
.
.
.
Kini pasangan pengantin baru itu telah tiba di menara Eiffel, Rain dan Melati keluar dari taksi tersebut, sedangkan supir taksi menunggu mereka sambil tiduran.
"Wah benar, ternyata memang sangat indah jika dilihat dimalam hari." Melati.
Rain memeluk Melati dari belakang, "gimana kamu suka?"
Melati menengadah, karena tinggi Rain melebihi dirinya. Tinggi badan Melati 170cm sedangkan Rain 188cm.
"Suka, sangat suka." Melati.
"Tapi tidak gratis loh," Rain menaik turunkan alisnya. seolah olah memberi kode kepada Melati.
"Tenang, aku tau kok apa yang ada dipikiran Abang?" Melati.
Rain tersenyum mendengar perkataan Melati, setelah puas menikmati keindahan menara Eiffel dimalam hari keduanya pun kembali ke hotel.
"Ini pak ongkosnya, dan ini untuk bapak," Rain menyerahkan amplop berisi uang, cukup tebal juga. Bapak itupun menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih tuan," ucap supir taksi tersebut.
"Sama sama pak, semoga dapat membantu bapak," Rain.
Lalu Rain dan Melati pun turun dari taksi tersebut. Melati dan Rain berjalan bergandengan tangan, sampai di lobby hotel ada seseorang memanggil Rain.
"Rain," Merasa ada yang memanggil Rain pun menoleh, tapi mukanya berubah masam menandakan tidak senang.
"Ternyata benar kamu Rain, sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Allora.
Rain tidak menjawab, malah mengajak Melati pergi, merasa tidak dipedulikan Allora berlari kecil lalu memeluk Rain dari belakang.
"Lepas..." Rain memberontak dan pelukan itupun terlepas, karena Rain tidak ingin menyentuh wanita itu dengan tanpa hati Rain menendang wanita itu tepat mengenai perutnya. Allora pun terpental jatuh kelantai, Allora meringis menahan sakit.
"Dari dulu sampai sekarang kamu tidak berubah Rain, kamu selalu kasar." umpat Allora.
__ADS_1
"Begitulah aku, mulai sekarang berhenti ngejar-ngejar aku, karena aku jijik dengan wanita seperti kamu yang menjadi wanita ranjang bagi setiap lelaki." setelah mengucapkan itu Rain pun berlalu menggandeng Melati kembali ke kamar mereka.
Sepeninggalan Rain, Allora menelpon seseorang, "Halo aku ada tugas untuk kamu, kamu habisi seorang wanita, yang pria jangan nanti aku kirim fotonya."
Tadi Allora sempat memfoto Melati dan Rain. setelah itu panggilan pun berakhir. Allora tersenyum smirk.
"Aku menyewa kelompok mafia terkuat di negara ini, kita lihat saja sampai dimana kesombonganmu Rain Alexander." Allora.
Kemudian iapun pergi meninggalkan hotel tersebut.
Sementara Rain dan Melati sudah berada didalam kamar, Melati duduk disisi ranjang dan melepas hijabnya.
"Abang mandi duluan ya, nanti baru giliranku," Melati.
"Sama sama yuk biar singkat waktu." ajak Rain.
"Abang duluan aja deh, katanya mau hadiah," Melati.
Mendengar kata hadiah membuat Rain bersemangat, "baiklah Abang mandi dulu."
Melati tersenyum, "mendengar hadiah langsung semangat."
Rain mandi dengan cepat tidak sampai 15 menit, ia keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk dipinggangnya. Melati menoleh sekilas, lalu berpaling memandang kearah lain Melati merasa malu memandang tubuh Rain yang sangat bagus itu.
"Iy... iya aku mandi," ucap Melati gugup, kemudian ia berlari kekamar mandi. Melati menutup pintu kamar mandi dan perlahan ia memegang dadanya, terasa debaran jantungnya yang tidak normal.
"Kenapa aku jadi gugup, padahal hanya melihat tubuhnya sekilas. Aakh aku harus bagaimana ini?" gumam Melati dalam hati.
