Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 13 (KEMBALI SEPERTI DULU)


__ADS_3

Aku hanya bisa berbaring hampir sebulan lamanya. Aku tidak menyangka bahwa tubuhku akan terasa sepegal dan sekaku ini. Beristirahat lama memang benar-benar mengerikan.


Aku mencoba bangun dan duduk di pinggir tempat tidurku, ibu berkata bahwa aku sudah kembali pulih hari ini. Tak lama kemudian aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.


“Masuk, pintunya tidak dikunci”, Aku berkata.


Tiba-tiba aku melihat ibu dan seorang wanita cantik berada di depan pintu kamarku. Rambutnya berwarna biru dan digerai. Aku seperti mengenalnya? Siapakah dia. Aku perhatikan dengan seksama ternyata Sitha. Pantas saja aku sedikit tidak mengenalinya, sekarang ia terlihat lebih cantik dan feminim daripada sebelumnya.


“Hah Sitha, sudah lama kita tidak bertemu”, AKu berkata sambil menunjuk ke arahnya.


Kenapa Sitha terlihat aneh? Wajahnya tiba-tiba memerah lalu membalik badannya.


Tiba-tiba ibu masuk dengan cepat dan menutup pintu kamarku menginggalkan Sitha berdiri di depan pintu kamarku. Lalu ibu berjalan dengan cepat dan menjitak kepalaku.


Bukkk…


“Apa yang kamu lakukan bodoh?”, Ibu berteriak.


“Aduh… Kenapa bu, apa yang salah denganku?”


“Pakai bajumu, apa kamu tidak malu dilihat oleh Sitha?”


“Eeeehhh”, Aku merasa kaget karena aku tidak menyadarinya.


“Sayang maafkan aku, aku tidak tahu kenapa ia jadi sebodoh ini. Padahal waktu kecil ia sangat cerdas”, Ibu berbicara menghadap langit sambil menyatukan kedua tangannya seperti orang yang meminta maaf.


“Ayah maafkan aku, sekarang aku bodoh karena sering dipukul ibu”, Aku mengikuti gerakan ibu.


“Apa kamu bilang?”, Ibu terlihat kesal dan memandangku seperti ingin membunuhku.


“Hahaha. Tidak bu, maafkan aku”


“Cepat pakai bajumu”


“Iya bu”, Lalu aku pun memakai baju dan celanaku.


“Sitha, masuk”, Ibu berkata, lalu aku melihat Sitha membuka pintu dan masuk ke kamarku.


“Sitha bagaimana keadaan kakek?” Aku bertanya kepada SItha.


“Baik”, Sitha menjawab.


Tiba-tiba ibu kembali menjitak kepalaku.


“Aduh. Kenapa ibu terus memukuli aku. Aku baru sembuh dari sakit bukannya disayang-sayang malah dipukuli”


“Haduh, sayang kenapa kamu sebodoh ini, kenapa kamu tidak menanyakan kabar Sitha terlebih dahulu”, Ibu terlihat merajuk


“Bu tanpa ditanyakan aku sudah tau dia baik-baik saja”,


Tiba-tiba ibu kembali menjitak kepalaku


“Aduh”


“Jangan membantah orang tua”

__ADS_1


Sitha hanya bisa tertawa melihat perilaku kami berdua. Jujur, ia terlihat lebih cantik ketika sedang tertawa. Lalu aku lihat ibu berbisik ke telinga Sitha. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun ia tersenyum malu sambil sedikit menganggukkan kepala. Setelah itu ibu pergi meninggalkan kami berdua.


“Sudah lama ya kita tidak bertemu, lebih dari 7 tahun”, Aku berkata kepada Sitha


“Hm”, Sitha hanya mengangguk.


“Ngomong-ngomong apa yang barusan ibu katakan?”


“Tante bilang bahwa sekarang kamu sudah tidak bau lagi, hahaha”


Sitha kembali tertawa lebar hingga matanya seperti ikut tersenyum. Ah… imutnya.


“Hah, apa ibu bilang kepadamu jika aku pulang dengan penuh kotoran?”


“Tidak. Aku melihatnya sendiri, bahkan aku yang menyembuhkan luka-lukamu”


“Terima kasih, Sitha”


“Sama-sama”


Tiba-tiba suasana hening seketika. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kami? Apakah ini karena kami tidak pernah bertemu dalam jangka waktu yang lama. Aku lihat ia hanya menunduk dan memainkan tangannya di atas kedua pahanya.


“Kamu kenapa? Apakah rasa malumu tumbuh seiring bertambahnya usiamu, hahaha”


Dia cemberut seperti biasanya, pipinya mengembung dengan tangan dilipat di depan dadanya lalu ia memalingkan muka. Sepertinya ia masih belum berubah, syukurlah. Mungkin kami hanya belum terbiasa satu sama lain.


Aku mencoba bangkit untuk berdiri, namun aku hampir jatuh karena kehilangan keseimbanganku. Tiba-tiba Sitha menyangga tubuhku dengan tubuhnya. Posisiku seperti sedang dipeluk oleh Sitha, sangat rapat, sampai-sampai aku bisa mencium bau tubuhnya. Lalu mata kami saling bertemu. Kami hanya diam terpaku cukup lama, namun kembali tersadar ketika menyadari ada suara langkah kaki mendekati kamarku.


