
Kami berjalan menuju rumahku. Awalnya Raja Arthur menawarkan diri untuk memberikan tumpangan kepada kami. Tentu saja aku menolak karena aku tidak mau terlalu dekat dengannya. Anehnya, Raja Arthur malah mengikutiku berjalan kaki menuju rumah.
Aku tidak mau terlalu dekat dengan penguasa karena pengalaman di kehidupanku sebelumnya mengajarkanku bahwa seorang penguasa itu biasanya bersifat senang mendominasi, oportunis dan manipulatif. Jujur aku sangat takut jika harus berurusan dengan penguasa.
Selepas kejadian tadi Raja Arthur membuka helm tempurnya. Sehingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Rambutnya berwarna pirang dengan mata kuning. Alisnya yang tebal dengan garis tegas diantara hidung dan pipi. Untuk orang diusianya dia adalah orang yang tampan dan berwibawa.
Akhirnya kami sudah sampai dirumahku. Pak Einhard berdiri didepan rumahku seolah-olah memberikan isyarat dimana kami harus berhenti.
Raja Arthur mengetuk pintu rumah kami. Tak lama ibu membuka pintu, ia terlihat kaget betapa banyaknya orang yang ada didepan rumah kami. Aku melihat ibu berdiam diri sebentar, namun secara refleks mempersilahkan kami masuk kedalam.
Raja Arthur dan aku masuk kedalam. Aku dan ibu bersimpuh sambil menundukkan kepala di depan kursi tamu. Kami terdiam sejenak, lalu keheningan pecah ketika Raja Arthur berbicara.
“Bolehkah aku duduk?”, Raja Arthur bertanya.
“Oh iya, silahkan duduk Yang Mulia”, Ibu berkata.
Meskipun ia seorang raja namun ia benar-benar memiliki etika.
“Kenapa kalian duduk dibawah?”, Raja Arthur bertanya.
“Tidak apa-apa Yang Mulia, kami merasa tidak pantas duduk bersama Anda”, Jawab ibu.
“Duduklah dikursi kalian, ini adalah rumah kalian. Kalian adalah tuannya”, Raja Arthur berkata.
Kami pun duduk di kursi masing-masing. Aku merasa kaget ternyata ada raja sehebat ini.
“Nyonya, aku adalah Arthur Pendragon Raja dari Kerajaan Stacia. Nyonta saya ingin meminta izin untuk mengadopsi Syailendra”, Raja Arthur berkata.
Wajah ibu menunjukkan bahwa ucapan Raja Arthur membuat perasaannya bercampur aduk.
“Mohon maaf Yang Mulia, apa yang membuat anda ingin mengadopsi anak saya?”, Ibu bertanya.
“Aku melihat dia adalah seorang anak yang cerdas, tangkas. Ia juga memiliki sifat yang mulia. Aku yakin apabila Syailendra pergi bersamaku, ia akan menjadi fondasi utama kerajaan kita”, Raja Arthur menjawab.
“Maaf Yang Mulia, tidak bisa dia adalah satu-satunya keluargaku. Jika anda mengadopsinya, aku akan hidup sebatang kara”
“Aku tidak akan melarangmu untuk menemuinya”
“Tidak Yang Mulia. bahkan jika anda memberikan seluruh kerajaan berserta isinya, aku akan pernah berikannya”
“Baiklah jika begitu. Namun aku memiliki satu permintaan, izinkan aku membawa Syailendra untuk belajar di Ibukota”
“Mohon maaf Yang Mulia jika jawabanku akan membuat anda kecewa. Dia masih terlalu dini untuk menentukan mana yang baik dan buruk bagi masa depannya. Saya ingin tinggal bersamanya, setidaknya hingga ia cukup umur untuk menentukan masa depannya sendiri”.
“Baiklah nyonya jika begitu. Aku pamit. Mohon maaf Aku sudah mengganggu waktu anda”
“Terima kasih atas kunjungannya Yang Mulia”
Raja Arthur terlihat kecewa, namun ia tetap terlihat tenang.
Ibu membukakan pintu rumah kami untuk Raja Arthur. Kemudian Raja Arthur menaiki kudanya, lalu memerintahkan prajuritnya untuk kembali ke ibukota. Suara gemuruh terdengar dengan kerasnya, perlahan-lahan hilang dan pergi.
Pak Einhard masih berdiri didepan pintu rumahku. Ia mentapku dengan senyuman dan tatapan yang mencurigakan. Aku menatapnya balik, ini bukanlah sesuatu yang bisa aku acuhkan.
“Ada yang salah pak?”, Aku bertanya kepada Pak Einhard.
