
“Pak tolong jangan dibunuh semua, aku mau mencoba menggunakan senjataku”, Aku berkata kepada Pak Einhard
“Baiklah”, Jawab Pak Einhard
Trang…
Pak Einhard menahan serangan Goblin Lord tersebut sedangkan aku mengeluarkan Smoke Granade dan melemparkanya ke arah para Goblin.
SSShhhhh…
Kabut asap keluar dari Smoke Granade ku.
“Mundur”, Aku menyuruh pak Einhard untuk menjauh dari kepulan asap itu.
Asap mengepul membutakan pandangan para Goblin. Lalu aku mengeluarkan Submachine-gun milikku.
Dor dor dor…
Aku mengeluarkan tembakan secara membabi buta hingga peluruku habis tak bersisa. Aku melihat banyak sekali goblin yang terkena hingga darah berceceran dimana-mana. Beberapa goblin secara tidak sengaja terkena headshot-ku hingga kepalanya pecah. Aku pikir, lebih dari setengah goblin tersebut sudah mati.
Krek… Krek… Krek…
Sial ternyata Submachine-gun sangat boros, meskipun cukup efektif dalam menyerang kerumunan musuh. Aku sampai harus menghabiskan seluruh peluru SMG yang berjumlah 210 butir. Ternyata ini juga masih belum bisa digunakan.
Aku membuang SMG ku lalu menggunakan Assault Rifle. Come on baby
Aku kembali mengeluarkan tembakan beruntun. Ternyata Assault Rifle memiliki Fire Power yang tinggi meskipun secara Fire Rate-nya tidak sekuat SMG namun jarak efektif tembakannya lebih jauh daripada SMG. Aku pikir ini akan sangat berguna untuk membunuh monster dalam jarak menengah. Tapi tetap saja, peluru yang keluarkan sangat boros untuk sebuah peluru yang sama dengan Sniper.
Tanpa aku sadari tiba-tiba Goblin Lord berada di depanku. Sitha menahan serangan dari Goblin Lord hingga terpental beberapa meter. Ah Sitha, apa yang kamu lakukan padahal aku bisa menghindari sendiri serangannya.
Aceleration
Aku menghantam Goblin Lord tersebut dengan tangan kiriku hingga ia terpental beberapa meter. Lalu aku keluarkan Rocket Launcer.
Dor…
Goblin Lord tersebut hancur berkeping-keping. Hujan darah bercucuran di atas langit hingga menyebabkan seluruh Goblin kabur dengan tunggang langgang.
“Pak Einhard, tolong bapak urus sisanya”, Aku berkata kepada Pak Einhard.
“Baiklah”, Jawab Pak Einhard.
Holy Movement
Dancing of Light
Dan aku pun melihat tarian yang mengerikan itu lagi setelah 7 tahun berlalu.
Aku menghampiri Sitha untuk memastikan apakah terjadi sesuatu dengannya. Aku periksa tubuhnya ternyata ia tidak terjadi apa-apa, syukurlah sepertinya ia hanya shock akibat hantaman keras dari Goblin Lord. Aku pukul-pukul lemah pipinya untuk menyadarkan Sitha.
“Sitha… Sitha… apa kamu tidak apa-apa?”
“Hmm, aku tidak apa-apa”, Ia mengangguk lemah, lalu aku memberikan ia kantung minumku.
“Minumlah”, Lalu ia pun minum dari kantung minumku. “Sitha, bukankah ini tandanya bahwa kita sudah ciuman secara tidak langsung”, Sambungku.
Rona wajah Sitha memerah, lalu membuang wajahnya. Ia terlihat sedikit malu, namun warna merah di wajahnya belum juga hilang. Tiba-tiba ia menampar wajahku sambil berteriak.
__ADS_1
“TIDAAAKKK”
Plaakkk…
“Aduh…”
Pukulannya benar-benar keras hingga membuat aku terkapar di tanah. Sial, pukulannya benar-benar sakit. Lalu aku lihat pak Einhard mendatangi kami. Ia terlihat sedang berjalan sambil merenggangkan tubuhnya.
