MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 56


__ADS_3

.


.


.


Melati dan Rain sudah berada di bandara, karena hari ini keduanya akan berangkat ke negara P untuk berbulan madu, sebuah negara yang katanya paling romantis di dunia.


Melati diantar oleh Bunda dan ayahnya, juga Mama dan Papanya. tidak ketinggalan para sahabatnya, walaupun dalam keadaan hamil mereka tetap bersikukuh untuk mengantar Melati ke bandara. Mereka berpelukan satu sama lain, yang pasti bukan dengan pria. Bisa mati berdiri Rain karena saking cemburunya pada istrinya.


"Kita berangkat dulu ya semuanya," ucap Melati setelah melepas pelukan mereka.


"Hati hati Nak," pesan Rania, dan Melati mengangguk.


Kini Rain dan Melati sudah dalam pesawat, mereka sengaja tidak menggunakan pesawat pribadi, padahal Rain mempunyai pesawat pribadi, tapi Melati menolak dengan alasan ingin berbaur dengan penumpang yang lain.


"Istirahatlah, perjalanan kita masih jauh," ucap Rain, Melati pun mengangguk.


Perjalanan antara Indonesia dengan negara P bisa memakan waktu kira-kira kurang lebih 17 jam. Melati baru kali ini menempuh perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat, berbeda dengan Rain yang sudah sering keluar negeri jadi ia sudah terbiasa.


Melati menyandarkan kepalanya dipundak Rain, tentu Rain dengan senang hati menjadi sandaran untuk istrinya.


Para penumpang pesawat berdecak kagum dengan pasangan pengantin baru itu, pasangan yang sangat serasi dimata mereka, yang prianya tampan dan wanitanya cantik. Saat ini pesawat yang mereka tumpangi sudah berada diatas, terlihat dari jendela awan awan seperti kapas yang mengapung. Melati tertidur, segera Rain memeluknya dan menyelimuti tubuhnya, takut Melati kedinginan. karena merasa mengantuk, Rain juga tertidur menyusul istrinya.


Keduanya terbangun saat sudah sampai di bandara negara P. Rain dan Melati turun dari pesawat dan langsung mencari taksi untuk mengantarkan mereka ke hotel.


Kini mereka sudah sampai di hotel yang sudah mereka boking sebelumnya. Resepsionis menyerahkan kunci kamar mereka, dan diantar oleh pelayan hotel tersebut. setibanya dikamar hotel Melati dan Rain langsung masuk.


"Huh leganya dapat beristirahat dengan tenang." Melati.


Melati berjalan kearah balkon lalu membuka jendela, hal yang pertama dilihatnya adalah menara yang menjadi ciri khas di negara ini.



Melati takjub dengan pemandangan itu, ternyata hotel yang mereka tempati menghadap ke menara tersebut, salah satu keajaiban dunia.


"Gimana sayang? kamu suka?" tanya Rain sambil memeluk Melati dari belakang.


"Suka, sangat suka. ini negara impian ku bang," Melati.


"Berarti Abang tidak salah pilih tempat dong?" tanya Rain,


Melati mengangguk, "Abang sudah benar."


Rain tersenyum sangat tampan. Melati berbalik dan mengecup bibir merah alami suaminya. Rain tidak menduga kalau istrinya berinisiatif duluan menciumnya walau hanya kecupan.


"Kenapa? gak suka ya dicium?" Melati.


"Suka, suka banget." Rain.


"Aku mau mandi," Melati.


"Mandi bareng yuk!" Rain.

__ADS_1


"No..." ucap Melati sambil menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X.


Rain terkekeh melihat tingkah Melati yang sangat imut dimatanya.


Lalu Melati mengambil pakaian ganti dari dalam kopernya. terus masuk kedalam kamar mandi sebelum Rain kembali menggodanya. padahal tanpa Melati sadari dia tadi telah memancing Rain dengan mengecup bibirnya.


Rain hanya menggeleng kepala sambil tertawa, " menggemaskan," batin Rain.


Tidak butuh waktu lama, Melati sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, tapi belum memakai hijab. sekarang giliran Rain yang mandi. Rain pun hanya sekejap sudah keluar dari kamar mandi, lalu berganti pakaian.


"Kita mau makan disini atau ke restoran?" tanya Rain.


"Restoran aja deh." Melati.