“Hati-hati, kamu sudah berurusan dengan orang yang merepotkan. Sekali kamu mencuri perhatian, ia tidak akan pernah melepaskan pandangannya darimu”, Pak Einhard menjawab.
Pak Einhard berbisik, lantas ia pergi meninggalkan kami
Aku tahu bahwa ucapannya tidaklah main-main. Walaupun pak Einhard adalah orang yang senang menjahiliku, namun kata-katanya bisa aku dipercaya.
Aku merasa kaget ketika aku membalik badanku. Sitha ternyata tepat berada dibelakangku.
“Sitha, kamu kenapa?”, Aku bertanya kepada Sitha.
“Aku takut”, Sitha menjawab.
Ia berkata seperti orang yang mau menangis
__ADS_1
“Hah, takut kenapa?”, Tanyaku.
“Badan mereka besar-besar tau, aku takut diculik”, Jawab Sitha.
“Hah?”, Aku merasa heran dengan jawaban Sitha yang sedikit tidak logis.
Lalu Sitha pun menangis.
Buk…
Tiba-tiba ibu menjitak kepalaku.
“Aduh, kenapa ibu memukulku?”, Aku bertanya kepada ibu sambil menggosok-gosok kepalaku.
“Kenapa kamu membuat Sitha menangis?”, Tanya ibu.
“Aku tidak membuatnya menangis, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya menangis”
“Oh begitu”
Hah, apa ibu tidak memiliki rasa bersalah setelah memukulku? Meskipun aku anak kecil setidaknya ibu harus memberikan contoh bahwa meminta maaf itu harus dilakukan ketika sudah melalukan kesalahan.
“Kenapa sayang?”, Ibu bertanya pada Sitha sambil memeluk tubuh Sitha
“Aku takut tante, badan mereka besar-besar. Tante, Sitha menginap disini ya. Sitha takut dirumah sepi tidak ada siapa-siapa”
“Iya sayang, nanti tidur dengan tante ya”
Dan hari itupun berakhir seketika
*****
Hingga saat ini, aku masih belum percaya dengan kelulusan kami yang secara tiba-tiba. Meskipun raja memintaku bersekolah di ibukota, namun aku bersyukur karena ibu menolak permintaan tersebut. Padahal jika ibu izinkan aku pergi, mungkin bebannya akan sedikit berkurang.
Aku benar-benar bersyukur ibu menolak permintaan tersebut karena jika aku pergi ke akademi sekarang, hal tersebut justru hanya akan mengganggu perkembanganku. Aku belum mempunyai senjata yang mumpuni, setidaknya untuk saat ini.
Handgun memang senjata yang kuat namun memiliki jangkauan serangan yang relatif pendek, jarak efektifnya hanya sekitar 50 meter. Meskipun termasuk jenis semi otomatis namun dengan kekuatan serangan dan kapasitas peluru yang rendah membuatnya tidak efektif apabila menghadapi kerumunan monster.
Kelulusanku kemarin membuat aku bisa mendaftar ke akademi kapan saja. Seluruh akademi kerajaan memulai tahun ajaran baru di musim semi dan berakhir di musim dingin. Jadi untuk sekarang ini, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun selain mempersiapkan diri untuk bersekolah di akademi.
Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku untuk saat ini adalah menjadi seorang pandai besi. Namun yang jadi masalah adalah aku tidak mengenal seorangpun pandai besi selain ayahku. Sepertinya pak Einhard memiliki beberapa orang kenalan, sebaiknya aku tanyakan nanti.
Seperti biasa, Aku pergi ke sekolah bersama Sitha. Dia terlihat biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal dia adalah orang yang paling merasa ketakutan kemarin. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir aku berangkat ke sekolah bersama dengannya, sebaiknya aku memberitahunya.
“Sitha?”
“Iya?”
“Ada sesuatu yang mau aku sampaikan kepadamu, aku ingin berhenti sekolah untuk sementara waktu”
“Hah, kenapa?”
“Aku memiliki metode bertarung yang unik dan aku yakin aku tidak akan berkembang jika mengikuti metode berlatih Pak Einhard”
Sejujurnya aku merasa sangat bersalah karena sudah berbohong kepada Sitha.
“Aku ikut denganmu”
“Tidak, perkembanganmu akan terhambat jika pergi bersamaku tapi aku berjanji akan memberi tahumu ketika aku akan masuk ke akademi”
“Baiklah, berapa lama kamu akan pergi?”
