Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 45 (TERUNGKAPNYA IDENTITAS AMADEUS)


__ADS_3

Manusia berjubah tersebut hendak mengangkatku, lalu aku mengambil gas air mata yang ada di dalam tasku.


Rasakan ini.


Lalu ku tarik pemicunya.


Ssshhh…


Asap putih mengepul disekitar kami.


“Oh tidak, mataku… mataku. Tuan muda, apa yang sudah anda lakukan?”


“Jangan khawatir aku hanya membuat matamu terluka”, aku berkata sambil mengeluarkan lendir dari mata, mulut dan hidungku. Meskipun tidak memberikan efek luka bakar seperti Smoke Grenade tapi tetap saja rasanya benar-benar menyakitkan. Jangan bilang bahwa aku sedang berbohong, iritasi adalah salah satu bentuk luka.


“Tuan muda, apakah anda ingin membuat saya buta?”


“Tidak hanya itu, mungkin kau bisa mati (jika, kau memiliki alergi)”, sisanya ku ucapkan dalam hati.


“Tolong berikan aku penawarnya tuan muda”


“Ahh, sayangnya aku tidak membawanya”, sungguh aku tidak membawa air setetes pun. “Jika kau ingin kau bisa menggunakan air di sebuah danau yang terletak di tengah hutan (meskipun kau bisa menggunakan air biasa)”


“Ayo tuan muda kita kesana”, lalu ia mengangkat tubuhku.


“Aku takut kau akan terlambat (kembali ke rumah), bukankah itu berbahaya (Banyak monster diluar sana)? Membawaku hanya akan memperlambat gerakanmu. Sebaiknya kau pergi sendirian”


“Bagaimana dengan anda, tuan muda?”


“Apakah kau merendahkanku?”, aku berkata dengan nada yang ketus.


Ia terlihat sangat panik, lalu berkata, “Maaf tuan muda, aku pergi. Kita pasti akan bertemu lagi?”


“Ya (jelas aku tidak mengharapkannya)”


Lalu ia pergi meninggalkanku.


Ku coba menggerakan tubuhku. Arrgghh ternyata belum bisa, sepertinya aku harus beristirahat sejenak.


Trak… trak… trak…


Terdengar suara langkah kali mendekat ke arahku.


“Amadeus-sama”


Ahhhh tidaakkk, yang datang ternyata orang paling tidak aku harapkan di dunia ini.


“Oh, Rebecca. Tunggu sebentar, aku akan segera bangkit”, aku mencoba menggerakkan tubuhku sekuat tenaga, namun sayangnya ia sedang dalam mode berontak. Tolong, untuk kali ini saja aku mohon bersikaplah kooperatif. Ahhh tidaaakk, ia tidak mau bergerak.


Trak… trak… trak…


Langkah kaki Rebecca semakin mendekat ke arahku.


“Tapi anda sedang terluka Amadeus-sama, biarkan aku membantumu”


“Tidak-tidak, aku masih bisa melakukannya sendiri”, rasa takut mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Sial, apa yang akan terjadi jika ia mengetahui bahwa orang yang dia cari selama ini adalah aku. Mungkin ia akan membunuhku.


Beberapa menit berlalu, kak Rebecca hanya memperhatikan aku yang hanya bisa diam terbujur kaku.


“Amadeus-sama, sepertinya anda tidak bisa menggerakkan badan. Biarkan aku membantumu. Hehe… hehe… hehe…”


Tidaaakkk, apa yang akan dia perbuat kepadaku. Cara bicaranya sangat… sangat… sangat menyeramkan. Tubuhku tolonglah, untuk kali ini saja ikuti kata-kataku.


Tiba-tiba sebuah tangan menempel di pundakku.


Ha…


Aku hanya menahan napas.


“Hehehe”


Tidakkk… tidak-tidak. Ku mohon hentikan.


“Hehehe”


“Rebecca kumohon hentikan Rebecca, ini benar-benar tidak lucu Rebecca”


“Jangan melawan Amadeus-sama, aku hanya ingin membantumu. Hehehe”


Perlahan ia membalikkan tubuhku dan…


“Hhhhaaaaaa”, aku dan ia berteriak bersama-sama lalu ia menjauh dari tubuhku. Ah tidak berakhir sudah, masa mudaku akan benar-benar berakhir. Ingatan sekilas sebelum kematian kembali hadir. Aku teringat bagaimana terakhir kali ia marah terhadapku. Hari-hariku terasa seperti dineraka, bahkan kematian terasa lebih baik daripada dihukum olehnya. Jangan bertanya, karena aku pernah mengalaminya.


