Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 9 (PERTARUNGAN YANG TAK TERHINDARKAN)


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, aku pulang ke rumah pada malam hari. Saat ini aku berjalan pulang bersama orang-orang yang akan menuju desa Ganderia. Kebetulan arah kami searah dari desa Schmiede. Semuanya berjumlah 15 orang termasuk diriku sendiri.


Dipersimpangan jalan aku berpisah dengan rombongan. Mereka menawariku untuk berkunjung ke desa Ganderia apalagi aku hanya seorang diri menuju desa Grenze, namun harus aku tolak karena aku yakin ibu pasti akan mengkhawatirkanku.


Di dunia ini, seorang yang sudah berusia 15 tahun dianggap sebagai orang dewasa. Meskipun aku masih berusia 14 tahun namun dengan otot-ototku terlihat seperti seorang yang berusia dewasa muda. Meskipun dulu aku terlihat pendek dan lemah, namun sekarang aku tinggi dan gagah perkasa.


Saat ini aku memiliki tinggi sekitar 165 cm. Tinggi tersebut adalah tinggi rata-rata anak laki-laki seusiaku. Aku memiliki rambut dan bola mata berwarna hitam. Ibu berkata bahwa aku adalah versi laki-laki ibu.


“Abang, kapan-kapan berkunjung ke desa kami ya?”, Salah satu perempuan dirombongan itu berteriak sambil melambaikan tangan.


“Ya, kapan-kapan aku akan kesana”, Jawabku.


Aku membalas lambaian tangannya. Lalu ia dan teman-temannya berteriak histeris dan melompat kegirangan. Setelah itu suara dan langkah kaki mereka hilang dalam pekatnya malam.


Sssrrrrkkk…


Tiba-tiba aku mendengar suara.


Arah suara tersebut berasal dari balik ilalang. Apakah itu manusia ataukah monster? Meskipun ini daerah aman namun sekali-kali terlihat monster berkeliaran. Ku perhatikan daerah sekelilingku lalu diam-diam aku mengeluarkan handgunku.


Tiba-tiba seseorang melompat ke arahku. Secara Untungnya aku bisa menghindar.


Tak lama kemudian aku mendengar suara orang lain yang muncul dan tertawa dari balik semak-semak. Mereka berjumlah tiga orang dengan posisi mengelilingiku. Sepertinya mereka adalah kelompok perampok yang sering dibicarakan itu. Sial, ternyata kondisiku lebih buruk daripada yang aku perkirakan.


“Cepat serahkan benda berharga milikmu”, Seorang perampok berkata diikuti dengan suara tertawa dari teman-temannya


“Apakah kau tidak melihat penampilanku, aku hanyalah seorang pemuda miskin”, Jawabku.


“Aduh ternyata hanya pemuda miskin. Cepat tangkap dia”


Lalu mereka menyerangku secara bersama-sama.


Dorrr…


Aku pun menembak salah seorang diantara mereka tepat di jantungnya. Seketika ia mati terkapar. Aku pun langsung berlari menuju ke hutan.


Aku mendengar suara teriakan dan lolongan. Tiba-tiba terdengar lebih banyak suara gesekan rumput dan langkah kaki yang cukup banyak. Sial, sepertinya aku berlari ke tempat yang salah.


Beberapa dari mereka mencoba menerjangku.


Dor…


Dor…


Aku menembak tepat di jantungnya, dan mereka pun mati seketika.


Sret…


Sepertinya sesuatu mengenai punggungku. Aku pun melihat ke arah belakang ternyata ada seseorang sedang mengayunkan sebilah pedang ke arahku. Aku mencabut Jagdkommando-ku dan aku menusuknya tepat didadanya.


Aku pun kembali berlari. Tiba-tiba kakiku tersangkut akar pohon hingga menyebabkan aku terjatuh.


Disaat yang sama, aku melihat seseorang melompat sambil mengarahkan pedangnya kepadaku. Ku tendang dia dengan kakiku ke arah belakang. Lalu aku tembak.


