
Aku berlari memecah keramaian, disaat bersamaan orang-orang mengalihkan pandangannya kepadaku. Namun aku hiraukan karena ada urusan yang lebih penting yang harus aku kerjakan. Pergi menuju ruang bawah tanah dimana beberapa guru dan anggota keamanan akademi sepertiku berkumpul untuk menyusun rencana pembebasan Alicia.
Misi penyelematan Alicia Pendragon adalah prioritas utamaku. Bukan karena ia adalah tunanganku apalagi ingin dikenal sebagai seorang pahlawan, tetapi sebagai ucapan terima kasih karena Raja Arthur telah memberikan surat rekomendasi agar aku bisa bersekolah di akademi.
Menyerang Akademi Stacia saja sudah dapat dikatakan berani, selain memiliki guru yang memiliki kemampuan yang tinggi, ia juga diisi oleh anak-anak bangsawan yang berpotensi. Pihak kerajaan pasti tidak akan tinggal diam mengetahui situasi seperti ini. Apalagi sampai berani menyandra seorang cucu raja, hukuman mati pasti sudah menanti.
Dua jam telah berlalu, belum ada tuntutan apapun yang diutarakan oleh para penyadra kepada kami. Apakah yang sedang mereka pikirkan? Bukankah semakin lama mereka mengulur waktu, semakin kecil kesempatan mereka untuk bebas. Apakah aku harus ajarkan mereka bagaimana menjadi seorang penjahat yang ulung. Sepertinya mereka tidak memiliki persiapan yang cukup. Jika aku menjadi pemimpin mereka, aku akan melakukan semaunya dengan cepat dan efisien.
Ada tiga kesalahan dari para penjahat yang sangat merugikan mereka. Pertama, penyerangan di waktu pagi adalah sebuah kesalahan fatal. Pagi hari adalah waktu orang-orang memulai aktifitas dimana mereka memiliki pemikiran yang segar, dengan kata lain tingkat kemungkinan mereka berhasil adalah 10%. Kedua, tidak jelasnya tuntutan dan ancaman. Tuntutan dan ancaman yang jelas adalah dua hal yang saling berkaitan, semakin besar ancaman semakin sulit pula untuk menolak tuntutan. Terakhir, terus mengulur waktu adalah tindakan yang bodoh. Ini hanya akan memberikan waktu bagi aparat keamanan untuk datang ke tempat kejadian perkara.
Wah gara-gara membaca buku Pak Einhard sepertinya aku tidak hanya cocok menjadi seorang kesatria, tetapi juga menjadi penjahat. Ternyata buku tentang detektif tidak hanya mengajarkan aku untuk mengungkap sebuah kejahatan, tetapi juga memaksa aku untuk berpikir seperti seorang penjahat. Benar-benar mengerikan.
Dalam kasus penyanderaan Alicia Pendragon, setiap menit sangatlah berharga. Mengulur waktu seperti ini hanya akan menjadi pedang bermata dua, apalagi ia adalah satu-satunya pewaris tahta raja. Jika ia sampai mati, Kerajaan Stacia tidak akan memiliki seorang pewaris tahta akibatnya kemungkinan besar berakhir dengan perang saudara apabila sang raja memutuskan untuk turun dari singgasananya.
Detik demi detik berlalu, sementara para guru sedang berdiskusi untuk menyelamatkan Alicia. Meskipun aku adalah anggota komite disiplin, tetapi aku tidak memiliki hak untuk berbicara disini. Di belahan dunia manapun, seorang siswa tidak memiliki hak bersuara dalam sebuah forum yang bersifat formal seperti ini.
Sejujurunya ini benar-benar memuakkan, dimana semua guru saling memberikan pengaruh untuk menentukan karir mereka. Bagaimana mungkin mereka melakukan hal menjijikan seperti ini di dalam situasi segenting ini. Pembicaraan hanya berkutat di usulan pembahasan tentang pembentukan tim penyelamat atau menunggu bantuan datang. Menghabiskan waktu dua jam untuk pembicaraan yang tidak berguna seperti itu sungguh menjengkelkan.
