Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 24 (SYAILENDRA SANG PEMBUAT ONAR)


__ADS_3

Treeet…


Suara terompet berbunyi, ini menandakan bahwa waktu belajar telah usai. Seluruh teman sekelasku berbondong-bondong mengikuti Pak Einhard untuk bertanya banyak hal mengenai dirinya. Sedangkan Aku, Nathania dan Gori pergi keluar kelas seperti biasa.


“Kenapa kalian tidak melakukan hal yang sama seperti mereka”, Aku bertanya kepada Gori dan Natasha.


“Aku ingin Pak Einhard memperhatikanku karena kemampuanku”, Jawab Gori


“Hmm”, Natasha bergumam sambil mengangguk menyetujui jawaban dari Gori.


Akhirnya kami berencana pulang bersama karena gedung asrama putra dan putri berada di satu komplek area yang sama. Lalu saat berada di aula utama gedung aku lihat Sitha bersandar di pillar halaman dekat pintu keluar gedung sekolah sambil menunduk ke arah bawah. Lalu ia menoleh ke arahku hingga mata kami saling bertemu. Kami bersajalan saling menghampiri satu sama lain hingga akhirnya ia menyapaku.


“Andraaa”, Sitha berteriak memanggil namaku.


“Ya”, Aku menjawab sapaan Sitha namun disisi lain aku merasa bergidik karena merasakan tatapan membunuh dari seluruh siswa laki-laki di Akademi Stacia.


Tiba-tiba seorang laki-laki yang berjalan bersama sebuah rombongan yang terdiri dari 10-15 orang dan berkata, “Sitha kenapa kamu bergaul dengan pecundang seperti mereka. Tidak layak kamu bergaul dengan dengan orang lemah seperti mereka, sebaiknya kamu pulang bersama kami”


Aku melihat Gori dan Natasha seperti hendak marah sedangkan Sitha seperti merasa terintimidasi dengan ucapan mereka. Jujur aku merasa marah ketika melihat Sitha hingga ketakutan seperti itu. Andaikan ini bukan di sekolah, mungkin aku sudah memberi pelajaran mereka semua.


Aku melihat Gori seperti hendak maju untuk menghajar mereka semua, lalu aku pegang tangannya. Gori melihat ke arahku, lalu aku menggelengkan kepala. Akhirnya Gori menahan dirinya.


Frost…


Tiba-tiba sebuah serangan mengarah ke arah Gori namun ia berhasil menghindar, tapi ternyata terdapat Sitha yang tepat berdiri dibelakangnya. Aku melihat Sitha tidak sempat bereaksi akibat serangan tersebut.


Abrandar…


Aku menarik tubuh Sitha dan ku peluk dalam dekapanku. Tiba-tiba panah es tersebut mengenai bahu kiriku. Aku melihat arah serangan tersebut berasal dari orang yang mengejek kami bertiga, wajahnya terlihat sedang tersenyum bahagia. Ku ambil Handgunku lalu ku tembak paha dia.


Dor…


Ku lihat ia tersungkur jatuh. Lalu aku melepas pelukanku dari Sitha dan berlari menuju laki-laki tersebut, ku arahkan pistolku ke arah kepalanya sambil berkata, “Asal kau tahu aku pernah membunuh 9 orang dan aku tidak keberatan untuk menjadikan kamu yang kesepuluh”

__ADS_1


Lalu aku tarik pelatukku


Dor…


Peluru tersebut tepat berada 5 centimeter dari arah kepalanya. Aku melihat tatapannya terbelalak kosong sambil mengeluarkan air mata. Lalu aku pandang sekeliling ternyata seluruh orang memandang ke arahku seperti ketakutan. Aku lihat Natasha dan Gori benar-benar terkejut, satu-satunya orang yang terlihat tenang dengan kejadian tersebut hanyalah Sitha. Sepertinya hanya Sitha satu-satunya orang yang percaya bahwa aku tidak akan melakukan tindakan bodoh tersebut.


“Siapa selanjutnya?”, Aku berkata sambil melihat ke gerombolan yang bersama dengan laki-laki tersebut dengan tatapan seorang pembunuh. Aku melihat merekalah yang paling ketakutan dibandingkan dengan orang-orang yang tidak terlibat dengan keributan ini. Lalu aku berkata, “Aku tidak pernah mempermasalahkan kalian menghina atau melukaiku. Tapi jika kalian melukai orang-orang terdekatku, ingat, bahwa aku adalah orang yang pertama memburu kalian”.


Setelah itu aku mengeluarkan pisau untuk mengeluarkan peluru dari kaki pria tersebut. Semua orang merasa panik ketakutan membayangkan apa yang akan aku lakukan. Tiba-tiba sebuah pukulan mengenai kepalaku.


Bukk…


Aku pun terjatuh karena kelihangan keseimbangan.


“Kamu ditangkap karena melakukan tindak kekerasan”, Seorang wanita berkata kepadaku.