"Baiklah, yuk!" Rain menggandeng tangan Melati, keduanya terlihat sangat mesra.


"Bang, disini ada restoran Indonesia gak?" tanya Melati.


"Ada, yuk kita kesana!" Rain.


Keduanya pun memesan taksi untuk pergi ke restoran tersebut, kebetulan Rain tau tempat itu dan juga supir taksi pun tau restoran tersebut. Tidak lama kemudian mereka sampai ke restoran yang dimaksud. keduanya turun setelah membayar ongkos taksi. supir taksi berterima kasih karena Rain memberikan uang lebih sebagai bayaran.


"Yuk masuk, disini semua masakan Indonesia, termasuk masakan Padang juga." Rain.


Saat masuk mereka di sambut oleh pelayan restoran yang ramah, dengan pakaian batik ciri khas Indonesia, Rain dan Melati di persilahkan duduk. pelayan itu pun memberikan buku menu pada keduanya.


"Aku rendang aja deh Bang," Melati.


"Oke samain aja deh," Rain.


"Abang sering kesini?" tanya Melati.


"Abang kuliah disini," jawab Rain santai.


"Pantas saja Abang tahu tempat ini," Melati.


"Sewaktu kuliah Abang masak sendiri, kalau makan diluar jarang." Rain.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun sampai, pelayan menata makanan tersebut semenarik mungkin.


"Mari makan," Rain.


Melati mengangguk, "Bismillahirrahmanirrahim."


Melati pun mulai makan, begitu juga dengan Rain, keduanya makan dengan nikmat kebetulan mereka juga sangat lapar, Melati yang terbiasa makan nasi jadi masih merasa lapar kalau hanya makan cemilan.


"Alhamdulillah," ucap Melati setelah selesai makan, Rain juga mengucapkan yang sama.


"Sudah disini sekalian aja kita jalan jalan," Rain.


"Kemana," tanya Melati.


"Museum Louvre," jawab Rain.

__ADS_1


"Baiklah, tapi besok kita ke menara Eiffel," ucap Melati.


Rain mengangguk, "apapun untukmu sayang."


Lalu mereka memesan taksi lagi untuk pergi ke Museum Louvre, ternyata yang mereka pesan adalah taksi yang sama dengan yang mengantar mereka tadi. supir taksi itu pun tersenyum ramah.


Taksi pun melaju dengan kecepatan sedang, karena Melati ingin menikmati suasana indah sepanjang perjalanan mereka.


Melati berdecak kagum saat melihat Museum Louvre tersebut. bentuk bangunan yang unik menjadi daya tarik bagi yang berkunjung kesini.


"Abang pasti sering kesini!" ucap Melati.


Rain menggeleng, "Abang kesini untuk kuliah bukan jalan jalan atau bulan madu."


"Tidak mungkin Abang tidak pernah kesini selama beberapa tahun tinggal di negara ini." Melati.


"Pernah satu kali. Abang hanya fokus kuliah agar cepat selesai terus pulang dan mencari mu." Rain


Mereka masuk kedalam dan melihat lihat isi didalam Museum itu.


"Setelah ini kita kemana?" tanya Rain.


"Terserah Abang deh, aku mana tau tempat menarik disini, yang aku tau cuma menara Eiffel itu." Melati.


"Bagaimana kalau kita ke menara Eiffel?" tanya Rain.


"Tapi ini hampir malam," jawab Melati.


"Malam hari menara Eiffel akan terlihat lebih menarik." Rain.


"Benarkah? kalau begitu kita kesana besok gak usah." Melati.


Keduanya pun keluar dari museum tersebut, ternyata diparkiran masih ada taksi yang mengantar mereka tadi.


"Ehh itu taksi yang membawa kita tadi," Melati.


"Benar, ternyata dia sengaja menunggu kita," Rain.


Supir taksi itu menghampiri Rain dan Melati.


"Mari tuan saya antar," ucap supir taksi itu.


"Bapak sengaja menunggu kami?" Rain.


"Benar Tuan, sejak tadi saya tidak dapat penumpang, tuan dan nona inilah penumpang saya."


"Baiklah, tolong antar kami ke menara Eiffel, nanti bapak bisa tunggu kami? tapi agak lama."


"Bisa tuan, tidak apa-apa saya sanggup menunggu kebetulan saya sangat butuh uang untuk biaya persalinan istri saya nanti."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2