
Pagi hari sudah menjelang. Kami bersiap untuk pergi menuju gunung berapi yang berada di belakang desa kami.
“Yo”, Seorang pria menyapa kami menggunakan baju besi berwarna putih bercorak emas menggunakan Rapier dengan rambut dan mata berwarna kuning. Ia melihat kearahku lalu bertanya kepada ayah, “Apakah dia anakmu?”
“Tentu saja”
“Aku curiga apakah benar anak setampan ini adalah anakmu. Hmmm, dia terlihat lebih mirip Alika daripada kamu”, Pria tersebut berkata sambil memicingkan mata dan menyelidikiku dari atas kepala hingga kaki.
“Ahhh, kamu benar dia tidak terlihat sepertiku”, ayah ikut menyelidikiku dengan mengikuti gestur tubuh pria tersebut. Lalu, tiba-tiba ayah nampak kaget seolah-olah menyadari sesuatu dan berkata, “Eh, bukannya anak Alika adalah anakku?”
Ibu dan pria tersebut tertawa melihat tingkah bodoh ayah.
Dari penampilannya aku yakin bahwa ia adalah pelanggan ayah. Sial, gara-gara dia sepertinya rencana kita akan batal hari ini.
“Ayah, bagaimana dengan rencana kita hari ini?”
“Kita akan berangkat bersamanya, perkenalkan namanya adalah Einhard. Dia juga adalah gurumu disekolah nanti”
Pria tersebut tersenyum dan melambaikan jari telunjuk dan jari tengahnya kepadaku. Sial, dia benar-benar keren, laki-laki seperti dia adalah musuh alamiku. Mati saja.
“Sayang kami berangkat”
“Iya, hati-hati dijalan”, ibu menjawab
Dan kami pun berangkat menuju puncak gunung.
*****
Matahari sudah berada tepat di atas kepala kami, namun belum terlihat tanda-tanda bahwa kami akan mencapai ke puncak gunung. Aku tidak menyangka bahwa perjalanan ke puncak gunung akan semelelahkan ini.
Ayah berada di posisi depan sambil menebas ilalang dengan pedang besarnya dan di atas pinggangnya ia membawa palu yang biasa ia pergunakan untuk menempa. Sedangkan aku dan Pak Einhard mengikutinya di belakang.
Staminaku sudah mencapai batasnya, Pak Einhard dengan sigapnya menggendongku.
“Ayahmu sangat kuat bukan?”
“Kemampuan fisiknya terlihat seperti seekor gorilla”
“Hahaha. Benar. Ia terlihat seperti gorilla. Ngomong-ngomong apa yang akan kita cari?”
“Nanti aku akan beritahu saat kita sudah sampai”
Tanpa sadar aku terlelap tidur. Pak Einhard membangunkanku saat kami sudah dekat menuju puncak. Mataku masih terlihat buram namun bau menyengat seperti telur busuk mulai tercium oleh hidungku.
“Hei bangun, kita hampir sampai ke puncak”, Pak Einhard berkata sambil menggoyang-goyangkan badanku.
“Huh”, Aku mulai terbangun. Ku gosok-gosokkan kedua tangan ke kedua mataku. Ku liat sekeliling, ternyata ada disana. “Aku mau itu”, Aku berkata sambil menunjuk ke benda kuning yang berada di dekat kawah gunung.
“Hah apa kamu sudah gila, kita mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengambil itu?", mulut Pak Einhard menganga mendengar jawabanku.
"Iya"
"Mahesa sepertinya anakmu mulai tidak waras, ia berkata bahwa kita kemari untuk mengambil belerang”, Pak Einhard berteriak kepada ayah, lalu ia datang menghampiri kami
"Apakah kamu serius Andra?”, Ayah tertanya. Aku melihat mata ayah memerah dan terlihat urat-urat di pelipisnya, sepertinya ia sedang marah.
“Iya, aku serius. Aku tidak akan mempertaruhkan nyawaku hanya untuk sekedar bermain-main, yah”
“Berapa banyak yang kamu butuhkan?”
“Sebanyak-banyaknya, karena aku tidak tahu lagi kapan kita akan kemari”
“Kamu tunggu disini”
“Einhard, terima ini. Bantu aku mengambilnya”
“Heh, apa kau serius?”, Pak Einhard berkata.
Mereka lantas pergi, sedangkan aku hanya melihat mereka mengambil belerang dalam jumlah yang sangat banyak dan cepat.
