menuju resepsionis.
" Selamat siang mbak," sapa Melati pada resepsionis dengan ramah.
" Siang nona, silahkan tuan muda sudah menunggu anda di ruangan nya." jawab resepsionis tidak kalah ramah, karena Rain telah menetapkan pada resepsionis harus melayani tamu dengan baik dan ramah. Karena itu bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Siapa pun yang datang, bagian resepsionis harus menyambut nya dengan sopan. terkecuali orang itu tidak ada sopan santun nya sama sekali.
" Terimakasih ya,"
" Mari nona saya antar!" ucap resepsionis lagi.
" Tidak perlu, saya bisa sendiri kok," kata Melati sopan. Melati berjalan menuju lift khusus karyawan, ia tidak mau memanfaatkan kekuasaan kekasih nya. Melati menekan angka 20, yang berarti menuju lantai 20 di gedung itu. Di lantai 20 hanya terdapat dua ruangan. yaitu ruangan CEO, ruangan asisten pribadi, sedang kan untuk sekretaris hanya ada meja kerja di luar ruangan CEO.
Ting... pintu lift terbuka, dengan langkah anggun Melati berjalan menuju ruangan CEO.
" Selamat siang mbak," sapa Melati pada sekretaris dengan ramah.
" Siang nona, silahkan nona, tuan sudah menunggu anda." jawab sekretaris dengan sopan.
" Terimakasih mbak, saya masuk dulu ya mbak."
" Silahkan nona, sama sama nona."
Tok...
Tok...
Tok...
Setelah mengetuk pintu, Melati segera masuk. dilihatnya Rain masih sibuk dengan pekerjaan, Melati membuka tutup Tupperware nya, dan menguar lah bau masakan yang Melati bawa. Rain mengendus-endus seperti anjing pelacak. Sampai ia menoleh ke arah sumber aroma. Rain langsung tersenyum, ingin rasanya ia memeluk pujaan hatinya, tapi takut kena banting.
" Menunggu halal harus ekstra sabar," batin Rain.
.
__ADS_1
.
.