
Sudah setahun aku disini, namun pekerjaanku hanya satu yaitu memotong kayu. Aku tidak tahu apa yang ada di kepala Kakek Thompson, mengapa selama setahun aku harus mengerjakan pekerjaan yang sama. Kekek Thompson hanya berkata, ‘Potonglah kayu ini agar bisa masuk ke tempat pembakaran’. Sesederhana itu perintahnya.
Aku tidak tahu apa kegunaan dari memotong kayu selain untuk membuat api. Jujur, aku tidak paham dengan jalan pikirannya. Bahkan kayu yang aku potong sudah memenuhi tempat penyimpanan. Wajar saja karena kayu yang dia butuhkan tidak sebanyak kayu yang sudah aku potong.
“Dasar anak kurang ajar, kenapa kamu menaruhnya disini?”, Kakek Thompson berteriak dari balik jendela.
“Tempat penyimpanannya sudah penuh, aku menaruhnya disana agar kakek tahu”, Jawabku.
“Jangan taruh di depan pintu juga, singkirkan semaunya. Apa kamu mau menghalangi jalanku?”
Aku sengaja menaruhnya di depan pintu karena aku merasa kesal dengan apa yang sudah kakek Thompson perbuat terhadapku. Ia bukan menjadikan aku muridnya tetapi menjadikan aku tukang kayu pribadinya. Saat ini aku merasa kecewa, apakah dia benar-benar berniat untuk mengajarkanku atau hanya sekedar mempermainkanku?
“Ada apa denganmu?”, Kakek Thompson bertanya kepadaku karena melihat aku yang sedang menekuk wajahku.
“Aku merasa kesal, kakek hanya menyuruhku memotong kayu selama setahun”,
“Kesini kamu”, Perintah Kakek Thompson agar aku mendekat ke arahnya.
Sial, sepertinya aku akan dipukul atau dihukum berat. Aku melangkah dengan ragu kearahnya. Kakek memegang dan memijat seluruh anggota tubuhku lalu berkata, ”Sepertinya tubuhmu sudah cukup siap”.
“Siap untuk apa kek?”,
“Siap untuk pelajaran selanjutnya. Ayo ikut aku dalam”
Lalu kami pun pergi menuju ke Blacksmith miliknya. Disana Kakek Thompson menunjukkan aku bagaimana cara melebur besi dan menjepit plat besi yang akan ditempa.
“Hanya ini kek?”
“Iya”
“Tapi kak Brian membantu kakek menempa. Masa aku hanya memegang plat besinya”
“Anak bodoh, sudah aku bilang kamu belum saatnya”
Lalu kakek menjitak kepalaku.
“Aduh… Baik kek, tapi kenapa kakek hanya menyuruhku memotong kayu selama setahun penuh”
“Aku hanya mempersiapkan tubuhmu agar siap menerima beban pekerjaan yang berat. Untuk saat ini tubuhmu belum siap untuk menerima beban yang lebih besar dari itu. Brian juga melakukan hal yang sama saat ia berada di usia yang sama denganmu”
“Iyakah kak?”, Aku bertanya kepada kak Brian karena tidak percaya dengan ucapan Kakek.
“Iya aku juga melakukan hal yang sama sepertimu”, Jawab Kak Brian.
Wah ternyata aku baru menyari ternyata kakek cerdas juga. Aku agak sedikit menyesal sudah menaruh kayu didepan pintu rumahnya, namun jika tidak aku lakukan ia tidak akan tahu betapa besar usahaku. Ya sudahlah. Semenjak saat itu pekerjaanku bertambah. Selain memotong kayu, pekerjaanku sekarang adalah melelehkan besi dan juga memegang plat besi yang akan ditempa kakek Thompson dan kak Brian.
*****
Aku menghabiskan waktu selama setahun untuk mengerjakan pekerjaan yang sama. Jujur aku sedikit merasa bosan. Tapi saat ini aku hanya bisa bersabar, semua ini hanya masalah waktu. Aku yakin semua perintah kakek pasti memiliki maksud tersembunyi. Meskipun tidak, setidaknya aku mengerti bagaimana proses pembuatan sebuah senjata dari awal hingga akhir.
“Bocah mulai besok kakek perintahkan kamu hanya harus menjaga suhu api dan besi yang ada di tungku pembakaran”, Perintah Kakek Thompson.
__ADS_1
“Baik kek”, Jawabku.
Akhirnya pekerjaanku berubah juga.
Aku pikir ini pekerjaan yang mudah. Ternyata bagian ini adalah bagian yang paling sulit, karena menentukan bagaimana kualitas dari sebuah senjata. Sudah tidak terhitung berapa kali aku dimarahi oleh kakek.
