
APPAAA? Apa maksud dari semua ini?
Sekarang aku berada di atas sebuah mimbar menghadap kepada semua petualang. Pantas saja nona Annelies mengajakku menggambil rute yang berbeda daripada petualang yang lainnya. Saat ia mengajakku, aku mengira organisasi petualang ingin menegurku karena tidak pernah menjalankan satu misi pun.
Berbagai masalah yang aku terima, tugas sebagai komite disiplin dan peristiwa penyerangan akademi benar-benar menguras waktu dan tenagaku. Wajar saja jika aku tidak bisa mengambil satu misi pun sebagai seorang petualang. Padahal aku berencana untuk mengumpulkan uang sebagai modal untuk mendirikan kerajaan bisnisku.
TAPI SEKARANG, APA YANG HARUS AKU LAKUKAN? Padahal aku tidak pernah menjalankan satu misi pun. Tetapi saat aku mendapatkannya, aku harus memimpin sebanyak 18.000 orang untuk membasmi monster. Apa kalian sudah gila?
Ternyata ini maksud dari ucapan mereka saat mengajakku bertarung bersama. Aku kira itu hanyalah basa-basi seperti perkenalan diri dari seorang murid pindahan yang berkata, ‘Mohon bantuannya’, padahal kenyataanya ialah satu-satunya orang yang harus berbaur dengan lingkungan barunya.
Jika Sitha mengetahuinya, aku yakin ia akan sangat murka. Awalnya aku berencana hanya akan mengikuti rapat strategi pembasmian monster. Setelah itu, meminta kak Rebecca dan teman-temannya untuk menerimaku bergabung dengan mereka. Aku hanya mengamati mereka bertarung lalu berkata, ‘Kalian benar-benar hebat’, sepertinya aku tidak dibutuhkan disini. Setelah itu berkata, ‘Lebih baik aku membantu yang lainnya’.
Aku yakin ia tidak akan marah, karena ia sedang jatuh cinta kepada Amadeus-sama. Aku hanya tinggal berkata, ‘aku mengandalkanmu’. Ia pun akan melakukan apapun yang aku katakan. Lalu, aku pergi menghilang dari kerumunan dan kembali ke rumah sakit untuk beristirahat dengan tenang.
“Amadeus-sama apa yang harus kami lakukan?”, Kak Rebecca berkata.
“Oh iya sebentar, aku sedang menganalisanya”
Sial, aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang harus aku lakukan. Aku sedang tidak dalam kondisi yang prima baik secara fisik maupun mental. Aku takut itu akan mempengaruhi moral mereka, jika aku bertarung bersama mereka.
Untuk pertama kalinya, aku menyesal mendapatkan sebuah lencana palladium. Aku tidak mengira jika seorang pemegang lencana tinggi pasti akan memimpin sebuah pasukan jika dalam keadaan yang genting seperti sekarang ini.
Aku menatap ke semua arah di auditorium. Diantara mereka ada yang memiliki teman, kekasih atau bahkan keluarga yang menunggu kedatangan mereka. Apakah ini sebuah karma? Aku dipaksa untuk menjamin keselamantan 18.000 nyawa petualang. Jika iya, berarti aku memang harus menanggungnya.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkannya ataukah harus mundur dari sini saja, meski aku tahu apapun jawabannya hasilnya tetap akan sama. Jika aku menerima, aku akan berakhir dengan penyesalan untuk mereka yang mati dalam pertarungan. Dan jika aku menolak, akupun akan berakhir dengan penyesalan untuk semua orang yang mati dalam pertarungan. Dengan kata lain, baik aku maju ataupun mundur jawabannya akan tetap sama. Hanya akan berakhir dengan penyesalan.
Baiklah aku putuskan untuk melakukannya. Lebih baik aku menyesal melakukan sesuatu daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa. Rasa sakit karena meninggalkan ayah masih membekas dihatiku hingga saat ini.
“Mohon perhatiannya”, aku berteriak untuk menarik simpati massa namun diantara mereka masih ada yang mengabaikan perkataanku.
__ADS_1
Tok… Tok… Tok…
Ku pukulkan palu kayu dan berkata, “Mohon perkatiannya”, mereka masih mengacuhkanku.
Lalu aku melompat ke udara.
Acceleracion…
Dan menghantam meja dengan pukulanku.
Bang…
Semua orang melihat ke arahku sedangkan aku sedang merasa sakit. Sial, meja ini benar-benar keras bahkan hingga membuat tanganku bengkak. Sakiiitttt, mama rasanya benar-benar sakit namun aku tidak punya pilihan lain. Menghadapi orang bebas seperti mereka, menunjukkan kekuatan adalah satu-satunya cara untuk menundukkan mereka.
