Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 41 (HILANGNYA KEPERCAYAAN)


__ADS_3


“Seluruh pasukan bersiap ditempat”


Aku membagi pasukan menjadi 3 Resimen. Resimen pertama berjumlah 4600 pasukan yang terdiri dari pasukan bertombak, pedang dua tangan dan pengguna pedang perisai. Mereka adalah pasukan garis depan yang bertugas menghalau monster untuk mendekat. Resimen tersebut aku bagi menjadi empat batalyon yang ditempatkan dua didepan dan dua dibelakang yang masing-masing batalyon terdiri dari 1150 pasukan.


Resimen kedua berjumlah 3224 orang yang terdiri dari pengguna pisau dan pedang satu tangan. Resimen tersebut aku bagi menjadi 8 Batalyon yang masing-masing batalyon terdiri dari 403 pasukan.


Aku menempatkan mereka di belakang resimen pertama. 2 untuk memancing musuh. 1 Batalyon untuk mengevakuasi prajurit yang terluka, 1 batalyon untuk penyambung informasi dan 4 batalyon bergiliran untuk membantu serangan serangan atau sebagai pasukan bertahan apabila monster mencoba menyerang regu penembak.


Resimen terakhir berjumlah 2026 pasukan yang terdiri dari pengguna sihir jarak jauh, pemanah, sihir tanaman atau pengguna sihir penyembuh. Aku membagi mereka menjadi 6 batalyon yang terdiri dari 4 batalyon penembak yang terdiri dari pengguna sihir jarak jauh dan pemanah yang berjumlah masing-masing 324 orang. 1 Batalyon pengguna sihir pengikat yang berjumlah 411 orang dan 1 batalyon pengguna sihir penyembuh yang berjumlah 319 orang.


Dengan kata lain kami memiliki 9850 orang. Sial, berarti aku hanya memiliki setengah dari total petualang yang ada di Kerajaan Stacia. Benar-benar mengerikan.


“Resimen 2 Batalyon 1 satu pancing musuh”


“Yes, sir”


Sring…


Mereka menghilang seperti ninja.


“Resimen 2 Batalyon 3 kirim orang untuk berkoordinasi dengan prajurit kerajaan dan cari informasi monster”


“Yes, sir”


Terdengar suara pekikan orang-orang serta raungan monster yang terjadi dimana-mana. Seluruh kota telah menjadi medan perang, namun kami tidak bisa melakukan apa-apa. Bergerak terpisah hanya akan menyebabkan masalah, apalagi kami tidak mengetahui monster apa saja yang menyerang kota.


Saat ini kami bertugas untuk mengamankan tempat evakuasi yang berada di kantor organisasi petualang. Serta dua tempat lainnya, yaitu Akademi Stacia dan juga Markas Utama Kesatria dilindungi oleh pasukan kerajaan.


“Lapor tuan, Markas Utama Kesatria diserang oleh Goblin dan juga Hog. Mereka meminta untuk dikirimkan bantuan”


“Berapa perkiraan monster yang menyerang?”


“Sekitar 1200 ekor”


“Tolak, bilang kita kekurangan orang”


Tiba-tiba seorang pria gendut dengan baju zirah datang kepadaku.


“Siapa pemimpin disini?”


“Saya, Tuan”


“Apa maksudmu dengan tidak memberikan bantuan?”


Drud… drud… drud…


Terdengar suara langkah kaki yang berkerumun datang dalam jumlah yang sangat besar.


“Lapor tuan, monster yang dipancing sudah tiba”


“Katakan jenis dan jumlah mereka”


“Hog yang berjumlah sekitar 3000 ekor dan  Great Hog sekitar 120 ekor.


“Perintahkan Resimen Satu Batalyon 3 untuk bergerak 100 meter ke kiri dan batalyon 4 bergerak 100 meter ke kanan, lalu maju kedepan. Perintahkan juga resimen 2 dari batalyon 1 dan 2 yang berada di belakang resimen satu batalyon 3 dan 4 untuk mengikuti gerakan dari Batalyon sebelumnya. Sedangkan Resimen satu batalyon 1 dan 2 membentuk posisi V ke belakang mengisi posisi yang ditinggalkan oleh resimen 2 batalyon 1 dan 2. ”


“Yes, sir”


“Hei bocah, kenapa kau mengacuhkanku?”, Ksatria tersebut terlihat marah.


Tiba-tiba kak Rebecca mengepalkan tangannya dan hendak mengambil langkah maju, namun aku tahan.


Drud… drud… drud…

__ADS_1


Jarak hog dan Great hog hanya berjarak 100 meter.


“Bersiap”, aku memberikan komando


Dret… Dret…


Pasukan pengguna prisai yang membentuk huruf V dalam posisi bertahan. Pasukan penombaknya mengarahkan tombak dari celah-celah prisai dan sisanya mengarahkan tombak ke atas membentuk seperti ekor landak.


Drud… drud… drud…


Suara langkah kaki hog dan great hog semakin mendekat.


Jos… jos… jos…


Beberapa hog jatuh tertombak dan sisanya mencoba melebar.


“Perintahkan Pasukan senjata ringan dari sayap kiri dan kanan untuk bertahan. Dorong monster untuk tetap berada di tengah”


“Yes, sir”


Drud… drud… drud…


Beberapa hog dan menaiki mayat monster yang sudah mati, namun sayang mereka tertusuk tombak yang mengarah ke atas. Disisi lain beberapa hog berhasil melarikan diri.


“Perintahkan pasukan ringan yang berada di jantung pertahanan untuk menghalau musuh mendekati regu penembak”


“Yes, sir”


Terlihat posisi dari monster dan petulang saring tertahan sehingga tidak bisa menusuk satu sama lain.


