
[Alika]
Aku tidak tahu dimanakah Andra berada. Meski ia sering pulang terlambat namun tidak biasanya ia belum pulang selarut ini. Aku takut ia berada dalam bahaya. Masih teringat dengan jelas di ingatanku apa yang terjadi dengan Andra dan Mahesa 7 tahun lalu. Jujur aku memiliki firasat buruk tentang Andra malam ini. Kamu ada di mana nak, pulanglah ibu khawatir menunggumu dirumah.
Tadi aku mengunjungi Einhard untuk bertanya tentang keberadaan Andra, namun ia berkata bahwa Andra akan baik-baik saja. Ia tidak terlibat dengan hal-hal yang berbahaya. Apapun alasannya, seorang ibu akan merasa khawatir jika anaknya belum pulang selarut ini. Aku sudah mencarinya berkeliling desa namun tak ada seorangpun yang melihatnya. Apakah ia pergi ke hutan seorang diri? Rasanya tidak mungkin, ia sudah berjanji tidak akan melakukan hal berbahaya seperti itu lagi.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 14. Seperti biasanya, aku ingin merayakan ulang tahunnya. Apalagi sepertinya tahun ini adalah tahun terakhir aku bisa bersama dengannya.
Orang tua lebih mengenal anaknya melebihi ia mengenal dirinya sendiri. Aku merasa bahwa Andra akan pergi belajar ke ibukota.
Jika aku bisa memilih, aku akan memilih ia untuk tinggal disini. Meski kami serba kekurangan namun ia akan hidup dengan aman dan damai. Namun sebagai orang tua aku hanya bisa mengawasinya. Apapun keputusan yang ia ambil, aku hanya bisa mendukungnya. Hidup Andra adalah miliknya.
Untungnya malam ini aku tidak merasa kesepian, ada Sitha yang menemaniku dirumah. Ia adalah seorang anak yang baik dan cantik. Aku pikir bahwa Andra dan Sitha adalah pasangan yang cocok, namun anehnya aku tidak pernah sekalipun mendengar Andra bercerita tentang Sitha.
Aku sedikit heran dengan Andra, bagaimana mungkin ia tidak tertarik dengan Sitha. Padahal seluruh pemuda di desa berlomba-lomba mendekatinya. Apakah ia tidak tertarik dengan wanita? Jujur aku sedikit merasa khawatir. Apalagi tahun depan dia berusia 15 tahun, dengan usianya, sebetulnya ia sudah cukup usia untuk menikah.
Saat ini aku merasa tidak enak dengan Sitha karena sering terlalu sering merepotkannya. Apalagi beberapa tahun ini Andra sering terlambat pulang. Aku benar-benar tidak tahu apa yang ia lakukan akhir-akhir ini. Dasar Andra, dengan ibunya sendiri ia tidak peka.
“Tante ini sudah larut malam, Sitha harus pulang”
“Jangan nak, tante merasa kesepian”
Aku memeluknya agar ia tidak pulang
“Sepertinya Andra sebentar lagi akan pulang”
“Tante memiliki firasat buruk mengenai Andra malam ini”
“Andra akan baik-baik saja tante, dia tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya”
“Tante serius nak, tante merasa bahwa apa yang terjadi 7 tahun lalu akan terulang lagi”, Tanpa sadar aku meneteskan air mata.
“Tapi Sitha belum meminta izin ke kakek. Sitha takut kakek akan merasa khawatir”
“Tadi Tante sudah meminta izin bahwa kamu akan menginap disini”
“Baiklah tante, malam ini Sitha akan menemani tante”
“Terima kasih nak”
Aku memeluknya lebih erat
Jujur, aku ingin sekali Sitha hidup bersama dengan Andra. Aku merasa sangat cocok dengan Sitha. Aku yakin Sitha akan menjadi seorang istri yang baik untuk Andra. Aku jadi penasaran bagaimana perasaan Sitha kepada Andra.