Trak… trak… trak…
Aku berdiam diri dan memandang ke segala arah. Sial, apa yang barusan aku katakan? Bagaimana jika diantara mereka ada yang maju kedepan? Benar-benar gawat. Selain aku dalam kondisi yang tidak prima, aku juga sedang trauma menggunakan senjata.
Tenang… tenang… bagaimanapun aku harus tetap tenang, sebagai seorang pemimpin pasukan harus tetap tenang.
Beberapa menit telah berlalu, namun tidak ada seorang pun yang berdiri dan maju kedepan. Sepertinya sudah cukup bagi aku untuk menunggu. Lalu aku berkata, “Jika diantara kalian yang meragukan kemampuan memimpinku silahkan pulang, baik aku maupun organisasi petualang tidak akan melarang kalian”
“Tapi tuan, kita sedang kekurangan orang”, bisik nona Annelies.
“Tenang, percaya saja kepadaku”, balasku.
Tiba-tiba beberapa orang berdiri dan meninggalkan ruangan. Ku perhatikan makin lama makin banyak orang yang pergi meninggalkan ruangan. Gawat bagaimana jika tidak ada satu pun orang yang bersedia bertarung bersamaku.
“Dihadapan kita bukan arena pertarungan, melainkan arena peperangan. Diantara kalian pasti ada yang mati ataupun terluka. Namun ada orang-orang yang kalian cintai tepat berada dibelakang punggung kalian. Bertarung mati-matian agar mereka hidup ataukah melarikan diri agar kalian bisa bertahan”
__ADS_1
Dalam waktu singkat wajah mereka berubah penuh ketakutan dan kegelisahan. Tak terlihat sedikitpun tanda-tanda bahwa mereka akan meninggalkan tempat ini. Sepertinya mereka sudah membulatkan tekad untuk bertarung mati-matian.
“Baiklah, aku akan menjelaskan rencananya. Aku akan membagi kalian menjadi 2 pasukan. Untuk petarung, terdiri dari pemegang lencana perak, emas dan perunggu. Sedangkan untuk pemegang lencana perunggu aku memerintahkan kalian untuk mengevakuasi warga menuju, gedung sekolah, halaman istana maupun gedung organisasi petualang”
“Yes sir”
Seseorang mengangkat tangan, lalu ia berdiri dan berkata, “Mengapa tuan Amadeus tidak mengizinkan kami, pemegang lencana perunggu untuk ikut dalam pertarungan. Apakah karena kami lemah Tuan”
Ya, karena kalian lemah. Aku tidak ingin menanggung beban akibat kematian kalian.
“Apakah kau pikir menyelamatkan warga adalah pekerjaan yang mudah? Warga kota Glasius berjumlah lebih dari 1.000.000 orang. Apakah kau tahu mengapa kerajaan meminta bantuan para petualang? Karena mereka kekurangan orang. Apakah kau pikir mengevakuasi warga itu adalah pekerjaan yang aman? Tidak, monster ada di mana-mana. Artinya aku menyuruh kalian untuk bertarung sambil melindungi warga agar mereka tetap aman. Apakah kau tahu untuk apa kerajaan melawan? Untuk melindungi warganya. Dengan kata lain, aku memberikan kalian tugas utama, yaitu untuk melindungi warga. Coba ulangi, apa tugas dari para pemegang lencana perunggu?”
“Untuk melindungi para warga”, tegasnya.
“Bagus, silahkan duduk”
Pertanyaan dari petualang tadi benar-benar berbahaya. Jika aku salah menjawab, aku akan terkesan mendiskriminasi mereka hingga akhirnya menyebabkan aku kehilangan kepercayaan dari mereka. Dalam menyusun rapat strategi, aku tidak boleh kehilangan kepercayaan dari mereka. Salah sedikit saja akan berakhir menjadi bencana, apalagi para pemegang lencana perunggu merupakan petualang terbanyak yang terdapat di organisasi petualang.
“Dan untuk pemegang lencan perak, emas dan platinum. Untuk sekarang tim yang kalian miliki akan aku bubarkan. Dan kalian akan bertarung dibawah komando 3 pasukan besar yang terdiri dari, pasukan pertama terdiri dari pengguna pedang dua tangan, pedang dan perisai serta tombak. Pasukan kedua, adalah ia yang terdiri dari pengguna pedang satu tangan, atau pisau. Dan terakhir adalah pasukan penembak dan sihir pengendali tanaman”
“Instruksi tuan, mengapa kita tidak bertarung berdasarkan tim masing-masing. Bukankah bertarung dengan teman sendiri akan lebih aman dan terkoordinasi”
“Aku tekankan sekali lagi, ini bukanlah pertarungan tetapi peperangan. Kalian tidak akan bertarung sebagai sebuah team tetapi sebuah pasukan”
Lalu ia diam dan kembali di tempat duduknya.
“Baiklah, begini strateginya”
Lalu aku menjelaskan bagaimana strategi pembasmian monster dan kami pun pergi ke medan perang.
__ADS_1