Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 12 (SECERCAH HARAPAN)


__ADS_3

(Leonardo)


Namaku Leonardo, aku adalah seorang tabib yang senang mengumpulkan tanaman obat yang ada di seluruh dunia. Saat ini aku mencari sebuah tanaman obat yang bernama Mother Tears. Tanaman tersebut merupakan obat untuk segala macam penyakit. Aku telah mencarinya kemana-mana namun tidak dapat aku temukan juga.


Saat ini aku berada di desa Schmiede. Kesan pertamaku disini adalah agak menakutkan, dipenuhi oleh orang-orang yang berbadan besar dan berwajah kasar. Aku pikir mereka tidak segan-segan untuk meminta bayaran dengan harga yang sangat mahal. Namun setelah sehari berada disini aku merasa Desa Schmiede merupakan sebuah desa yang sangat menakjubkan. Mereka dipenuhi oleh orang-orang yang ramah dan senang membantu sesama. Aku merasa malu terhadap mereka karena sudah berburuk sangka sebelumnya.


Aku mendengar kabar bahwa Mother Tears dapat aku temukan di Desa Grienze yang berjarak sekitar dua jam dari sini, namun sayangnya aku tidak bisa kesana. Aku mendengar kabar bahwa jalan disana diblokade oleh sekelompok perampok yang sedang mencari seseorang dan mereka tidak akan berhenti sebelum menemukan orang tersebut.


Pagi ini aku bertemu seseorang yang menggunakan tudung hitam. Ia mengaku berasal dari desa Grenze.


“Selamat pagi master Leonardo”


“Einhard? Apakah benar kamu Einhard The Prince Of Piercing Light?”


“Betul Master, saya adalah Einhard The Prince Of Piercing Light”


“Aku mendengar bahwa kau menghilang beberapa tahun ini. Apa yang kau lakukan disini?”


Aku merasa kaget karena bertemu dengan seorang pahlawan seperti ia berada disini setelah menghilang selama bertahun-tahun.


“Ceritanya panjang master, mohon maaf tidak bisa saya katakan sekarang. Saya ingin memohon bantuan anda”


“Apa yang bisa aku bantu?”


“Di desa Grenze ada seorang anak yang sedang terserang oleh penyakit mematikan. Saya ingin memohon bantuan anda untuk menyembuhkannya master”


“Bukankah jalan menuju ditutup oleh sekelompok bandit?”


“Betul master, namun shubuh tadi mereka sudah dibasmi oleh seseorang yang tidak dikenal”


“Baiklah ayo kita berangkat sekarang”


Aku dan Einhard pun pergi menuju desa Grenze.


Diperjalanan menuju sana aku melihat sebuah gunung mayat. Kondisinya sangat mengenaskan. Mereka semua mati namun tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan darah.


“Einhard apakah kau yang membunuh mereka dengan sadis seperti ini?”


“Menurut master bagaimana, apakah aku termasuk orang yang bisa melakukan pekerjaan sadis dan merepotkan seperti itu?”


“Bisa jadi, apalagi jika mereka membuat kamu marah hingga tidak terkendali. Yang bisa melakukan hal seperti ini hanyalah orang yang memegang gelar pahlawan sepertimu”

__ADS_1


“Hahaha, masalahnya orang yang memiliki gelar pahlawan bukan hanya saya master. Dan alasanmya tidak diketahui bukankah karena ia tidak ingin dikenali oleh orang lain”


“Ya, kamu benar. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang Einhard”


“Aku hanyalah seorang guru sekolah di desa Grenze master.”


Aku tidak tahu apa yang sedang Einhard sembunyikan, tidak biasanya ia berbicara dengan jawaban yang ambigu seperti itu. Terlebih lagi ia memilih untuk mengasingkan diri ke desa terpencil seperti desa Grenze, padahal ia bisa mendapatkan apa saja di ibukota. Kekayaan, kekuasaan ataupun wanita bisa ia dapatkan dengan mudah.


“Ngomong-ngomong apa yang membimbing orang sehebat master menuju desa terpencil seperti ini?”


“Aku sedang mencari bunga The Mother of Tears. Aku dengar ia tumbuh dengan subur di desa Grenze”


“Aaahhhh… Betul master bunga tersebut subur tumbuh di desa Grenze”


Lalu, Einhard pun menggaruk pipi dengan dengan telunjuknya, sambil melirik ke arah kanan. Dan mereka pun pergi menuju desa Grenze.