“Menurut Sitha, Andra itu bagaimana?”
“Heeehhhh, maksud tante?”
Ku lihat wajahnya memerah. Sepertinya ia memiliki perasaan pada Andra. Hhmm dasar anak gadis, selalu malu-malu saja. Sepertinya aku harus sedikit menggodanya. Pasti akan menyenangkan.
“Hmmm”, Aku bergumam sembari memasang wajah curiga.
“Andra anak yang baik Tante, dia tidak suka macam-macam ha ha ha”, Sitha menjawab malu-malu tertawa terbata-bata. Wajahnya memerah sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Hmm, sebagai seorang laki-laki, tante pikir Andra sedikit tampan. Apakah kamu tidak menyukai Andra?”
“Hmmm”, Sitha hanya bergumam, wajahya terlihat berwarna merah padam lalu menundukkan pandangannya untuk menutupi rasa malunya.
“Baiklah tante dukung, tapi setelah itu menikahlah dengan Andra”, Akupun mengepalkan tangan untuk memberinya semangat.
“Heeehhh”
Hahaha, wajah Sitha sangat merah. Ia bahkan seperti hendak menangis karena menahan malu. Haahhh, ternyata menggoda anak gadis sangat menyenangkan. Sepertinya Sitha benar-benar menyukai Andra. Sebenarnya apa sih yang Andra pikirkan, ayah dan anak sama saja, sama-sama tidak peka.
Tok… tok… tok…
“Alika cepat buka pintunya”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Lantas aku berdiri dari tempat dudukku. Dari cara Einhard mengetuk pintu, aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Apakah ini menyangkut Andra. Ku buka pintu rumahku.
“Andra. Apa yang terjadi pada Andra, Einhard?”, Tanyaku kepada Einhard.
Einhard menjawab, “Nanti aku jawab, sekarang izinkan kami masuk. Andra dalam keadaan kritis. Cepat bersihkan tubuhnya”, Einhard menyadari keberadaan Sitha di rumah kami, lalu ia berkata, “Sitha tunggu disini, kami membutuhkan bantuanmu”
“Hmm”, Sitha mengangguk sebagai tanda bahwa ia menyetujui permintaan Einhard.
Aku dan Einhard pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh Andra. Apa yang telah terjadi pada Andra, mengapa badannya dipenuhi kotoran? Aku membasuh dan menyingkirkan seluruh kotoran dari badannya. Aku tidak menyangka bahwa Andra akan terluka separah ini.
__ADS_1
Badanku terasa lemas saat mengetahui keadaan Andra yang sesungguhnya. Apa yang terjadi padamu nak, kenapa kamu bisa terluka separah ini? Awas saja, jika kamu bangun ibu akan memarahimu.
*****
[Alika]
Akhirnya kami selesai membersihkan seluruh tubuh Andra. Aku dan Einhard hanya bisa memberikannya sebuah celana pendek karena seluruh badannya dipenuhi luka. Kamipun membawanya Andra kembali ke kamarnya, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
“Sitha, tolong sembuhkan tubuh Andra”
“Baik, Pak”
Sitha mengarahkan kedua tangannya ke Andra.
“Heal…”
Cahaya hijau memenuhi tangan Sitha. Seketika luka Andra tersebut tertutup.
“Terima kasih sayang”, Aku berkata kepada Sitha sambil memeluknya karena bersyukur ia masih ada disini, lalu aku melihat ke arah Einhard dan berkata, “Einhard mengapa Andra masih pingsan?”
“Lukanya sangat parah, ia terlalu banyak kehilangan darah”
“Kenapa ia bisa terluka seperti ini?”
“Sepertinya ia diserang oleh sekelompok bandit, karena luka yang ada ditubuhnya adalah luka sayatan. Bukan luka cakaran apalagi luka gigitan”
“Bagaimana mungkin dia bisa diserang oleh bandit, bukankah desa ini sangat aman akhir-akhir ini?”