Tiba-tiba aku ditengkurapkan diatas tanah dan dipiting oleh seseorang. Eh, sepertinya ada sesuatu yang lembut menekan punggungku, hehehe. Aku seperti mengenal suaranya. Aku mencoba menoleh ternyata wajahnya sangat dekat. Tidak salah lagi dia adalah Rebecca. Sial, ternyata dia adalah siswa di sekolah ini. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya, aku takut identitasku sebagai seorang petualang akan terbongkar.


Tiba-tiba Sitha menghampiri kami dan berkata, “Benar kak apa yang dia katakan”


“Baiklah”, Rebecca berkata lalu melepaskan tanganku.


Aku mengeluarkan peluru dari dalam pahanya lalu berkata kepada Sitha, “Sitha tolong sembuhkan dia”


Heal


Seketika pria tersebut sembuh, namun ia terlihat mengeluarkan air mata sambil memberikan tatapan kosong. Sepertinya aku sedikit berlebihan ketika memberikan ia pelajaran. Aku pun kembali berbaring di tanah berharap agar ia kembali memiting tanganku, sambil menahan tubuhku dengan tubuhnya. Ayo kakak, tangkap aku lagi kakak.


“Hei apa yang sedang kau lakukan?”, Rebecca bertanya kepadaku


“Bukankah aku mau ditangkap?”, Aku menjawab.


“Aku hanya perlu memborgol tanganmu”, Rebecca berkata.

__ADS_1


Sial, ternyata aku terlalu berharap banyak. Andaikan aku barusan kabur mungkin aku akan ditangkap kembali. Aku sangat menyesal mengapa aku tidak langsung kabur setelah mengeluarkan peluru dari kaki pria tadi.


Sekarang aku berada di ruang komite disiplin. Ternyata Rebecca adalah Ketua Komite Disiplin di sekolah ini. Apakah tidak salah? Mengapa seorang petualang dengan lencana platinum bisa menjadi Ketua Komite Disiplin, apakah kualitas yang dimiliki siswa Akademi Stacia ternyata lebih rendah daripada yang aku bayangkan ataukah kemampuanku yang terlalu tinggi dibandingkan Siswa Akademi Stacia pada umumnya.


“Coba sebutkan nama kalian”, Tanya Rebecca kepada kami dengan nada yang tegas.


“Aku Vinicius dari kelas 1-A” Jawab laki-kali tersebut.


“Aku Syailendra dari kelas 1-J” Jawabku


“Vinicius dari kelas 1-A dan Syailendra dari kelas 1-J”, Rebecca berkata sambil menulis nama kami disebuah buku lalu tiba-tiba ia menghentikan tulisannya dan berkata, “Syailendra, dari mana kamu bilang?”, Ia nampak terkejut.


“Syailendra Dari kelas 1-J”, Aku menjawab.


“Baru kali ini aku melihat anak kelas 1-J melukai anak kelas 1-A”, Rebecca berkata.


Singkat cerita kami pun disidang dan tindakanku dianggap sebagai tindakan pembelaan diri. Namun tindakan kedua ku dianggap sebagai tindakan kekerasan karena menyerang orang yang tidak berdaya. Pada akhirnya aku dihukum skorsing dan harus mengerjakan tugas membersihkan sekolah selama sebulan penuh. Aku pikir aku mau mati saja.


“Syailendra tunggu sebentar di ruangan ini, aku ingin berbicara berdua denganmu”,  Rebecca berkata kepadaku, tiba-tiba semua orang meninggalkan kami berdua. Ia pun berkata, “Hei, apa kamu mengenal Amadeus? Aku melihat senjatamu seperti miliknya namun dengan ukuran yang lebih kecil. Aku dengar usianya seusia denganmu. Kereeen. Masih muda sudah menjadi seorang pemegang lencana Palladium. Aku benar-benar jatuh cinta dengannya”. Ia berbicara dengan wajah yang memerah dan bersemangat.


“Aaa Yah”, Aku berkata kepada Rebecca. Sial, pada akhirnya aku berbohong bahwa aku mengenalnya.


“Apakah aku bisa bertemu dengannya? Perkenalkan aku dengannya, tolong”, Rebecca berkata dengan wajah yang terlihat memelas.


“Masalahnya saya udah lama tidak bertemu dengan dia kak, hahaha”, Aku berkata lalu tertawa sambil memalingkan wajahku ke arah kiri untuk menghindari kontak mata dengannya. Keringat dingin keluar dari wajahku. Rebecca terlihat curiga bahwa aku sedang berbohong, lalu aku berkata, “Aku mendengar kabar bahwa bulan depan ia akan kemari, hahaha”. Aku tertawa palsu.


“Benarkah?”, Rebecca berkata dengan Mata yang tampak berbinar-binar, terlihat jelas bahwa ia merasa sangat antusias.


“Iya, aku jamin dia pasti muncul di Gedung Organisasi Petualang. Ya sudah saya permisi dulu kak. Ada hal yang mau saya kerjakan”, Aku berkata lalu aku pun pergi meninggalkan Ruang Komite Disiplin.


 


 

__ADS_1


__ADS_2