Dalam sebuah pertarungan mempertimbangkan situasi dan kondisi adalah syarat mutlak untuk meraih kemenangan. Menunggu bantuan datang maupun pembentukan tim penyelamat adalah dua hal yang harus dilakukan. Mencoba bernegosiasi dengan para penyekap adalah hal yang harus dilakukan sembari mencari celah dari mana kita akan menjalankan operasi penyelamatan Alicia. Di waktu bersamaan kita membeli waktu untuk menunggu bantuan datang. Jika memungkinkan kita akan menjalankan operasi dengan tim yang sudah dibentuk, namun jika tidak maka kita telah mempermudah bantuan yang datang agar bisa langsung bergerak. Apapun alasannya, kita jelas-jelas diuntungkan karena mengenal kondisi geografis dari lingkungan akademi.
Rasa sabar yang aku miliki sudah mencapai batasnya. Sementara Pak Einhard masih berdiri dengan tenang di barisan belakang. Apa yang sedang dia lakukan? Benar-benar mengecewakan. Harusnya sebagai guru dari Syailendra Mahesvara ia bisa melakukan sesuatu yang membanggakan.
Sepertinya Pak Einhard menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Lalu, aku memberikan isyarat dengan mendongakkan sedikit kepalaku kearahnya. Setelah itu Pak Einhard menolehkan sedikit kepalanya ke arah kanan diiringi lirikan mata ke arah yang sama sebagai isyarat bahwa ia mengajakku keluar ruangan untuk berbicara. Lantas aku bangkit dari tempat dudukku, seketika Kak Rebecca menahan lenganku agar aku tidak bangkit dari tempat dudukku.
__ADS_1
“Mau kemana?”
“Toilet”
“Tidakkah kau memiliki sedikit tatakrama, rapat ini masih berlangsung”
“Menahan selama dua jam sepertinya sudah cukup untuk mengisi penuh kantung kemihku, apalagi arah pembicaraannya belum mengarah ke titik akhir”
Mendengar jawabanku, Kak Rebecca memalingkan pandangannya kepadaku. Lalu aku menatap balik ke arahnya sambil mengangkan sedikit alisku sebagai isyarat apa yang harus aku lakukan. Tiba-tiba Kak Rebecca menundukkan pandangannya ke arah bawah untuk menutupi wajah dan telinganya yang sudah memerah sambil perlahan melepaskan tangannya dari lenganku. Lantas aku pergi meninggalkan ruangan yang menyebalkan itu.
*****
Aku berjalan menghampiri Pak Einhard yang sedang bersandar di tembok lorong sambil mengarahkan pandangannya ke luar. Jari tangannya mengetuk-ngetuk lengan yang saling menyilang di depan dadanya menandakan bahwa ia sedang berpikir tentang suatu hal. Aku mengetahui hal tersebut karena itu merupakan kebiasaan ia ketika sedang dalamn mode serius. Sial, sebagai orang yang tampan ia benar-benar terlihat keren.
“Pak Einhard”
“Tergantung strategi dan tim yang dibentuk”
“Jika kamu sendiri”
“Heh”, aku merasa kaget mendengar ucapan dari Pak Einhard. Bagaimana mungkin ia memberikan tugas seberbahaya ini kepadaku, namun dari tatapannya ia benar-benar serius dengan ucapannya. Lalu aku berkata, “Alasannya?”
“Kau seorang Palladium dan memiliki senjata yang tidak akan dicurigai musuh”
__ADS_1
“Berapa presentase keberhasilannya?”
“5%, jika kau berhasil menyusup ke tempat Alicia. Andaikan kau punya peredam suara, mungkin presentasenya bisa meningkat hingga 25%. Kita tidak mengetahui berapa orang yang menyandera Alicia didalam”
Sial, meskipun saat ini aku memiliki silencer presentasenya masih tetap rendah.
“Tidak masalah pak, aku memilikinya”, aku berkata sambil mengeluarkan dan memasangkan silencerku ke sniperku.
Pak Einhard menghela nafas lalu berkata, “Bagaimana apakah kau bersedia?”
“Tidak”
Pak Einhard mengernyit sembari berkata, “Heh… Kenapa?”
Aku menggelengkan kepala lalu berkata, “Presentasenya terlalu rendah, kecuali Pak Einhard mengizinkanku untuk menggunakan sihirku?”
“Apakah kau yakin tidak akan ada saksi mata?”
“Yakin, akan aku pastikan bahwa mereka semua akan mati ditanganku”
“Baiklah jika begitu, akan aku jelaskan strateginya”
Pak Einhard menjelaskan secara rinci bagaimana strategi penyelamatan Alicia, lalu kami pun pergi menuju gedung kelas akademi.
__ADS_1