Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 22 (KESALAHPAHAMAN)


__ADS_3

Aku memang sudah menduganya namun aku tidak menyangka bahwa aku akan berada rangking paling rendah di sekolah. Aneh memang, kemampuan teoriku menjadi juara umum namun yang menjadi masalah adalah kemampuan praktekku.


Alhasil nilai penempatanku kelasku adalah Teori A, Kemampuan Sihir D dan Kemampuan Bertempur D. Wajar saja ini bisa terjadi karena aku tidak boleh menggunakan senjataku sendiri. Aku tidak tahu apakah ini semacam diskriminasi bagi orang yang bisa mengembangkan senjatanya sendiri ataukah konsep kesetaraan tanpa diskriminasi yang sering dikatakan orang-orang. Tujuannya adalah agar semua orang bisa memiliki akses pendidikan berdasarkan kemampuan bukan kekayaan. Namun apapun alasannya, penyeragaman standar kompetensi yang harus dimiliki setiap siswa adalah sesuatu yang mengerikan.


Dunia pendidikan adalah cerminan kehidupan masyarakat. Kalian akan menemukan banyak sekali kontradiksi di dalam dunia pendidikan. Contohnya Akademi Stacia, dalam ujian masuk kalian seolah-olah diseleksi berdasarkan hasil murni dari ujian, namun saat upacara penerimaan siswa baru orang dengan nilai terendah seisi sekolah sepertiku berada dibarisan paling belakang sedangkan murid dengan nilai tertinggi seperti Alicia Pendragon memberikan sambutan didepan podium. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi?


Mengapa tidak sebaliknya, mengapa siswa dengan nilai terendah sepertiku yang berada di atas podium?


Bukankah usahaku sebagai seorang anak paling tidak berpotensi seisi sekolah adalah yang paling layak diapresiasi? Harusnya orang-orang berbakat termotivasi dengan usaha orang paling tidak berbakat sepertiku. Bahwa semboyan mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin adalah hal yang paling cocok disematkan kepada orang sepertiku.


Ah sudahlah, semakin aku terlalu banyak mengeluh semakin aku terlihat cengeng. Toh duduk dibelakang juga ada keuntungannya sendiri. Aku bisa tidur dengan nyenyak. Sungguh, tertidur saat melalukan hal yang tidak aku sukai ternyata bisa seenak ini. Tiba-tiba ada seseorang wanita yang membangunkanku.


“Syailendra, Syailendra, bangun Syailendra”, Wanita tersebut berkata.


“Iya kenapa, apa aku ada di akhirat?” , Aku menjawab.


Aku melihat seorang wanita cantik berambut putih sebahu yang sedang mencoba membangunkanku. Posisi ia berada tepat berada disampingku.


“Hah apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa seseorang tertidur saat raja memberikan pidato. Sepertinya namamu dipanggil raja”, Jawabnya dengan Sinis


“Apa?”, Aku merasa kaget mendengar jawabannya.


Gawat, aku tidur disaat seperti ini. Sial, kenapa hanya aku yang bernama Syailendra disini. Seseorang, tolong bangkitlah dan jangan biarkan Raja Arthur mengganggu tidurku.


Seluruh orang di akademi melihat ke arahku. Aku pasti dicap sebagai anak paling bermasalah di Akademi, tertidur saat Raja memberi pidato. Ah tidak, masa mudaku sudah berakhir.


“Syailendra, manakah anak yang bernama Syailendra”, Raja Arthur berkata sambil menoleh ke arah kanan dan kiri.


“Saya Raja Arthur”, Aku menjawab lalu aku pun bangkit dari kursiku.


“Kenapa kamu duduk di barisan paling belakang?”, Raja Arthur bertanya dengan penuh keheranan.


“Karena saya anak paling tidak berbakat di akademi, hahaha”, Aku menjawab lalu tertawa, tapi ku lihat suasana disekitarku hening. Yang paling parah adalah semua orang menatapku dengan penuh kebencian. Sial, aku pasti akan dianggap anak paling bermasalah diakademi.


“Hahaha, serius?” Raja Arthur berkata sambil tertawa seolah tidak percaya bahwa aku duduk di barisan paling beralakang.

__ADS_1


“Tempat duduk saya adalah bukti bahwa saya adalah anak dengan nilai ujian penempatan kelas paling rendah di sekolah”


“Bagaimana mungkin orang yang mengalahkan prajuritku bisa duduk di barisan paling belakang?”


“Ada tiga kemungkinan, kemungkinan pertama adalah karena aku bolos sekolah selama 7 tahun. Kemungkinan kedua adalah karena aku salah mengembangkan bakat bertarungku. Atau kemungkinan ketiga karena sekolah ini tidak cocok dengan cara bertarungku”


“Hahaha, kamu anak yang lucu. Ternyata kecerdasanmu masih saja tidak berkurang. Aku jadi benar-benar berharap banyak padamu”, Raja Arthur menjawab sambil tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia berkata, “Terserahlah, apapun hasilnya, perjodohanmu dan Alicia akan tetap berjalan”


“Hah?”, Seisi sekolah berkata karena kaget mendengar perkataan Raja Arthur, termasuk aku. Bagaimana mungkin orang yang paling berbakat seisi sekolah bisa bertunangan dengan orang yang tidak berbakat sepertiku.