Malam ini Melati bertekad akan menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya. "Toh sudah halal juga, gak perlu takut." pikir Melati
Tapi apa yang ada dipikirannya berbeda dengan yang dirasakannya. setelah 30 menit Melati menyelesaikan mandinya. Melati keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe, Rain tersenyum kala melihat Melati sudah selesai mandi.
"Kenapa tidak pakai pakaian?" tanya Melati.
Rain hanya diam tanpa menjawab, lalu berjalan menghampiri Melati.
"Bolehkah kita mulai?" tanya Rain, Melati mengangguk.
Rain segera meraih dagu Melati dan mengangkatnya hingga Melati mendongak sedikit. perlahan Rain mendekatkan bibirnya ke bibir Melati, Rain sudah tidak sabar ingin menikmati bibir indah tersebut. perlahan Rain me***at bibir kenyal nan merah itu. walau tanpa lipstik, tapi bibir Melati merah alami.
__ADS_1
Melati masih terasa canggung, walaupun Rain sudah pernah menciumnya. Rain melepas ciumannya lalu menatap Melati.
"Kita lanjutkan diatas ranjang ya?" Rain.
Melati tidak menjawab, karena debaran jantungnya masih berdetak tidak normal. Rain mengangkat tubuh Melati dan membaringkannya di ranjang, Rain kembali mencium bibir Melati, perlahan Rain melepas tali pengikat bathrobe Melati, kemudian ciuman Rain berpindah ke leher. Rain menjelajahi setiap inci tubuh Melati, Melati hanya menggeliat seperti cacing kepanasan. tak dapat dipungkiri hasratnya mulai bergelora. Rain dengan lihainya menjelajahi bagian bagian sensitif di setiap tubuh Melati.
Kini keduanya sudah sama sama polos seperti bayi yang baru lahir.
"Apa kamu siap?" tanya Rain dengan wajah penuh gairah.
Melati pun mengangguk sebagai jawaban, Melati sudah tidak bisa lagi berkata kata, karena apa yang Rain rasakan juga sama dengan apa yang ia rasakan, tanpa menunggu lama Rain pun melakukannya dengan lembut dan pelan, Melati meringis saat Rain memasukinya. Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua, tanpa sadar Melati mencengkram kuat bahu Rain hingga kuku Melati menancap disana. Namun Rain tidak menghiraukan itu semua. ia terus berpacu dengan gagahnya. seperti penunggang kuda profesional.
Setelah cukup lama keduanya pun mencapai puncak. Rain merebahkan tubuhnya di samping Melati, mengelus wajah wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Terimakasih untuk segalanya," ucap Rain.
"Tidak perlu, karena itu memang sudah menjadi kewajiban seorang istri." Melati.
"Iya seorang istri dan juga ibu untuk anak anak kita nanti." Rain.
"Bang, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi besok," Melati.
"Semoga saja firasat mu tidak akan terjadi, tapi kita juga perlu hati hati." ucap Rain, Melati mengangguk.
"Sekali lagi ya?" Rain.
"Masih sakit bang," ucap Melati.
"Pelan pelan hmmm." Rain.
Kemudian Rain pun melancarkan aksinya hingga Melati tidak bisa menolak, malam ini entah berapa ronde mereka bermain, hingga Melati terkapar dan tertidur.
Melati terbangun saat suara adzan di ponselnya berbunyi. Rain juga terbangun. keduanya mandi wajib, setelah itu mereka shalat subuh berjamaah. selesai shalat, Melati melanjutkan tidurnya, tapi Rain yang jahil mengerjai Melati hingga mereka pun melakukannya lagi. Melati tidak bisa menolak bila Rain sudah bermain diarea sensitifnya. Hari ini mereka habiskan hanya dikamar saja.
Rain terbangun karena perutnya merasa lapar, lalu ia memesan makanan pada pelayan hotel. sementara menunggu makanan sampai, Rain segera mandi, Melati masih tertidur didalam selimut karena kelelahan sehabis bertempur. Hanya sekejap Rain sudah selesai mandi, dan berpakaian lengkap. Hari ini mereka tidak ada rencana untuk jalan jalan, juga keadaan Melati pasti belum memungkinkan untuk pergi jalan jalan.
Pintu kamar mereka diketuk, ternyata pelayan hotel mengantar pesanan Rain.
.
__ADS_1
.
.