“Untuk seluruh regu penembak. Bersiaplah… Tembak”, teriakku.


Tiba-tiba, bola api, panah dan tombak es dan elemen lainya mengarah tepat ke tengah.


Booommm…


“Ada yang bisa saya bantu tuan?”, aku bertanya kepada kesatria tersebut.


Ia nampak terkejut dengan apa yang kami lakukan dan pergi meninggalkan halaman kantor gedung organisasi petualang.


“Luar biasa”, seorang wanita berkata. Lalu ia berteriak, “Yeah”


“Yeah”, disambut oleh seluruh pasukan.


*****


Petang sudah menjelang, semua orang tampak kelelahan namun dari sorot mereka masih terpancar api semangat untuk terus berjuang. Kemenangan demi kemenangan membawa mereka untuk tetap optimis bahwa cepat atau lambat semuanya akan berakhir. Hanya tinggal beberapa jam lagi hingga segel monster yang dibuat oleh pihak kerajaan bisa diselesaikan.


Tiba-tiba seseorang berlutut dihadapanku, “Lapor tuan, kita kehilangan kontak dengan resimen 2 batalyon 6”


“Kirimkan pasukan pencari”


“Yes, sir”


Lalu, datang seseorang lain datang kepadaku dan berkata, “Lapor tuan, resimen 2 batalyon 7 terluka akibat serangan monster. Untungnya mereka berhasil di evakuasi”


“Apa penyebabnya?”


“Mereka diserang Goliath”


Sial, ternyata ini alasannya mengapa hanya monster lemah yang datang. Aku teringat ucapan ayah bahwa monster-monster lemah adalah makan monster yang lebih kuat. Jika monster lemah sebanyak ini berhasil datang ke dalam ibukota kerajaan berarti monster yang lebih kuat akan datang. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa Goliath yang akan datang.


Goliath adalah salah satu boss monster level menengah tingkat atas yang biasanya dilawan oleh para pemegang lencana Platinum keatas saat melaksanakan raid mosnter. Goliath adalah boss monster yang berevolusi dari Giant Ogre.


Jika Ogre biasa hanya setinggi 2-3 meter, maka Giant Ogre bisa mencapai 5-7 meter sedangkan Goliath bisa mencapai tinggi 11-15 meter. Meskipun kita memiliki jumlah pasukan yang banyak tetapi mereka hanya terdiri dari para pemengang lencana platinum kebawah. Benar-benar gawat.

__ADS_1


“Minta bantuan kepada kesatria kerajaan yang berada di Markas Besar Utama atau di Akademi Stacia dan jangan beritahu siapapun”


“Yes, sir”


Bummm… bummm… bummm…


Terdengar suara langkah kaki hingga membuat seluruh tanah bergetar. Makin lama suara tersebut terdengar makin jelas. Sial, sepertinya ia sedang mengarah kemari.


Whoaaa….


Terdengar suara teriakan monster yang sangat besar yang tepat berada di hadapan kami.


“Lapor tuan, pasukan dari Markas Besar Utama menolak untuk membantu?”


“Apa?”, sepertinya kesatria gendut tersebut merasa dendam denganku, “Lalu, bagaimana dengan Akademi Stacia?”


“Mereka juga tampak kesusahan melawan Leviathan. Mereka akan mengirimkan bantuan dalam dua jam”


Sial, benar-benar gawat.


“Wah… wah… wah…”, seluruh pasukan nampak ketakutan.


“Pertahankan posisi kalian”


“Apakah kau sudah gila, kami terus-terusan mempertaruhkan nyawa di garis depan sedangkan kau hanya bersantai-santai dibelakang”, seorang laki-laki berkata dan semua orang lari kesana kemari tak tentu arah.


Aku benar-benar marah dengan perkataan pria tersebut. Andaikan aku bisa bertarung, akulah orang yang akan bertarung di garis paling depan.


“Rebecca, serahkan komando kepadamu”


“Apa yang hendak Amadeus-sama lakukan?”


Acceleracion…


Aku berlari dengan sekuat tenaga.


Acceleracion…


Aku pun melompat hingga tepat berada di depan hidung Goliat.


Acceleracion…


Krek…


Dengan seluruh amarahku aku mengarahkan tinjuku ke arah hidungnya, lalu aku pun jatuh kebawah. Namun bahu dan lenganku terjadi dislokasi karena kekuatan yang berlebihan. Rasanya benar-benar sakit. Mungkin inilah alasan mengapa Pak Einhard melarangku menggunakan kekuatanku secara berlebihan, membuat diriku hancur berkeping-keping.


Saat beberapa centi sebelum menyetuh tanah.


Teleportation…


Akhirnya aku bisa mendarat dengan sempurna.


“Ikat”, Rebecca berkata, "Tembak", sambungnya.


Lalu aku menjentikkan jariku.


Boommm…


Sebuah ledakan terjadi tepat di hadapanku.


Semua orang melihat ke arahku lalu aku berbalik dan berkata, “Sudah aku katakan, ikuti apa yang aku perintahkan. Jika melawan Goliath saja takut, jangan harap orang-orang dengan tekad lemah seperti kalian akan berada di puncak”, Lalu aku berjalan sambil meringis karena menahan rasa sakit di bahuku. Tiba-tiba seseorang menuntunku untuk membawa ke tempat asalku.


Dret… Dret…


Seluruh orang kembali ke posisinya semula, lalu seseorang dari mereka berkata, “Tolong berikan kami perintah tuan”

__ADS_1


 


 


__ADS_2