“Ah, akhirnya selesai juga. Kereeen. Aku baru pertama kali melihatnya. Bagaimana kamu bisa membuat senjata sekeren ini. Sangat banyak lagi”, Pak Einhard berkata kepadaku.
“Aku tidak suka berkeringat pak. Makanya aku menciptakan senjata yang bisa membuat aku bertarung tanpa menggunakan keringat”, Jawabku.
“Kereeen”, Pak Einhard berkata dengan mata terlihat berbinar-binar.
“Apa? Itu bukan senjata untuk bertarung tapi untuk membunuh”, Sitha berkata dengan nada yang terdengar sedang merasa kesal.
“Aku tidak akan membantahnya, bukankah semua senjata memang diciptakan untuk membunuh?”, Aku berkata hingga membuat Sitha dan pak Einhard tampak terkejut dengan jawabanku. “Meskipun aku tidak berencana menjadi seorang pembunuh”, sambungku sambil memegang tengkuk bagian belakang kepalaku menggunakan tangan kananku.
Suasana kami sangat kikuk. Aku tahu bahwa ucapanku memang benar-benar mengerikan. Namun faktanya bahwa membela diri untuk keselamatan bukanlah suatu kesalahan.
“Apa yang kamu katakan bocah bodoh”, Pak Einhard berkata sambil mengalung bahuku. Setelah itu ia berkata, “Ayo sebaiknya kita kembali.”
“Sebentar pak, ada yang mau aku coba untuk terakhir kalinya”, Aku berkata kepada Pak Einhard.
“Baiklah cepat lakukan”, Pak Einhard berkata.
Aku mengeluarkan Sniperku. Aku bidik ke berbagai arah. Aku seperti melihat monster. Ah tidak jaraknya terlalu dekat, bahkan ini masih jangkauan efektif serangan dari SMG ku. Lalu aku melakukan pengaturan ulang. Aku melihat sebuah Hound dari jarak 500 meter, tidak dia tidak terlalu kuat. Lalu aku atur ulang Scope ku ternyata aku temukan Hell Hound berjarak 900 Meter. Wah ini baru sempurna.
Aceleracion
Dor….
Sial, benar-benar mengerikan. Aku harus berhati-hati untuk tidak menggunakannya pada manusia. Jika aku lakukan, mungkin aku bisa membuat ia lumpuh bahkan mati seketika.
“Pak aku membunuh Hell Hound”, Aku berkata kepada Pak Einhard.
“Dimana?”, Pak Einhard berkata sambil melihat ke arah depan namun tidak menemukan apapun.
“Jaraknya 900 meter dari sini”, Aku menjawab.
“Serius, apa kamu tidak bercanda?”, Jawab Pak Einhard dengan membelalakkan mata seolah tidak percaya.
“Serius pak, coba pak Einhard lihat”, Aku menjawab lalu aku memberikan Pak Einhard Sniper yang aku pegang agar ia bisa memastikannya sendiri.
“Iya, ayo kita lihat” Pak Einhard mengajak kami untuk melihat Hell Hound tersebut.
Akhirnya kami sampai dan melihat Hell Hound tersebut mati dengan luka yang menganga di dadanya. Ia mati dengan luka yang menembus dari satu sisi ke sisi lainnya. Sungguh mengerikan.
“Pak aku tidak tahu jika menggunakan Aceleracion akan semengerikan ini”, Aku berkata kepada Pak Einhard.
“Aku minta kau jangan menggunakannya pada manusia”, Pak Einhard berkata.
“Aku tahu pak, mereka pasti akan lumpuh atau mati seketika”, Aku menjawab.
“Syukurlah jika kamu mengerti”
Lalu pak Einhard menguliti Hell Hound tersebut dan mengambil taringnya lalu berkata, “Bawalah ini ke kantor Organisasi Petualang untuk dijual. Mereka akan membayarmu dengan sangat mahal. Ini sudah lebih cukup untuk membiayai kalian berdua selama di ibukota”.
__ADS_1
“Baiklah pak”, Aku menerima pemberian dari Pak Einhard.
