MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 46


__ADS_3

.


.


.


Hari hari berlalu, kini mereka sudah kembali melakukan aktivitas seperti biasa, setelah acara lamaran Frans dengan Indah mereka langsung kembali ke ibukota.


Seperti biasa hari ini setelah selesai kuliah, Melati datang ke restorannya untuk mengecek laporan keuangan restorannya. Melati masuk kedalam ruang kerjanya dan duduk dikursi kebesarannya, tidak berapa lama Risma pun masuk, lalu menyerahkan laporan keuangan bulan lalu.


"Bu bos, ini laporan keuangan bulan lalu, saya sudah cek, dan Bu bos bisa cek ulang."


"Baik, duduklah dulu saya ada yang ingin di bicarakan." Risma pun duduk berhadapan dengan Melati.


Sementara Melati mengecek laporan keuangan, Risma bangkit dari duduknya untuk mengambil minuman dingin didalam kulkas yang ada diruangan itu. Risma mengambil dua teh botol, lalu menyodorkannya pada Melati satu dan untuk dirinya satu.


"Silahkan diminum Bu bos."


"Hmmm," jawab Melati tanpa menoleh, ia terlalu fokus mengecek ulang laporan keuangan tersebut. Setelah selesai Melati Merapi kan kertas tersebut, dan membubuhkan tandatangan mana yang perlu ditandatangani.


"Risma!" merasa namanya dipanggil Risma mendongak karena tadi ia menunduk.


"Saya Bu bos,"


"Ratih sudah menikah, kemungkinan besar dia akan resign dari restoran ini, jadi saya harap kamu mencari satu orang yang kamu percayai untuk membantu meringankan pekerjaanmu."


"Baik Bu bos!"


"Dan satu lagi, kumpul kan karyawan yang bekerja disini, Semuanya harus berkumpul malam ini juga."


"Baik Bu bos." Melati melambaikan tangannya, Risma pun faham dan segera keluar.


Melati tersenyum karena restorannya selalu mendapat keuntungan banyak setiap bulannya. Dengan demikian Melati tidak segan-segan memberikan bonus kepada setiap karyawannya.


Melati keluar dari ruangannya, dan berencana untuk menemui tunangannya, ia sengaja tidak mengabari Rain. Melati keluar dari restorannya menuju keparkiran mobil, sesampainya didekat mobil, Melati pun masuk dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. Mobil Melati keluar dari pekarangan restoran dan melaju dengan kecepatan tinggi seperti seorang pembalap, kebetulan jalanan senggang jadi bisa lebih cepat tiba di kantor Rain. Benar saja, tidak butuh waktu lama Melati sudah sampai di kantor Rain. satpam yang sudah mengenal Melati langsung saja membuka pintu gerbang untuk memudahkan Melati masuk.


Sampai dimeja resepsionis pun Melati disambut ramah, para karyawan pun menyapa Melati dengan ramah. Melati masuk kedalam lift khusus karyawan. Melati menekan angka yang akan membawanya kelantai tempat Rain bekerja.


Ting... pintu lift terbuka, karena sudah sampai dilantai yang Melati tuju. Melati pun keluar dari lift langsung menuju ruangan CEO. sampai didepan pintu, Melati membuka dengan perlahan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Melati melihat Rain sedang dipeluk dari belakang oleh seorang wanita berpakaian seksi, Melati ingin melihat sampai habis dulu baru ia akan bertindak.


Rain berontak melepaskan diri dari pelukan wanita itu, Rain mendorong wanita itu hingga terjerembab kelantai. Lalu wanita itu menarik bajunya sendiri hingga robek dan mengacak acak rambutnya hingga berantakan. Wanita itu kembali bangkit dan memeluk lagi Rain pada saat ia lengah. Disaat yang bersamaan Melati pun masuk.

__ADS_1


"Abang!" Seketika Rain menoleh saat ada yang memanggilnya.


Lalu iapun mendorong tubuh wanita itu hingga kembali terjerembab kelantai. Wanita itu pun menangis seolah sedang teraniaya dan dilecehkan.


"Apa yang Abang lakukan?" tanya Melati pura pura tidak tahu apa yang terjadi.


"Sa.. sayang, ini tidak seperti yang kau lihat." jawab Rain gugup takut Melati salah faham.


Melati menghampiri wanita itu, yang masih terduduk dilantai sambil menangis.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Melati pada wanita itu.