*****


Tok tok tok


“Alika buka pintunya”


“Masuklah Einhard”


“Tidak perlu, aku hanya ingin memberitahumu bahwa kita mendapat kabar baik sekaligus kabar buruk?”


Aku merasa was-was dengan apa yang Einhard ceritakan. Aku tidak tahu bagaimana aku menghadapinya, namun aku harus bersiap untuk segala kemungkinan terburuk.


“Apa itu Einhard?”


“Kabar baiknya adalah perampok tersebut sudah dibasmi oleh seseorang yang tidak dikenal, dan kabar buruknya adalah tabib dari kota Escala sedang pergi untuk mengobati seseorang”


Kakiku merasa lemas mendengar kabar dari Einhard, seketika aku terjatuh namun berhasil ditangkap oleh Einhard. Ia menuntunku menuju kursi ruang tamu. Mengapa aku harus mengalami ini semua? Setelah apa yang terjadi pada suamiku, mengapa sekarang harus terjadi juga pada anakku.


“Kamu harus kuat Alika”


Aku hanya bisa menangis mendapat kabar dari Einhard. Bagaimana aku bisa kuat saat mengetahui bahwa anakku sedang dalam keadaan sekarat.


“Aku tau ini sangat berat untukmu, namun bagaimanapun kamu harus kuat”


Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Einhard. Semuanya hanya tinggal menunggu waktu untuk melihat Andra lumpuh atau meninggal. Bagaimana mungkin aku bisa kuat mendapatkan cobaan sebesar ini.

__ADS_1


“Aku pamit Alika, Aku akan pergi untuk mencari tabib untuk Andra”


Aku hanya bisa menangis tanpa tahu harus menjawab apa. Einhard memegang tanganku untuk menguatkan aku, lalu ia berdiri dari tempat duduknya dan pergi entah kemana. Aku hanya bisa menganggukkan kepala karena sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Tak lama kemudian seorang laki-laki tua mengetuk pintu rumahku. Aku tidak tahu siapa ia, sudah lama kami tidak menemui seorang pun tamu sepeninggal suamiku.


“Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Perkenalkan nama Leonardo, pekerjaan saya seorang tabib. Saya mendengar bahwa disini ada seorang anak sedang sakit dan membutuhkan bantuan”


Seorang tabib, apakah aku tidak sedang bermimmpi? Aku mencubit tanganku dan rasanya masih sakit, ternyata ini bukan mimpi. Syukurlah nak ternyata kamu masih diliputi oleh keberuntungan.


“Iya betul tuan. Jika saya boleh tahu, siapakah orang yang sudah bermurah hati untuk memberitahu anda bahwa disini ada seorang anak yang membutuhkan bantuan?”


“Aku tidak tahu. Ia adalah seseorang yang menggunakan jubah hitam. Sayangnya saya tidak bisa melihat wajahnya. Jika berkenan bolehkah saya melihat kondisi anak tersebut?”


“Dengan senang hati tuan, akan saya antarkan anda menuju anak tersebut”,


Lalu aku pun pergi mengantarkan tabib tersebut menuju kamar Andra.


*****


Sudah seminggu Andra dirawat oleh tabib tersebut. Kondisinya mulai terlihat membaik. Wajahnya sudah tidak terlihat pucat seperti sebelumnya. Tuan Georgini berkata bahwa Andra hanya butuh istirahat total setidaknya seminggu kedepan, meskipun begitu Andra masih tidak diperbolehkan menerima tamu.


“Baiklah nyonya tugas saya sudah selesai. Sekarang ia hanya perlu beristirahat dan makan-makanan yang bergizi”


“Terima kasih Tuan, berapa yang harus saya bayar?”


“Tidak perlu nyonya. Seseorang yang meminta saya kemari sudah membayarnya. Ngomong-ngomong apakah anda tahu dimana tanaman Mother Tears berada, saya dengar tanaman tersebut berada di dekat desa Grenze”


“Sayang sekali tuan anda terlambat. Tanaman tersebut sudah musnah beberapa tahun yang lalu akibat terjadi sebuah keributan besar di dekat hutan desa”


“Sayang sekali, namun terima kasih atas informasinya nyonya. Saya pamit karena saya harus  melanjutkan perjalanan kembali”


“Iya sama-sama Tuan.


Lantas tuan Leonardo pun pergi meninggalkan desa kami.


 


 

__ADS_1


__ADS_2