Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 18 (PERAYAAN YANG TERTUNDA)


__ADS_3

Tak terasa setengah tahun berlalu sejak terakhir kali aku menguji senjataku. Pada akhirnya aku memutuskan hanya akan menggunakan Sniper dan Handgun-ku, keterbatasan teknologi untuk memperbanyak peluru adalah alasan terbesarku. Rocket Launcher hanya akan aku gunakan jika aku benar-benar dalam keadaan terjepit sedangkan Grenade dan Flash atau Smoke Grenade hanya akan aku gunakan untuk senjata Crowd Control ketika terjadi pengepungan monster.


Hari ini adalah hari dimana aku menuju ibukota untuk mendaftar bersekolah disana. Aku dan Sitha berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu, Kakek dan Pak Einhard serta seluruh warga desa karena telah membantu kami selama ini.


Kami pun pergi menuju ibukota dengan ditemani oleh seluruh warga desa hingga menuju gerbang desa. Aku dan Sitha berencana untuk bersekolah di Akademi Stacia. Alasan kami bukan karena Pak Einhard alumni di sana, melainkan karena Akademi Stacia memiliki fasilitas terbaik untuk menunjang masa depan kami.


Jujur, aku dan Sitha tidak memiliki uang sepeser pun untuk menuju ibukota kerajaan karena kebodohanku yang berkata dengan sombongnya bahwa aku memiliki banyak uang menuju ibukota. Awalnya Sitha kaget ketika mengetahui bahwa aku tidak memiliki uang, padahal perjalanan menuju ibukota membutuhkan waktu seminggu dengan berjalan kaki. Setelah aku berpikir sejenak, aku memutuskan untuk meminjam uang kepada kakek Thompson.


Kring…


Suara bel pintu berdering ketika aku membuka pintu. Ku lihat mereka memandang ke arahku disela-sela kesibukan Kak Brian dan Kakek Thompson yang sedang membersihkan debu-debu yang menempel di senjata dan lemari pajangan.


“Hhaa”, Kakek Thompson dan Kak Brian berkata sambil menunjuk ke arahku karena kaget melihatku berkunjung ke toko mereka. Ku lihat tatapan Kakek Thompson berubah menjadi tatapan seorang pembunuh lalu ia melompat ke arahku.


Buk…


Sebuah jitakan mengarah tepat di atas kepalaku.


“Aduhh… Kenapa kakek memukulku”, Aku mengeluh kepada Kakek Thompson.


“Dasar bocah kurang ajar, kenapa kau tidak meminta izin pada ibumu jika kau belajar disini selama ini. Sampai-sampai kau diserang oleh kelompok Taschio Nero, untung saja kau masih bisa selamat”, Jawab Kakek Thompson sambil menyilangkan tangan didadanya .


“Bukankah sudah jelas jika ia tidak akan mengizinkanku. Orang tua macam apa yang akan mengizinkan anak berusia 7 tahun pergi meninggalkan desa sendirian”, Aku menanggapi jawaban kakek Thompson.


Kakek Thompson menghela nafas lalu menggelengkan kepala dan berkata, “Aku lupa jika kau seorang bocah nekat”. Lalu Kakek Thompson melirik ke arah Sitha dan bertanya kepadaku, “Hei ngomong-ngomong, siapa gadis cantik yang datang bersamamu?”


“Oh dia Sitha”, Aku menjawab sekenanya.


Kakek Thompson melihat ke arah leher Sitha, lalu ia bertanya kepada Sitha, “Hmmm, kalung yang indah. Siapa yang memberikannya kepadamu nak?”


Wajah Sitha memerah mendengar pertanyaan kakek Thompson, lalu ia menunduk ke arah bawah dan menjawab, “Andra yang memberikannya kek”


“Haaa, tidak sia-sia aku menjadi gurumu bocah. Sekarang kau jadi laki-laki sejati hahaha”, Kakek Thompson kaget mendengar ucapan Sitha, lalu ia tertawa keras dan merangkul bahuku sambil mengacak-acak rambutku.


“Hah”, Aku tidak mengerti apa yang Kakek Thompson. Apa maksud dari ucapannya?


