MELATI PUTIH

MELATI PUTIH
BAB 20


__ADS_3

.


.


" Aku ada tebak tebakan, tebakan nya tebakan jebakan, Dengar ya. buah durian yang masih kecil jatuh yang sudah matang juga jatuh, apakah sebabnya?" Melati.


" Sebab sudah matang." Rain, Melati menggeleng.


" Sebab angin kencang." Frans. Melati menggeleng lagi.


" Gue nyerah aja." Ronald.


" Sebab ianya di atas, coba kalau di bawah gak bakalan jatuh."


" Ada yang di bawah bisa jatuh." Rain.


" Apa?" tanya Melati.


" Aku jatuh cinta pada mu." Melati tersipu-sipu untung suasananya remang remang hanya di terangi api. kalau tempat nya terang sudah pasti kelihatan memerah wajahnya.


" Ada tebakan lagi nih, dengar ya. Suatu perbuatan yang halal tapi di benci Allah."


" bercerai. " spontan Rain menjawab.


" Kita belum nikah bang, tapi Abang udah bilang bercerai sih." Rain garuk-garuk kepala, yang lain pada ketawa ngakak.


" Jawaban nya benar, kan?"


" Iya benar bang, kan udah di bilang teka-teki jebakan."


" Kena lo Rai, " William. Rain malah menatap tajam kearah William. namun yang di tatap seolah tak peduli.


" Masih ada tebakan, Perbuatan dosa sudah pasti di benci Allah, tapi ini juga di benci oleh setan, perbuatan apakah itu?" mereka berpikir keras.


" Biasanya perbuatan dosa setan paling suka, tapi ini kok setan juga benci!" Rain. Ronald mengelus rahang nya memikirkan jawaban dari pertanyaan tebakan tersebut.


" Gue nyerah," William.


" Gue juga," Frans.


" Oke nyerah semua?" mereka pun mengangguk. " perbuatan dosa yang di benci Allah dan setan adalah...." Melati sengaja menjeda ucapan nya. mereka dengan bodohnya menunggu jawaban tersebut.


" jawaban nya adalah, memper**sa anak setan."


Rain, Ronald, Frans Steve dan William saling pandang.


" Memang ada yang memper**sa anak setan?" tanya Rain.


" Belum ada, makanya kalian jangan coba coba melakukan nya biar setan tidak murka." Melati.


" Benar benar teka teki jebakan." Steve.


" Ada satu lagi nih."


" Aduh pusing aku memikirkan teka teki nya?" Rain.

__ADS_1


" kenapa bang?" tanya Melati. Rain cuma geleng geleng kepala.


" Abang gak apa apa dek."


" Eh, kalian kan mau ketemu camer, masuk yuk." Melati.


" Ini jagung nya masih banyak, mau di kemanakan?"


" Bawa masuk aja, nanti di bagi bagikan ke tetangga dekat. "


Semuanya pun masuk kedalam rumah.


.


.


.


Anita uring-uringan di apartemen nya, selalu memikirkan cara untuk menyingkirkan Melati.


" Mengapa orang yang aku bayar belum juga kembali ? padahal sudah beberapa hari, gak mungkin kan mereka kalah?" Anita belum tau kalau orang suruhan nya sudah di amankan di kantor polisi. Ia menelpon terus menerus namun nomor yang di tidak aktif juga.


" Aaargh, brengsek." Anita pun membanting ponsel nya kelantai hingga layarnya retak.


Anita sebenarnya bukan orang susah, ia anak orang kaya, anak pejabat negara. tapi kelakuan nya seperti pe****r. Awas saja kamu Melati, kamu belum tau siapa saya. Sepertinya Anita juga belum terlalu mengenal Melati, yang ia tau hanya lah Melati seorang gadis lemah yang gampang di tindas. Anita belum tau kalau Melati bisa saja menghancurkan satu markas mafia seorang diri. Untuk menghilang kan frustasi nya, Anita keluar dari apartemen menuju ke klub malam.


