
Aceleracion…
Teng…
Suara ketukan besi yang saling menghantam terdengar dari blacksmith ayahku. Meskipun aku sendiri yang melakukannya, namun aku sedikit bernostalgia dengan kenangan masa kecilku.
Sudah 7 tahun aku tidak pernah datang kemari. Aku pikir saat aku kembali lagi semuanya akan sangat kotor dan berdebu. Namun ternyata aku salah, semuanya masih seperti terakhir kali aku tinggalkan. Sepertinya ibu masih setia membersihkan tempat peninggalan ayah.
Sekarang aku tidak pernah menggunakan kursi yang dulu aku pakai untuk membuat mesiu. Jawabannya sudah jelas, disini ada api. Salah sedikit saja tempat ini bisa meledak dan aku akan mati. Dulu aku merasa bodoh mengapa berani-beraninya menggunakan tempat duduk ayah untuk membuat mesiu. Mungkin lain cerita jika ia masih ada, aku pasti sudah ditendang keluar dari sini.
Saat ini tempat duduk tersebut lebih sering diisi oleh Sitha. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Apakah dia tidak punya kerjaan lain, setiap hari hanya datang kesini dan duduk memperhatikan aku bekerja. Biasanya ia datang sehabis pulang sekolah dan duduk disana tanpa mengatakan sepatah katapun.
Yang Sitha lakukan hanyalah memperhatikan aku yang sedang bekerja bahkan seringkali hingga ia tertidur diatas meja. Sangat pulas, bahkan beberapa kali aku mendapatinya sedang mengigau tentang hal-hal yang tidak jelas. Ya sudah aku biarkan saja, toh selama ini dia juga tidak pernah mengganggu pekerjaanku, bahkan yang ada aku merasa terhibur saat ia sedang mengigau.
Aku merasa sedikit menyesal mengapa aku baru belajar sihir akhir-akhir ini. Andaikan aku mempelajarinya lebih awal, mungkin proses belajarku akan lebih cepat bersama kakek Thompson. Aku hanya tinggal menggunakan Aceleracion dan semua pekerjaanku akan terasa lebih mudah. Meskipun setiap tempaannya agak sedikit menguras lebih banyak tenaga, namun waktu yang dihabiskan lebih sedikit daripada yang aku bayangkan. Mungkin inilah alasan mengapa ayah mampu menyelesaikan mengerjakan Handgun dan Jagdkommando-ku dalam waktu yang relatif singkat.
Akhirnya selesai juga, ternyata waktu pengerjaannya sedikit meleset dari apa yang aku perkirakan. Andaikan aku tidak memiliki sihir, mungkin aku akan menghabiskan waktu lebih lama untuk menyelesaikan semuanya.
Langkah terakhir hanyalah tinggal menyepuh dan merakit semuanya menjadi satu kesatuan. Berarti sekarang waktunya untuk mengisi seluruh peluruku dengan mesiu dan pekerjaanku selesai, sekarang saatnya untuk berpindah tempat menuju kamarku.
*****
Dua hari telah berlalu, akhirnya seluruh pekerjaanku telah selesai. Ini adalah saatnya untuk aku menguji senjataku. Apapun senjatanya, tahap pengujian adalah tahap paling penting untuk menentukan layak atau tidaknya sebuah senjata digunakan. Ayo anak-anakku buat papa bangga.
Aku berjalan menuju sekolah. Seperti biasa, Sitha mengajakku pergi bersama-sama. Aku sedikit bertanya-tanya apakah ia mempunyai kekuatan super sehingga tahu bahwa pekerjaanku selesai. Ataukah itu intuisi seorang wanita? Jika itu memang benar hanya intuisi, sungguh, intuisi wanita benar-benar menyeramkan.
Aku melihat ia cemberut selama diperjalanan. Apakah dia sedang memiliki sebuah masalah ataukah sedang datang bulan? Aku sudah sangat tahu bagaimana menyeramkannya Sitha ketika ia sedang datang bulan, bahkan anjing galak saja akan takut ketika melihat ia marah.
“Sitha, kenapa kamu terlihat kesal?”, Aku bertanya kepada Sitha
__ADS_1
“Aku tidak kenapa-kenapa”, Jawabnya.
“Oh begitu syukurlah”
“Ih, kamu benar-benar menyebalkan”
Sitha terlihat sedang merajuk dengan melipat kedua tangannya lalu membuang muka.
