MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 49


__ADS_3

.


.


.


Melati tersenyum melihat pemandangan itu, "Pria seperti itulah yang patut diperjuangkan," batin Melati.


Dengan perasaan malu Veronica pun pergi dari tempat itu, niat hatinya ingin membuat Rain jatuh kedalam pesonanya, tapi ternyata jauh dari ekspektasi nya. Sampai di mobil, Veronica menggeram keras, belum pernah ia diperlakukan seperti ini. sekarang ia dipermalukan di khalayak ramai.


"Aku akan balas kalian, terutama cewek yang sok alim itu." ucap Veronica penuh dendam.


Sementara Rain sudah mendapatkan beberapa stelan pakaian yang akan dia pakai nanti malam. Lalu ia berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya.


"Kamu tidak beli apa-apa sayang?" tanya Rain, Melati menggeleng, "Tidak mau beli baju atau yang lainnya gitu?" tanya Rain lagi.


"Tidak usah Bang, lagipula pakaianku juga masih banyak." jawab Melati.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Rain, setelah itu mereka pun pergi.


Mereka masih berjalan di kawasan mall, Melati melihat kesana-kemari, begitu banyak yang menarik perhatiannya, tapi dia tidak berniat untuk membeli apa apa.


"Ada apa hmm?" tanya Rain, Melati menggeleng.


"Tidak ada apa apa." jawab Melati.


"Kalau ada yang mau di beli bilang saja." Rain.


Melati hanya diam saja, karena memang ia tidak berniat membeli apa apa. tiba diparkiran, keduanya langsung masuk kedalam mobil. Rain menjalankan mobil dengan perlahan saat keluar dari parkiran, tiba dijalan raya barulah Rain melajukan mobilnya. Tiba tiba ponsel Rain berdering menandakan panggilan masuk. Rain menyuruh Melati menjawab panggilan tersebut, Melati pun menggeser layar ponsel tersebut, dan tidak lupa menekan loudspeaker agar suara penelepon terdengar jelas. karena saat ini Rain sedang menyetir.


"Assalamualaikum Ma," salam Melati.


"Waallaikum sallam sayang, Kalian ada dimana? Rain kemana kok kamu yang jawab?" Sofia memberondong dengan berbagai pertanyaan.


"Ada apa Ma? Aku lagi nyetir jadi Melati yang pegang ponsel." Rain.


"Tadi Tantemu nelpon Mama, katanya Ardhan dengan Yoga masuk penjara." Sofia.


"Benar Ma, karena bukti kejahatannya sudah terbongkar, jadi mereka dipenjara." Rain.


"Kalian ada dimana sekarang?" Sofia.


"Kami baru saja dari mall, sekarang dalam perjalanan pulang ke restoran Melati." Rain.


"Baiklah Mama sama Papa akan kesana juga." Sofia, lalu panggilan pun terputus secara sepihak.


Sofia sampai lupa mengucapkan salam dan langsung menutup teleponnya, Sofia berjalan kedapur dimana ada pelayan sedang ingin memasak.


"Bik masak untuk kalian saja ya, saya dan Tuan akan ke restoran Melati." Sofia.

__ADS_1


"Baik Nyah." jawab pelayan tersebut.


Lalu Sofia bergegas masuk kekamar, Sofia masih belum tenang kalau belum mendengar cerita langsung dari Rain, karena menurut cerita dari adiknya kalau Rain dan Melati telah menjebloskan suami dan anaknya.


"Pa, kita ke restoran Melati, Rain ada disana juga." Sofia.


"Mama siap siap lah dulu, Papa sudah siap dari tadi," Alexander.


"Yuk Pa kita berangkat, Mama sudah berpesan kepada pelayan bahwa kita tidak makan malam dirumah." Sofia.


Lalu pasangan suami istri itu pun berangkat menuju restoran milik Melati. Rain dan Melati juga baru tiba di restoran, setelah memarkirkan mobilnya mereka langsung turun dari mobil dan masuk kedalam restoran.


"Sore Bu bos," sapa karyawan ramah.


"Sore, Assalamualaikum." balas Melati.


"Waallaikum sallam," jawab karyawannya canggung, karena mereka tidak mengucapkan salam.


"Apa sudah ada yang beritahu kalau malam ini kalian aku suruh berkumpul disini?" tanya Melati.