“Sepertinya ia diserang di jalur yang menghubungkan antara desa kita dengan desa Schmiede”
“Bagaimana mungkin dia ada disana?”
“Dia sedang belajar membuat senjata di desa Schmiede”
“Apa, bagaimana kamu bisa tahu Einhard?”, Aku merasa kaget bagaimana mungkin Einhard tahu bahwa Andra menuju desa Schmiede
“Aku tahu karena ia ingin mencari seorang guru yang bisa mengajarkannya menjadi seorang pandai besi. Dan ia meminta izin kepadaku untuk tidak bersekolah selama ia belajar menempa.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku Einhard”
“Aku pikir ia tidak pulang selarut ini. Jalur itu harusnya aman jika di siang hari”
“Sejujurnya aku masih mengingatnya Alika”
“Lalu kenapa kamu tega melakukan semua ini kepadaku?”, Aku bertanya kepada Einhard dan seketika itu pula aku menangis.
“Karena Andra sangat menyayangimu, Alika. Ia tidak ingin melihat kamu kesusahan seperti ini”
“Berapa lama ia sudah melakukan ini?”
“7 tahun”
Seketika tubuh dan kakiku merasa lemas, dan akupun terjatuh seketika. Einhard dan Sitha mengangkat dan menaruhku di sebuah kursi. Aku melihat wajah Andra, ia terlihat pucat dan berkeringat. Ia nampak sangat kelelahan, bahkan seperti tidak merasa terganggu dengan percakapan kami.
Pantas saja, aku sampai bertanya-tanya latihan seperti apa yang sudah Andra lalui. Badannya terlihat sangat kekar dibandingkan anak seusianya, padahal aku mengetahui bagaimana metode Einhard mengajar. Untung saja kamu tidak merusak tubuhmu nak, sepertinya kamu memiliki guru yang hebat.
“Alika aku pamit, jangan segan untuk memanggilku jika terjadi hal-hal yang tak terduga”
“Baiklah Einhard, terima kasih sudah membawa Andra kerumah”
“Terimalah Alika”, Einhard memberikan aku sekantung kecil koin emas.
“Tidak Einhard, aku tidak mau menerimanya”
“Kamu membutuhkan ini untuk kesembuhan Andra. Jika kamu tidak mau menerima pemberianku, anggap saja kamu meminjamnya. Kamu boleh mengembalikannya kapan saja kau mau”
“Baiklah aku terima pemberianmu, Einhard. Terima kasih, aku berhutang budi kepadamu”
“Tak usah kau pikirkan. Kamu dan Mahesa adalah teman baikku”
“Saat ia bangun, berikanlah makanan yang bergizi agar ia lekas pulih”
“Baiklah”
“Ya sudah aku pergi dulu”
“Iya, hati-hati dijalan”
__ADS_1
Akupun mengantarkan Einhard kedepan pintu. Lalu ia pun pergi meninggalkan rumah kami.
Aku kembali ke kamar Andra, ternyata Sitha masih berada disana. Aku lihat ia memasangkan baju dan menyelimuti Andra. Entah kenapa aku secara refleks bersembunyi di balik pintu. Ternyata Sitha benar-benar anak yang baik dan perhatian.
Aku merasa aku tidak mau mengganggu waktu mereka berdua. Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan Andra. Aku pun pergi ke kamarku untuk membaringkan tubuhku. Aku merasa sangat lelah hari ini. Tanpa sadar aku pun tertidur sepanjang malam.
*****
[Alika]
Sudah Empat hari Andra terbaring lemah akibat terlalu banyak kehilangan darah. Hari ini wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Ku coba menyentuh keningnya, ternyata suhu tubuhnya sangat tinggi. Pantas aja ia sampai berkeringat sebanyak ini. Apakah lukanya lebih parah daripada yang aku duga?
