
.
.
.
" Apakah kesepuluh orang suruhan mu itu ada yang kembali?" tanya Melati. Anita terdiam memikirkan orang suruhan nya yang memang tidak ada yang kembali,
" Apa mungkin orang suruhan ku tewas di tangan nya? rasanya tidak mungkin, lihat aja tubuh nya lemah begitu." batin Anita.
Melati tersenyum smirk tapi terlihat begitu menakutkan bagi yang melihat nya.
" Sekarang aku ajar kan kamu cara menampar yang benar." Melati berjalan semakin mendekat ke arah Anita, perlahan lahan Anita mundur.
" Mana keberanian mu tadi? ayok tunjukkan." Anita semakin gemetar.
PLAAK...
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Anita, tamparan yang sangat kuat di layangkan Melati pada Anita. Anita sampai tersungkur membentur tembok di toilet itu. Belum pulih dari rasa sakit di pipi nya, Melati dengan tanpa hati menendang wajah wanita itu.
" Ini belum seberapa, kau akan kembali merasakan yang lebih parah lagi bila kamu masih berurusan dengan ku. Kau salah mencari lawan." Melati lalu melenggang pergi dari tempat itu meninggal kan Anita yang mukanya sudah hancur karena ulah Melati.
Melati pergi dari mall itu seolah olah tidak terjadi apa-apa. sedangkan Anita sudah tidak sadar kan diri di dalam toilet. Melati ibarat lebah, hanya diam kalau tidak di usik. tapi akan menyengat kalau ada yang berani mengusik nya.
Melati tiba di restoran nya, para pelayan dan koki membungkuk hormat. Restoran Melati selalu ramai pengunjung, selain masakan yang lezat, pelayanan nya juga ramah. setiap hari Minggu restoran milik Melati tutup, karena Melati ingin semua karyawan nya menikmati hari libur mereka, kumpul bareng keluarga.
Walaupun Melati hanya memberikan gaji pokok sebesar 3 juta tapi karyawan mereka sangat senang. selama di tempat kerja makan di tanggung, dan uang saku seratus ribu perhari. itu untuk gaji pelayan dan cleaning servis. Untuk koki dan satpam gaji nya beda.
" Gimana restoran selama aku tinggal?" tanya Melati pada manager nya, saat ini Melati ada di ruangan kerja nya.
" Alhamdulillah Bu bos, omset kita semakin meningkat. begitu juga dengan cabang di beberapa daerah." jawab Risma sang manager.
" Bagaimana dengan yang di luar negeri?"
" Saya belum menerima laporan nya, Bu bos, Nanti manager di sana akan ke sini untuk melaporkan nya. Melati memeriksa keuangan dan keuntungan dari restoran nya itu.
" Hmmm, ternyata banyak peningkatan, dan restoran milik ku semakin terkenal," gumam Melati. " Aku jadi merindukan Bu Ningsih, bagaimana ya toko kuenya?" batin Melati. Melati terus mengerjakan pekerjaan nya sampai selesai. " Beberapa hari lagi mereka gajian, aku harus kasih bonus lebih ke mereka sebagai usaha kerja keras mereka." batin Melati.
__ADS_1
Itulah yang mereka suka dari Melati, bos mereka selalu menghargai kerja keras mereka. dengan memberikan bonus setiap kali keuntungan yang di dapat berkali lipat. Mereka yang awalnya anak jalanan, kini hidup mereka jauh lebih baik. semua itu berkat bantuan dari Melati itu sendiri.
.
.
Rain juga sangat sibuk, pekerjaan nya sangat menumpuk karena di tinggal beberapa hari, sampai asisten pribadi nya pun kualahan.
Saat ia memeriksa berkas yang akan di tandatangani, ketukan pintu membuat nya menoleh.
Tok
Tok
Tok
" masuk," kata Rain tanpa melihat siapa yang datang?
" Tuan ada titipan dari M P restaurant." kata satpam yang berjaga di depan gerbang.
