
.
.
.
Pagi harinya...
Seperti biasa, pukul 04:30 Melati sudah terbangun dari tidurnya. meskipun hari ini dia tidak dapat menunaikan kewajiban nya sebagai Umat Islam. Karena suatu halangan yang tidak bisa di elak kan.
Melati masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur. Melati sudah terbiasa dengan aktivitas nya setiap pagi selalu membuat sarapan.
Melati membuka kulkas dan melihat bahan apa saja yang akan ia masak. Dengan di bantu pelayan, acara memasak nya jadi lebih cepat. Sekitar satu jam Melati sudah selesai.
"Bik, tolong ditata di meja makan ya, aku mau mandi dulu mau siap siap pergi kuliah." ucap Melati dengan sopan.
"Baik Non, Bibik akan kerja kan."
Melati masuk ke kamar nya dan langsung ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama Melati pun menyelesaikan ritual mandi nya, lalu berganti pakaian. setelah merasa cocok dengan pakaian yang dikenakan nya Melati keluar kamar dan langsung menuju dapur.
Ternyata di meja makan sudah ada Sofia, Alex dan Rain tengah menunggu Melati.
"Selamat pagi sayang," sapa Rain.
"Selamat pagi semua nya," Melati menyapa semua nya sekaligus.
Melati melayani Rain mengambil kan nasi dan lauk nya.
"Serasa di layani istri sendiri," ucap Rain dengan wajah berseri seri.
Alex dan Sofia pun tersenyum, keduanya ikut bahagia melihat putranya bahagia.
"Makanya cepat halalkan, biar tidur tidak meluk guling mati. kalau ada istri bisa meluk guling hidup, yang lebih hangat tentunya." kata Alexander.
Melati yang mendengar nya pun jadi tersipu.
"Udah Pa jangan di goda terus, lihat tuh calon menantu kita jadi malu," Kata Sofia.
Alex hanya terkekeh, kemudian melanjutkan makan nya.
"Aku berangkat dulu ya Ma, Pa. pagi ini ada kelas," ucap Melati.
Lalu mencium punggung tangan kedua paruh baya itu.
"Aku juga berangkat Ma, Pa. ada meeting di kantor," Rain pun menyusul Melati.
Saat tiba di garasi, keduanya masuk ke mobil masing-masing.
"Aku ke kampus dulu ya, Bang,"
"Hati hati di jalan. kalau ada cowok yang megang megang patah kan saja tangan nya." pesan Rain.
"Termasuk Abang?" tanya Melati.
Uhhukk uhhukk... Rain tersedak ludah nya sendiri.
__ADS_1
"Kalau Abang pengecualian, Abang calon suami adek masa mau di patah kan juga." Rain.
"Kata nya tadi kalau cowok, jadi Abang cowok apa bukan?" pertanyaan Melati begitu menohok.
"Abang laki laki sejati.," kata Rain menepuk dadanya pelan.
"Udah ah, aku mau ke kampus." Melati.
Melati melajukan mobilnya pelan sebelum keluar dari gerbang, begitu juga dengan Rain.
Setelah keluar dari gerbang, keduanya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan tujuan masing-masing.
Melati tiba di kampus, dan memarkir kan mobil nya di tempat parkir khusus mobil. Saat keluar dari mobil, Melati jadi pusat perhatian.
Sejak kejadian kemarin Melati jadi banyak yang menyukai nya, tapi Melati menanggapi nya biasa biasa saja. Sebab Melati tau mana yang benar benar tulus dan mana yang hanya memanfaatkan nya saja.
"Mel, kamu sudah datang?" tanya Riska menghampiri Melati.
"Hmmm, seperti yang kau lihat," jawab Melati.
"Kamu tau gak? sejak kamu berhasil mengalahkan preman kampus, kamu jadi lebih terkenal." kata Riska antusias.
"Preman kampus?" tanya Melati mengernyitkan dahinya.
"Si Ardhan itu di gelar preman kampus oleh anak anak kampus," jawab Riska menjelaskan.
Melati manggut-manggut. lalu berjalan menuju ruang kelasnya. Riska dengan setia mengikuti nya.
"Loh, bukan kah ruang kelasmu di sebelah sana?" tanya Melati.
"Nanti aja ya, kita ngomong di kantin aja, sebentar lagi dosen masuk." Melati.
