
Dengan tangan dan kaki yang terlilit tali, aku mencoba menggelindingkan tubuhku kearah belakang dan menghentakkan badanku sekuat tenaga ke arah depan agar aku bisa berdiri. Lalu melompat salto untuk mengeluarkan pisau yang ada di dalam sol sepatuku.
Abrandar…
Aku memutar sedikit badanku dan menyentuh sedikit ujung dari pisau tersebut dengan ujung sepatuku agar ia memiliki posisi jatuh yang tepat diatas genggaman tanganku. Setelah itu dengan sigap aku memotong tali yang berada di tangan dan kakiku beserta Alicia.
“Ahh…”
Terdengar suara teriakan dari orang-orang yang berada di ruangan tersebut yang memancing suara bergemuruh dari langkah kaki orang-orang yang mengarah ke ruangan kami.
Dor... Dor.. Dor…
Aku tembakan Handgun-ku mengarah tepat ke arah jendela.
Treng… Treng… Treng…
Namun yang terdengar justru suara peluru yang berjatuhan tepat di atas lantai akademi.
Kenapa?
Ada apa?
Tunggu sebentar…
KENAPA KACA JENDELANYA TIDAK PECAH?!
Sial, lagi-lagi Pak Einhard telah menipuku!
“Uhuk… uhuk… uhuk…”
Terdengar suara batuk dari seorang wanita yang aku kenal dengan jelas. Nafasnya terdengar sangat berat seolah-olah ia sedang berusaha untuk bernafas. Aku harus membawa Alicia keluar dari ruangan ini, jika tidak ia akan pingsan atau bahkan mati lemas karena kekurangan oksigen.
Grkkk… Drakkk…
Suara pintu bergeser hingga menimbulkan suara hentakan karena dibuka secara kasar.
“Asap apa ini”, kata seorang pria yang berasal dari arah pintu keluar kelas. “Uhuk… uhuk… uhuk…, ah tidak mataku… mataku”, sambungnya.
Situasinya benar-benar gawat. Nafasku juga sudah mencapai batasnya, aku sudah tidak bisa menahan nafas lebih lama lagi. Di sisi lain aku juga tidak bisa membuka mataku namun tetap berada ini justu akan lebih berbahaya.
Aku mencoba membuka sedikit mataku. Sial, mataku terasa perih hingga terasa seperti terbakar. Bahkan rasa perihnya menusuk hingga ke hidung memaksa aku untuk bernafas dan aku pun merasakan efek yang sama dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang berada di dalam sini.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba menghiraukan rasa sakitku dan menggenggam tangan Alicia untuk kabur dari ruangan ini. Kami berlari menerjang kabut asap di ruangan tersebut dengan tangan yang saling mengunci agar tidak terpisah satu sama lain.
Sambil menahan perih aku mengarahkan Handgun-ku ke arah orang-orang yang berada tepat di depan pintu.
Dor… Dor… Dor…
Tembakan tersebut tepat mengenai orang-orang yang menutupi pintu keluar ruangan dan akhirnya kami bisa melarikan diri dari ruangan tersebut. Namun sayangnya efek perih di mata masih terasa hingga saat ini.
Ternyata, diluar tidak kalah berbahaya. Suara langkah kaki yang bergerak di atas lorong kelas terdengar datang dari arah depan dan belakang kami. Gawat, kami sudah terkepung.
Beberapa orang berusaha menerjang ke depan kami. Dengan jarak pandangan yang terbatas aku hanya bisa mengandalkan pendengaranku untuk memperkirakan dari mana asalnya suara tersebut.
Dor… Dor… Dor…
Aku menembak ke orang-orang yang berusaha menerjang kami dari arah depan hingga ia mati terkapar di lantai.
“Haaarrrggghhhh”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar seorang yang berteriak dari arah belakang kami. Aku mengalihkan pandanganku ke arah belakang, dengan samar aku melihat bayangan seseorang yang melompat sambil mengayunkan pendangnya ke arah kami. Jaraknya benar-benar dekat.
Gawat.
Hampir mengenai Alicia. Jika aku tembak ayunan pendangnya masih akan mengenai Alicia. Lalu aku menarik tangan Alicia, hingga tanpa sadar kami seperti melakukan gerakan dansa hingga aku bisa medekap erat tubuhnya. Seketika aku melemparkan Handgun-ku ke udara.
Aceleracion.
Ku pukul pria tersebut dengan sekuat tenaga hingga ia terpental hingga terdengar suara teriakan dari orang-orang akibat benturan dari arah belakang orang yang mencoba menyerang tersebut.
Krrkkk…
Dan handgun-ku pun akhirnya kembali mendarat mulus di tanganku.
