
Tok… tok… tok…
Tiba-tiba Bodolf bersembunyi dibawah tempat tidur. Ada apa dengan dia? Bukankah tadi ia bisa bermain-main di luar. Mengapa ia sangat takut sekarang? Lalu aku bangkit dari tempat dudukku dan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Pak Einhard yang membawa sebuah tas besar.
“Boleh aku masuk?”
“Oh iya, silahkan pak”
Lalu Pak Einhard duduk di kursi belajarku sedangkan aku duduk di atas kasur.
“Tumben Pak Einhard mampir ke asramaku”
“Tadi aku ke rumah sakit, ternyata kau tidak berada disana”
“Gawat aku lupa bahwa aku sedang dirawat di rumah sakit”
“Jangan khawatir. Aku sudah mengurus semuanya”, lalu Pak Einhard menyerahkan tas tersebut kepadaku. “Ini adalah perlengkapanmu selama dirumah sakit”
“Terima kasih Pak Einhard. Terus bagaimana dengan biaya perawatannya”
“Apa yang kau katakan. Itu adalah rumah sakit milik Akademi Stacia. Jadi semuanya aman”
“Oh, luar biasa. Untuk pertama kalinya aku merasa beruntung masuk ke Akademi Stacia”
Pak Einhard seperti menahan tawa lalu ia berkata, “Lalu kau anggap apa murid tidak berguna sepertimu bisa mendapat surat rekomendasi dari raja”
Sial, perkataannya benar-benar terasa sangat menyebalkan.
“Ada keperluan apa Pak Einhard datang ke asramaku? Aku yakin Pak Einhard tidak mungkin repot-repot mengantarkan barang seperti ini hanya untuk menemuiku”
“Uhuk… Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya bagaimana kondisimu sekarang?”
“Jangan khawatir, aku baik-baik saja”
“Apakah kau ingin mengetahui alasan aku mengganti namamu?”
“Tentu saja, bukan hanya manusia bahkan iblis saja sampai mengincarku”
“Apakah kau siap untuk menanggung takdirmu sebagai seorang Mahesvara?”
“Takdir seperti apa yang Pak Einhard maksud?”
“Siapa dia Mahesvara? Sepertinya kau sangat dekat dengannya”
“Guruku”
“Hah, tumben kau berkata seperti itu?”
“Bodoh. Apa yang kau lakukan Mahesvara? Bagaimana jika kita ketahuan. Aku berbicara denganmu melalui kontak jiwa”
"Tes-tes satu dua tiga, tes-tes-tes", oh, begini caranya hebaaat. “Mengapa kau bersembunyi Bodolf?”
“Naluri hewanku bangkit ketika aku bertemu dengannya. Aku masih teringat dengan setiap tebasan yang ia berikan kepadaku”
“Oh, apakah dia sekuat itu?”
“Tentu saja. Bahkan aku merasa ingin mati saja saat diserang olehnya”
“Lalu bagaimana kau bisa selamat?”
__ADS_1
“Apakah kau lupa bahwa aku tidak akan mati kecuali diserang oleh senjata suci atau senjata terkutuk. Aku heran mengapa orang sekuat ia bisa tidak memilikinya. Apakah setelah dua ribu tahun berlalu, manusia telah berevolusi menjadi sekuat itu?”
“Tidak, dia adalah salah satu orang yang berada di puncaknya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai pahlawan”
“Hebaaatt. Orang sepertinya adalah musuh alamiku”
“Sama, aku juga”
“Bukankah kau sangat dekat dengannya?”
“Aku memang mempercayainya tapi bukan berarti aku menyukainya”
“Andra… Andra… Andra…”
“Oh iya Pak Einhard, bisa bapak ulangi?”
“Lupakan saja. Bagaimana? Apakah kau ingin mengetahui latar belakang keluargamu?”
“Mahesvara, menurutku kau harus mendengarkannya”
“Kenapa?”
“Jika ia berbohong aku yang akan meluruskannya”
“Apakah keluarga Mahesvara terlibat dengan sesuatu yang merepotkan?”
“Ya”, jawab Pak Einhard dan Bodolf
“Apakah Pak Einhard (dan kau Bodolf) mencoba membujukku?”
“Tidak, aku hanya ingin kau mengetahui kebenaran yang ada dibalik semua ini”, Jawab Pak Einhard dan Bodolf.
“Agar kau bisa menenentukan keputusan apa yang akan kau ambil”, jawab Pak Einhard dan Bodolf.
“Jika begitu, jawabanku sudah jelas. Tidak, dan terima kasih”
“Sudah aku duga, sepertinya kau sudah membulatkan tekadmu Mahesvara”
“Heh kenapa?”
“Aku merasa bahwa aku sudah merasa muak dengan semua kekacauan ini sehingga aku lupa akan tujuan aku bersekolah di sini”
“Bukankah kau sudah memiliki semuanya, termasuk mewujudkan cita-citamu sebagai petualang”
“Tidak pak, menjadi petualang hanyalah langkah awal bagiku untuk mewujudkan cita-citaku”
“Lalu apa yang kau inginkan?”
“Membangun kerajaan bisnis hiburan”
“Hah?”
“Oi apa yang kau katakan, Mahesvara. Apakah kau coba menipuku?”