Dor…


Tepat dikepalanya.


Aku mencoba bangkit, tiba-tiba sebuah cekikan lengan berada tepat di leherku hingga membuat tubuhku terangkat beberapa centimeter dari atas tanah.


Kutusukkan Jagdkommando ku tepat dikepalanya. Tiba-tiba darah bercambur cairan putih keluar dari kepalanya mengenai kepala dan bajuku. Aku hampir muntah, ternyata kepalanya hampir pecah.


Cekikan tersebut pelahan-lahan melemah hingga membuat aku jatuh ke tanah. Sakit… Sepertinya kakiku terkilir.


Terlihat seberkas cahaya di depan sana. Apakah aku sudah dekat dengan desa? Ah tidak, perjalanan menuju desaku tidak sesingkat ini.


Sebuah padang rumput terhampar luas, ini adalah tempat para penggembala melepaskan ternaknya. Sial, sepertinya peristiwa 7 tahun lalu akan terulang lagi. Aku sudah terkepung.

__ADS_1


Aku melihat seseorang yang tingi besar berdiri maju kedepan. Ia menggunakan armor lengkap dengan sebuah pedang yang besar.


“Hei pemuda, aku adalah Georgino pemimpin dari Teschio Nero. Siapakah namamu?”, Tanya seorang Pria tinggi besar dengan Zanbato di punggungnya.


Hidupku benar-benar penuh dengan kesialan. Kenapa aku selalu berurusan dengan orang yang salah. Teschio Nero adalah kelompok perampok yang terkenal bengis dan kejam. Mereka tidak segan-segan membunuh, memperkosa dan menjual korban-korbannya sebagai budak.


“Namaku Syailendra. Aku hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki apa-apa. Tolong lepaskan aku”


“Apa? Setelah kau membunuh anak buahku, kau masih berani berkata seperti itu. Mumpung aku sedang bermurah hati, bagaimana jika kau bergabung bersama kami?”


“Aku lebih baik mati daripada harus bergabung denganmu”


Dor…


Dor…


Dor…


Aku menembak tiga orang dari anak buahnya untuk membuka jalan, terus aku berlari mencoba menerjang kerumunan. Tiba-tiba Georgino berada dihadapanku dan menendang perutku hingga terpental jauh sekitar 3 meter. Sial, sakit sekali. Sampai-sampai aku mau muntah mengeluarkan isi perutku.


“Aaahhh sial, lagi-lagi kau membunuh anak buahku. Mumpung aku sedang bermurah hati, aku akan bertanya sekali lagi. Apakah kau mau menerima penawaranku?”


Diam-diam aku memasukkan sisa peluruku. Sial, saat ini aku hanya memiliki 8 peluru. Aku benar-benar harus memanfaatkannya sebaik mungkin atau aku akan mati disini.


Dor…


Dor…


Dor…


Aku mencoba menembak kepala Georgino namun ia halangi tembakannku dengan tangannya. Sial aku tidak bisa menembus pertahanannya, lalu aku arahkan tembakanku ke arah anak buahnya.


Dor…


Dor…


Dor…


Di depanku terlihat 2 orang mencoba menerjangku, ku tusuk mereka menggunakan Jagdkommando-ku. Seketika darah keluar dari jantung mereka namun terlihat sangat lambat. Aneh, ini seperti yang terjadi 7 tahun lalu.


Tiba-tiba waktu berjalan seperti biasa, aku tidak tau berapa orang yang mencoba menyerangku. Aku merasa ada sayatan yang mengenai lengan kanan dan paha kiriku.


Tidak sampai 10 detik aku memalingkan wajah dari Georgino, tiba-tiba ia berada tepat dihadapanku. Aura tubuhnya berwarna hijau, matanya berwarna merah dengan urat-urat halus di pelipisnya. Ia terlihat sangat marah lalu mengayunkan pedangnya kearahku.