Anita mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan ibukota lagi sepi karena sudah menunjukkan pukul 23:00 waktu setempat. Tak berapa lama Anita pun sampai di klub malam yang di tuju. Baru masuk ia sudah di sambut oleh suara musik yang khas di tempat itu. Anita sudah terbiasa dengan suara hingar bingar di tempat itu. Anita langsung menuju bartender dan memesan minuman berjenis wine.


" Hai baby," suara bariton menyapa nya. Anita menoleh ke arah orang itu.


" Hmmm, ada apa?"


" Lagi mumet," Ardhan pun tertawa terbahak bahak, ya orang yang menyapa Anita adalah Ardhan sepupu nya Rain sekaligus teman ranjang Anita. Awalnya Ardhan mengira kalau Anita itu pacar nya Rain, sehingga Ardhan dengan gencarnya menggaet Anita, Anita juga tidak masalah dan hubungan mereka berakhir di atas ranjang. sampai sekarang masih berlanjut. Rain tau dan ia tidak peduli dengan hubungan mereka, Rain juga tidak tertarik sama sekali dengan Anita. bukan hanya dengan Ardhan, Anita juga sering bermain dengan banyak pria. Anita sudah menghabiskan beberapa gelas wine, ia pun mulai mabuk. dalam keadaan setengah sadar Anita menceritakan semuanya termasuk membayar orang untuk menyingkirkan Melati.


" Gue yakin, pasti Rain yang menghabisi orang suruhan lo itu."


" Benarkah? apa mungkin dia tau kalau aku yang telah mengirim orang untuk menghabisi Melati?"


" Kalau bukan Rain, siapa lagi? Gak mungkin Melati, kan?"


" Lo benar!" Anita semakin mabuk, seperti biasa Ardhan yang selalu mendapat keuntungan, baik itu dalam keadaan sadar atau pun di saat mabuk. Ardhan bermain selalu pakai pengaman, jadi tidak takut hamil.


.


.


.


Suasana di tempat Melati masih ramai, walaupun hari sudah larut malam.


" Yang mana calon menantu ku?" tanya ibu Indah.


" Yang itu Bu," Melati menunjuk arah Frans


" Ganteng banget." ibu Indah memuji Frans

__ADS_1


" Iya bu pacar Indah memang ganteng." Melati. Melati tidak sadar kalau ada yang kepanasan.


" Eheem, eheem. " Rain berdehem.


" Abang kenapa? Abang tenggorokan nya kering, mau minum?" Melati.


" Iya Abang mau minum, haus panas. "


" Abang demam?" Melati belum juga peka.


" Tidak, Abang cuma panas, ada yang memuji cowok lain." Rain


" Hehe, Abang cemburu rupanya, makin cinta deh." Seketika yang tadinya panas berubah menjadi dingin.


" Abang mau minum?"


" Tidak, sudah hilang panas nya."


" Cih, dasar posesif, bucin tingkat dewa." Frans.


" Bucin teriak bucin." Rain. Sampai pukul 01: 30 mereka semua baru pulang. hanya tinggal mereka yang ada di rumah itu.


" Gimana rencananya besok kak Ryan? Jadi tidak menemui Sinta.?"


" Jadi nyonya." jawab Ryan.


" Jangan panggil nyonya kak, panggil aja Rania."


" Baiklah Nia."


" Nah begitu kan enak sebutan nya."


Setelah berbincang bincang sebentar akhirnya semua nya istirahat di kamar masing-masing.


.


.


.


Pagi menjelang,


Anita menggeliat merenggangkan otot nya setelah pertempuran semalam.


" Badan ku terasa remuk gara gara Ardhan."


Anita melihat tubuh nya tanpa sehelai benang pun. dan banyak terdapat jejak jejak percintaan mereka semalam.


" Keterlaluan kau Ardhan, kau anggap aku seperti pe****r, setelah kau pakai di tinggal. Anita memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Anita berendam di dalam bathtub untuk merilekskan tubuh nya yang serasa di gilis alat berat. Kurang lebih satu jam berendam Anita sudah terasa segar. lalu iapun memakai pakaian nya kembali.


" Untung masih layak pakai, biasanya pasti di robek oleh Ardhan, " batin Anita.


" Aku harus cepat cepat pulang."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2