"Sa.. saya dilecehkan, saya sudah berusaha menolak, tapi saya tidak sekuat dia." jawab wanita itu.


"Bohong, itu tidak benar sayang, dia berbohong!" Rain mencoba membela diri.


"Untung nona cepat datang, kalau tidak..." wanita itu kembali menangis dan tidak dapat meneruskan kata katanya.


Melati pun memeluk wanita itu agar lebih tenang. sambil mengelus rambut wanita itu yang berantakan.


"Apa yang kamu lakukan diruangan ini?" tanya Melati, Rain hendak menjawab tapi tangan Melati terangkat mengisyaratkan untuk Rain diam.


"Ceritakan saja, jangan takut ada aku," ucap Melati lagi.


"Jadi kamu bekerja disini? sebagai manager keuangan?" tanya Melati, wanita itu pun mengangguk.


"Baiklah, aku mengerti sekarang, sekarang lebih baik aku antar kamu keruang kerjamu untuk mengemaskan barang barangmu." Wanita itu menoleh kearah Melati.


"Mak.. maksudnya?" tanya wanita itu.


"Apa kamu masih mau bekerja dengan pria bejat seperti dia?" tunjuk Melati kearah Rain.


"Ta.. tapi..." wanita itu tidak dapat meneruskan kata katanya, karena sudah lebih dulu dipotong oleh Melati.


"Hari ini kamu dilecehkan, besok entah apa yang akan terjadi kepadamu. kamu mau bekerja dengan bos penjahat kelamin?" Melati berucap dengan lantang.


"Sial, rencanaku malah berbalik pada diriku sendiri." Batin wanita itu.


Melati mengantar wanita itu keruang kerjanya untuk mengemaskan barang barang wanita itu tidak dapat menolak, kalau sampai dia menolak maka kebohongannya akan terbongkar. Setelah selesai mengemaskan barang barang nya, Melati pun mengantar wanita itu sampai keparkiran mobil.


Sebelum wanita itu pergi, Melati sempat berkata.

__ADS_1


"Carilah pekerjaan lain, dan kamu akan mendapatkan bos yang lebih baik."


Wanita itu hanya diam saja, merasa kalah dengan rencananya untuk menjebak Rain. Saat mobil wanita itu keluar dari perusahaan itu, ia mengumpat sepanjang jalan.


Melati kembali keruangan kerja Rain, dilihatnya Rain duduk dikursi kebesarannya sambil mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi. Rain tidak sadar kalau Melati sudah berada didekatnya dan mengelus rambut Rain. Rain mendongak.


"Sayang!" Rain bangkit langsung memeluk Melati yang tidak siap sehingga ia terhuyung kebelakang untung saja tidak jatuh.


"Gimana, keren kan cara aku menyingkirkan pelakor?" Melati.


"Ha.. jadi kamu tidak marah?" Melati menggeleng.


"Aku sudah tau permasalahannya," ucap Melati enteng, Rain kembali memeluk Melati.


"Jangan mencari kesempatan Bang, kita belum halal." Melati.


"Ehh, maaf. Abang terlalu bahagia, Abang pikir kamu benar benar marah." Rain.


"Untuk menyingkirkan pelakor kita harus bermain cantik, Abang tidak apa-apa kan, kalau aku juga menyingkirkan nya dari perusahaan ini?" Melati.


"Abang malah senang, sebenarnya sudah lama dia menyukai Abang, tapi tidak Abang gubris selama dia tidak berbuat macam macam Abang biarkan saja. tapi ternyata Abang salah, semakin dibiarkan ternyata dia semakin ngelunjak." Rain.


"Tapi Abang harus mencari gantinya."


"Tidak masalah, Abang akan cari yang pria saja untuk menggantikan posisinya." Melati pun tersenyum.


"Abang sudah makan?" Rain menggeleng.


"Kenapa belum makan? sekarang sudah lewat jam makan siang loh." tanya Melati lagi.


"Abang pengen makan sama, sayang. pengen makan yang pedas pedas." Rain.


"Aku tau tempat makan yang pedas pedas, tapi makanan pinggir jalan." Melati.


"Tidak masalah, makanan pinggir jalan juga tidak buruk kok, sekalian kita membantu jualan mereka agar menambah penghasilan mereka." Rain.


" Yuk lah kalau begitu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2