*****
Sudah sebulan pekerjaanku berubah, ternyata menjaga suhu api dan besi tungku pembakaran adalah pekerjaan yang melelahkan. Aku membutuhkan fokus dan teknik pernapasan yang baik. Salah sedikit saja bisa merusak semuanya.
Aku merasa tahun ini adalah tahun terberat yang aku jalani selama berlatih bersama kakek. Tidak ada hari tanpa kemarahan. Aku merasa diperlakukan sewenang-wenang. Dia menyeramkan seperti ibu tiri. Apakah dia membenciku?
Meskipun kakek seperti membenciku, ternyata ia masih mengingat besok adalah hari ulang tahunku yang kedelapan. Aku merasa bersalah karena telah menilai buruk kakek. Kakek memberiku uang untuk merayakan ulang tahunku bersama ibu, tapi aku bingung bagaimana harus menyerahkannya. Ibu pasti bertanya dari mana aku mendapatkan uang sebanyak ini. Jika aku menceritakan semuanya, aku hanya akan dimarahi ibu habis-habisan. Baiklah, aku memutuskan untuk menyimpannya.
*****
Ini adalah tahun ketigaku belajar bersama kakek, saat ini aku sudah tidak pernah dimarahi oleh kakek lagi. Ternyata benar, ia hanya akan marah ketika aku berbuat kesalahan. Maafkan aku kakek, sepanjang tahun kemarin aku sudah berpikir buruk tentangmu.
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang kesepuluh. Sekarang kakek menyuruhku mengerjakan semua pekerjaan yang sudah aku pelajari dari awal hingga akhir. Aku merasa tahun ini akan menjadi tahun yang berat untukku. Aku bukan hanya akan diuji secara fisik tetapi juga secara mental.
*****
Ini adalah tahun kelimaku belajar bersama kakek, selama dua tahun terakhir aku mengerjakan perintah kakek untuk menerapkan semua yang aku pelajari disini. Sungguh, dua tahun terakhir merupakan tahun-tahun paling melelahkan yang aku jalani selama disini, untungnya aku sudah mulai terbiasa.
Di tahun-tahun pertama aku merasa bahwa ini sangat berat dan melelahkan. Aku mulai dimarahi oleh kakek karena kehilangan fokus saat bekerja. Jika aku kehilangan fokus sepenuhnya aku akan berada dalam bahaya. Meskipun kakek marah aku tetap tidak berkecil hati karena aku mengerti bahwa pekerjaan kami sangat berbahaya.
Ditahun keduaku ini aku mulai terbiasa dengan rutinitasku. Aku mulai jarang dimarahi oleh kakek. Luarbiasa, mungkin inilah hasil latihanku selama ini. Aku bisa berkembang secara fisik dan mental.
Tepat diusiaku yang keduabelas. Kakek menyuruhku hanya menempa. Jujur, aku merasa bahwa aku telah menjadi laki-laki seutuhnya. Sepertinya tahun ini akan menjadi tahun-tahun yang berat, namun aku harus tetap bersemangat.
*****
*****
Tak terasa setengah tahun telah berlalu. Sekarang aku tidak pernah dimarahi oleh kakek lagi. Sepertinya tubuhku sudah benar-benar terbiasa. Pertumbuhan anak usia remaja memang luarbiasa.
Hari ini kakek memberikan pekerjaan baru untukku, selain menempa aku juga harus belajar membentuk dan menyepuh hasil tempaanku. Luar biasa, saat ini aku merasa menjadi penempa yang sesungguhnya.
*****
Sudah tiga bulan berlalu, aku merasa pekerjaan yang aku jalani terasa lebih ringan. Mungkin ini efek dari menempa selama satu setengah tahun tanpa berhenti. Ternyata usahaku selama ini tidak sia-sia.
Meskipun aku tidak merasa lelah namun kakek lebih sering marah. Meskipun begitu aku tidak pernah memperdulikannya lagi. Dia akan berhenti marah ketika aku tidak melakukan kesalahan lagi. Akhirnya ucapanku terbukti, selama sebulan terakhir ini ia tidak pernah marah lagi.
“Andra mulai besok kamu harus melakukan semuanya sendiri”, Perintah Kakek Thompson.
“Baik kek”, Jawabku.
“Kenapa kek? Jika kakek sudah tidak mau membantunya, izinkan Brian membantunya”, Kak Brian menyanggah perintah kakek. Ia merasa kasihan jika aku harus melakukan semuanya sendiri.
“Tidak. Aku melarangmu membantunya. Ini adalah ujian terakhir untuk dia. Tak ada yang bisa aku ajarkan lagi kepadanya. Jika kamu membantunya, aku akan mengusirmu dari rumah”
__ADS_1
“Baiklah. Aku mengerti kek”, Kak Brian akhirnya menyetujui perintah kakek.