"Oke deh, saya ke kelas dulu ya," Riska.
Riska begitu semangat sejak berteman dengan Melati, apalagi sejak kejadian kemarin Riska merasa nyaman dan menemukan orang yang tepat untuk di jadikan teman.
Waktu istirahat akhirnya pun tiba. Melati menghampiri Riska, mengajak nya ke kantin. Saat keduanya berjalan di koridor kampus, Melati dan Riska di hadang tiga cewek. Melati yang merasa tidak punya musuh pun mengernyitkan dahinya.
"Siapa mereka?" tanya Melati sambil berbisik.
"Mereka cewek yang suka membuli mahasiswi di sini." jawab Riska dengan berbisik pula.
"Heeh, cewek udik, berani ya Lo menghajar cowok gue!" hardik salah satu dari mereka yang bernama Valencia.
Dan kedua teman nya bernama Isma dan Irma. Valen maju mendekati Melati.
PLAAK...
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Melati. karena Melati tidak menghindar atau menangkis.
Melati hanya tersenyum, tamparan seperti itu bukan apa apa baginya.
"Sudah, cuma segitu?" tanya Melati meremehkan.
"Mel, lebih baik kita menghindar dari mereka," kata Riska.
__ADS_1
Riska takut Melati akan dapat masalah jika berurusan dengan Valen.
"Kenapa?" tanya Melati singkat.
"Dia itu anak pengusaha di perusahaan xxxx," jawab Riska.
Melati mengangguk mengerti.
"Takut kan Lo setelah tahu, siapa gua?" Valen dengan sombong nya berkata.
Kedua teman Valen tersenyum mengejek, merasa di atas angin karena mengira Melati akan tunduk seperti mahasiswi yang lain.
"Aku akan ajarkan cara menampar yang benar," kata Melati.
Valen tersenyum sinis. Dan.....
PLAAK, PLAAK, PLAAK.
Tiga tamparan mendarat sempurna hingga Valen tersungkur di lantai.
"Kalau kurang panggil aku lagi ya? aku dengan senang hati mengajari mu menampar dengan benar," kata Melati.
"Oh ya, suruh Pak Santoso menemui ku di sini." Ucap Melati lagi lalu pergi meninggalkan ketiganya.
Isma dan Irma masih bengong melihat pemandangan itu. Sedangkan Valen, pipi nya sudah merah dan sudut bibir nya berdarah.
Valen segera menelepon Papa nya dan mengadukan hal itu. Dengan drama yang di buat buat sehingga Papa nya menjadi emosi.
Melati sedang duduk di kursi kantin bersama Riska.
"Pesan makanan gih, minum nya juga. seperti yang kemarin," kata Melati.
Tanpa di perintah yang kedua kali Riska langsung memesan makanan dan minuman.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Melati to the point.
"Saya sudah mengundurkan diri dari pekerjaan saya," jawab Riska.
"Baiklah, seperti yang sudah kukatakan kemarin. setelah selesai kuliah kamu boleh bekerja. Di restoran ku, buka 24 jam dan waktu kerja di bagi menjadi tiga sif. berarti jam kerja dalam satu sif 8 jam. tidak ada lembur," Melati menjeda ucapan karena ada pelayan mengantar pesanan mereka.
"Kalau seandainya kamu masuk jam satu siang, berarti kamu kerja sampai jam 9 malam. Tentang gaji dan uang saku sudah di jelaskan, jika restoran banyak mendapatkan keuntungan maka seluruh karyawan akan mendapatkan bonus tanpa terkecuali. Artinya semua yang bekerja dapat bonus." Melati.
Riska hanya menyimak penjelasan dari Melati. Dia terdiam tapi sinar matanya memancarkan cahaya kebahagiaan.
"Kamu ngekos kan? tanya Melati.
Riska mengangguk pertanda iya.
"Selama kamu bekerja dengan ku, sewa kos aku yang tanggung, dan hari Minggu tidak bekerja restoran milik ku tutup. Satu lagi, kendaraan nanti kamu ku pakai motor ku aja. bila ingin berlatih bela diri satu atau dua jam setiap hari Minggu. Tapi setiap karyawan ku semua belajar ilmu bela diri, dan mereka sangat antusias demi kebaikan mereka juga," ucap Melati panjang lebar.
.
.
.
__ADS_1