“Kau tidak apa-apa kan?”
“Hmm”, suara Alicia berguman dengan sebuah anggukan kecil kepalanya yang terasa di atas dadaku.
“Syukurlah, ayo kita lanjutkan”
Aku kembali menggenggam tangan Alicia dan kami pun kembali melanjutkan pelarian kami.
*****
Dor… Dor… Dor...
Krek… Krek... Krek…
Aku melepaskan pengunci magazine Handgun-ku hingga ia meluncur mulus diatas lantai. Aku melemparkan Handgun tanpa peluru tersebut ke udara.
“Harrgghhh”
Seseorang kembali menerjang kami.
Abrandar.
Aceleracion.
Ku pukul musuh hingga terpental beberapa meter sedangkan aku mengambil Magazine baru dan melemparkannya ke udara.
Krrrkkk.
Handgun-ku akhirnya kembali mendarat mulus ditanganku.
Ckrkkk.
Dan Magazineku tepat masuk ke dalam Handgun-ku.
Entah berapa banyak peluru yang sudah aku habiskan untuk melindungi Alicia. Aku sudah tidak bisa menghitungnya. Bahkan gerakan kombinasi antara mengisi kembali handgun, Abrandar dan Aceleracion sudah aku lakukan berulang kali. Intensitas pertarungan berjalan dengan sangat cepat bahkan seolah-olah mereka tidak membiarkanku untuk mengambil nafas.
Penggunaan sihir berlebihan benar-benar menguras tenagaku, apalagi aku harus melakukakannya sambil berlari dan melindungi Alicia secara bersamaan. Benar-benar menguras fisik dan mentalku.
Tak terasa beberapa menit telah berlalu, akhirnya rasa perih di mataku sudah menghilang. Aku mencoba menatap Alicia ternyata matanya masih berair akibat iritasi dari serangan Smoke Granade ku. Andai saja ia percaya padaku pasti efeknya sudah menghilang.
Lalu aku alihkan kembali pandanganku ke arah depan, aku menghentikan langkahku secara mendadak hingga Alicia menabrak tubuhku.
“Aduh”, Alicia mengeluh.
Lantas aku alihkan pandanganku ke arah belakang.
__ADS_1
"WASEM, APA-APAAN INI?!"
Jumlah mereka lebih dari 400 orang. Pantas saja para guru berdiskusi bagaimana cara terbaik untuk menyelamatkan Alicia. Jika aku terus-terusan menembaki mereka, ini akan menjadi pertarungan yang takkan pernah usai. Saat ini aku benar-benar merasa menyesal mengapa aku tidak memproduksi peluru SMG-ku.
Aku mengambil Smoke Granade terakhirku dan aku lemparkan ke arah belakang. Hingga membuat langkah mereka terhenti untuk sementara. Sekarang aku hanya perlu mengurus orang yang ada di hadapanku.
Lalu aku putuskan untuk membopong Alicia.
“Heh, apa yang kau lakukan”
“Sudah diam saja, kita sedang dalam keadaan terdesak”
“TIDAK… TIDAK… TIDAK…”, Alicia berkata sambil mencoba melepaskan diri namun tetap aku hiraukan.
Aceleracion.
Aku berlari dengan sekuat tenaga menerjang ke arah kerumuman tersebut.
Teleportation.
Dengan sihirku aku mencoba berpindah ke tengah kerumunan musuh.
Abrandar.
Ku hentikan waktu semuanya bergerak lambat. Dengan cepat ku mengambil granat dari dalam tasku lalu aku tarik tuasnya. Posisi Alicia mengambang jatuh perlahan ke bawah tanah, lalu aku dekap ia kembali.
Teleportation.
Abrandar.
Teleportaion.
Abrandar.
Aku terus mengulangi gerakanku.
Aceleration.
Lalu, aku berlari dengan sekuat tenaga.
Bang…
Bang…
Bang…
“Arghhhh”
Terdengar suara ledakan keras yang diikuti dengan suara teriakan orang-orang akibat dari serangan bom Grenade-ku.
“Ahh”
Alicia berteriak ketakutan akibat suara ledakan tersebut, namun aku hiraukan. Apapun caranya aku harus menyelamatkan ia tanpa meninggalkan jejak sedikitpun seperti janjiku kepada Pak Einhard.
“Apa yang kau lakukan?”
“Membayar harga yang harus ditebus untuk menyelamatkanmu”
Lalu Alicia hanya tertunduk diam mendengar jawaban dariku sedangkan aku terus berlari menuju pintu utama gedung sekolah agar kami bisa terbebas dari semua ini.
__ADS_1