“Hah?”, Aku berkata karena tidak mengerti apa yang sedang dia alami.
Terkadang aku tidak mengerti jalan pikiran seorang wanita. Sebetulnya kamu ada masalah atau tidak? Jika ada ya bilang ada, jika tidak ya bilang tidak. Memangnya aku bisa membaca pikiran. Tanpa sadar aku tertawa melihat tingkah Sitha yang lucu sekaligus menyebalkan
Tiba-tiba aku melihat Sitha menangis, seketika aku merasa panik lalu aku menoleh kekiri dan kekanan untungnya tidak ada seorangpun yang melihat. Bagaimana ini? Jika ibu sampai tahu, aku pasti akan dimarahinya habis-habisan. Meskipun aku anaknya tapi aku merasa ibu lebih menyayangi Sitha. Alasannya pasti sama, kamu anak laki-laki jangan menyakiti hati wanita.
Lalu aku berdiri di hadapan Sitha dan memegang pundaknya, Sitha pun menghentikan langkahnya. Aku usap kepalanya, dan seketika itu pula tangisnya mulai mereda. Setelah aku pikir tangisan ia mulai mereda aku beranikan diri untuk bertanya.
Sitha malah kembali menangis. Kenapa dengan anak ini, sepertinya ia sensitif mendengar kata kenapa. Aku pun kembali panik karena Sitha menangis lebih kencang dari sebelumnya. Apa jangan-jangan karena aku tertawa? Ah sial, sepertinya aku yang salah disini. Pasti Sitha merasa tersinggung karena aku seperti meledeknya.
“Sudah, sudah hentikan. Memang kamu tidak malu ketika ada orang yang memperhatikan?”
“Aku tidak peduli”, Sitha masih melanjutkan tangisannya.
“Tolong hentikan. Jika ibu tahu kamu menangis gara-gara aku. Aku bisa dimarahinya habis-habisan”, Aku memintanya untuk berhenti.
“Aku juga tidak peduli”, Tangisannya malah semakin menjadi-jadi.
Sitha bahkan tidak peduli jika aku dimarahi ibu? Sitha betul-betul marah. Wah ini benar-benar gawat.
“Ya sudah lanjutkan saja, paling nanti kamu diledeki oleh pak Einhard seharian”, Aku berkata karena aku benar-benar sudah tidak peduli.
__ADS_1
Tiba-tiba Sitha berhenti menangis. Ternyata baru kali ini aku merasa bawa pak Einhard benar-benar berguna. Terima kasih Pak Einhard.
“Ya sudah, sekarang kamu cerita kenapa cemberut seharian?”, Aku bertanya.
“Kamu kemarin kemana? Aku merasa malu mencari-carimu berkeliling desa selama seharian, namun tidak ada yang mengetahuinya”
“Kemarin aku di kamar seharian, memberikan sentuhan akhir agar senjataku siap digunakan”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Memang aku tamu, 1x24 jam wajib lapor”
“Bodoh” , Sitha berkata, ia tampak sedang merajuk dengan menyilangkan tangannya diatas dadanya. Lalu ia membuang muka
“Aku hanya bercanda”, Aku berkata namun ia tetap mengacuhkanku. Lalu aku memasangkan sebuah kalung yang aku buat dari perak sisa dari pembuatan senjata dan armorku. Sejujurunya itu adalah kalung yang ingin aku berikan kepada ibu, namun ibu pernah berkata bahwa hati wanita akan luluh apabila diberikan hadiah oleh seseorang. Ibu maafkan aku karena aku sudah memberikan hadiah yang seharusnya aku berikan kepadamu.
“Apa ini?”, Sitha bertanya dengan wajahnya memerah, ia terlihat sangat senang.
“Sebuah kalung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemani ibu selama ini. Memang bukan sesuatu yang mahal tapi aku harap kamu suka”, Aku berkata.
“Kamu mendapatkannya dari mana?”, Tanya Sitha.
“Aku sendiri yang membuatnya”, Jawabku.
“Terima kasih”, Ia menjawab singkat namun tidak dapat menutupi kebahagiannya.
“Iya sama-sama. Jangan marah lagi, kita sudah hampir terlambat. Sebaiknya kita bergegas pergi”, Aku berkata kepada Sitha dan membujuknya untuk pergi menuju sekolah
“Hmm”, Sitha menganggukkan kepala dan kami pun pergi menuju sekolah.
__ADS_1