Kak Rebecca terlihat sedang berkomat-kamit. Aku tidak tahu apa yang sedang ia katakan. Wajahnya nampak bingung, bahkan bola matanya tidak bisa berhenti bergerak kesana kemari.


“Tidakkkk!”, teriak kak Rebecca lalu ia bangkit dan berlari menuju kota.


“Oh ternyata begini caranya, aku tidak menyangka bahwa kau benar-benar kejam”


Seketika kak Rebecca berhenti ketika mendengar ucapanku dan berkata, “Aaaa… apa?”, lalu ia berbalik badan dengan gerakan yang sangat kaku. “Apa maksud dari ucapan anda, Aaaa… Amadeus-sama?”, sambungnya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Panggil saja Andra seperti biasa”

__ADS_1


“Tidaaaakkkk!”, kak Rebecca berteriak histeris.


“Oke… oke, panggil saja aku Amadeus. Apakah kau berencana untuk membunuhku dengan menjadikan aku makanan monster?”, aku bertanya.


“Ti… tidak, Amadeus-sama. Bukankah Anda ingin melakukannya seorang diri?”, ia berkata sambil menunduk dan memainkan kakinya diatas tanah.


Ti… tidak, tolong hentikan… tolong hentikan Rebecca-sama. Jadilah dirimu yang kejam seperti biasanya, jika seperti ini kau tampak imut seperti gadis pada umunya. Bisa-bisa aku jatuh cinta kepadamu. Seseorang ku mohon, hentikan dia.


“Bukankah kau tadi yang memaksa untuk membantuku, sekarang tolong aku”, lalu aku menyodorkan tanganku kepadanya.


“Awawaawa”, kak Rebecca tampak gemetaran ketika hendak menggapai tanganku, wajahnya juga tampak memerah karena hal tersebut. Aduh, apa yang sedang dia pikirkan? Untuk membantuku berdiri saja membutuhkan waktu lama.


Akhirnya ia berhasil menggapai tanganku.


Brukkk…


Dan ia pun jatuh pingsan.


Ya, ampun. Sekarang apa yang harus aku lakukan?


Aku hanya bisa terbaring dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Melihat sorot mata dan mendengar suara monster yang menggeram benar-benar menakutkan, apalagi dalam kondisi tidak berdaya seperti ini. Aku hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka.


Anehnya mereka tidak berani mendekat, padahal disini terdapat dua orang manusia yang seharusnya memiliki hawa keberadaan yang kuat. Mungkin mereka takut dengan keadaan mayat iblis yang ada di depan mereka. Meskipun ia sudah mati, tetapi aura kejahatannya masih terasa mengintimidasi.


Trak… trak… trak…


Terdengar suara langkah kaki yang memecah keheningan malam. Aduh, siapa lagi yang datang?


“Andra”


“Pak Einhard”


Untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur bertemu dengannya.


“Jangan bilang kau tak bisa bergerak?”


“Ya”


“Hahahaha”, Pak Einhard tertawa terbahak-bahak bahkan hingga ia terjatuh di lantai dan mengeluarkan air mata, “Kau benar-benar berantakan”, sambungnya.


Wasem…


Aku cabut kembali kata-kataku. Bertemu dia saat aku dalam posisi yang menyedihkan adalah momen paling mengerikan.


Lalu, aku mencoba bangun.


“Hoi hentikan, biarkan tubuhmu beristirahat sejenak. Jika tidak, kau akan sulit untuk pulih”, lalu ia melihat ke arah kak Rebecca, lalu berkata, “Ngomong-ngomong apa yang terjadi pada Rebecca?”


“Terguncang kenapa?”


“Petualang yang ia kagumi ternyata aku”


“Terus masalahnya dimana?”


“Masalahnya aku telah menipunya, begini ceritanya… (aku menceritakan sejarah bagaimana aku bisa bergabung dengan Komite Disiplin)”


“Hahaha”, Pak Einhard kembali tertawa terbahak-bahak, lalu ia berkata, “Kau benar-benar sudah kelewatan”


Guru macam apa ini, bukankah dia seharusnya memarahiku?


“Terus apa yang harus aku lakukan?”


“Aku tidak tahu, itu bukan urusanku”, Pak Einhard berkata sambil menahan tawa.


“Itu bukahlah sesuatu yang pantas dikatakan seorang guru”


“Dan itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan seorang murid”


Uhuk… perkataanya benar-benar menusuk ke jatungku.