" Hmmm, simpan di situ" jawab Rain dengan suara dingin nya. Padahal dalam hati terasa berbunga bunga, Rain tau itu pasti dari Melati.
Rain bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa, dan duduk di sana. perlahan ia membuka kotak makanan itu, ada memo kecil di sana yang bertuliskan ( Maaf aku tidak bisa mengantarkan secara langsung, jangan lupa makan biar sehat agar ada tenaga untuk melamar aku nanti)
Rain melebar kan senyum nya.
" Kau selalu menggoda ku sayang, setahun rasanya begitu lama, tapi aku harus bersabar. Aku tau kau sedang menguji kesetiaan ku. aku akan buktikan itu." gumam Rain.
Saat Rain hendak menyuapkan makanan kemulut nya, ponsel nya pun berdering, panggilan video dari pujaan hatinya. Tanpa menunggu lama Rain segera menjawab panggilan itu. Dan terpampang lah wajah cantik Melati yang hanya memakai sedikit polesan make up di wajah nya. Tanpa sadar Rain berucap, " Cantik"
"Abang udah makan?" tanya Melati sambil tersenyum.
" Ini baru mau makan," jawab Rain sambil memperlihatkan kotak makanan kepada Melati.
" Kalau tidak di kirimi makanan, pasti Abang lupa makan kan?"
" Abang terlalu sibuk sayang, hingga tidak sadar sudah waktunya makan siang."
__ADS_1
" Tuh kan, kalau gak di ingatin Abang bakal lupa terus."
" Makanya Sayang ingatin Abang terus agar Abang tidak lupa."
" Hmmm, Insya Allah kalau ingat," ucap Melati ketus.
" Eh... eh bibir nya jangan di monyongin gitu, mau di cium ya." goda Rain. Melati bukan nya menjawab malah semakin memonyongkan bibirnya.
" Sayang, kamu menggoda ku?"
" Cih.. GR, siapa juga yang goda situ, gede rasa banget." Rain malah tertawa.
" Gemesin banget sih calon makmum." Rain.
" Aku matiin nih telpon nya."
" Jangan dulu sayang, temenin dulu Abang makan, biar Abang tambah selera makan nya."
" Ya sudah, makan aja aku temani dari sini." Rain pun makan dengan lahap.
Selesai makan...
" Alhamdulillah, kenyang terimakasih sayang."
" Iya bang, sama sama. ya udah aku tutup dulu ya, mau lanjut kerja. Abang juga harus lanjut kerja biar cepat selesai."
" Baik nyonya Rain Alexander Lemos." Dan panggilan pun berakhir. Rain masih tersenyum hingga tidak menyadari asisten pribadi nya masuk.
" Tuan muda, hari ini kita ada meeting dengan klien dari negara J. " kata Andre sang asisten.
" Hmmm siap kan berkas berkas nya kita berangkat sekarang."
Anita di larikan kerumah sakit, petugas kebersihan menemukan nya dalam keadaan pingsan, lalu ia memanggil rekan kerja nya untuk meminta bantuan. Anita di masukan ke ruang UGD. tidak ada yang datang menjenguknya, karena kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri. Tidak mengetahui kejadian yang menimpa anak nya. sebenarnya orang tuanya tidak terlalu peduli dengan Anita, karena selalu membangkang perkataan orang tua nya, jadi orang tua nya yang merasa kecewa tidak peduli lagi dengan apapun yang di lakukan Anita. Anita di tangani oleh dokter, memar di wajah nya membengkak akibat tamparan keras dan tendangan kuat dari Melati. Karena Melati sudah cukup geram dengan Anita yang mengirim orang untuk membunuh nya. setelah beberapa jam Anita belum juga sadar. Itulah konsekuensinya bila berurusan dengan Melati, apalagi hendak melenyapkan Melati. Tidak ada ampun bagi gadis itu.
.
.
__ADS_1
.