“Bagaimana, apakah ini sudah cukup?”, ayah bertanya kepadaku.
“Sudah”
“Ayo kembali”, Ayah menyuruh Pak Einhard naik dan kami pun langsung bergegas pergi meninggalkan puncak gunung berapi.
*****
Kami sudah berjalan sekitar setengah jam perjalanan. Ternyata kami melewati sebuah tempat yang sangat mengerikan. Semuanya terlihat putih sejauh mata memandang dan diselingi oleh pohon-pohon yang hangus terbakar dengan posisi masih berdiri.
“Wah sepertinya daerah ini dipenuhi oleh hantu dan arwah penasaran”, Gumamku.
“Hahaha, hantu itu tidak ada Andra. Yang ada hanyalah monster dan iblis di dunia ini”
__ADS_1
“Iblis?”, Aku bertanya balik kepada Pak Einhard.
“Einhard apa yang kamu katakan”, Ayah menyela ucapan Pak Einhard dengan wajah yang terlihat tidak senang dengan perkataan Pak Einhard. Sorot matanya sangat tajam seolah-olah bahwa itu adalah hal tabu untuk dibicarakan.
“Aha hah”, Pak Einhard ketawa palsu dengan menggaruk-garuk pipi menggunakan telunjuknya.
“Nak, apakah kamu ingat dengan legenda gerhana bulan darah”, Ayah berkata kepadaku.
“Aku masih ingat yah”, Jawabku.
Legenda Gerhana Bulan Darah merupakan cerita masyarakat yang ada di dunia ini. Di ceritakan bahwa dunia ini awalnya adalah tempat yang damai dan aman. Pada suatu hari terjadilah Gerhana Bulan Darah di dunia ini, menurut ramalan gerhana tersebut menandakan bahwa bencana besar akan segera terjadi.
Tiba-tiba sebuah lubang hitam besar terlihat di seluruh dunia. Dari lubang tersebut keluarlah berbagai macam monster yang menyerang umat manusia. Di saat yang sama muncullah sosok yang menyerupai manusia dengan sayap hitam dipunggungnya terbang dibawah cahaya bulan berwarna merah darah. Ia berkata bahwa ia adalah Raja Iblis dengan sengaja membuka gerbang tersebut untuk menghancurkan dunia.
Itu adalah pertama kalinya manusia bertempur melawan bangsa Iblis, namun manusia kalah telak karena tidak memiliki kekuatan sihir. Para dewa merasa simpati dengan penderitaan yang dihadapi umat manusia, namun disaat yang sama mereka tidak boleh mencampuri urusan umat manusia. Oleh sebab itu, para dewa memberikan berkah mereka kepada umat manusia melalui kekuatan sihir.
Akhirnya terjadi pertempuran sengit antara bangsa manusia dan bangsa iblis selama 1000 tahun. Suatu hari lahirlah seorang Pahlawan bernama Khrisna yang mampu menyerang kastil raja iblis di dunia. Akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara Pahlawan dan Raja Iblis yang terjadi selama 7 hari 7 malam.
Pada hari ketujuh Raja iblis mendapatkan luka parah akibat serangan dari Sang Pahlawan. Karena merasa terdesak akhirnya Raja Iblis kembali ke dunianya, namun ia berjanji bahwa suatu hari nanti akan kembali ke dunia ini.
“Itu merupakan sebuah kisah nyata yang terjadi dua ribu tahun yang lalu”, Ayah berkata.
Aku merasa kaget dengan cerita ayah, aku pikir itu hanyalah rekaan yang ada di dunia ini. Namun semuanya terasa masuk akal ketika dihubungkan dengan adanya monster dan sihir di dunia ini.
Pantas saja dunia ini kurang hiburan, mereka dihadapkan dengan ketakutan akan raja iblis yang bisa datang kapan saja.
Baiklah, sekarang aku benar-benar bersemangat. Sepertinya aku bisa memonopoli bisnis hiburan di dunia ini, hahaha.
*****
Tidak terasa bahwa kami sudah melalui setengah perjalanan. Aku melihat wajah ayah dan Pak Einhard tidak setenang biasanya. Mereka terlihat lebih siaga. Senjata yang biasanya tersimpan di sarungnya sekarang selalu mereka genggam selama perjalanan.
Monster lebih aktif di malam hari, ini adalah waktu dimana mereka mencari makan. Namun aku tidak menyangka bahwa Pak Einhard yang seorang kesatria bisa terlihat begitu waspada seperti ini. Aku mulai mengerti mengapa ibu nampak tidak setuju dengan kepergian kami.