Lantas aku pergi menemui Einhard. Tak butuh waktu lama, kamipun sampai rumahku dengan tergesa-gesa. Tanpa banyak bertanya ia melakukan apa yang aku lakukan sebelumnya.
“Semenjak kapan ia seperti ini?”
“Baru saja, itulah alasannya aku memanggilmu”
“Apakah ia sudah makan dan minum dengan baik?”
“Bagaimana mungkin aku bisa memberikan makanan yang baik disaat tidak ada pasokan menuju sini”
Jujur aku sedikit kesal dengan pertanyaan Einhard bagaimana mungkin ia bisa berkata sekasar itu kepadaku. Apakah ia pikir aku tidak becus mengurus Andra? Perkataannya benar-benar membuat aku terluka.
Aku merasa perampok yang menyerang Andra bukanlah kelompok sembarangan. Sepertinya mereka sangat marah hingga sanggup memblokade jalan selama 4 hari berturut-turut.
Tiba-Tiba Einhard menggeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada Andra.
“Apakah dia mengeluhkan sesuatu?”
“Katanya ia sulit menelan dan bernapas”
Lalu Einhard memeriksa urat nadi, rahang, leher dan perut Andra. Aku melihat wajah Einhard memucat dan mengeluarkan keringat dingin. Apa yang telah terjadi? Aku benar-benar merasa khawatir
“Aku harap kamu tenang Alika. Gawat, Andra dalam keadaan berbahaya”
“Apa yang terjadi padanya?”,
Aku merasa khawatir dengan apa yang Einhard katakan
“Ia terkena tetanus”
“Bagaimana ia bisa terkena penyakit berbahaya seperti itu?”
“Aku pikir itu berasal dari penyakit yang dibawa kotoran hewan yang masuk ke dalam luka yang ia derita”
“Bukankah Sitha sudah mengobati lukanya?”
“Sihir Sitha hanya bisa mengobati luka, bukan menyembuhkan penyakit. Kita harus mencari seorang tabib”
“Satu-satunya tabib terdekat ia berada di kota Escala. Jaraknya menghabiskan waktu 1 hari perjalanan. Apa yang harus aku lakukan?”
“Itu membutuhkan tiga hari perjalanan. Aku takut Andra tidak bisa bertahan selama itu. Jika ini terus terjadi otot-ototnya akan semakin menegang hingga mematahkan tulang-tulangnya dan menghancurkan syarafnya artinya ia tidak akan bisa kembali seperti semula lagi. Namun yang paling mengerikan adalah ia akan mati”
“Lalu apa yang harus kita lakukan Einhard?”
Tiba-tiba aku mengis mendengar ucapan Einhard, aku takut apa yang terjadi 7 tahun lalu akan terulang lagi.
“Aku akan memberitahunya melalui merpati pos”
“Bukankah jalan menuju sini diblokir oleh kawan perampok, apakah ia bersedia kemari di situasi seperti ini?”
“Aku tidak tahu, kita hanya berharap bahwa ia bersedia datang kemari. Aku yakin kerajaan tidak akan tinggal diam begitu saja. Aku dengar mereka sudah memburu kawanan perampok tersebut selama 2 hari terakhir. Aku harap ini akan segera berakhir”
“Tolong bantu aku menyingkirkan mereka Einhard”
“Jangan gegabah, bagaimana jika mereka menyerang kemari? Ini bukan hanya berbahaya bagi Andra tapi juga seluruh warga desa”
“Ya sudah biarkan aku pergi”
“Jangan lakukan hal bodoh, Alika. Kamu tidak memiliki senjata. Jika anakmu sembuh, apa yang harus aku katakan padanya. Aku sudah membiarkan ayahnya mati, mana mungkin sekarang aku membiarkan ibunya mati”
“Terus apa yang harus aku lakukan Einhard?”
“Kita hanya bisa percaya pada Andra. Ia adalah seorang anak yang kuat. Aku yakin bahwa ia akan bertahan apapun yang terjadi”
__ADS_1