“Brian kamu benar-benar memalukan, bagaimana mungkin kamu dilangkahi oleh adik seperguruanmu”, Kakek Thompson mengeluh kepada Kak Brian untuk alasan yang tidak aku pahami.


Ku lihat Kak Brian melihatku dengan tatapan iri seolah-olah ingin membunuhku lalu berlari ke arahku.


“Sialan kau Andra, bagaimana mungkin kau mendapatkan gadis secantik Sitha hanya setahun setelah lulus dari sini”, Ia berkata sambil menangis dan mengunci leherku dengan lengannya lalu menjitak-jitak kepalaku. Oh tidak, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


“Aduh… Aduh… Hentikan bodoh hentikan” Aku berkata sambil mencoba melepaskan kuncian Kak Brian namun tidak bisa karena kekuatannya jauh diatas kekuatanku. Disamping itu Sitha hanya tertawa kecil hingga meneteskan air mata karena melihat kelakuan kami bertiga.


“Ya sudah ayo kita masuk, kita akan rayakan kelulusan Andra yang tertunda. Hari ini aku akan tutup”, Kakek mengajak kami masuk ke dalam rumahnya untuk merayakan kelulusanku.


Setelah merayakan kelulusan, kami memutuskan untuk menginap di rumah kakek Thompson selama semalam. Pagi hari menjelang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ibukota kerajaan.


“Kakek kami ingin berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju ibukota” Aku berkata kepada Kakek Thompson


“Apa katamu, apakah kau tidak melupakan sesuatu?”, Kakek Thompson bertanya kepadaku.


“Melupakan sesuatu?”, Aku bertanya balik kepada Kakek Thompson karena aku merasa tidak melupakan apapun.


“Kamu belum menunjukkan kepadaku apa yang telah kamu hasilkan selama setahun”, Kakek Thompson berkata.


“Oh iya kek aku lupa, maaf karena belum menunjukkannya”, Jawabku lalu aku mengeluarkan Sniperku untuk ditunjukkan kepada Kakek Thompson.


“Wah, terlihat sangat solid dan impresif. Apakah ini Handgun MK. II”, Kakek Thompson berkata dengan penuh rasa kagum melihat senjataku.


“Yah bisa disebut seperti itu”, Aku mengiyakan ucapan Kakek Thompson karena hanya Sniper dan Handgun yang ia tahu, padahal kenyataannya keduanya merupakan senajata dengan tipe yang berbeda namun di dunia ini dapat dikatakan bahwa sniperku adalah pistol generasi kedua yang aku ciptakan setelah Handgun.

__ADS_1


Aku dan Kakek Thompson saling memandang dan tersenyum satu sama lain seolah-olah mengerti apa yang akan terjadi. Tiba-tiba Kakek Thompson menyerahkan Sniperku lalu ia berlari mengambil perisai terbaik yang ia miliki.


Aku melepaskan kunci senjataku dan disaat yang sama Kakek Thompson membawa perisai sihir yang pertama kali ia jadikan bahan taruhan bersamaku. Terasa sangat nostalgia, itu adalah momen dimana aku pertama kali bertaruh dengan Kakek Thompson.


“Cepat serang, namun apa yang akan kita pertaruhkan?”, Kakek Thompson bertanya.


“Tidak, aku tidak akan bertaruh untuk sesuatu yang tidak adil seperti ini. Bagaimana mungkin senjata non-sihir bisa mengalahkan senjata sihir”, Aku menolak tawarannya meskipun aku yakin jika menggunakan Sniper dan Aceleracion kemungkinan besar aku bisa menghancurkan perisai sihir buatannya, namun aku tidak mau menghancurkan harga dirinya.


“Aku tidak akan bersikap lengah saat ini. Apakah kau lupa apa yang kamu lakukan terhadapku saat kita pertama kali bertaruh”, Jawab Kakek Thompson.


Sial, ternyata Kakek Thompson masih mengingatnya. Dasar kakek tua, ternyata ia masih bersikap kekanak-kanakan. Sepertinya aku harus sedikit bernegosiasi dengannya.