Ujian terakhir? Apa aku tidak salah mendengar? Ini adalah ujian terakhir untukku. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan sedih. Hampir 7 tahun aku berada disini, aku benar-benar merasa dekat dengan mereka terutama kak Brian. Dia adalah orang yang selalu menyemangatiku ketika aku sedang dalam kesusahan.
Aku sadar aku tidak bisa berada disini selamanya. Tujuanku utamaku bukan untuk bekerja disini, tetapi untuk membuat senjataku sendiri. Aku harus memiliki cukup kekuatan untuk memperbaiki ekonomi keluargaku.
*****
Tiga bulan telah berlalu, akhirnya kakek menilai bahwa aku sudah bisa menjadi seorang penempa sejati. Berarti itu tandanya bahwa aku tidak perlu datang kemari lagi, aku merasa sedih bahwa aku tidak akan berada disini lagi. Andaikan aku berkunjung, aku hanya akan menjadi seorang pelanggan biasa. Aku sadar bahwa bahwa mulai besok semuanya tidak akan sama lagi.
“Hei, bocah nakal kamu sudah lulus pulang sana. Aku sudah muak melihatmu selama 7 tahun disini”, Perintah Kakek Thompson.
“Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan kek”
“Biar kami selesaikan. Besok datanglah kemari, kita akan merayakan kelulusanmu”
Aku menyerahkan uang yang aku terima dari kakek selama ini.
“Uang apa ini, banyak sekali?”
“Uang yang aku dapatkan dari kakek selama 7 tahun”
“Kenapa kamu mengembalikannya kepadaku?”
“Siapa yang ingin mengembalikannya, ini adalah uang yang aku dapatkan dengan jerih payahku sendiri selama 7 tahun. Aku ingin membeli semua timah yang kakek punya, jika tidak cukup. Kakek harus mencarinya ditempat lain selagi aku menyelesaikan pekerjaanku”
Kakek terlihat kesal dengan perkataanku. Lalu memerintahkan kak Brian untuk membelikan timah, dan kak Brian pun pergi meninggalkan Blacksmith kakek.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku bergegas untuk kembali pulang. Kakek menyuruhku untuk menginap disana, namun aku tolak karena hal tersebut hanya akan membuat ibu khawatir dan mencariku kesana-kemari. Aku khawatir ia akan pergi ke hutan untuk mencariku.
“Kek aku pamit, terima kasih untuk pembelajarannya selama ini”
Aku berpamitan kepada kakek dan kak Brian. Tanpa aku sadari ternyata air mataku jatuh menetes. Aku tidak menyangka bahwa hari-hariku disini akan berakhir secepat ini, padahal aku sudah menghabiskan waktu selama 7 tahun disini. Hari ini, tepat di usiaku yang ke 14 tahun, aku resmi menjadi seorang pandai besi sejati.
“Iya, sama-sama. Terima kasih sudah membantu kami selama ini. Tapi ada satu hal yang belum aku ajarkan padamu selama ini”
"Apa itu kek?”, Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Jika besi saja bisa kamu lelehkan, maka tidak ada alasan bagimu untuk menyerah pada wanita. Pandai besi yang hebat adalah ia yang bisa melelehkan baja dan hati wanita”, Lalu ia mengepalkan tangannya dan mengangguk seolah-olah memberikanku semangat.
Wah, perkataan kakek benar-benar membuat aku bersemangat. Apakah ini waktunya aku untuk bersinar? Hidup selama 42 tahun tanpa merasakan cinta dari seorang wanita benar-benar menyesakkan dada. Baiklah, masa muda aku datang.
Aku berjalan menyusuri jalan desa Schmiede untuk terakhirnya sebagai seorang pelajar sekaligus pekerja paruh waktu di Melforx Blacksmith. Aku tidak menyangka bahwa desa Schmiede akan terlihat semeriah ini dimalam hari. Kondisinya masih terlihat ramai, jauh berbeda jika dibandingkan dengan desaku.
Aku kembali teringat dengan janjiku yang pernah aku utarakan dengan Sitha. Bagaimanakah kabar ia sekarang? Aku harap mereka baik-baik saja.
Lalu, bagaimana dengan kabar pak Einhard sekarang? Sepertinya aku harus minta maaf kepadanya karena aku tidak punya waktu untuk mengunjunginya. Ternyata bekerja disini tidak mengenal libur, namun hasilnya sesuai dengan apa yang aku terima.
Aku juga harus mempersiapkan diri untuk berkata jujur kepada ibu bahwa aku belajar dan bekerja disini selama 7 tahun. Meskipun aku akan dimarahi habis-habisan, namun aku harus menghadapinya. Aku yakin ibu pasti akan memaafkannya.
__ADS_1