
.
.
.
" Maaf ya mas, aku belum bisa menunaikan kewajiban ku sebagai seorang istri." kata Sinta saat ini mereka sudah berada di tempat tidur, karena hari pun sudah malam. sedang kan Nabil dan Nabila sudah tidur di kamar sebelah.
" Tidak apa-apa, mas akan sabar menunggu."
" Mas besok udah mulai kerja?" tanya Sinta
" Belum, mas di beri cuti seminggu oleh tuan muda. kenapa?"
" Gak apa apa, cuma tanya aja."
" gimana kalau besok kita berbelanja ke mall, beli baju untuk kamu dan anak anak."
" Apa gak ngerepotin mas?"
" Ngerepotin apa nya? kamu istriku, dan anak anak otomatis juga anak ku. kalian adalah tanggung jawab ku." Sinta terdiam,
" kenapa, hmmm?"
" Gak apa apa, aku cuma teringat suami ku dulu, aku dan suamiku dulu juga menikah tidak di dasari oleh cinta." dahi Ryan mengernyit.
" Maksud mu?"
" Iya, aku menikah dengan nya karena amanah dari kakek nya, dan kami menjalani pernikahan itu dengan baik baik saja. hanya saja kehidupan kami serba kekurangan. hingga dia harus mencari pekerjaan keluar pulau, saat aku melepaskan kepergian nya rasanya hatiku berat. Ternyata setelah beberapa bulan dia di sana, tapi hanya jenazah nya yang datang. aku sempat terpuruk bahkan depresi. Aku mengingat anak anak masih kecil perlahan lahan aku mencoba bangkit dari keterpurukan. Aku menjalani hari hari dengan bekerja di kebun pak Yusuf, dengan gaji perhari 50ribu. dan aku harus berhemat yang penting anak anak ku bisa makan. Meskipun begitu aku tetap bersyukur, karena masih bisa menghidupi anak anak ku. Dua tahun aku menjanda, begitu banyak godaan dari para lelaki. yang lebih parahnya aku di tuduh menggoda suami mereka. Demi Allah aku tidak seperti itu."
Sinta menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
" Mas lihat kan Nabila, baru kenal dengan mas langsung lengket, itu karena ia tidak pernah tau dengan ayah nya. sewaktu ayah nya meninggal Nabila baru berusia 5 bulan dan Nabil 4 tahun. Nabil pun tidak begitu mengingat ayah."
Ryan terdiam mendengar cerita Sinta, hatinya terasa teriris dada nya terasa sesak, semenderita itu kah kehidupan Sinta?
" Mulai sekarang ada aku yang akan menjaga kalian. aku janji akan membahagiakan kalian dengan cara ku sendiri. sekarang kita tidur ya, lupakan kisah kelam mu, sambut lah hari esok di lembaran yang baru." Perlahan Sinta memejamkan mata, tetes air mata nya masih tersisa di sudut matanya. Ryan memeluk Sinta dari belakang, karena Sinta memunggungi suaminya.
" Baru meluk aja sudah bahagia, apalagi melakukan yang lebih. begini kah rasanya punya istri? tidur tidak lagi sendiri." batin Ryan. Akhirnya keduanya terlelap menuju alam mimpi masing masing.
Keesokan harinya, keluarga kecil itu pergi berbelanja ke mall. membeli keperluan mereka. Sinta yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke mall, tidak berani jauh jauh dari Ryan. begitu juga anak anak nya.
__ADS_1
" Ambil aja kalau ada yang minat." perintah Ryan.
" Enggak ah mas terlalu mahal, masa segitu aja harganya sudah jutaan." pelayan toko hanya tersenyum.
" Mbak bungkus ya, mana tadi yang di pegang istri ku?"
" Mas, jangan ah."
" Gak apa apa."
" Terlalu banyak mas. sayang nanti mubazir buang buang uang saja." Ryan tidak menanggapi perkataan Sinta.
Selesai belanja mereka pun hendak pulang. sampai di lobby...
" kalian tunggu di sini ya, mas ambil mobil dulu." Sinta pun mengiyakan.
Saat Sinta sedang menunggu, datang tiga orang pria, yang di perkirakan Sinta mereka orang jahat.