Secara refleks aku duduk di posisi semula, begitu pula dengan Sitha. Suasananya terasa sangat kikuk.


“Hmmm”, Ibu berkata sambil melihat kami dengan tatapan antara curiga dan bahagia. Ada apa dengannya?


Aku merasa salah tingkah dengan gumaman ibu. Aku lihat wajah Sitha memerah, untungnya langit agak sedikit gelap sehingga rona wajahnya tidak terlihat begitu jelas.


“Ibu hanya ingin memberitahu bahwa sekarang sudah waktunya sarapan, hihihi”, Ibu berkata dengan diakhiri tawa menyindir


“Siap bu”, Aku menjawab pertanyaan ibu seperti seorang prajurit. Sial, aku benar-benar salah tingkah gara-gara tingkah laku ibu.


Pagi ini ibu benar-benar menyebalkan hingga membuat aku berteriak karena salah tingkah.


“Oh iya tante, Sitha pamit dulu”, Sitha berkata sambil bangkit dari tempat duduknya lalu sedikit membungkukkan badannya dan pergi menuju pintu keluar kamarku.


“Mau kemana sayang, ayo kita sarapan bersama”, Ibu berkata dengan menahan tangan Sitha agar ia tidak pergi meninggalkan kamarku.


“Oh tidak, terima kasih tante. Tadi Sitha sudah masak, kasihan jika kakek harus makan sendiri”


“Ya sudah tunggu sebentar”, ibu berkata lalu pergi sebentar lalu kembali membawa sebuah kotak makanan dan menyerahkannya kepada Sitha. “Bawalah nak, makanlah bersama kakek dirumah”


“Mohon maaf tante sudah merepotkan. Sitha terima. Sitha pergi sekarang ya, terima kasih untuk makanannya”, Sitha menerima bingkisan ibu dengan senang hati.


“Iya sama-sama”


Lalu Sitha pun pergi meninggalkan rumah kami.


 

__ADS_1


 


*****


Kami sarapan sebagaimana biasanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Cuma ada sedikit yang berbeda, masakan ibu terlihat sangat mewah dan enak. Aku tidak tahu dari mana ibu mendapatkan uang sebanyak ini.


“Ibu, ini untuk ibu”


Aku memberikan sekantung uang yang aku sisihkan selama 7 tahun. Namun sebelumnya aku mengambil sebagian kecilnya untuk membeli timah sebagai bahan untuk membuat peluruku. Untungnya harga timah benar-benar murah, karena ia adalah logam dengan kualitas terendah.


“Apa ini nak?”, Ibu bertanya kepadaku


“Hasil jerih payahku selama 7 tahun”, Aku pikir tidak ada yang harus aku tutup-tutupi saat ini. Ibu pasti sudah mengetahui semua kebenarannya dari Pak Einhard.


“Apakah betul kamu selama 7 tahun pergi ke desa Schmiede sendirian?”, Tanya ibu.


“Iya bu”, Aku menjawab.


Bukk…


Tiba sebuah jitakan mengarah ke kepalaku.


“Aduh… Maafkan Andra, bu”, Aku hanya bisa tertunduk lesu menyesali semua perbuatanku.


Lalu aku melihat ibu menangis. Aku tahu bahwa ini akan terjadi sebelumnya. Apapun alasanku, aku tahu bahwa akulah yang bersalah.


“Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dari ibu?”


“Karena aku tahu ibu pasti tidak akan mengizinkannya”, Aku berkata sambil menatap kebawah karena tidak berani menatap wajah ibu.


“Lalu kenapa kamu masih melakukannya”


“Aku sudah tidak punya lagi waktu bu”


“Kenapa kamu tergesa-gesa, usiamu masih 14 tahun. Kamu masih bisa menunggu beberapa tahun lagi, masa depanmu masih panjang”


“Tidak bu, jika aku tidak melakukannya sekarang, itu tidak akan berguna lagi”


“Kenapa?”


“Karena ini bu”


Aku mengeluarkan handgunku beserta pelurunya.


“Dahulu aku meminta ayah untuk membuatkannya 20 dan sekarang tinggal dua. Jujur bu, itu tidak cukup. Jika ibu mengetahuinya dari dulu, aku yakin bahwa ibu pasti akan merelakan aku berada di rumah kakek Thompson untuk belajar. Namun disisi lain aku tetap ingin tinggal bersama ibu, karena aku tidak tahu berapa lama lagi kita bisa tinggal bersama. Sekali lagi maafkan Andra, bu”


Lalu akupun menghampiri ibu, lalu memeluknya.


“Iya nak, sudah ibu maafkan. Tapi jangan kamu ulangi lagi”, Ibu berkata lalu mencium kepalaku.


“Iya bu, kebetulan kemarin adalah hari terakhir aku belajar disana”


“Syukurlah nak”.


Pembicaraan tersebut menutup sarapan kami pagi itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2