
Fireball…
Sebuah serangan sihir bola api berwarna merah yang bergerak sangat cepat mengarah tepat ke arah punggungku. Ukurannya sebesar bola basket. Aku perkirakan kecepatannya sekitar 150 km/h, setara dengan lemparan seorang pitcher professional di Major League Baseball.
Abrandar…
Aku mengelak dengan lompatan harimau ke arah kanan hingga aku berguling di tanah karena menyadari serangan tersebut. Bola tersebut hanya berada tepat 25 centimeter di atas punggungku sebelum berlalu dan menyebabkan ledakan yang sangat dahsyat hingga menyebabkan sebuah lubang sebesar 2 meter di atas tanah. Andai saja aku tidak memiliki sihir ruang dan waktu, mungkin aku akan mati.
Semua orang melihat ke arahku ketika melihat dan mendengarledakan tersebut, untungnya tidak menyebabkan korban jiwa apalagi di waktu pagi saat seluruh siswa pergi menuju gedung kelas seperti sekarang ini.
Aku mengamati sekitarku untuk mencari dimanakah arah serangan tersebut namun aku tidak medapatkan seorang pun yang mencurigakan.
Abrandar…
Aku mengambil sniper dari dalam kantong sihirku dan memperhitungkan darimana datangnya serangan tersebut.
Bingo, akhirnya aku memergoki pelaku serangan tersebut. Ia adalah seorang anak laki-laki yang berdiri dari atas gedung asrama putra dengan posisi sedikit membungkuk dan kedua kaki terbuka lebar. Telapak tangan kanannya mengarah ke arahku dan tangan kiri memegang lengan kanannya. Wajahnya nampak ketakutan karena gagal mengenaiku. Ku arahkan sniperku ke arah kakinya.
Dorrr…
Sebuah tembakan tepat di arah kakinya hingga membuat ia terjatuh. Aku berlari ke arah gedung asrama putra seorang diri dan membekuk pelaku penyerangan tersebut.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Seminggu setelah aku diangkat menjadi anggota komite disiplin, terjadi banyak sekali tindakan kekerasan yang seluruhnya ditujukan ke arahku. Memang apa yang sudah aku lakukan? Sungguh ini benar-benar merepotkan, apalagi aku harus membuang-buang peluruku untuk hal-hal yang tidak berguna seperti ini. Apakah mereka tidak tahu jika membuat sebutir peluru membutuhkan usaha yang sangat besar. Dasar.
Awalnya serangan tersebut tidaklah berbahaya. Mereka hanya menantangku untuk berduel atau berusaha menyergapku. Namun serangan kali ini benar-benar berbeda, ini seperti sebuah pembunuhan berencana.
Tak lama kemudian aku sampai di depan gerbang gedung kelas. Kak Rebecca terlihat terkejut saat memandang ke arah kami, seketika ia berlari menghampiri kami.
“Andra, apa yang terjadi?”,
“Ia mencoba menyerangku”
Lalu kami berdua membawa ia menuju ruang komite disiplin untuk menyidang pelaku penyerangan tersebut. Sidang tersebut dipimpin oleh Kak Rebecca, Kak Mikhail Leonhart dan Tuan Leonardo.
“Apa alasanmu berencana membunuh Syailendra?”, Tuan Leonardo bertanya dengan tenang dan berwibawa kepada pelaku penyerangan.
“Saya tidak berencana membunuhnya Master, awalnya saya hanya ingin memberikan ia pelajaran namun ternyata saya tidak bisa mengendalikan kekuatan saya”
“Mengapa kekuatanmu sampai bisa tidak terkendali?”
“Gara-gara ini Master”, jawab pelaku penyerangan tersebut sambil memperlihatkan sebuah item sihir berbentuk gelang berwarna hitam.
Tuan Leonardo bangkit dari kursinya, wajahnya memerah seperti kepanasan dan urat pelipisnya terlihat dengan jelas. “Darimana kamu menemukan benda terkutuk itu?”, Tuan Leonardo berteriak.
“Se…seseorang menjual item ini kepada saya dan berkata bahwa kekuatan saya akan berlipat ganda”, Jawabnya dengan terbata-bata.
“Apakah kau tahu item apa ini? Ini adalah item iblis yang akan menyerap kekuatan jiwamu hingga kamu mati”, Tuan Leonardo berkata. “Tutup seluruh sekolah, perintahkan seluruh guru untuk berjaga gerbang sekolah. Dan bawa anak ini ke dalam penjara bawah tanah”, Tuan Leonardo memerintahkan seluruh orang yang hadir dalam sidang.
__ADS_1
Duarrr….
Suara ledakan menggelegar lantas aku berlari menuju sumber ledakan tesebut.
Treng… Treng… Treng… Treng… Treng…
Suara lonceng berbunyi sangat keras dan cepat menandakan bahwa bahaya sedang terjadi. Ternyata sumber ledakan tersebut berasal dari gedung kelas akademi.
Sesampainya disana aku melihat seluruh siswa berada di luar gedung dan berkumpul berdasarkan asal kelasnya. Sedangkan para guru mengabsen siswa untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal di dalam kelas. Saat aku menghampiri teman sekelasku, Gori dan Natasha mendatangiku.