“Itu kan masa lalu kek, sejujurnya aku juga tidak tahu kekuatannya sebesar itu. Lagipula itu adalah senjata buatan ayah bukan buatanku, meskipun ini nampak besar namun aku tidak tahu apakah kekuatannya lebih besar daripada Handgunku ataukah tidak”, Aku berkata.


“Namun tetap saja, aku tidak akan mengalah kepadamu. Ambil atau tidak?”, Jawabnya.


“Tidak”, Jawabku dengan tegas. Toh, saat ini juga tidak ada yang patut dipertaruhkan, untuk apa aku bertaruh untuk sesuatu yang tidak berguna.


“Baiklah, sekarang kau harus membayar semua biaya latihanmu selama disini”, Kakek Thompson berkata.


“Bukankah aku sudah melakukannya ketika aku belajar disini”, Aku membalas.


“Hei bodoh, apakah kau lupa kau tidak hanya belajar tapi juga makan disini. Aku hanya berkata kau sudah membayar biaya latihan namun tidak untuk biaya makan”, Kakek Thompson berkata.


Sial, benar juga. Kakek Thompson berkata bahwa aku hanya membayar biaya latihan disini. Apa jadinya jika ia menagihku saat ini padahal aku ingin meminjam uang darinya.


“Oke-oke, aku mengerti tapi apa yang akan Kakek minta jika menang dariku?”, Aku bertanya.


“Aku ingin meminta cetak biru dari senjatamu”, Kakek Thompson tertawa jahat.


Sial, ternyata ia meminta sesuatu yang berat.


“Tidak, aku tidak mau”, Aku berkata.


Dasar kakek iblis, selain kekanak-kanakan ternyata dia juga orang yang licik dan serakah.


“Baiklah, tapi aku menolak jika harus melawan senjata sihir. Tidak ada sejarahnya sebuah senjata non sihir mengalahkan senjata sihir”, Aku berkata.


“Aku tidak peduli”, Kakek Thompson berkata sambil memalingkan wajahnya.


Aku mulai merasa kesal, ternyata ini benar-benar merepotkan.


“Baiklah, tapi aku akan memberi tahu semua orang bahwa kakek sudah membuat sebuah taruhan yang tidak adil bersamaku”, Aku berkata.


“Silahkan lakukan aku tidak peduli. Aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kali”, Kakek Thompson tetap tidak bergeming.


Lalu aku berlari keluar toko dan berteriak, “Hei semuanya, Kakek Thompson berniat untuk bertaruh denganku dengan taruhan yang tidak...”


Semua orang mentapku lalu tiba-tiba Kakek Thompson datang lalu menyumpal mulutku dan menarik aku masuk ke dalam tokonya.


“Hei bocah nakal, apakah kau berniat untuk merusak reputasiku”, Kakek Thompson berkata.


“Bukankah Kakek Sendiri yang berkata tidak peduli”, Aku menjawab.


Kakek Thompson terlihat kesal, “Baiklah, aku paham namun ini adalah perisai terakhir yang akan aku keluarkan dan kamu harus menyetujuinya”. Lalu Kakek Thompson mengambil sebuah perisai berwarna perak yang mengkilat.


“Platinum? Apakah kakek sudah gila, meskipun ini non-sihir namun tetap saja ini sangat kuat”, Aku mengeluh kepada Kakek Thompson.


“Kau kan hanya meminta bukan senjata sihir, berarti bebas aku menggunakan apapun”, Jawab Kakek Thompson.


Benar juga, sekarang aku yang merasa lengah.

__ADS_1


“Baiklah jika begitu”\, Aku berkata\, lalu aku memasukkan Sniperku dan mengeluarkan *Rifle-*ku.


“Apalagi ini, kenapa kau mengganti senjatamu?”, Kakek Thompson mengeluh kepadaku.


“Kakek dan aku kan tidak bertaruh bahwa aku harus menggunakan senjata itu”, Aku menjawab.


Kakek Thompson terlihat kesal dan berkata, “Benar juga, baiklah sekarang serang perisainya”.


“Tunggu sebentar, bagaimana dengan apa yang aku minta dari kakek?”, Aku berkata.