" Nabil, jaga adikmu baik baik, mereka itu orang jahat." kata Sinta.
" Baik ibu."
" Apa hak kalian mengambil anak ku?"
" Serahkan saja, apa susah nya sih?"
" Rampas aja bos." Sinta sudah waspada.
Saat salah satu penjahat hendak menangkap tangan Nabila, dengan cepat Nabil menendang tulang kering pria yang berkali kali lipat lebih besar dari dia. pria itu loncat loncat menahan sakit.
" Gila, kecil kecil tapi tendangan nya kuat banget." kata pria itu.
" jangan coba coba menyentuh adikku." kata Nabil dengan tatapan tajam kearah pria tersebut. Kemudian dua pria lain nya maju namun belum sempat mendekati Nabil dan Nabila, Sinta sudah memutar tubuhnya dan mengangkat kaki nya menendang tepat di kepala pria itu. satu sudah tersungkur dan satu lagi masih tegak berdiri. kembali lagi Sinta menendang pria itu tepat di dadanya, pria itu mundur beberapa meter sebelum jatuh tersungkur. Mendengar keributan itu pak satpam pun datang mengamankan ketiga pria itu hingga akhirnya di bawa ke kantor polisi. Bersamaan dengan itu Ryan pun datang bersama mobil nya.
" Ada apa pak?" tanya Ryan pada pak satpam.
" Itu tadi ada penculik anak, tapi sekarang sudah tertangkap." jawab pak satpam.
Ryan segera menghampiri anak dan istrinya.
" Kalian tidak apa-apa?" Sinta pun menggeleng pertanda tidak.
__ADS_1
" Ya sudah, sekarang masuk ke mobil kita akan segera kembali."
Sinta dan anaknya pun masuk ke mobil. tak lama mobil pun bergerak meninggalkan tempat itu.
.
.
Di tempat lain...
Melati sedang bersiap siap untuk mengunjungi restoran milik nya. Minggu depan Melati sudah mulai masuk kuliah. ia berkuliah untuk menambah ilmu pengetahuan nya dan mendapatkan gelar S2 nya.
Seperti janjinya pada sang kekasih, setelah mendapatkan gelar S2 lalu ia dan Rain akan segera menikah.
" Tidak lama kok, hanya satu tahun saja." begitu lah kata Melati demi meyakinkan Rain.
Melati baru 19 tahun, beda tiga tahun dari Rain. berarti saat ini Rain 22 tahun. Sebelum ke restoran, Melati mampir dulu ke mall. karena Melati ingin membeli sesuatu. Saat masuk ke toko, Melati berpapasan dengan Anita, tapi Melati tidak mengenali Anita, hanya Anita yang mengenal Melati. karena pernah melihat poto Melati saat orang suruhan Anita mengikuti Melati. Anita memandang Melati dengan penuh kebencian. sedangkan Melati biasa biasa saja. walaupun ia diam diam memperhatikan gerak gerik Anita. Melati bisa merasakan aura orang yang ingin memusuhi nya. namun ia pura pura tidak tahu. Setelah selesai dengan apa yang ingin di beli oleh Melati. Melati pun keluar dari toko itu, dan pergi ke toilet. Anita mengikuti Melati, sampai di toilet Anita langsung menampar pipi Melati. Melati diam saja. merasa tidak ada perlawanan, Anita kembali menampar pipi Melati. Melati tersenyum sinis.
" Sudah selesai? tanya Melati mengejek.
" Belum, saya belum puas kalau tidak membunuh mu." Anita dengan emosi yang memuncak.
" oh, jadi kamu yang telah membayar orang untuk membunuh ku?"
" Ya, kenapa?"
" hmmm, sayang nya tidak ada yang kuat, hanya mengandalkan badan saja yang besar, tapi semua lemah." Melati.
" Apa maksud mu?"
"Orang suruhan mu itu sudah aku habisi." jawab Melati penuh penekanan. Wajah Anita seketika pucat. bibir nya pun gemetar.
" Tidak mungkin, tidak mungkin mereka semua mati di tangan mu " Anita.
" Apakah kesepuluh orang suruhan mu ada yang kembali?" tanya Melati.
.
.
.
__ADS_1