“Sekitar 5 atau 6 tahun”
“Serius? Bagaimana jika ibumu tahu”
“Oleh sebab itu, jangan beri tahu ibu. Aku berjanji aku akan lebih kuat. Jika suatu hari nanti kita masuk ke akademi, akan aku pastikan kita akan menjadi pasangan terkuat disana”
“Pasangan?”, Sitha mengulang kata-kataku dengan wajah memerah sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
“Iya pasangan terkuat”,
“Hmm baiklah, janji”, Sitha berkata sambil mengangguk lalu menyodorkan jari kelingkingnya
“Janji”
“Yang melanggar harus memakan seribu jarum”
“Iya”
Aku pun mengangguk menyetujui janji yang kami buat. Tapi aku merasa bahwa ini terjadi kesalahpahaman disini. Serius, aku merasa apa yang aku dan Sitha pikirkan sangatlah berbeda.
*****
Aku dan pak Einhard memiliki hubungan yang aneh, di satu sisi aku membencinya tapi di sisi lain aku mengaguminya. Kami berdua jarang sekali berbicara karena asik dengan kesenangan kami sendiri. Contohnya seperti sekarang, aku yang sibuk membaca dan ia yang sibuk menertawakan kekonyolan teman-temanku.
Kami hanya membicarakan sesuatu yang kami anggap perlu dan selalu berakhir menyebalkan. Dia terlalu narsis. Mungkin itulah alasannya kenapa ia masih lajang meskipun sangat tampan.
“Andra, ngomong-ngomong senjata apa yang kamu pergunakan kemarin?”, Pak Einhard bertanya
“Ini maksud bapak?”, Aku menjawab sambil mengeluarkan handgunku.
“Iya. Apakah ini alasannya kenapa kita bertiga pergi ke gunung?”
“Iya pak, sebanding dengan kekuatannya bukan? Sayangnya ayah tidak sempat melihatnya, padahal ia yang membuatnya”
“Oh ternyata benar ayahmu yang membuatnya. Terus, apa kegunaan dari belerang?”
“Untuk ini”, Aku menjawab sambil menunjukkan peluru yang ada di magazine-ku. Lalu aku memasangkannya kembali dan mengarahkannya ke udara.
Dorrr…
Teman-temanku menutup telinga lalu secara refleks melihat ke arahku, namun yang paling lucu adalah wajah Sitha yang seperti ingin menangis sekaligus marah dan kaget dengan letusan tersebut. Mereka kira aku menembak Pak Einhard.
“Hahaha. Maaf, maaf, aku hanya sedang menunjukkan ke pak Einhard bagaimana cara kerja senjataku”, Aku meminta maaf kepada teman-temanku.
“Ohhh tidaakkk. Andra apa yang kamu lakukan”, Pak Einhard menepuk kepalanya dengan kedua tangannya sambil melihat atap yang bolong.
“Hahaha. Maaf Pak, aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tidak berbohong. Coba bapak lihat ini”, Aku berkata sambil menunjukkan kembali magazine-ku, pelurunya berkurang satu.
“Oh aku paham”
“Ngomong-ngomong Pak, aku ingin meminta izin cuti sekolah alasannya karena peluru ini pak. Aku ingin belajar menempa, tidak ada yang bisa aku percaya untuk membuatnya selain ayah”
Pak Einhard terlihat berpikir sejenak, lalu berkata “Memang kemampuan bertarungmu bukanlah sesuatu yang bisa aku asah. Jika kamu merasa bahwa itu bisa membuat kamu menjadi lebih kuat baiklah aku akan menyetujuinya”
“Tapi aku meminta Pak Einhard agar jangan memberi tau ibu”, sanggahku.
“Kenapa?”, Pak Einhard berkata.
“Ia pasti tidak akan mengizinkanku”
“Oh begitu. Baiklah”
“Oh iya, apakah pak Einhard mempunyai kenalan seorang penempa yang hebat?”
“Aku mengenal seseorang yang hebat. Ia berasal dari desa Schmiede namanya Kakek Thompson”
“Bisakah aku meminta alamatnya?”
Pak Einhard terlihat sedang berpikir untuk menimbang-nimbang apakah ia akan memberikan alamat Kakek Thompson ataukah tidak lalu berkata, “Aku bisa saja memberikan alamatnya padamu, tapi aku tidak berjanji ia mau mengangkatmu menjadi muridnya”
“Kenapa?”, Jawabku dengan merasa heran.
“Karena kamu anak Mahesa. Ia adalah rival ayahmu”
“Oh, itu urusan mereka buka urusanku”
“Jika begitu, baiklah. Ini aku berikan padamu”
__ADS_1
Pak Einhard memberikanku alamatnya. Setelah itu, pembicaraan kami pun berakhir seketika