“Ayo saatnya kita kembali”, Pak Einhard mengajak kami untuk meninggalkan hutan tersebut lalu kami pun meninggalkan tempat tersebut dengan mengambil semua barang yang bisa dijual dari semua monster.
*****
Selama perjalanan aku melihat Sitha terlihat lebih pendiam dari biasanya setelah kami terlibat sedikit pertengkaran kecil. Aku tidak suka dengan suasana seperti ini. Aku harus membicarakannya sekarang daripada membiarkannya terus berlarut-larut.
“Maafkan aku untuk yang aku katakan barusan”, Aku berkata kepada Sitha.
“Hhmm”, Sitha menggelengkan kepala. “Ucapanmu tidak salah, aku hanya merasa khawatir
kamu akan menjadi orang yang haus darah”, Sambungnya.
“Hahaha, itu tidak akan terjadi karena aku pernah membunuh manusia namun hingga saat ini aku tidak memiliki keinginan untuk melakukannya lagi”, Aku berkata sambil menatap langit dan memegang tengkuk bagian belakangku ketika mengingat kejadian di masa lalu.
“Apa?”, Sitha menutup mulutnya. “Kapan kamu melakukannya?”, Sambungnya dengan setitik air mata di kedua kelopak matanya.
“Saat aku diserang Kelompok Taschio Nero. Aku membunuh sekitar 8 orang atau lebih. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku melakukannya secara terpaksa karena jika aku tidak melakukannya maka aku yang akan mati disana”
Sitha menatapku dalam, aku melihat Sitha nampak sedang berusaha menahan tangisnya. Lalu ia menunduk dan berkata, “Maaf aku tidak tahu”
“Menjadi lemah itu menyakitkan, itulah alasan kenapa aku membuat senjata sekuat ini. Aku sudah kehilangan ayahku dan sekarang aku tidak mau kehilangan ibuku”, Aku berkata.
“Lalu bagaimana kehidupan sekolahmu di akademi? Senjatamu tidak bisa masuk ke dalam penilaian”
“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengakses perpustakaan, tempat penelitian dan pengembangan senjata yang ada disana”
“Bukankah kamu akan kesusahan setelah lulus. Kamu tidak akan bisa bekerja di Kerajaan ataupun Kuil Suci”
“Aku tidak berniat untuk bekerja di keduanya. Aku hanya ingin hidup bebas tanpa harus terikat dengan aturan-aturan”
“Bukankah itu cara paling mudah untuk meringankan beban ibumu”
“Tidak, bahkan dengan seperti ini saja sudah cukup untuk menghidupi kami berdua. Oleh sebab itu aku ingin menjadi petualang”
Maaf Sitha aku berbohong kepadamu, alasanku sebenarnya adalah untuk mencari uang dan bahan-bahan material yang tidak aku temukan disini untuk membangun kerajaan bisnisku.
“Hah, kenapa?”
“Aku ingin meneliti dunia dan melakukan banyak penemuan untuk merubah dunia”
“Baiklah, berarti aku juga akan menjadi petualang?”
“Hah? Bukankah dengan kemampuanmu harusnya bekerja di Kerajaan atau Kuil Suci adalah hal yang mudah bagimu?”
“Apakah kamu sudah lupa bahwa kita akan menjadi pasangan terkuat dan aku akan melindungimu selamanya”
Lalu Sithapun berjalan sambil berjinjit dan melompat kecil di depanku.
Aku berlari kecil hingga tepat berada didepannya, ku pegang kepala Sitha dan berkata, “Hei pendek, bukannya aku yang harusnya berkata bahwa aku akan melindungimu selamanya”
Sitha menundukkan kepalanya untuk menutupi rona merah diwajahnya, lalu bergerak maju dan berbalik badan dengan membungkukkan sedikit badannya, lalu ia tersenyum ke arahku dan berkata, “Tidak, apakah kamu lupa bahwa selama ini akulah yang selalu melindungimu, hahaha”. Ia tertawa lalu melarikan diri.
Dan aku pun seketika ikut berlari mengerjarnya.
__ADS_1