“Cepat naik”, ayah berkata sambil berjongkok di hadapanku.
Dengan sigap aku naik ke punggung ayah. Tiba-tiba ada seekor Hog menerjang ke arah kami. Dengan sekali tebas ia mati di tangan ayah.
Beberapa saat kemudian cahaya kuning melewati kami, aku berpaling ke arah belakang mencari sumber cahaya tersebut. Ternyata Pak Einhard meninggalkan kami.
“Ayah, Pak Einhard sudah pergi meninggalkan kita”
“Sudah jangan hiraukan dia”
Sebuah kilatan cahaya berada di depan kami. Ia terlihat sangat indah sekaligus mengerikan karena disaat yang sama terdengar suara raungan dan jeritan monster dimana-mana
Aku kira Pak Einhard kabur meninggalkan kami, ternyata ia membukakan jalan agar aku dan ayah bisa lebih leluasa berlari.
Gerakannya sangat cepat, bahkan mataku tidak dapat mengikuti gerakannya selain berkas cahaya membentuk sebuah garis kuning yang menghiasi langit dan gelapnya hutan.
Aku menyadari bahwa ada banyak pantulan cahaya mata yang sedang mengawasi kami. Tidak terhitung berapa monster yang datang dan berusaha menyergap kami, namun semuanya mati ditangan ayah hanya dengan sekali tebasan.
Tiba-tiba terlihat cahaya terang didepan kami. Akhirnya kami hampir sampai di sebuah padang terbuka. Ini adalah tanda bahwa kami sudah dekat dengan desa.
“Sial”, ayah berkata.
Firasatku berkata bahwa akan ada sesuatu didepan sana. Aku melihat Pak Einhard hanya berdiri mematung di tengah padang mengamati keadaan sekitar. Ayah berlari menghampiri Pak Einhard lalu berkata, “Bagaimana?”
“Bahaya, kita sudah terkepung”, jawab Pak Einhard.
“Sudah kuduga”, sambung ayah.
Ayah berputar dengan pedangnya membuat sebuah garis lingkaran di atas tanah mengelilingi kami, lalu ia menurunkanku tepat ditengah lingkaran tersebut.
“Nak, jangan sampai kamu pergi meninggalkan lingaran ini. Bergerak selangkah saja maka kau akan mati”
Aku hanya menganggukkan kepala lalu ayah mengambil palu di pinggangnya. Palu tersebut membesar dan seluruh tubuhnya berubah menjadi warna merah.
Tiba-tiba ayah melemparkan palunya ke arah langit, seketika itu pula ia melompat hingga tak terlihat sejauh mata memandang.
Earthshaker.
Sebuah hentakan palu menghantam tanah menciptakan gempa yang sangat kuat, bahkan pijakanku hancur tak bersisa.
Aku melihat banyak monster terhempas ke angkasa, namun anehnya aku tidak merasakan apa-apa. Dan tanpa aku sadari ternyata kakiku sudah tidak menapak diatas tanah.
Dancing Of Light.
Cahaya ini terlihat seperti apa yang aku lihat di dalam hutan dan menyebabkan hujan darah terjadi di atas langit cerah malam ini.
Tiba-tiba seekor Hound berlari kearahku.
Ayah berlari mencoba melindungiku namun terlambat, Hound tersebut berlari lebih cepat daripada ayah.
__ADS_1
Holy Movement.
Disaat yang sama Pak Einhard berlari dengan kecepatan tinggi menuju arahku, lalu ia menjadikan bahu ayah sebagai batu loncatannya menyerang Hound tersebut. Sayangnya, serangan Pak Einhard hanya berhasil melukai ekornya.
Tiba-tiba Hound tersebut melompat ke arahku. Aku mencoba menghindar dengan sekuat tenaga namun gerakanku terlalu lambat. Sial, sepertinya aku akan mati.
Dalam keadaan terdesak aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan keadaan sekitarku, semuanya berjalan dengan sangat lambat. Aku mencabut belatiku dari sarungnya lalu aku tusukkan dengan sekuat tenaga tepat di kepala Hound tersebut.
Brukkk…
Tiba-tiba tubuhku terbentur oleh Hound tersebut yang bergerak dengan kecepatan semula hingga menyebabkan tubuhku terseret sejauh 3 meter.
Aku mendengar ayah dan Pak Einhard berteriak menyebut-nyebut namaku. Mataku terasa berkunang-kunang. Namun sekilas aku melihat Ayah dan Pak Einhard berjongkok tepat disamping kiri dan kananku.