Aku melihat ke arah Alicia yang berada dipodium tepat berada disisi Raja Arthur. Wajahnya memerah dengan setitik air mata di ujung kelopak matanya, sepertinya perasaanya bercampur aduk antara malu, ingin menangis dan marah. Apalagi aku adalah seorang rival yang paling ia benci seisi sekolah. Apapun alasannya aku tidak peduli. Masa mudaku sudah benar-benar hancur saat ini.


*****


Upacara pembukaan telah selesai, saat ini seluruh orang di akademi membicarakan kami berdua. Bukan hanya aku tapi juga Alicia. Mereka menganggap bahwa aku tidak layak berjodoh dengan Alicia. Jujur saja aku juga menganggap seperti itu, apalagi dia adalah anak manja yang senang mengadu kepada kakeknya. Bahkan saat ini, aku yakin bahwa dia sudah mengadu pada kakeknya tentang masalah diantara kita berdua.


Waktu setelah upacara pembukaan tahun ajaran baru adalah waktu senggang dimana seluruh siswa diperkenalkan dengan lingkungan sekolah. Seluruh siswa berbaris berdasarkan kelas masing-masing. Aku melihat Sitha dan Alicia nampak akrab dengannya teman-teman sekelasnya, mungkin mereka mengaguminya karena mereka adalah dua dewi yang menghuni peringkat teratas seisi sekolah.


Di sisi lain semuanya berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Semua orang memandangku dengan tatapan penuh kebencian seolah-olah ingin membunuhku. Oh tidak, aku ingin mati saja.


“Hei Syailendra. Giilllaa. Kamu benar-benar keren, hahaha Bagaimana kamu bisa berbicara sesantai itu dengan raja? Oh iya perkenalkan aku Hercules”, Seorang Pria yang tinggi dan kekar berkata padaku. Ia berbicara dengan sangat keras dan merangkulku seolah-olah kami adalah teman baik. Hei kamu siapa, aku tidak kenal. Pergi sana.


Aku tidak tahu apakah dia bodoh atau tidak waras. Saat seluruh orang memusuhiku, dia malah datang menghampiriku dan bertindak bahwa kami sudah saling kenal. Ah sudahlah, lebih baik begini daripada aku harus hidup selama tiga tahun tanpa mempunyai seorangpun teman.


“Hah? bukankah dia tampak idiot sampai berani tidur di hadapan raja”, Seorang wanita berambut putih menyela.


“Justru itu adalah bagian yang paling epic, hahaha. Aku Hercules. Siapa namau?”, Pria tersebut berkata lalu mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut.


Bagus Gori, mulai sekarang kamu adalah temanku. Kamu benar-benar Gorilla sungguhan, mudah bersahabat dengan siapa saja.


“Natasha”, ia pun menyambut tangan Gori.


“Oh berarti kita sekdelas ya Tasha?”, Aku bertanya padanya.


“Bukankah sudah jelas. Apakah kau benar-benar bodoh”, Natasha berkata dengan wajah yang terlihat kesal kepadaku.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya hingga ia tampak kesal kepadaku. Apakah aku sudah berbuat kesalahan.


“Berarti kamu adalah salah satu orang paling tidak berbakat di sekolah, hahaha”, Aku berkata.


“Hah?”, Natasha berkata lalu menatapku dengan tatapan membunuh.


“Hahaha, Andra kamu memang bodoh. Belum apa-apa sudah memberikan kesan yang buruk pada seorang wanita”, Gori berkata.


“Diam kau Gori (aku tidak mau disebut bodoh oleh orang bodoh sepertimu)”, Aku berkata.


‘Hahaha, maaf-maaf”, Gori meminta maaf kepadaku.


Saat ini kami bertiga mengikuti rombongan kelas berkeliling sekolah untuk melihat apa saja club yang bisa kami ikuti. Tiba-tiba Sitha berdiri didepanku.


“Andra”, Sitha berkata sambil menundukkan kepala.


“Kamu mengenalnya?”, Gori bertanya.


“Iya aku mengenalnya”, aku menjawab.


“Hm… Wah cantiknya, perkenalkan aku Natasha”, Natasha berkata sambil memandang ke arah Sitha seolah-olah ia sangat mengaguminya.


“Kamu juga cantik, aku Sitha” Sitha memuji kembali Natasha. Aku merasa heran kenapa wanita senang sekali saling memuji, padahal jika laki-laki yang melakukannya akan dianggap menjijikan.


“Kalungnya sangat indah. Sitha apakah kau sudah bertunangan”, Tanya Natasha dengan penuh rasa penasaran sambil memandangi kalung Sitha.


“Hm, aku dan Andra sudah bertunangan”, Sitha menjawab.


“APA??? KALIAN SUDAH BERTUNANGAN!!”, Gori dan Natasha berteriak dengan sangat keras hingga membuat orang-orang melihat ke arah kami.


Sial, hidupku akan semakin runyam gara-gara kesalahpahaman ini. Bahkan aku tidak tahu bahwa memberikan sebuah kalung pada seorang wanita adalah mengajukan pertunangan. Pantas saja Kakek Thompson berkata bahwa aku sudah menjadi laki-laki sejati bahkan hingga membuat Kak Brian iri. Berarti ini maksud dari ucapannya.


Seluruh mata laki-laki menuju ke arahku, seolah-olah mereka benar-benar ingin membunuhku. Bagaimana tidak, dua dewi di sekolah ini sekarang menjadi tunanganku gara-gara sebuah kesalahpahaman.


 

__ADS_1


 


__ADS_2