“Andra apa yang terjadi?”, Gori bertanya kepadaku.
Aku menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak tahu, aku juga sedang mencari tahu. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan kalian?”
“Kami baik-baik saja”, jawab Natasha.
Aku menghela nafas lalu berkata, “Syukurlah”.
“Alicia Pendragon, Alicia Pendragon…”, seseorang berteriak.
Lalu ku berlari menuju sumber suara tersebut.
“Andra, kau mau kemana?”, Natasha bertanya.
“Aku akan mencari Alicia”
“Tidak kalian tunggu disini hingga Pak Einhard datang”
Tiba-tiba Gori menarik kerah bajuku hingga badanku terangkat beberapa centimeter dari tanah dan berteriak, “Andra bukankah kita ini teman, apakah kau tidak percaya dengan kekuatan kami? Jangan mentang-mentang kau mendapatkan surat rekomendasi dari raja maka kau bisa meremehkan kemampuan kami. Ingat kami ini adalah murid Akademi Stacia”
Aceleracion…
Sebuah tendangan ku arahkan tepat di ulu hati Gori hingga ia melepaskan pegangannya dan bergerak mundur beberapa langkah ke belakang. Namun anehnya ia masih bisa berdiri walaupun dengan memagang perutnya.
Forzen…
Tiba-tiba es menyelimuti seluruh tubuhku terkecuali kepalaku.
“Apakah kau tahu Andra, aku berada di kelas J karena aku pingsan ketika mengikuti ujian masuk ke Akademi Stacia”, Natasha berkata.
“Hmm, maafkan aku karena aku sudah meremehkan kemampuan kalian. Tolong lepaskan aku”, Aku berkata dengan sangat menyesal karena sudah meremehkan mereka. Awalnya aku ingin menunjukkan perbedaan kekuatan antara aku dengan mereka tetapi yang terjadi malah sebaliknya, sekarang malah aku yang menyadari betapa hebatnya kemampuan mereka. Sial, sepertinya aku memiliki teman-teman yang kuat.
Lalu, Natasha pun melepaskan sihirnya dariku.
“Lantas apa yang akan kita lakukan?”, Natasha bertanya kepadaku.
“Aku akan tetap pergi sendiri, kalian tetaplah disini”
__ADS_1
Tiba-tiba Gori menerjang dan memukulku seraya berkata, “Berhenti bercanda Andra, apakah kau tidak tahu apa yang sedang terjadi? Jangan bertindak sok pahlawan”
Lalu menerjang Gori dan membalas pukulannya seraya berkata, “Aku sangat tahu, itulah sebabnya aku menyuruh kalian disini. Siapakah yang akan memberikan bantuan disini jika sewaktu-waktu mereka menyerang kemari”
“Lalu bagaimana denganmu, apakah kau mau mati dengan mencoba menerobos sendiri”, Gori berkata sambil memukulku.
Saat aku mencoba memukul kembali Gori, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan
“HENTIKAAANNN, apa yang sedang kalian lakukan?”, Natasha berteriak sambil menangis.
Lalu, aku pun menahan tinjuku dan menghampiri Gori.
“Maafkan aku”, Aku berkata sambil mengulurkan tanganku.
Gori hanya memalingkan wajahnya.
Aku memalingkan wajahku ke arah Natasha dan memanggil namanya sambil memberikan tanda agar ia menghampiriku.
Lalu Natasha datang menghapiriku.
“Ada sebuah rahasia yang ingin aku beritahukan kepada kalian, namun aku ingin kalian berjanji untuk merahasiakannya”
“Apa itu?”, Natasha berkata sedangkan Gori masih memalingkan wajahnya.
“Ini”, Aku berkata sambil menunjukkan emblem petualangku.
“Palladium”, Natasha berkata lirih sambil menutup mulut dengan tangannya.
Seketika Gori memandangku sambil membelalakkan matanya, tak lama berselang ia kembali menarik kerah bajuku sambil mengarahkan satu tinjunya kepadaku.
Kreekkk…
Terdengar suara sobekan dari bajuku, di sisi lain aku memejamkan mataku untuk bersiap-siap menerima tinjunya.
Bukkk…
Suara tinju terdengar namun anehnya aku tidak merasakan sakit sedikit pun. Perlahan-lahan kedua mataku terbuka, aku melihat Gori merahkan tinjunya tepat di wajahnya.
“Sial…”, Gori berteriak lalu ia melepaskan cengkeraman tangannya. “Maafkan aku Andra, sepertinya aku hanya akan menghambatmu”, sambungnya.
“Tidak Gori, kau sangat kuat. Kau masih mampu berdiri ketika sudah menerima tendanganku dengan sekuat tenaga”, Aku berkata sambil menggelengkan kepala. “Tolong rahasiakan ini, aku berjanji akan segera kembali”, sambungku.
“Yah, tolong selamatkan orang-orang yang sedang tersandera”, Gori berkata sedangkan Natasha hanya diam terpaku memandangku.
“Baiklah”, aku berkata sambil menganggukkan kepalaku, lantas aku pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1