“Mati saja kau”


Sial, aku tidak bisa menghindari serangan sekuat dan secepat ini. Sepertinya aku akan mati. Aku pun memejamkan mata, mencoba untuk pasrah. Tiba-tiba aku mengingat wajah orang-orang yang aku kenal dengan semua kejadian yang pernah aku lalui bersama mereka.


Mereka terlihat tersenyum ke arahku, aku mengenal dengan jelas bagaimana perasaan ini. Ini adalah adalah ingatan sekilas dari orang yang akan mati. Tak peduli manapun itu, sepertinya aku memang ditakdirkan untuk mati muda. Selamat tinggal dunia, meski hanya sebentar. Hidupku benar-benar indah. Tiba-tiba aku seperti melihat ayah berbalik badan dan berkata kepadaku, “Hiduplah dengan bebas”


Kata-kata itu persis seperti apa yang ayah katakan 7 tahun lalu sebelum ia mati. Sejujurnya aku belum mau mati. Aku masih terlalu muda untuk mati, bahkan aku belum pernah berkencan dengan seorang gadis. Apalagi ibu akan hidup sebatang kara. Aku takut ia akan bunuh diri karena merasa kesepian.


Lalu aku membuka mataku. Semuanya terlihat berhenti. Aku merasa bahwa saat ini aku bisa bergerak bebas dari biasanya. Aku berlari sekuat tenaga melewati orang-orang yang terhenti mematung. Aku memilih untuk melarikan diri karena takut mereka akan menyerangku lagi.


“Dia disana”, Salah satu anak buah Georgino berkata sambil menunjukkan jarinya ke arahku.


“Sial bagaimana dia bisa berada disana”


Georgino mencoba menyerangku dari jarak yang cukup jauh menggunakan pedangnya sangat panjang. Posisi tubuhnya sangat rendah sehingga arah serangannya hanya mengarah ke arah kakiku


Srett…


Pedangnya mengenai betis sebelah kananku.


Aku terjatuh kebawah. Aku lihat Georgino berdiri di hadapanku dengan lalu mengayunkan pedangnya kearahku.


“Arrrrgggh, mati saja kau disini”

__ADS_1


Ayah ibu aku tidak mau mati disini. Tiba-tiba waktu kembali berhenti seperti sebelumnya, namun aku sudah tidak bisa berlari karena luka di betisku. Meskipun tidak terlalu dalam tetapi penggunaan sihir yang berlebihan sangat membebani tubuhku.


Aku mengamati keadaan sekitar, tanpa aku sadari ternyata aku berada di dekat peternakan warga. Jarak dari sini menuju rumahku sekitar 35 menit perjalanan. Pilihan satu-satunya adalah aku harus bersembunyi, aku melihat jerami, kolam air dan tumpukan kotoran sapi.


Apakah aku bersembunyi di jerami? Bagaimana jika mereka membakarnya. Ataukah aku harus bersembunyi di kolam air? Tidak, aku akan kesuliran bernafas ditambah lagi warnanya terlihat sangat jernih, mudah bagi mereka menemukanku. Lalu aku memutuskan untuk bersembunyi di dalam kotoran sapi, meskipun bau aku yakin peluang hidupku jauh lebih besar.


Baunya sangat menyengat hidungku hingga aku ingin muntah. Sial, apa ini rasanya pahit. Ternyata kotoran sapi itu masuk kedalam mulutku. Seketika aku muntah disana. Untungnya aku tidak mengeluarkan suara sehingga mereka tidak menyadarinya.


Ku lihat mereka menggunakan sihir cahaya ke arah air. Sebagian lainnya mambakar jerami untuk memancing aku keluar. Saat ini aku hanya berharap mereka tidak menemukanku disini.


“Arrrggghhh, kemana kau Syailendra? Hanya segini saja kekuatanmu”


Georgino mulai menyerang anak buahnya secara membabi buta. Aku hanya bisa melihat ia betapa brutalnya ia kepada anak buahnya. Bagaimana mungkin orang yang bisa menyerang kawannya sendiri memiliki pengikut sebanyak ini?