"Sudah Bu bos, mereka akan datang nanti setelah shalat isya." jawab karyawan itu.


"Ehh Bu bos, dari mana saja nih?" tanya Riska.


"Dari jalan jalan, Oh ya Ris nanti habis kerja jangan langsung pulang dulu ya, aku ada yang mau dibicarakan dengan kalian." Melati.


"Baik Bu bos," Riska.


"Baiklah sayang." Rain.


"Kalian boleh lanjut kerja." Melati.


"Siap Bu bos," jawab mereka serentak.


Melati pun juga masuk keruangan nya, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, artinya Rain sedang mandi.


Tak berselang lama Rain keluar dengan pakaian lengkap, pakaian yang ia beli tadi di mall. pintu ruangan Melati pun di ketuk.


Tok...


Tok...


Tok...


Melati segera membukakan pintu, terlihat ada Sofia bersama Alexander sedang berdiri didepan pintu.


"Ehh Mama, Papa mari silahkan masuk!" Melati, Sofia dan Alex pun masuk keruangan kerja Melati.


Mereka pun duduk disofa dimana sudah ada Rain duduk disana.

__ADS_1


"Mama belum bisa tenang sebelum mendengar lebih lengkap cerita kalian," ucap Sofia to the point.


Melati menoleh kearah Rain, dan mereka saling pandang.


"Tenang dulu Ma," Melati mengusap lengan Sofia.


Rain lalu menceritakan dari awal kejadian sampai akhir kejadian. Alexander hanya menjadi pendengar tanpa mencela, begitu juga Sofia.


"Mereka pantas mendapatkan hukuman, dan semua bukti sudah ku serahkan kekantor polisi. jangan bilang aku kejam, bila semua ini mereka yang memulai." Rain.


"Biarkan saja mereka mendekam dalam penjara, kejahatan yang mereka lakukan sudah tindakan kriminal, dan sudah termasuk pembunuhan berencana." Alexander.


"Tapi Mama tidak tega dengan Tantemu, pasti dia sangat terpukul sekali." Sofia.


"Tante tidak tahu kejahatan suaminya, kalau ia mengetahui kejadian sebenarnya pasti Tante akan mengerti." Rain.


"Apa yang dikatakan Abang benar Ma, Tante hanya perlu waktu untuk bisa menerima semuanya." Melati.


Mama juga tidak mengerti dengan Om mu itu, padahal harta yang kita miliki karena hasil dari jerih payahnya Papa mu sendiri." Sofia.


"Itulah namanya orang serakah MA, hak orang lain juga mau diambil, tidak mau berusaha sendiri." Alexander.


"Papa benar, padahal Papa berjuang dari nol, sejak Papa diusir dari negara kelahiran Papa." ucap Sofia keceplosan.


Rain memang tidak tahu cerita itu, jadi dia hanya bengong mendengar yang dikatakan Mamanya.


"Sudahlah Ma, kita sudah berjanji tidak akan mengungkit itu lagi." Alexander.


"Maaf Pa, Mama keceplosan." Sofia.


"Maksudnya Papa ada masalah apa sampai Papa di usir?"


"Hanya masalah kecil, Papa dan Mamamu menikah tanpa restu, karena Papa memilih Mamamu jadi Papa di usir, dan memulai hidup baru merintis usaha dari nol di negara ini." ucap Alex panjang lebar.


"Berarti Papa sama Mama tidak beda jauh dengan kisah Ayah sama Bunda.?" Melati.


"Iya nasib kami hampir sama, tapi kami bersyukur mempunyai suami yang baik dan sayang dengan keluarga." Sofia.


"Mama sama Papa sudah lapar? biar aku pesan kan makanan." Melati.


"Kebetulan sekali kami belum makan." Alexander.


"Abang tidak ditanya?" Rain.


"Abang tinggal sebut saja mau makan apa, nanti lidahku keseleo kalau harus ditanya satu satu." ucap Melati, Rain mencebikkan bibirnya.


Melati pun memesan makanan untuk mereka berempat. sementara mereka menunggu makanan mereka datang, mereka melaksanakan dulu shalat Maghrib, kebetulan sudah masuk waktu shalat Maghrib. para karyawan pun menghentikan aktivitas mereka sejenak untuk melakukan shalat Maghrib terlebih dahulu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2