Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 1 (PROLOG)


__ADS_3

Aku adalah seorang ilmuwan muda berbakat, status lajang, berusia 28 Tahun. Aku bekerja sebagai ilmuwan pengembang senjata di negaraku. Semua penemuan-penemuanku dianggap telah mempercepat pengembangan teknologi selama 10 tahun. Anehnya, dengan semua pencapaianku, aku tidak populer dikalangan para gadis bahkan aku tidak pernah memiliki pacar sama sekali.


Aku dilahirkan sebagai seorang anak yang jenius, bisa membaca saat berusia 2 tahun dan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di usia 10 tahun. Bahkan di usia 16 tahun aku berhasil menguasai geometri, trigonometri dan kalkulus. Pada usia 21 tahun aku berhasil menjadi seorang professor termuda di dalam sejarah universitas favorit di negaraku.


Sukses di usia yang sangat muda menjadi sesuatu yang aku syukuri sekaligus aku sesali. Lahir di keluarga yang miskin membuatku bersyukur karena aku bisa membantu ekonomi keluargaku, namun disisi lain aku menyesal karena tidak memiliki banyak teman yang seusia denganku. Bahkan dapat dikatakan aku tidak pernah memiliki kenangan masa muda yang menyenangkan.


Rekan kerjaku mengenalku sebagai orang yang ramah dan dapat diajak kerjasama. Namun sebaliknya, aku dikenal sebagai laki-laki yang sombong, kaku dan sulit diajak berbicara oleh wanita-wanita seusiaku. Alasannya hanyalah satu, aku gugup ketika harus berbicara dengan wanita-wanita muda yang seusia denganku.


Sebagai seorang pria matang yang tidak memiliki cinta, aku merasa kesepian. Hidupku terasa tidak bermakna. Puncaknya, akhir-akhir ini aku tidak fokus dalam bekerja. Ah aku ingin punya pacar.


Saat ini aku sedang lembur bekerja mengawasi reaktor nuklir yang akan di presentasikan ke departemen pertahanan negara. Ukuranya tidaklah besar, hanya sebesar ukuran telunjuk orang dewasa. Meskipun kecil, memiliki kekuatan yang luar biasa kerena kekuatannya mampu meledakkan sebuah kapal induk dalam sekali tembakan.


Aku melihat aktifitas yang tidak biasa dari reaktor nuklir tersebut. Ia bergerak perlahan dan tidak beraturan namun intensitasnya terus bertambah cepat. Aku mencari tahu apa yang sedang terjadi, ku coba melihat catatan laporan penelitian ternyata hasilnya tidak diketahui.


Alarm berbunyi dengan keras. Menandakan adanya kegagalan sistem yang terjadi. Tiba-tiba supercomputer berjalan dengan sendirinya. Sial terjadi hacking, terlebih lagi dilakukan oleh banyak orang dari berbagai negara.


Kami mulai panik, namun kami berhasil mengamankan data-data kami. Sial, rupanya mereka belum menyerah. Setelah gagal mencuri data penelitian, sekarang mereka menyerang sistem keamanan gedung ini. Bahaya, kami lengah.


“Divine system. Self destruction was active in 5 minutes”


“APA?”, Aku berteriak karena kaget.


Orang-orang mulai berhamburan keluar gedung dengan berdesak-desakan. Gawat, pintu keluar mulai tersendat. Aku harus berjuang, jika aku menyerah maka aku akan mati.


Aku mencoba lari keluar gedung, namun kondisiku saat ini terlihat sangat menyedihkan. Belum ada 100 meter aku berlari namun nafasku sudah terengah-engah. Aku menyesal karena jarang berolahraga.


Gedung penelitian mulai menutup pintu secara otomatis. Beberapa orang berhasil keluar dari gedung, namun beberapa lagi terjebak di dalamnya, termasuk aku. Aku mendengar suara orang yang berteriak dan menangis secara histeris. Ada pula yang berdoa meminta pengampunan, sedangkan aku hanya bisa terdiam dan pasrah karena aku tahu bahwa aku akan mati disini.


Duarrr…


Sebuah ledakan besar terjadi dan api mulai menjalar ke seluruh gedung ini. Aku melihat orang-orang berhamburan kesana kemari, namun percuma. Tidak ada jalan keluar.

__ADS_1


Klentrang…


Bruk….


Tiang dan langit-langit hancur. Aku melihat betapa mengerikannya kondisi orang-orang yang tertimpa. Semuanya hancur seperti nyamuk yang ditepuk.


Tanpa aku sadari ternyata sebuah tiang besi menghantam tubuhku. Aku merasa beruntung karena aku masih bisa selamat, namun setengah badanku tertimpa oleh tiang tersebut. Ku coba menggerakaan tubuhku tapi tidak bisa. Sepertinya kakiku remuk dan beberapa organ tubuhku tertusuk oleh tulang rusukku. Nafasku mulai terasa berat.


Uhuk…


Batuk darah? Sepertinya paru-paruku mengalami kebocoran dan terisi oleh darah.


Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan untuk dosa-dosaku sebagai seorang pembuat senjata. Nafasku semakin berat. Pandanganku mulai kabur. Sekilas aku melihat ada benda lain akan menghantam kepalaku.


Bruk…


Kepalaku pun hancur bagai semangka yang dipukul tongkat baseball di musim panas.


*****


Aku merasakan perlahan ada air hangat membasuh tubuhku. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Tiba-tiba kesadaranku kembali ketika aku merasakan bahwa ada seseorang sedang mengusap selangkanganku. Sial, aku mengalami pelecehan seksual. Aku mencoba melawan namun yang bisa, yang bisa aku lakukan hanyalah menggeliat. Aku merasa dilukai, bukan secara fisik tetapi secara mental. Harga diriku terluka.