Aku mencabut belati yang tertancap di kepala hound tersebut, seketika darah meyembur seperti air keran bercampur dengan otak, lalu aku muntah karena merasa mual.
“Seperti yang aku harapkan, meskipun dia memiliki tubuh seperti ibunya namun kemampuan bertarungnya seperti ayahnya”, Pak Einhard berkata.
“Bagus nak, Ayah bangga padamu. Berikan belati pada ibu”, ayah sambil mengelus-elus kepalaku, lalu ia memberikan belati miliknya kepadaku.
“Einhard, ini sudah semakin berbahaya. Kita tidak bisa bertarung sambil melindungi Andra. Tolong antarkan ia sampai rumah”
“Baiklah”, jawab pak Einhard disertai anggukan kepala lalu lengangkat tubuhku.
“Tidak ayah, aku mau tetap disini”, aku berkata sambil memberontak.
“Pulanglah nak, hiduplah dengan bebas”, jawab ayah dengan posisi membelakangiku.
Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di tengkukku, mataku berkunang-kunang lalu kesadaranku pun hilang seketika.
“Andra bangun”, pak Einhard berkata sambil menggoyang-goyangkan badanku ketika kami sudah berada di depan gerbang desa, lalu kami bergegas menuju ke rumahku.
Tak lama kemudian kami sampai di depan pintu rumahku.
“Alika, Alika, buka pintunya”, Pak Einhard mengetuk pintu rumahku dan berteriak dengan sangat keras, tak lama kemudian ibu membuka pintu.
“Alika aku harus kembali menyelamatkan Mahesa”
“Einhard tolong bawa Mahesa kembali”, Jawab ibu dengan kata yang terbata-bata.
“Baiklah, aku berjanji”, Pak Einhard berkata lalu beranjak pergi.
Aku melihat mata ibu terlihat berair, namun ia mencoba terlihat tegar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Apakah ayah menitipkan pesan untuk ibu?”
“Ayah menyuruhku menyerahkan belatinya kepada ibu”
Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku.
“Ya sudah. Kamu pasti lelah, pergilah tidur. Biar ibu yang menunggu ayah pulang”
“Baik bu”, Lalu aku pergi ke kamarku.
Aku mengintip dari balik pintu, ku lihat ibu duduk dan menangis memeluk belati ayah. Sejujurnya, aku ingin sekali berlari dan memeluk ibu untuk menenangkan hatinya, namun aku tahu bahwa ia tidak ingin terlihat lemah di depan anaknya.
Melihat hal itu, aku benar-benar merasa terpukul hingga membuatku merasa sangat lelah, aku bergegas menuju ranjangku dan berbaring diatasnya. Aku berdoa semoga ayah baik-baik saja.
Tak terasa pagi mulai menjelang. Ibu membangunkanku seperti biasanya, namun ia terlihat sangat lelah.
Aku melihat kantung mata di kedua matanya, sepertinya ibu belum beristirahat. Kami sarapan seperti biasanya, namun terasa ada yang kurang dan itu adalah kehadiran ayah.
Ibu mencoba memecah keheningan dengan mengajakku berbicara dan mencoba tetap bersikap ceria seperti biasanya namun kedua matanya tidak dapat berbohong. Ia masih bersedih.
“Maafkan aku bu, aku yang menyebabkan semua ini terjadi”, aku berkata dengan tanpa sadar meneteskan air mata.
Ibu memelukku sembari berkata, “Tidak nak, itu keinginan ayahmu sendiri”
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar di pintu rumahku.
Aku dan ibu lantas pergi membuka pintu. Sudah kuduga, ia adalah Pak Einhard namun aku tidak melihat ayah bersamanya.
“Alika maafkan aku, aku tidak bisa menemukan suamimu. Aku hanya bisa menemunakan ini”
Pak Einhard memberikan sapu tangan ayah yang dipenuhi oleh darah.
“Andra ayo kita pergi kesekolah, ini sudah hampir waktunya kita belajar”, Pak Einhard berkata kepadaku.
Aku menatap ibu, namun sepertinya ibu tahu bahwa aku mengkhawatirkannya. Aku merasa tidak tega jika harus meninggalkannya sendirian.
“Pergilah nak, jangan khawatirkan ibu. Ibu baik-baik saja”, Ibu berkata kepadaku.
Lantas akupun pergi meninggalkan ibu
__ADS_1