“Tolong jangan memotong pembicaraanku. Mengapa iblis ingin datang ke dunia, mengapa peperangan tidak pernah berakhir dan apa motif dibalik semua itu? Semuanya masih belum jelas. Lalu, karena hanya kebetulan aku terlahir sebagai keturunan Mahesvara terus aku harus membereskan kekacauan yang sudah dilakukan oleh para pendahuluku? Haaahhhh, tidak ada dosa yang diwariskan. Semua orang berhak untuk memilih jalannya tersendiri. Dan apabila seseorang ingin mengambil tanggung jawab tersebut, maka dengan senang hati aku akan menyerahkannya”
“Mengapa kau ingin membangun bisnis hiburan Andra? Bukankah menjadi petualang jauh lebih menguntungkan?”
“Apa yang Pak Einhard katakan? Bapak hanya belum mengetahui betapa besar potensi dari sebuah kerajaan bisnis hiburan”
__ADS_1
Tiba-tiba Pak Einhard menahan tawa lalu ia berkata, “Apa yang kau katakan Andra, kau selalu saja melakukan hal-hal diluar batas kewajaran”
“Mahesvara, jangan bercanda. Jangan kau membuang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Lebih baik kau membantuku untuk mewujudkan cita-citaku”
“Bukankah hidup ini terasa membosankan. Masa kecil hanya sampai usia 7 tahun. Bersekolah hingga usia 15 tahun setelah itu pilihannya hanya dua, menikah atau pergi ke akademi setelah itu bekerja dan mati”, lalu aku bergidik, “Aku tidak mau menjalani kehidupan semenyedihkan itu. Tak lebih seperti pengulangan kehidupan dari nenek moyang”
“Perkataanmu cukup masuk akal”, jawab Pak Einhard dan Bodolf.
“Aku pikir harus ada seseorang yang menggerakkan peradaban. Dan orang-orang yang memiliki banyak waktu luang sepertiku yang bisa diharapkan meskipun secara teknis kita memiliki banyak bangsawan. Namun sebaiknya kita abaikan, mereka kumpulan orang yang tidak berguna”
“Hahaha, kau benar-benar berani Andra. Bangsawan adalah kumpulan orang-orang yang tidak berguna”, Pak Einhard berkata mengikuti caraku berbicara, “Lalu, kehidupan seperti apa yang kau harapkan?”
“Kehidupan dimana setiap hari seperti sebuah festival, meskipun rutinitas seperti belajar, bekerja dan menikah tidak dapat dihilangkan dalam keseharian kita”
“Kehidupan seperti sebuah festival? Apakah kau tidak tahu berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membuat sebuah festival. Hahaha, kau benar-benar sudah tidak waras Andra”, Pak Einhard tertawa dengan sangat kerasnya.
“Aku ingin bertanya, mengapa orang-orang rela mempertaruhan nyawanya untuk sebuah peperangan?”
“Idealnya aku ingin berkata demi perdamaian, namun kenyataannya demi ketenaran dan kekayaan”
“Benar Pak Einhard, karena pencapaian besar hanya akan kau dapatkan di sebuah medan peperangan. Namun bagaimana jika kau mendapatkan kekayaan dan ketenaran tanpa melalui sebuah peperangan?”
“Aku akan senang hati memilih jalan yang kedua”
“Yap, dengan kata lain peperangan akan kehilangan artinya bukan?”
Pak Einhard tersenyum tipis kemudian ia berkata, “Lalu, jalan apa yang akan kau pilih?”
“Aku akan menarik setiap cent dari kesenangan yang orang-orang dapatkan, hahaha”
“Hah?”, wajah Pak Einhard nampak datar. “Apa yang kau katakan?”
“Bukankah, aku membutuhkan biaya operasional untuk setiap kesenangan yang mereka dapatkan?”
“Hahaha, menarik… sangat menarik. Jadi itukah jalan yang kau pilih. Sepertinya aku telah salah menilaimu. Aku benar-benar menantikan dunia seperti apa yang akan kau ciptakan”
“Tunggu saja hingga waktunya tiba Pak Einard”
Pak Einhard bangkit dari kursinya lalu ia berkata, “Baiklah, aku permisi dulu. Aku harap kau tidak menyesal dengan jalan yang kau pilih”
“Tentu saja, karena aku adalah anak cerdas yang memilih jalan termudah dalam hidupnya”
Lalu Pak Einhard tersenyum tipis dan pergi meninggalkan kamarku.
Bodolf keluar tadi tempat persembunyiannya lalu ia berkata, “Hei Mahesvara, apakah kau benar-benar serius akan melakukannya?”
“Tentu saja. Aku memiliki semua pengetahuan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya”
“Bukankah itu pekerjaan yang membosankan. Bernyanyi, menari, bersyair atau bermain drama”
“Bersenang-senang tidak sekaku itu Bodolf. Bagaimana dengan pergi ke sebuah bazaar bersama seorang wanita dan kalian saling memengang tangan kalian satu sama lain agar tidak saling terpisah”
“Wahhh… hebat”, wajah Bodolf nampak berbinar kemudian wajahnya berubah menjadi datar, “Jadi kau akan menarik bayaran seseorang untuk setiap pegangan tangan yang terjadi?”
“Hah, apakah kau sudah gila? Bukan itu maksudku, tapi aku akan menciptakan sebuah tempat yang mendukung agar kondisi tersebut dapat tercipta”
“Haahhhh, akhirnya waktuku untuk bersinar datang juga”, Bodolf berkata dengan wajah yang seperti mendapatkan pencerahan.
“Aku akan pergi ke sekolah dan kau tunggu saja disini hingga aku kembali”
__ADS_1
Dan aku pun pergi meninggalkan kamarku.