Ku coba membuka mata, namun terasa berkunang-kunang. Aku ingin tahu siapakah orang yang berani berbuat lancang melecehkan ilmuwan paling berbakat diseluruh dunia. Usahaku sia-sia, karena cahaya lampu tertutup bayangan orang tersebut. Saat mataku mulai terbiasa, aku melihat sosok wanita muda dan cantik. Tanpa sadar bibirku tersenyum.


“Wah lucunya”, Perempuan muda itu berkata


Lucu? Aku lucu? Aku merasa bahagia, baru pertama kali dalam hidupku aku mendengar seorang wanita muda dan cantik memanggilku lucu. Aku ingin berbicara namun tidak bisa, aku terlalu lemah untuk mengeluarkan suara.


Ku coba mengamati sejenak. Aku melihat di sudut ruangan ada sosok laki-laki dengan garis wajah yang tegas dan tubuh berotot seperti gorilla. Rambutnya berwarna coklat dengan brewok yang memenuhi wajahnya. Dari kejauhan aku ingin tertawa, wajahnya terlihat jelek, sepertinya ia sedang menangis bahagia. Matanya berbinar-binar. Meskipun wajahnya menyeramkan, aku merasa bahwa ia bukanlah orang yang jahat.


Disampingku, aku melihat seorang wanita cantik yang terlihat lemah dan tak berdaya bermandikan keringat. Sungguh sangat enak dipandang.

__ADS_1


Hah apa yang terjadi? Bagaimana mungkin wanita cantik dan terlihat lemah ini bisa menggendongku. Tiba-tiba ia menyodorkan payudaranya ke mulutku. Heeeeh, apakah ia tidak malu? Aku mencoba menutup wajahku dengan kedua tangan namun tidak bisa.


Hah kenapa ini? Tanganku seperti dikunci, bukan sebuah borgol tapi kain yang membungkus tubuhku. Ingin aku berteriak, "tolong lepaskan aku" namun tidak bisa. Jika ini terus terjadi, bisa-bisa aku mati menahan rasa malu.


Ku lihat secara seksama ternyata sekelilingku tampak sangat besar. Aku tidak mempunyai gigi bahkan aku tidak bisa mengontrol tubuhku untuk tidak pipis di celana. Aku terlihat seperti seorang bayi. Tunggu sebentar, bukankah semua ciri-ciri tersebut ada padaku. APPAAA? AKU BEREINKARNASI MENJADI SEORANG BAYI.


*****


Tak terasa waktu sudah berjalan selama 2 tahun. Saat ini, aku sudah bisa berjalan dan berbicara. Mulai sekarang aku bisa mengamati lingkungan dan keluarga baruku secara mandiri.


Aku terlahir di sebuah desa terpencil bernama desa Grenze, tanpa ada akses listrik. Jangankan tv, kulkas atau mesin cuci bahkan untuk bola lampu saja tidak ada. Semuanya masih menggunakan lampu minyak seperti abad pertengahan.


Apakah aku kembali dilahirkan dimasa lalu? Tidak mungkin, hal tersebut hanya akan menyebabkan kekacauan sejarah atau lebih jelasnya disebut paradoks waktu. Contohnya, jika aku membunuh ayahku dimasa lalu, apakah aku akan dilahirkan kedunia ini?


Yang jelas adalah sekarang aku seorang anak tunggal di keluarga ini. Ayahku seorang pandai besi dan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Keluargaku bukan berasal dari keluarga kaya, namun termasuk berkecukupan.


Rumahku terbilang sangat sederhana. Terbuat dari kayu yang didalamnya hanya terdapat ruang tengah yang berfungsi pula sebagai ruang keluarga dengan cerobong asap di salah sudutnya. Disamping rumahku adalah tempat kerja ayah. Setiap hari yang kudengar hanya suara besi yang saling diberadu, pantas saja tubuhnya kekar seperti seekor gorilla.


Dari balik jendela rumahku yang kulihat hanyalah rumah tetanggaku dibatasi oleh taman kecil di halaman rumahku. Jalannya hanya beralaskan batu atau tanah yang sering dilalui kereta kuda atau seorang penarik gerobak.


Setiap pagi terasa sangat dingin dan segar khas udara pedesaan. Sangat tenang. Sejujurnya aku sangat suka. Yang aku benci disini hanya satu, desa ini dekat dengan hutan dan tidak dilindungi oleh benteng sehingga rawan diserang monster.


Aku masih ingat kejadian minggu lalu saat sekelompok monster menyerang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, Aku hanya mendengar suara pecahan kaca jendela dan melihat ibu yang menangis sambil memeluk rapat tubuhku. Untungnya ayah dan warga desa berhasil menyelamatkan kami dan mengusir monster-monster tersebut dari desa.


Aku mendengar mereka merasa bersyukur karena serangan yang terjadi hanyalah sekelompok kecil goblin. Walau begitu, tetap saja ku lihat beberapa warga desa yang terluka akibat serangan tersebut meskipun tidak terlalu fatal.


Tak lama kemudian sekelompok kecil kesatria yang memakai baju zirah datang dengan mengendarai kuda. Pada saat itu suasana terasa mencekan namun syukurnya itu tidak berlangsung lama.


Aku melihat mereka membawa bendera dengan tulisan yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Sial, aku pikir dengan bahasa yang sama maka secara otomatis tulisan yang dipergunakan juga sama. Ternyata tidak.


Dengan semua keanehan ini. Sekarang aku yakin bahwa aku bereinkarnasi di dunia lain.

__ADS_1


 


 


__ADS_2