Perbuatan mereka benar-benar mengerikan. Sayangnya karena pandanganku terbatas, aku tidak bisa melihatnya secara langsung. Aku hanya bisa mendengar suara teriakan dan jeritan orang-orang yang tidak berdosa, entah itu anak-anak, orang tua, laki-laki ataupun perempuan.


Dalam hatiku aku merasa marah, bagaimana mungkin mereka tega melakukan hal semengerikan ini. Ingat Georgino, suatu hari nanti aku akan membunuhmu dengan pedangmu sendiri.


*****


Sudah sekitar satu jam mereka mencariku. Syukurlah sepertinya mereka menyerah dan meninggalkan lokasi tersebut. Aku sudah tidak lagi mendengar suara orang dan juga sorotan cahaya di sana-sini. Akhirnya aku bisa terbebas dari kejaran mereka.


Aku keluar dari tempat persembunyianku, lalu berjalan dengan menangis. Aku melihat sebuah pemukiman yang terbakar hangus tak tersisa dengan mayat manusia dan ternak yang bergelimpangan dimana-mana.


“Maafkan aku, maafkan aku tidak bisa melindungi kalian karena aku terlalu lemah”


Mereka benar-benar kejam. Apakah mereka sudah tidak punya hati nurani? Apakah mereka tidak pernah berpikir bagaimana jika hal tersebut menimpa mereka dan juga keluarganya? Teschio Nero, aku benar-benar tidak bisa memaafkan kalian.


Aku berjalan dengan sangat pelan. Aku tidak menduga bahwa aku akan merasa selelah ini. Luka-luka yang menganga mulai terasa sakit. Hormon adrenalinku sepertinya sudah berhenti berfungsi.


*****


Sudah sekitar 50 menit aku berjalan namun tak ada tanda-tanda bahwa aku akan sampai ke desa. Aku berjalan dengan menyeret kakiku yang terluka akibat sabetan pedang. Apalagi aku harus menahan bau kotoran yang bercampur dengan darahku sendiri. Semua ini benar-benar menyiksaku.


*****


Akhirnya aku sampai didepan gerbang desa namun aku sudah merasa tidak sanggup lagi berjalan. Padahal aku hanya perlu berjalan sekitar 15 menit untuk sampai ke rumahku. Mataku sudah berkunang-kunang, sepertinya aku mau pingsan. Tidak, aku tidak boleh pingsan. Jika aku pingsan sekarang aku akan mati lemas karena kehabisan darah.


Sepertinya aku harus ke rumah pak Einhard untuk meminta pertolongannya. Jarak gerbang desa ke rumahnya hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit dengan berjalan kaki. Aku harap dia ada di rumah karena aku benar-benar sudah tidak kuat.


Baiklah aku harus bertaruh, jika dia ada di rumah berarti aku akan selamat tetapi jika ia tidak ada berarti aku akan mati. Lalu, aku akan mengeluarkan sisa-sisa tenagaku untuk sampai ke rumah pak Einhard


*****


Sekarang aku tepat berada di depan pintu rumah pak Einhard. Aku benar-benar sudah merasa lelah. Aku mengerahkan sisa-sisa tenagaku untuk mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok


“Pak Einhard”


Aku mengetuk pintu dan menyebut namanya berkali-kali, namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan keluar. Sial, apakah ia tidak ada di rumah.


Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Ah… aku mulai kehilangan kesadaranku. Baiklah mungkin inilah saatnya. Selamat tinggal dunia


Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Tubuhku terdorong masuk ke rumahnya, dengan sigap pak Einhard menangkapku.


“Hehehe, Pak Einhard kau terlalu lama”


Aku hanya bisa tersenyum bahagia melihat wajahnya. Ternyata aku masih beruntung.


“Andra, apa yang terjadi denganmu?”


Maaf pak Einhard aku sudah tidak punya tenaga. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku sudah terlalu lelah. Biarkan aku beristirahat sejenak. Dan akhirnya kesadaranku pun hilang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2