“Bukankah sudah jelas jika kamu akan meminta untuk membebaskan tagihan makanmu”, Kakek Thompson berkata.


“Iiiya”, Aku berkata. Sial benar juga bahwa aku masih memiliki tagihan tersebut, padahal tadinya aku juga ingin meminta uang bekal untuk pergi ke ibukota. Hiks hiks hiks.


Lalu aku mengarahkan *Rifle-*ku ke arah perisai tersebut dan menarik pelatuknya.


Dor dor dor…


Aku mengeluarkan tembakanku hingga menembus perisai tersebut. Lalu menatap Kakek Thompson sambil tersenyum Jahat dan berkata, “Hehehe, aku menang”.


Kakek Thompson berkata, “Cu cu curang, kau curang karena mengeluarkan banyak peluru diwaktu bersamaan”.


“Memang beginilah cara kerjanya. Aku hanya sekali menarik pelatuknya, itu seperti melempatkan beberapa anak panah dalam sekali tarikan”, Aku berkata.


Kakek Thompson nampak muram dan berkata, “Kamu benar juga”.


“Baiklah, berarti aku menang dan hutangku kepada Kakek Thompson impas”, Aku berkata. “Ngomong-ngomong kek, dimanakah kantor Organisasi Petualang terdekat?”


“Oh itu, di kota Escala. Menang ada perlu apa kau kesana?” Kakek Thompson berkata.


“Ali ingin menjual ini”, Lalu aku mengeluarkan semua hasil buruanku bersama Sitha dan Pak Einhard.


“Matanya tampak berbinar dan berkata, Aku akan membeli hati goblinnya seharga 200 Koin perak”, Kakek Thompson berkata.


“Hei kek bukankah itu terlalu mahal?”, Aku berkata.


“Jika, aku membelinya dari Organisasi petualang itu bisa seharga 5 koin perak”


Sial ternyata kakek tetap mengambil keuntungan dari hasil buruanku.


“Tidakkah kakek ingin membayarnya lebih? Ayolah kek bukankah aku ini sudah kau anggap seperti cucumu sendiri”, Aku mencoba bernegosiasi.


“Itulah alsannya, apakah kau tidak mau memberi harga murah kepada kakekmu?”, Kakek Thompson menjawab.


Uhuk, ternyata benar juga apa yang dikatakannya. Dasar, ternyata selain seorang penempa dia juga benar-benar seorang pedagang yang ulung.


“Baiklah, jika begitu” Aku menyerahkan semua hati goblin kepada Kakek Thompson. “Kek, Apakah Kakek Tidak ingin membeli barang yang lainnya lagi?”, Aku bertanya.


“Tidak, apakah kau ingin membuat aku miskin. Harganya terlalu mahal sebaiknya kau bawa ke ibukota, mereka akan membelinya dengan harga yang lebih mahal”, Kakek Thompson berkata.


“Baiklah kek jika begitu, aku pamit. Terima kasih telah mengurusku selama ini”, Aku berkata lalu memeluk Kakek dan Kak Brian. Tiba-tiba air mataku menetes ketika berpelukan dengan mereka. Begitu pula dengan mereka.


Waktu yang aku habiskan disini tidaklah sebentar. Banyak sekali kenangan yang aku habiskan bersama mereka. Merforx Blacksmith, adalah tempat aku belajar sekaligus tumbuh dan besar menjadi seorang laki-laki sejati. Susah, senang, sedih dan tawa aku habiskan dengan mereka. Mereka adalah orang yang telah mengajarkanku arti sesungguhnya bagaimana untuk terus berjuang dan pantang menyerah. Terima kasih untuk semuanya. Kalian adalah keluargaku dan Melforx Blacksmith adalah rumah keduaku. Aku harap aku bisa kembali kesini suatu hari nanti.


Lalu kami melepaskan pelukan kami.


“Aku menitipkan ini untuk ibu”, Aku berkata lalu menyerahkan 50 koin perak kepada Kakek Thompson.


“Baiklah”, Kakek Thompson menerima uang titipanku.


Lalu Kakek Thompson dan Kak Brian mengantarkan kami keluar toko dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Ibukota Kerajaan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2