Tak lama kemudian, tenagaku telah kembali pulih sehingga aku bisa duduk di samping Pak Einhard. Wajah Pak Einhard tampak serius melihat ke arah Bodolf, lalu ia berkata, “Apakah kau yang melakukannya?”


“Ya, tapi aku tidak sendirian?”


“Rebecca yang membantumu?”


"Bukan, seorang misterius yang menggunakan jubah telah membantuku”


“Siapa dia?”, Pak Einhard menghadapkan wajahnya ke arahku, ia nampak serius ketika aku menceritakan orang tersebut.


“Aku tidak tahu, yang jelas ia adalah dalang dari semua kerusuhan ini dan juga seorang yang mengincarku”


“Lalu apa yang akan kau lakukan?”


“Aku sadar, aku masih belum memiliki kekuatan. Satu-satunya cara adalah aku harus memperkuat Kerajaan Stacia”


“Bagaimana caranya?”


“Aku harus menemui raja”


Tiba-tiba kak Rebecca terbangun.

__ADS_1


Ia melihat ke arahku dan juga pak Einhard lalu berkata, “Amadeus-sama… Pak Einhard, apakah kalian menungguku?”


“Ya, kamu sedang menunggumu”, jawabku


“Kenapa dengannya? Bukankah tadi kau bilang ia sudah mengetahui identitasmu?”, Bisik Pak Einhard.


“Sepertinya ia mengalami amnesia karena terguncang”


“Berarti kau harus bertanggung jawab”


“Bagaimana caranya?”


“Nikahi dia”


“Tidak terima kasih, aku sudah cukup kerepotan dengan masalah yang ditimbulkan oleh Alicia dan Sitha”


“Tapi coba kau perhatikan, bukankah dia cukup manis ketika seperti ini?”


“Ya, harus aku akui”


“Berarti tidak ada masalah”


“Hah?”


“Rebecca, apakah kau bersedia menikahi Tuan Amadeus?”


“Aaaa… apa yang Pak Einhard katakan?”


“Inilah Amadeus yang sebenarnya”, lalu Pak Einhard membuka tudung yang baru aku pergunakan.


“Tidaaakkkk”


Kak Rebecca pun kembali pingsan.


Pak Einhard hanya memegang dagu dan mengangguk-angguk kepalanya lalu berkata, “Sepertinya perkataanmu benar?”


“Apa yang Pak Einhard lakukan?”


“Jangan khawatir dia harus menghadapi traumanya agar bisa sembuh”


Ah benar juga apa yang Pak Einhard katakan.


“Mengapa Pak Einhard tidak melakukannya kepada diri sendiri?”


“Aku memang tidak berniat untuk melakukannya”, singkat Pak Einhard dengan serius.


Tiba-tiba Kak Rebecca bangun dan melihat ke arah kami berdua.


“Aaaa… apa yang kalian lakukan?”, Kak Rebecca berkata.


“Inilah Amadeus sebenarnya”, Pak Einhard kembali membuka tudungku.


Tenggg… kak Rebecca hanya tertunduk dengan wajah yang memerah padam.


“Benarkan?”, bisik Pak Einhard.


Aku menganggukkan kepala dan mengacungkan jempol ke arahnya sambil berkata, “Hoh, mantap”


“Rebecca, aku ingin meminta bantuanmu”


“Aaaa… apa Pak Einhard?”


“Tolong bawa Andra untuk melapor ke Organisasi Petualang”


“Ti… Ti… Tidaaakkkk”, kak Rebecca berteriak sambil berlari meninggalkan kami berdua.


“Bagaimana ini Pak Einhard?”


“Kau harus kesana sendirian”


“Bukan itu, ini tentang identitasku sebagai Amadeus?”


Pak Einhard menganggukkan kepala sambil mengacungkan jari dan berkata, “Hoh, tinggal kau pikirkan”


Wasem… dia benar-benar tidak mau membantuku.


Berikan lencana dan tasmu.


Aku pun melempar lencana dan tasku ke arah Pak Einhard.


Pak Einhard bergerak mendekati mayat Bodolf lalu mengarahkan lencanaku ke padanya. Terlihat sebuah cahaya keluar dari sana, seperti ada tulisan sihir didalamnya. Lalu Pak Einhard membersihkan kulit, tulang, cakar dan gigi Bodolf. Aneh, padahal tidak ada satu pun hewan yang memakannya, mengapa tidak ada daging yang tersisa?


“Buatlah perlengkapan dengan itu, kau tidak akan mudah terluka seperti sekarang”, Pak Einhard berkata.


“Baiklah”, aku berkata sambil menganggukkan kepalaku.


Lalu, aku berangkat menuju Kantor Organisasi Petualang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2